PH01035U

Daftar Isi

SALAFUS SHALIH SEBAGAI GENERASI PANUTAN
Rabu, 23 Oktober 13

اَلْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَرْسَلَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ. مَنْ يُطِعِ اللهَ تَعَالَى َوَرَسُوْلَهُ فَقَدْ رَشَدَ وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ غَوَى، أَمَّا بَعْدُ؛

إِنَّ خَيْرَ الْكَلاَمِ كَلاَمُ اللهَ ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.

أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ. يَقُوْلُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ:

يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Puji syukur selalu kita lantunkan kepada Allah satu-satunya Ilah yang harus kita ibadahi di muka bumi ini. Kenikmatan Islam dan Iman yang harus senantiasa kita syukuri setiap saat dengan cara selalu melaksanakan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah pada Rasulullah imamul anbiya’ wal mursalin, lewat usaha beliau Allah Subhanahu wa Ta'ala menunjukkan manusia ke jalan yang lurus jalan orang-orang yang diberi nikmat, bukan jalan orang-orang yang sesat dan bukan pula jalan orang-orang yang dimurkaiNya.

Saya wasiatkan kepada diri saya sendiri dan para jamaah sekalian untuk selalu bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan selalu melaksanakan seluruh perintah-perintahNya dan menjauhi seluruh larangan-laranganNya baik secara global ataupun rinci. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (آل عمران: 31)

“Katakanlah apabila kalian menyatakan mencintai Allah maka ikutlah aku (Rasulullah) niscaya kalian akan dicintai Allah dan akan diampuni dosa-dosa kalian”. (Ali Imran: 31).

Bukti kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah dengan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam seluruh aspek kehidupan. Pada kesempatan lain Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Hendaklah kalian selalu mengikuti sunnah-sunnahku dan sunnah-sunnah khulafaur rasyidin setelahku.” (Hadits riwayat An-Nasa’i dan At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih). Begitu pula sabdanya: “Sebaik-baik generasi adalah generasiku kemudian generasi setelahnya kemudian generasi setelahnya”. Ubay’ bin Ka’ab berkata: “Hendaklah kalian selalu berada di atas ‘as-sabil’ yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah dan sesungguhnya mencukupkan diri berada di atas As-Sabil dan As-Sunah lebih baik dari pada berijtihad di dalam hal-hal yang bid’ah, maka lihatlah amal perbuatan kalian agar selalu berada pada minhajul anbiya’ dan sunnah-sunnah mereka (Syarh Ushulul I’tiqad 1/54).

Ma’asyiral muslimin arsyadakumullah

Di saat amaliah-amaliah sunnah semakin asing di tengah-tengah masyarakat, maka di saat itulah kita dituntut untuk selalu berada di atas jalan tersebut, sekalipun selalu dicela dan di hina oleh seluruh manusia yang ada dimuka bumi ini, Rasulullah mengibaratkan hal tersebut seperti seorang yang memegangi bara api ditangannya, disebabkan sedemikian kerasnya ujian yang harus ia lalui. Namun sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 54. “Dan mereka tidak takut akan celaan orang-orang yang mencela” Itulah fadhilah yang Allah berikan kepada mereka yang akan selalu eksist sampai hari Kiamat.

Sebagai landasan amaliah kita, adalah pemahaman dan contoh dari para ulama’ salaf yaitu para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabiin. Merekalah tiga generasi yang disebutkan Rasul shallallahu 'alaihi wasallam sebagai sebaik-baik generasi. Maka di antara kewajiban kita terhadap mereka adalah:

Pertama: Ittiba’ kepada mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ (لتوبة: 100)

“Dan para pendahulu dari muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah telah meridhai mereka dan merekapun ridha kepadaNya” (At-Taubah: 100).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Orang yang mengikuti mereka dengan baik adalah yang mengikuti atsar-atsar mereka yang baik dan sifat-sifat mereka yang bagus, yang selalu mereka serukan, baik secara sembunyi-sembunyi ataupun dengan terang-terangan. (Tafsir Ibnu Katsir 4/339). Ibnu Qayyim, berkata: “Letak pengam-bilan dalil terhadap wajibnya mengikuti para sahabat dalam ayat ini, sesungguhnya karena Allah memuji orang-orang yang mengikuti mereka, yang apabila para sahabat berkata maka mereka akan serta merta mengikutinya, walaupun belum mengetahui kedudukan riwayatnya. Hal ini tetap dipuji Allah dan berhak mendapatkan ridha dariNya (I’lamul Muwaqi’in, 4/155).

Dalam Risalah Tabukiyah (h.62) Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan kebahagiaan dan telah Allah tetapkan bagi mereka keridhaan, mereka adalah para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan seluruh orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai di hari Kiamat. Hal ini tidak dikhususkan hanya kepada generasi yang melihat para sahabat saja, namun juga termasuk seluruh orang yang mengikuti mereka dengan baik, mereka termasuk orang yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta'ala . Adapun penamaan tabiin bagi yang melihat para sahabat untuk membedakan dengan generasi setelahnya.

Ma’asyiral muslimin arsyadakumullah

Demikian pula dalam surat At-Taubah 119 Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ (التوبة: 119)

”Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan jadilah kalian bersama orang-orang yang shadiq.”

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Telah berkata lebih dari seorang ulama salaf:”Mereka adalah para sahabat Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan tidak diragukan lagi merekalah pemimpin-pemimpin shadiqin, bahkan orang-orang shadiq setelah mereka tidak akan sempurna keshadikannya kecuali harus mengikuti mereka”. (Bada’i At-Tafsir, 2/382).

Kedua; hormat dan tidak mencela mereka, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

لاَ تَسُبُّوْا أَصْحَابِيْ، فَوَ الَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيْفَهُ. (رواه البخاري ومسلم).

“Janganlah kalian mencela para sahabatku, demi Dzat yang jiwaku berada ditanganNya, kalau seandainya salah satu di antara kalian menginfaqkan emas sebesar gunung uhud maka tidak akan mencapai satu mud -dari pahala infaq- mereka bahkan tidak pula setengahnya” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan Abu Daud).

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Dan ketahuilah bahwa menghina para sahabat adalah perbuatan haram dari sejelek-jelek keharaman baik terhadap mereka yang terlibat dalam fitnah ataupun tidak terlibat. Selanjutnya Qadhi Iyadh berkata “Para sahabat telah dimuliakan di atas orang-orang setelahnya, dan sebab dimuliakannya adalah, infaq mereka pada waktu kesempitan, tidak sebagaimana infaq selainnya, begitu pula infaq mereka untuk menolong dan membela Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam , yang hal tersebut tidak lagi bisa didapatkan orang-orang setelah mereka, ditambah lagi karena jihad dan seluruh amalan ketaatan mereka dalam melaksanakan perintah-perintah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Ketiga: Berdiam diri dan tidak mengungkit-ungkit perselisihan yang terjadi di antara mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَا كَسَبْتُمْ وَلَا تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ (البقرة: 141)

“Itulah umat yang telah lalu, baginya apa yang diusahakannya, dan bagimu apa yang kamu usahakan dan kamu tidak akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang mereka kerjakan.” (Al-Baqarah: 141).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Tidaklah berguna bagi kalian, penyandaran diri kalian kepada mereka, sehingga kalian seperti mereka dalam melaksanakan perintah-perintah Allah dan mengikuti RasulNya (Tafsir Ibn Katsir 1/118).

وَالْعَصْرِ، إِنَّ اْلإِنسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ، إِلاَّ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَرْسَلَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ. مَنْ يُطِعِ اللهَ تَعَالَى وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ رَشَدَ وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ غَوَى، أَمَّا بَعْدُ؛

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.

Sebagai penutup khutbah Jum’at pada siang hari ini, akan saya sampaikan perkataan Imam Al-Auza’i tentang pentingnya selalu berada di atas As-Sunnah: “Sabarkanlah dirimu berada di atas As-Sunnah dan berhentilah dimana ia berhenti, katakanlah apa yang ia katakan, cukuplah dengan apa-apa yang ia cukupkan dan tempuhlah jalan para salaf shalih “Kemudian beliau menyebutkan bid’ah-bid’ah yang ada di Syam dan Irak tentang Al”-Qur’an adalah makhluk” dan berkata:

“Kalaulah baik, apa yang kalian laksanakan selain mencontoh pendahulu kalian padahal tidak ada satu kebaikan pun yang tersembunyi dari mereka, disebabkan karena kemuliaan kalian, sedang mereka adalah sahabat-sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang telah Allah pilih bagi Rasulullah dan Allah shallallahu 'alaihi wasallam telah mensifati mereka dengan firmanNya: “Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya sangat keras terhadap orang kafir, dan saling kasih sayang di antara mereka, kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mengharapkan karunia dari Allah dan keridhaanNya (QS. Al-Fath: 29, Syarkh Ushulul I’tiqad, 1/155).

Kita akhiri khutbah Jum’at siang hari ini dengan doa.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَتَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. أَقِيْمُوا الصَّلاَةَ.

Oleh: Sumardi

(Sumber: Dikutip dari buku "Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun," Edisi Pertama, Darul Haq, Jakarta)