SALAFUS SHALIH SEBAGAI GENERASI PANUTAN
Rabu, 23
Oktober 13
اَلْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ بِاللهِ
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ
يَهْدِهِ اللهُ
فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلاَ
هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ
أَنَّ لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
أَرْسَلَهُ
بِالْحَقِّ
بَشِيْرًا
وَنَذِيْرًا
بَيْنَ يَدَيْ
السَّاعَةِ.
مَنْ يُطِعِ
اللهَ
تَعَالَى
َوَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ
رَشَدَ
وَمَنْ يَعْصِ
اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ
غَوَى، أَمَّا
بَعْدُ؛
إِنَّ
خَيْرَ
الْكَلاَمِ
كَلاَمُ
اللهَ ، وَخَيْرَ
الهَدْيِ
هَدْيُ
مُحَمَّدٍ
صَلَّى الله
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
وَشَّرَ
الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا
وَكُلَّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلَّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةٌ.
أُوْصِيْكُمْ
وَإِيَّايَ
بِتَقْوَى
اللهِ،
فَقَدْ فَازَ
الْمُؤْمِنُوْنَ
الْمُتَّقُوْنَ.
يَقُوْلُ
تَعَالَى فِي
الْقُرْآنِ
الْكَرِيْمِ:
يَاأَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ.
يَاأَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوْا
رَبَّكُمُ
الَّذِيْ
خَلَقَكُمْ
مِّنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَآءً
وَاتَّقُوا
اللهَ
الَّذِيْ
تَسَآءَلُوْنَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَامَ
إِنَّ اللهَ
كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا.
يَاأَيُّهَا
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا. يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا عَظِيْمًا.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Puji syukur selalu kita lantunkan kepada Allah satu-satunya Ilah yang harus
kita ibadahi di muka bumi ini. Kenikmatan Islam dan Iman yang harus senantiasa
kita syukuri setiap saat dengan cara selalu melaksanakan segala perintahNya dan
menjauhi segala laranganNya. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah pada
Rasulullah imamul anbiya’ wal mursalin, lewat usaha beliau Allah Subhanahu
wa Ta'ala menunjukkan manusia ke jalan yang lurus jalan orang-orang yang
diberi nikmat, bukan jalan orang-orang yang sesat dan bukan pula jalan
orang-orang yang dimurkaiNya.
Saya wasiatkan kepada diri saya sendiri dan para jamaah sekalian untuk selalu
bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan selalu melaksanakan
seluruh perintah-perintahNya dan menjauhi seluruh larangan-laranganNya baik
secara global ataupun rinci. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
قُلْ
إِنْ
كُنْتُمْ
تُحِبُّونَ
اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي
يُحْبِبْكُمُ
اللَّهُ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
وَاللَّهُ
غَفُورٌ
رَحِيمٌ (آل عمران:
31)
“Katakanlah
apabila kalian menyatakan mencintai Allah maka ikutlah aku (Rasulullah) niscaya
kalian akan dicintai Allah dan akan diampuni dosa-dosa kalian”. (Ali Imran: 31).
Bukti kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah dengan mengikuti
petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam seluruh aspek
kehidupan. Pada kesempatan lain Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda: “Hendaklah kalian selalu mengikuti sunnah-sunnahku dan sunnah-sunnah khulafaur
rasyidin setelahku.” (Hadits riwayat An-Nasa’i dan At-Tirmidzi, ia berkata
hadits hasan shahih). Begitu pula sabdanya: “Sebaik-baik generasi adalah
generasiku kemudian generasi setelahnya kemudian generasi setelahnya”. Ubay’
bin Ka’ab berkata: “Hendaklah kalian selalu berada di atas ‘as-sabil’
yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah dan sesungguhnya mencukupkan diri berada di atas As-Sabil
dan As-Sunah lebih baik dari pada berijtihad di dalam hal-hal yang bid’ah, maka
lihatlah amal perbuatan kalian agar selalu berada pada minhajul anbiya’
dan sunnah-sunnah mereka (Syarh Ushulul I’tiqad 1/54).
Ma’asyiral muslimin arsyadakumullah
Di saat amaliah-amaliah sunnah semakin asing di tengah-tengah masyarakat, maka di
saat itulah kita dituntut untuk selalu berada di atas jalan tersebut, sekalipun
selalu dicela dan di hina oleh seluruh manusia yang ada dimuka bumi ini,
Rasulullah mengibaratkan hal tersebut seperti seorang yang memegangi bara api
ditangannya, disebabkan sedemikian kerasnya ujian yang harus ia lalui. Namun
sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 54. “Dan mereka tidak takut
akan celaan orang-orang yang mencela” Itulah fadhilah yang Allah berikan kepada
mereka yang akan selalu eksist sampai hari Kiamat.
Sebagai landasan amaliah kita, adalah pemahaman dan contoh dari para ulama’
salaf yaitu para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabiin. Merekalah tiga generasi
yang disebutkan Rasul shallallahu 'alaihi wasallam sebagai sebaik-baik
generasi. Maka di antara kewajiban kita terhadap mereka adalah:
Pertama: Ittiba’ kepada mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala
berfirman:
وَالسَّابِقُونَ
الْأَوَّلُونَ
مِنَ الْمُهَاجِرِينَ
وَالْأَنْصَارِ
وَالَّذِينَ
اتَّبَعُوهُمْ
بِإِحْسَانٍ
رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمْ
وَرَضُوا عَنْهُ
(لتوبة: 100)
“Dan para pendahulu dari muhajirin dan Anshar
serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah telah meridhai
mereka dan merekapun ridha kepadaNya”
(At-Taubah: 100).
Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Orang yang mengikuti mereka dengan
baik adalah yang mengikuti atsar-atsar mereka yang baik dan sifat-sifat mereka
yang bagus, yang selalu mereka serukan, baik secara sembunyi-sembunyi ataupun
dengan terang-terangan. (Tafsir Ibnu Katsir 4/339). Ibnu Qayyim, berkata:
“Letak pengam-bilan dalil terhadap wajibnya mengikuti para sahabat dalam ayat
ini, sesungguhnya karena Allah memuji orang-orang yang mengikuti mereka, yang
apabila para sahabat berkata maka mereka akan serta merta mengikutinya,
walaupun belum mengetahui kedudukan riwayatnya. Hal ini tetap dipuji Allah dan
berhak mendapatkan ridha dariNya (I’lamul Muwaqi’in, 4/155).
Dalam Risalah Tabukiyah (h.62) Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Mereka
itulah orang-orang yang mendapatkan kebahagiaan dan telah Allah tetapkan bagi
mereka keridhaan, mereka adalah para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam dan seluruh orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai di hari
Kiamat. Hal ini tidak dikhususkan hanya kepada generasi yang melihat para
sahabat saja, namun juga termasuk seluruh orang yang mengikuti mereka dengan
baik, mereka termasuk orang yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta'ala .
Adapun penamaan tabiin bagi yang melihat para sahabat untuk membedakan dengan
generasi setelahnya.
Ma’asyiral muslimin arsyadakumullah
Demikian pula dalam surat At-Taubah 119 Allah Subhanahu wa Ta'ala
berfirman:
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آَمَنُوا
اتَّقُوا
اللَّهَ
وَكُونُوا
مَعَ
الصَّادِقِينَ
(التوبة: 119)
”Wahai
orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan jadilah kalian bersama orang-orang
yang shadiq.”
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Telah berkata lebih dari seorang
ulama salaf:”Mereka adalah para sahabat Muhammad shallallahu 'alaihi
wasallam dan tidak diragukan lagi merekalah pemimpin-pemimpin shadiqin,
bahkan orang-orang shadiq setelah mereka tidak akan sempurna keshadikannya
kecuali harus mengikuti mereka”. (Bada’i At-Tafsir, 2/382).
Kedua; hormat dan tidak mencela mereka, Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam bersabda:
لاَ
تَسُبُّوْا
أَصْحَابِيْ،
فَوَ الَّذِيْ
نَفْسِيْ
بِيَدِهِ
لَوْ أَنَّ
أَحَدَكُمْ
أَنْفَقَ
مِثْلَ
أُحُدٍ
ذَهَبًا مَا
بَلَغَ مُدَّ
أَحَدِهِمْ
وَلاَ
نَصِيْفَهُ.
(رواه البخاري
ومسلم).
“Janganlah kalian mencela para sahabatku, demi
Dzat yang jiwaku berada ditanganNya, kalau seandainya salah satu di antara
kalian menginfaqkan emas sebesar gunung uhud maka tidak akan mencapai satu mud
-dari pahala infaq- mereka bahkan tidak pula setengahnya” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan Abu Daud).
Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Dan ketahuilah bahwa menghina para
sahabat adalah perbuatan haram dari sejelek-jelek keharaman baik terhadap
mereka yang terlibat dalam fitnah ataupun tidak terlibat. Selanjutnya Qadhi
Iyadh berkata “Para sahabat telah dimuliakan di atas orang-orang setelahnya,
dan sebab dimuliakannya adalah, infaq mereka pada waktu kesempitan, tidak
sebagaimana infaq selainnya, begitu pula infaq mereka untuk menolong dan
membela Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam , yang hal tersebut
tidak lagi bisa didapatkan orang-orang setelah mereka, ditambah lagi karena
jihad dan seluruh amalan ketaatan mereka dalam melaksanakan perintah-perintah
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Ketiga: Berdiam diri dan tidak mengungkit-ungkit perselisihan yang
terjadi di antara mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
تِلْكَ
أُمَّةٌ قَدْ
خَلَتْ لَهَا
مَا كَسَبَتْ
وَلَكُمْ مَا
كَسَبْتُمْ
وَلَا تُسْأَلُونَ
عَمَّا
كَانُوا
يَعْمَلُونَ
(البقرة: 141)
“Itulah
umat yang telah lalu, baginya apa yang diusahakannya, dan bagimu apa yang kamu
usahakan dan kamu tidak akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang
mereka kerjakan.”
(Al-Baqarah: 141).
Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Tidaklah berguna bagi kalian,
penyandaran diri kalian kepada mereka, sehingga kalian seperti mereka dalam
melaksanakan perintah-perintah Allah dan mengikuti RasulNya (Tafsir Ibn Katsir
1/118).
وَالْعَصْرِ،
إِنَّ
اْلإِنسَانَ
لَفِيْ خُسْرٍ،
إِلاَّ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوْا
وَعَمِلُوا
الصَّالِحَاتِ
وَتَوَاصَوْا
بِالْحَقِّ
وَتَوَاصَوْا
بِالصَّبْرِ
وَقُلْ رَبِّ
اغْفِرْ
وَارْحَمْ
وَأَنْتَ
خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ بِاللهِ
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ
يَهْدِهِ اللهُ
فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ
أَنَّ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
أَرْسَلَهُ
بِالْحَقِّ
بَشِيْرًا
وَنَذِيْرًا
بَيْنَ
يَدَيْ
السَّاعَةِ.
مَنْ يُطِعِ
اللهَ
تَعَالَى
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ رَشَدَ
وَمَنْ يَعْصِ
اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ
غَوَى، أَمَّا
بَعْدُ؛
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Sebagai penutup khutbah Jum’at pada siang hari ini, akan saya sampaikan
perkataan Imam Al-Auza’i tentang pentingnya selalu berada di atas As-Sunnah:
“Sabarkanlah dirimu berada di atas As-Sunnah dan berhentilah dimana ia
berhenti, katakanlah apa yang ia katakan, cukuplah dengan apa-apa yang ia
cukupkan dan tempuhlah jalan para salaf shalih “Kemudian beliau menyebutkan
bid’ah-bid’ah yang ada di Syam dan Irak tentang Al”-Qur’an adalah makhluk” dan
berkata:
“Kalaulah baik, apa yang kalian laksanakan selain mencontoh pendahulu kalian
padahal tidak ada satu kebaikan pun yang tersembunyi dari mereka, disebabkan
karena kemuliaan kalian, sedang mereka adalah sahabat-sahabat Nabi shallallahu
'alaihi wasallam yang telah Allah pilih bagi Rasulullah dan Allah shallallahu
'alaihi wasallam telah mensifati mereka dengan firmanNya: “Muhammad adalah
utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya sangat keras terhadap orang kafir,
dan saling kasih sayang di antara mereka, kamu lihat mereka ruku’ dan sujud
mengharapkan karunia dari Allah dan keridhaanNya (QS. Al-Fath: 29, Syarkh
Ushulul I’tiqad, 1/155).
Kita akhiri khutbah Jum’at siang hari ini dengan doa.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا صَلَّيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
وَأَلِّفْ
بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ
وَأَصْلِحْ
ذَاتَ
بَيْنِهِمْ
وَانْصُرْهُمْ
عَلَى
عَدُوِّكَ
وَعَدُوِّهِمْ.
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
لَنَا
دُنْيَانَا الَّتِيْ
فِيْهَا
مَعَاشُنَا،
وَأَصْلِحْ
لَنَا آخِرَتَنَا
الَّتِيْ
إِلَيْهَا
مَعَادُنَا،
وَاجْعَلِ
الْحَيَاةَ
زِيَادَةً
لَنَا فِيْ كُلِّ
خَيْرٍ،
وَاجْعَلِ
الْمَوْتَ
رَاحَةً
لَنَا مِنْ
كُلِّ شَرٍّ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلإِخْوَانِنَا
الَّذِيْنَ
سَبَقُوْنَا
بِاْلإِيْمَانِ
وَلاَتَجْعَلْ
فِيْ
قُلُوْبِنَا
غِلاًّ
لِّلَّذِيْنَ
ءَامَنُوْا
رَبَّنَا إِنَّكَ
رَءُوْفٌ
رَّحِيْمٌ.
رَبَّنَا آتِنَا
فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ. وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
أَقِيْمُوا
الصَّلاَةَ.
Oleh: Sumardi
(Sumber: Dikutip dari buku "Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan
Setahun," Edisi Pertama, Darul Haq, Jakarta)