SEMUA BID'AH ITU SESAT [1] (Menjawab
Syubhat-syubhat)
(Sumber: sasb@ayna.com)
Rabu,
26 Mei 10
Oleh:
Drs. Hartono Ahmad Jaiz
(Editor: Abdurrahman Nuryaman)
KHUTBAH PERTAMA :
إِنَّ
الْحَمْدَ
لله
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ،
وَنَعُوْذُ بلله
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ يَهْدِهِ
الله فَلَا
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلَا
هَادِيَ
لَهُ،
أَشْهَدُ
أَنْ لَا إله
إلا الله
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
يَاأَيُّهاَ
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا الله
حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُم
مُّسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوا
رَبَّكُمُ
الَّذِي
خَلَقَكُم
مِّنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيرًا
وَنِسَآءً
وَاتَّقُوا
اللهَ
الَّذِي
تَسَآءَلُونَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَامَ
إِنَّ الله
كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
الله
وَقُولُوا
قَوْلاً
سَدِيدًا .
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ
وَمَن يُطِعِ
اللهَ وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيمًا
أَمَّا
بَعْدُ:
فَإِنَّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ الله
وَخَيْرَ
الْهَدْيِ
هَدْيُ
مُحَمَّدٍ
صلى الله عليه
و سلم وَشَرَّ
الْأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ،
وَكُلَّ
بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ،
وَكُلَّ
ضَلَالَةٍ
فِي النَّارِ.
اللهم صَل
عَلَى مُحَمدٍ،
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَسَلمْ.
Bid'ah
menurut bahasa berasal
dari akar kata بَدَعَ, yang memiliki makna dasar: Apa yang
diadakan (dibuat) tanpa ada contoh yang mendahului.
Pecahan
kata ini disebutkan dalam al-Qur`an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
بَدِيعُ
السَّمَاوَاتِ
وَاْلأَرضِ
"Allah
Pencipta langit dan bumi"
(Al-Baqarah: 117).
Kata بَدِيعُ artinya:
Yang menciptakan tanpa ada contoh sebelumnya. Maka maksud ayat di atas adalah,
Allah menciptakan langit dan bumi tanpa didahului suatu contoh apa pun.
Bid'ah
menurut Syariat,
sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah adalah,
"Apa yang menyelisihi atau menyimpang dari al-Kitab, atau as-Sunnah, atau ijma'
as-Salaf ash-Shalih, baik dalam masalah akidah maupun ibadah." (Majmu'
al-Fatawa, Ibnu Taimiyyah, 18/346).
Imam
asy-Syatibi dalam kitab al-I'tisham menjelaskan, "Bid'ah adalah,
sebuah istilah mengenai cara (ajaran) dalam Agama, yang dibuat-buat, yang
menyerupai Syariat, yang dimaksudkan untuk dijalankan demi mempermantap
(mendapat pahala lebih) dalam beribadah kepada Allah."
Ibtida' (mengada-adakan sesuatu tanpa ada contoh yang
mendahului) itu ada dua macam:
Pertama: Ibtida' dalam
adat dan kebiasaan yang bersifat duniawi, seperti penemuan-penemuan penciptaan
yang baru, yang merupakan kebutuhan hidup manusia. Semua itu pada dasarnya
adalah boleh, sebab adat, hukum dasarnya adalah diperbolehkan, selama tidak ada
dalil yang melarangnya. Hal itu karena urusan duniawi adalah sebagaimana yang
disabdakan oleh Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam :
أَنْتُمْ
أَعْلَمُ
بِأَمْرِ
دُنْيَاكُمْ.
"Kalian
lebih tahu dengan urusan dunia kalian."
(Diriwayatkan oleh Muslim no. 2363).
Nabi
sallallahu ‘alaihi wasallam tidak diutus untuk mengajarkan manusia bagaimana
cara bertani, beliau bukan diutus untuk mengajarkan bagaimana membuat pesawat;
akan tetapi beliau diutus untuk menyeru umat manusia agar beribadah hanya
kepada Allah.
Intinya,
bid'ah (penemuan baru) dalam kaitan duniawi hukum dasarnya adalah boleh, dan
sebaliknya, bid'ah dalam Agama hukumnya adalah haram.
Kedua: Ibtida' dalam masalah Agama; ini
hukumnya diharamkan. Sebab pada dasarnya, Agama itu adalah wahyu, yakni, harus
ditetapkan dengan dalil. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
مَنْ
أَحْدَثَ فِي
أَمْرِنَا
هذا مَا لَيْسَ
مِنْهُ
فَهُوَ رَدٌّ.
"Barangsiapa
membuat-buat ajaran baru dalam Agama kami ini, apa yang bukan darinya, maka itu
adalah tertolak." (HR.
al-Bukhari dan Muslim).
Dan pada
riwayat lain :
مَنْ عَمِلَ
عَمَلًا
لَيْسَ
عَلَيْهِ
أَمْرُنَا
فَهُوَ رَدٌّ.
"Barangsiapa
melakukan suatu amal yang tidak didasari oleh Agama kami, maka amal tersebut
tertolak". (HR
Muslim).
Intinya,
bid'ah (penemuan baru) dalam kaitan duniawi hukum dasarnya adalah boleh, dan
sebaliknya, bid'ah dalam Agama hukumnya adalah haram. Allah tidak boleh
diibadahi kecuali dengan ibadah yang disyariatkan, bahkan ibadah yang disyariatkan
sekalipun apabila dilakukan dengan tatacara yang tidak disyariatkan juga tidak
boleh.
Jama'ah Jum'at yang Dirahmati Allah
Bid'ah
dalam Agama ada dua macam:
Pertama: Bid'ah Qauliyah I'tiqadiyah, yaitu, bid'ah dalam bentuk ucapan yang
bersifat keyakinan, seperti: Perkataan-perkataan golongan Jahmiyah, Mu'tazilah,
Syi'ah dan semua kelompok-kelompok yang akidahnya sesat.
Sebagai
contoh:
1Golongan Khawarij mengatakan, "Orang
Muslim yang melakukan dosa besar adalah kafir, dan dia pasti kekal dalam neraka."
2Golongan Syi'ah berkeyakinan bahwa imam-imam
mereka adalah ma'shum (tidak mungkin melakukan kesalahan), berkeyakinan
bahwa al-Qur`an yang ada di tangan kaum Muslimin saat ini tidak lengkap karena
dalam pandangan mereka masih ada yang kurang yaitu ayat-ayat tentang hak
kewalian Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu yang dikenal dengan, Mushhaf
Fathimah. Dan masih banyak lagi pandangan-pandangan kufur yang mereka
yakini.
3Tariqat Wihdatul Wujud berpandangan bahwa Allah menyatu dengan
makhluk.
4Ada lagi golongan yang berkata, "Allah di
setiap tempat."
5Kemudian muncul perempuan pendusta yang mengaku
dirinya sebagai titisan malaikat Jibril.
6Ada lagi yang berkeyakinan bahwa tidak ada
surga dan neraka.
7Dan begitu banyak, hingga tak mungkin disebut
satu persatu dalam khutbah yang sunnahnya dipersingkat ini.
Kedua: Bid'ah pada ibadah-ibadah seperti melakukan
ibadah karena Allah yang tidak disyariatkan, atau disyariatkan tetapi
dilaksanakan dengan tatacara yang tidak disyariatkan.
Bid'ah
pada ibadah yang bersifat amalan, ada beberapa macam:
a. Bid'ah pada asal ibadah, yaitu membuat-buat
atau mengada-adakan amalan ibadah yang tidak ada dasarnya dalam syariat.
Seperti mengada-adakan shalat yang memang tidak disyariatkan, atau berpuasa
yang memang tidak ada tuntunannya, atau hari raya (perayaan keagamaan) yang
memang tidak disyariatkan, seperti peringatan maulid, peringatan isra`
mi'raj dan sebagainya.
b. Bid'ah dengan cara menambah-nambahkan atas
amal ibadah yang disyariatkan. Seperti menambah raka'at jadi lima pada shalat
Dhuhur atau pada shalat Ashar, umpamanya.
c. Bid'ah dengan melaksanakan ibadah yang
disyariatkan tetapi dengan cara yang tidak disyariatkan. Misalnya melakukan
dzikir-dzikir yang disyariatkan tetapi dengan bersama-sama dan dengan suara
yang keras. Dan umpamanya memaksakan diri dalam beribadah, sampai batas keluar
dari sunnah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam.
d. Bid'ah dengan mengkhususkan waktu yang tidak
disyariatkan untuk melakukan ibadah yang disyariatkan. Seperti yang terjadi
luas di masyarakat, yaitu, mengkhususkan pada hari pertengahan Sya'ban dan
malamnya dengan qiyam dan shalat malam. Padahal shiyam dan qiyam
disyariatkan tetapi mengkhususkan pada waktu-waktu tertentu seperti ini, harus
berdasarkan dalil, dan di sini tidak ada dalil. (Dr. Shalih bin Sa'd
as-Suhaimi, Tanbih Ulil Abshar ila Kama-liddin wama fil Bida' Minal Akhthar,
hal. 100).
Jama'ah Jum'at yang Dirahmati Allah
Imam
asy-Syatibi membagi bid'ah ditinjau dari segi ada dan tidaknya dalil yang
dijadikan sandaran dalam beramal, menjadi dua bagian: Pertama, bid'ah
hakikiyah, dan kedua, bid'ah idhafiyyah.
Pertama, Bid'ah Hakikiyah, adalah, suatu bid'ah
yang sama sekali tidak didasarkan pada dalil dari al-Qur`an dan as-Sunnah,
bahkan lebih bersifat melawan atau menyelisihi ketentuan dalil yang ada.
Tegasnya, dalil yang dijadikan dasar atau sandaran dalam melakukan amalan
bid'ah tersebut tidak ada.
Contoh bid'ah hakikiyah di antaranya:
a. Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma,
ia berkata :
بَيْنَمَا
النَّبِيُّ
صلى الله عليه
وسلم يَخْطُبُ
إِذَا هُوَ
بِرَجُلٍ
قَائِمٍ فَسَأَلَ
عَنْهُ
فَقَالُوْا:
أَبُوْ
إِسْرَائِيْلَ
نَذَرَ أَنْ
يَقُوْمَ
وَلَا
يَقْعُدَ وَلَا
يَسْتَظِلَّ
وَلَا
يَتَكَلَّمَ
وَيَصُوْمَ.
"Ketika
Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam sedang berkhutbah, tiba-tiba ada
seseorang berdiri, maka Rasulullah bertanya tentang perihalnya, lalu mereka
menjawab, 'Dia adalah Abu Isra`il, dia telah bernadzar untuk tetap berdiri,
tidak duduk, tidak berteduh, tidak berbicara, dan berpuasa'."
Maka
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
مُرْهُ
فَلْيَتَكَلَّمْ
وَلْيَسْتَظِلَّ
وَلْيَقْعُدْ
وَلْيُتِمَّ
صَوْمَهُ.
"Perintahkan
kepadanya, hendaklah dia berbicara, berteduh, duduk, dan supaya menyempurnakan
puasanya."(Diriwayatkan
oleh al-Bukhari, no. 6704).
b. Pemotongan kepala kerbau yang kemudian ditanam
pada lubang galian tanah, sebagai tumbal.
c. Melakukan pecah telur bagi penganten yang
sedang dipertemukan, karena adanya kepercayaan tertentu, sebagaimana yang
ditemukan di tengah-tengah masyarakat.
d. Melakukan terobosan di bawah keranda (mayat)
bagi ahli waris, sewaktu mayat sudah siap akan diberangkatkan ke pemakaman.
Di
samping itu masih ada berbagai acara lain yang sama sekali tidak ada dalam
Islam, bahkan termasuk kemusyrikan yang merupakan dosa yang paling besar, namun
dihidup-hidupkan kembali atas nama menghidupkan budaya lokal, padahal sudah
terkubur.
Kedua, Bid'ah Idhafiyyah adalah suatu bid'ah
yang pada hakikatnya didasarkan pada dalil al-Qur`an atau as-Sunnah, tetapi
cara melakukan amalan yang diamalkan dengan dalil yang dimaksud, tidak
didapatkan di dalam ajaran Islam. Contoh bid'ah idhafiyyah adalah,
seperti berjabat tangan seusai shalat berjama'ah, dzikir berjama'ah setelah
shalat, dan sebagainya.
Kaum Muslimin, Jama'ah Jum'at
Hukum Bid'ah dalam Agama dengan segala bentuknya ada-lah haram.
Syaikh
Shalih bin Fauzan dalam bukunya, al-Bid'ah, ta'rifuha, ahwa`uha, hal. 7
mengatakan, "Semua bid'ah dalam Agama, hukumnya haram dan sesat, karena
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
وَإِيَّاكُمْ
وَمُحْدَثَاتِ
الْأُمُوْرِ
فَإِنَّ
كُلَّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلَّ
بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ.
"Hendaklah
kalian menjauhi ajaran-ajaran Agama yang dibuat-buat, karena sesungguhnya
tiap-tiap ajaran yang dibuat-buat itu adalah bid'ah dan setiap bid'ah itu
adalah sesat." (HR.
Abu Dawud dan Tirmidzi).
Dan Nabi
sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
مَنْ
أَحْدَثَ فِي
أَمْرِنَا
هذا مَا لَيْسَ
مِنْهُ
فَهُوَ رَدٌّ.
"Barangsiapa
yang membuat-buat ajaran baru dalam Agama kami ini, apa yang bukan darinya,
maka itu adalah tertolak."
(al-Bukhari dan Muslim)
Dan
dalam riwayat lain :
مَنْ عَمِلَ
عَمَلًا لَيْسَ
عَلَيْهِ
أَمْرُنَا
فَهُوَ رَدٌّ.
"Barangsiapa
yang melaksanakan suatu amalan yang tidak didasari oleh Agama kami, maka amal
tersebut tertolak." (HR
Muslim).
Hadits-hadits
ini dengan sangat jelas mengatakan bahwa semua bid'ah adalah sesat, maka itu
artinya semua bid'ah itu haram.
Di
antara bid'ah yang ada, ada yang bisa mengantarkan pelakunya kepada kekufuran,
seperti: thawaf pada kubur untuk bertaqarrub, atau
mempersembahkan sembelihan dan nadzar untuk kubur. Dan di antaranya
termasuk sarana kemusyrikan (wasa`il syirik), seperti membangun bangunan
di atas kubur, serta shalat dan berdoa di kuburan, kecuali tentu saja tata cara
yang diajarkan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam.
Jama'ah Jum'at yang Dirahmati Allah
Sesungguhnya
telah sangat jelas dari ayat, hadits dan perkataan para ulama mutaqaddimin
maupun mutakhkhirin. Dan sangat jelas pula bahwa semua bid'ah, baik yang
berbentuk keyakinan atau yang berbentuk ibadah amaliyah, semuanya adalah sesat
yang wajib ditinggalkan oleh semua kaum Muslimin.
بَارَكَ
الله لِيْ
وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ
الْكَرِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ هذا
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA :
اَلْحَمْدُ
لله الَّذِيْ
أَرْسَلَ
رَسُوْلَهُ
بِالْهُدَى
وَدِيْنِ
الْحَـقِّ
لِيُظْهِرَهُ
عَلَى
الدِّيْنِ
كُلِّهِ
وَلَوْ كَرِهَ
الْمُشْرِكُوْنَ،
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ إله
إِلاَّ الله
وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ،
قَالَ الله
تَعَالَى:
يَاأَيُّهاَ
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
الله حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوتُنَّ
إِلاَّ وَأَنتُم
مُّسْلِمُونَ
اللهم صَلِّ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ:
Mudah-mudahan
khutbah ini mengingatkan kita, agar selalu berusaha meninggalkan apa yang
dilarang Allah, termasuk di antaranya adalah bid'ah. Ingatlah selalu bahwa amal
yang sedikit tetapi sesuai dengan Sunnah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam
adalah jauh lebih baik daripada banyak beramal ibadah, tetapi campuraduk dengan
bid'ah, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Mas'ud radhiallahu ‘anhu.
Dan
sebagai akhir khutbah ini mari kita camkan baik-baik hadits berikut ini, yang
diriwayatkan oleh Ahmad, an-Nasa`i, dan ad-Darimi, dan hadits ini adalah hasan.
Dari
Abdullah bin Mas'ud radhiallahu ‘anhu beliau berkata :
خَطَّ لَنَا
رَسُوْلُ
الله صلى الله
عليه وسلم
خَطًّا،
ثُمَّ قَالَ:
هذا سَبِيْلُ
اللهِ، ثُمَّ
خَطَّ
خُطُوْطًا
عَنْ
يَمِيْنِهِ وَعَنْ
شِمَالِهِ،
ثُمَّ قَالَ:
هذه سُبُلٌ مُتَفَرِّقَةٌ
عَلَى كُلِّ
سَبِيْلٍ
مِنْهَا
شَيْطَانٌ
يَدْعُوْ
إِلَيْهِ.
"Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wasallam pernah membuat suatu garis (lurus di tengah) untuk
kami, kemudian beliau bersabda, 'Ini adalah Jalan Allah', kemudian beliau
membuat garis-garis di kanannya dan di kirinya, kemudian beliau bersabda, 'Ini
adalah jalan-jalan yang saling berselisih, yang pada setiap jalan tersebut ada
seekor setan yang mengajak mengikuti jalan-jalan tersebut." HR. Ahmad dan al-Bukhari.
Kemudian
beliau membaca (Firman Allah) :
وَأَنَّ
هَذَا
صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا
فَاتَّبِعُوهُ
وَلاَتَتَّبِعُوا
السُّبُلَ
فَتَفَرَّقَ
بِكُمْ عَنْ
سَبِيلِهِ
ذَالِكُمْ
وَصَّاكُمْ
بِهِ لَعَلَّكُمْ
تَتَّقُونَ
"Dan
bahwasanya inilah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu
mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan
kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu
bertakwa."
(Al-An'am: 153).
إِنَّ اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّونَ عَلَى
النَّبِيِّ
يَآأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللهم صَلِّ
عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم
بَارِكْ عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ،
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم
اغْـفِـرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْـفِـرْ
لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ. اللهم
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الْهُدَى
وَالتُّقَى
وَالْعَفَافَ
وَالْغِنَى.
اللهم إِنَّا نَعُوْذُ
بِكَ مِنْ
زَوَالِ
نِعْمَتِكَ
وَتَحَوُّلِ
عَافِيَتِكَ
وَفُجَاءَةِ
نِقْمَتِكَ
وَجَمِيْعِ
سَخَطِكَ.
وَآخِرُ دَعْوَانَا
أَنِ الْحَمْدُ
لله رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلى الله
عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ.
( Dikutip dari buku : Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi
Kedua, Darul Haq, Jakarta. Diposting oleh Wandy Hazar S.Pd.I )