Ruh dan Inti Shalat
Jumat, 07
Januari 11
Khutbah
Pertama
Amma ba’du
:
Ayyuhal
muslimun! Bertakwalah kepada Allah, Tuhan alam semesta.
Berpegang teguhlah kepada agama anda. Jagalah tiangnya dan tunaikanlah dengan
penuh khusyuk dan tunduk. Maka anda akan laju di jalur orang-orang yang
beruntung. Dan demi Allah, ini adalah puncak tertinggi orang-orang yang
beramal.
Ibadallah ! Akibat dari keasyikan banyak orang di dalam
pengakuan dunia, persaingan dalam mengumpulkannya, kesibukan hati dan pikiran
dengan urusannya, kelupaan akan rumah yang hakiki, dan kelalaian beramal untuk
bekal ke sana, maka sebagian manusia melupakan Sang Pencipta dan pemberi Rizki.
Mereka tidak peduli terhadap syari’atNya dan tidak menghiraukan agamaNya.
Mereka tepat sekali menjadi sasaran firman Allah Subhanahu Wata’ala :
فَخَلَفَ مِن
بَعْدِهِمْ خَلْفٌ
أَضَاعُوا
الصَّلاَةَ
وَاتَّبَعُوا
الشَّهَوَاتِ
فَسَوْفَ
يَلْقَوْنَ
غَيًّا
“Maka
datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan
memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam :59)
Ada pula
orang yang melaksanakan shalat, tetapi tidak sempurna dan selalu keliru. Mereka
melaksanakan shalat tetapi pengaruhnya tidak terlihat pada diri mereka. Mereka
tidak mempraktikkan etika-etikanya dan tidak melaksanakan rukun dan wajib-wajibnya
secara konsisten. Shalat mereka adalah shalat tiruan dan sekedar mengikuti
tradisi. Karena mereka mengabaikan intinya, ruhnya bahkan khusyuknya. Mereka
melaksanakan shalat secara fisik tanpa ruh, wadah tanpa isi, gerakan tanpa
perasaan. Shalat mereka adalah ladang was-was dan syakwasangka. Setan masuk ke
dalam dirinya saat melaksanakan shalat. Lalu setan menyerang pikirannya dan
membawanya berkelana di belantara dunia. Ia terus bergerak, menggoda, merasa
lama, merasa berat, mengombang-ambingkan hati dan matanya sesuka hatinya.
Sehingga keluar dari shalatnya dan tidak memahami shalatnya kecuali sedikit,
bahkan mungkin ada orang yang tidak memahaminya sama sekali.
Lalu
jangan tanya tentang kondisi dan aktifitas buruk mereka sesudah shalat. Ucapan
yang kotor, perbuatan yang buruk, mengkonsumsi yang haram, perangai yang
serampangan dan maksiat yang dipertahankan. Mungkin ada yang bertanya :
“Bukankah Allah Subhanahu wata’ala berfirman :
وَأَقِمِ
الصَّلاَةَ
إِنَّ
الصَّلاَةَ
تَنْهَى عَنِ
الْفَحْشَآءِ
وَالْمُنكَرِ
“Dan
dirikanlah shalat.Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan)
keji dan mungkar.”. (QS.
Al-Ankabut :45)
Di mana
posisi kita terhadap ayat ini ? Kita melaksanakan shalat tetapi tidak ada
pengaruhnya di dalam kehidupan kita, tidak merubah keadaan kita, tidak membuat
metode dan persepsi kita semakin baik, dan tidak bisa memperbaiki seluruh aspek
kehidupan kita.
Di sini
saya katakan, bahwa penyebab semua itu adalah kelalaian kita terhadap ruh dan
inti shalat, yang tidak lain adalah khusyuk di dalam shalat. Apa kedudukan
khusyuk di dalam shalat ? Apa maknanya ? Apa saja yang dapat mendatangkannya ?
Dan apa saja pengaruhnya ? Inilah yang akan kita bahas di sini dengan izin
Allah. Setelah semakin parah dan keteledoran dalam bidang itu merajalela.
Bahkan telah menjadi masalah yang berat yang harus mendapat perhatian dan
penanganan serius berdasarkan petunjuk Al-Kitab dan As-Sunnah.
Ikhwatal
Islam ! Allah Subhanahu Wata’ala telah memuji
orang-orang mukmin, menyanjung mereka, menyambut mereka sebagai orang-orang
yang khusyuk di dalam ibadah mereka yang paling agung dan menjanjikan
kemenangan dan keberuntungan kepada mereka atas prestasi itu. Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman :
قَدْ
أَفْلَحَ
الْمُؤْمِنُونَ
الَّذِينَ هُمْ
فِي
صَلاَتِهِمْ
خَاشِعُونَ
Sesungguhnya
beruntunglah orang-orang yang beriman, (Yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam
shalatnya, (QS. Al-Mukminun :1-2)
Al-Hafidz
Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan : “Maksudnya mereka beruntung, bahagia, dan
mendapatkan kemenangan.”
Ibnu
Rajab berkata : “Pada dasarnya kata “Khusyuk” berarti kelunakan, kelembutan,
ketenangan, ketundukan, kekalahan, dan ketidak berdayaan hati. Bila hati
menjadi khusyuk akan diikuti dengan kekhusukan seluruh anggota badan. Karena
seluruh anggota badan adalah pengikut hati.”
Seorang
ulama salaf pernah melihat seseorang yang tengah mempermainkan tangannya ketika
shalat. Lalu sang ulama berkata : “andaikata hati orang ini khusyuk, pasti
anggota badannya akan khusyuk pula.”
Hal itu
diriwayatkan dari Hudzaifah Radiyallahu ‘Anhu dari Said bin Musayyab
Rahimahullah. Dan juga diriwayatkan secara marfu’ (dari Nabi Shallallahu
‘Alaihi Wasallam) tetapi isnadnya tidak shahih.
Tentang
makna khusyuk, Ali bin Abi Thalib Radiyallahu ‘Anhu berkata : “Itu adalah
khusyuk di dalam hati, santun kepada sesama muslim, dan tidak menengok ke kanan
dan ke kiri di dalam shalat.”
الَّذِينَ
هُمْ فِي
صَلاَتِهِمْ
خَاشِعُونَ
“(Yaitu)
orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya.” (QS.
Al-Mukminun : 2)
Ibnu
Abbas Radiyallahu ‘Anhuma berkata : “Yaitu orang-orang yang merasa takut dan
bersifat tenang.”
Hasan
Radiyallahu ‘Anhu berkata : “Dahulu kekhusyukan mereka ada di dalam hati.
Karena itu mereka memejamkan mata dan merendahkan bahu.”
Ibnu
Sirin Rahimahullah berkata : “Dahulu mereka mengatakan : ‘Matanya tidak
melampui tempat shalatnya.’
Itulah
jalan generasi Salaf yang hatinya dapat merasakan khidmat saat berdiri di
hadapan Allah dalam shalat. Lalu menjadi tenang dan khusyuk. Kemudian
kekhusyukan itu menjalar ke anggota-anggota tubuhnya, raut mukanya, dan
gerak-geriknya. Jiwa mereka diselimuti keagungan dan kesabaran Allah, sementara
mereka berdiri di hadapanNya. Maka seluruh kesibukan menghilang dari pikiran
ketika merasa sibuk bermunajat kepada Tuhan Yang Maha Perkasa. Dalam kondisi
semacam itu, segala yang berada di sekelilingnya lenyap dari perasaannya. Maka
perasaan mereka pun berhasil menyingkirkan segala macam kotoran. Ketika itulah,
segala urusan materi menjadi kecil dan segala macam godaan akan memudar. Dan
pada saat itulah, shalat menjadi hiburan hati, ketenangan jiwa, dan penyejuk
mata (pelipur lara) yang sejati. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan An-Nasa’i dari Anas Radiyallahu
‘Anhu :
“Dan
penyejuk mataku diletakkan di dalam shalat.” (
HR.Ahmad, 3/128, dan An-Nasa’i, 7/61-62 )
Dan di
dalam Al-Musnad juga disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
bersabda :
“Bangkitlah
hai Bilal, hiburlah kami dengan shalat.”
(HR.Ahmad,5/371 dan Abu Daud, 4986 )
Allahu
akbar ! Shalat benar-benar merupakan hiburan yang abadi bagi jiwa yang tenang.
Melalui shalat, ia dapat bermunajat kepada penguasa jagat raya. Ketika
seseorang membaca takbir sambil mengangkat kedua tangannya, sesungguhnya ia tengah
mengagungkan Allah. Ketika ia meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya
sesungguhnya ia tengah tunduk di hadapan Tuhannya. Dan ketika ditanya tentang
hal itu, Imam Ahmad menjawab : “Itu adalah ketundukan di hadapan Tuhan Yang
Maha perkasa.” Ketika ia rukuk, sesungguhnya ia tengah mengakui keagungan
Allah. Dan ketika ia sujud sesungguhnya ia tengah merendahkan diri di hadapan
Allah Yang Maha Tinggi.
Begitulah
seorang muslim di dalam shalatnya. Ia menjalin hubungan yang kuat dengan Allah
untuk memenangkan janji Allah yang tidak pernah melanggar janji. Imam Muslim
dan lain-lain meriwayatkan dari Utsman Radiyallahu ‘Anhu, bahwa Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“Tidaklah
seorang muslim didatangi shalat wajib lalu ia melaksanakan wudhunya, khusyuknya
dan ruku’nya dengan baik, melainkan akan menjadi kaffarat (penghapus) bagi
dosa-dosa sebelumnya, sepanjang dia tidak mengerjakan dosa besar. Dan itu
berlaku sepanjang masa.”
(HR.Muslim,228 dan Abd Bin Humaid,57 )
Ayyuhal
Ikhwah al-mushallun ! Orang
yang shalat dengan sungguh-sungguh adalah orang yang melaksanakan shalat secara
lengkap tanpa mengurangi fardlu, rukun, syarat, wajib dan adabnya sedikit pun.
Hatinya tenggelam di dalam shalat, perasaannya berinteraksi dengannya, dan
berusaha mempertahankannya semaksimal mungkin. Hal itu didorong oleh hati yang
tanggap, perasaan yang jujur, emosi yang meluap dan batin yang hidup. Sehingga
ia masuk ke dalam shalat secara total. Karena kekhusyukan di dalam shalat hanya
dapat dicapai oleh orang yang menyediakan hatinya secara utuh untuk shalat. Dia
mengesampingkan urusan lainnya dan menjadikan shalatnya sebagai perioritas
utama.
Posisi
khusyuk bagi shalat sama seperti posisi kepala bagi tubuh. Maka orang yang
menjadikan shalatnya sebagai lahan untuk memikirkan urusan duniawi dan tempat
untuk mengkhayalkan kesibukannya, di mana hatinya ada di semua tempat,
pikirannya melang-lang buana, setan mencuri shalatnya dengan banyak menengok ke
sana ke mari, mempermainkan pakain, tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya.
Bahkan terkadang tidak mempraktikkan thuma’ninah dengan baik dan tidak
memahami apa yang dibacanya. Orang semacam ini dikhawatirkan akan ditolak
shalatnya. Karena ada riwayat yang menyatakan:
“Orang
yang paling buruk pencuriannya ialah orang yang mencuri sebagian dari
shalatnya. Maka ia tidak menyempurnakan rukuknya, sujudnya, dan khusyuknya.” (Al-Musnad, 5/310 )
Ada juga
riwayat lain menyatakan bahwa shalat semacam itu akan digulung seperti baju
yang usang, kemudian dicampakkan kepada pelakunya. Na’udzubillahi min dzalik
!
Ummatal
Islam ! ketika masa yang panjang telah dilalui
manusia, lalu hati mereka menjadi keras, dan banyak orang yang memahami
syi’ar-syi’ar Islam secara buru, anda akan melihat orang yang mengabaikan
sebagian syarat, rukun, dan wajib shalat. Akibatnya, shalat tidak dapat
memberikan pengaruh apa-apa di dalam hidup mereka. Maka ada orang yang
melaksanakan shalat tetapi shalatnya tidak dapat mencegahnya dari perbuatan
keji dan munkar. Juga tidak bisa menghalanginya dari hal-hal yang merusak
akidah, berlawanan dengan kebenaran, atau bertentangan dengan prinsip-prinsip
Islam. Shalat itu juga tidak dapat mencegahnya dari praktik riba, suap-menyuap,
minuman keras, memakai narkoba dan sebagainya. Bahkan tidak bisa membuatnya
berhenti dari perbuatan yang menzhalami, mencurangi dan menyakiti sesama.
Apakah mereka telah mendirikan shalat dan menunaikan hak-haknya ?
Demi
Allah, andaikata mereka khusyuk dalam shalat, niscaya mereka telah berhenti
dari segala sesuatu yang diharamkan dan meninggalkan segala hal yang
bertentangan dengan agama Allah Subhanahu Wata’ala. Namun, mereka telah
menyia-nyiakan inti shalat. Laa haula wala quwwata illa billah !
At-Tirmidzi
dan lain-lain meriwayatkan dari Jubair bin Nufair. Bahwa Ubadah bin Shamit
Radiyallahu ‘Anhu berkata : “Ilmu yang pertama kali diangkat dari manusia ialah
ilmu khusyuk. Tidak lama lagi anda akan masuk ke masjid berjama’ah dan melihat
tak seorang pun khusyuk.” Allahul musta’an !
Ayyuhal
muslimun ! Bagaimanakah kondisi kita sekarang dengan
kewajiban yang agung ini ? Tubuh meluncur ke bumi, hati lalai, dan batin
bergantung kepada dunia, kecuali orang-orang yang mendapat rahmat Allah.
Bisakah
kita kembali menelusuri jejak Nabi dalam menjalankan kewajiban yang agung ini
dan kewajiban-kewajiban Islam lainnya ? Kita berharap bisa. Dan hal itu
tidaklah terlalu sulit bagi Allah.
بارَكَ الله
لِيْ
وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ،وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ
. أَقُوْلُ
قَوْلِيْ هذا
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ،فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُالرَّحِيْمُ
Khutbah
Kedua
Amma
ba’du :
Ibadallah ! Bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Hormatilah syi’ar-syi’ar agama anda dan rasakanlah keagungan Sang Pencipta di
dalamnya. Bersihkanlah hati anda dari gangguan-gangguan duniawi dan
kaitan-kaitan materi. Dan dirikanlah shalat anda dengan hati yang hadir dan
khusyuk.
Ketahuilah
bahwa hal terbesar yang dapat membantu terwujudnya kekhusyukan di dalam shalat
ialah menghadirkan hati, merasakan keagungan Sang Pencipta, membersihkan hati
dari hal-hal yang dapat memalingkannya dari Allah dan rumah Akhirat, mengurangi
kesibukan duniawi, memakmurkan hati dengan iman dan menutup celah-celah setan.
Hal lain
yang bisa membantu juga ialah membatasi pandangan pada tempat sujud, meletakkan
tangan kanan di atas tangan kiri sewaktu berdiri, merenungkan ayat-ayat
Al-Qur’an atau doa-doa yang dibaca, tidak tengak-tengok, dan menjaga
thuma’ninah. Serta tidak terburu-buru, mendahului imam, bermain-main maupun
bergerak-gerak.
Semua
itu disertai dengan pertolongan Allah Subhanahu wata’ala merupakan upaya-upaya
yang dapat membantu seorang muslim untuk mewujudkan kekhusyukan di dalam
shalatnya. Dengan demikian, problem yang kerap mengganggu pikiran mayoritas
muslim yang melaksanakan shalat dapat diatasi.
Setiap
muslim harus melatih dirinya melakukan hal itu. Dan ketika Allah mengetahui
adanya keinginan untuk berbuat baik dari seseorang, dia akan menolong dan
membantunya untuk melaksanakannya. Seandainya umat Islam sekarang ini mau
melaksanakan shalatnya seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wasallam, niscaya dengan pertolongan Allah Subhanahu Wata’ala akan
menjadi titik tolak yang serius untuk memperbaiki kondisi mereka, merubah
keadaan dan menyelamatkan masyarakat mereka. Juga dapat menjadi jalan untuk
mengalahkan musuh-musuh dan mewujudkan cita-cita mereka, baik di dunia maupun
di Akhirat. Karena di dalam pelaksanaan syi’ar-syi’ar Islam terdapat senjata
yang kuat dan perisai yang dapat melindungi diri dari segala hal yang tidak
menyenangkan. Karena yang menjadi pendorongnya ialah keimanan yang kuat,
keyakinan yang mantap, dan kerinduan kepada Akhirat.
إِنَّ اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّونَ عَلَى
النَّبِيِّ
يَآأَيُّهَا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيمًا
اللهم صَلِّ
عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم
بَارِكْ عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ،
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم
اغْـفِـرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْـفِـرْ
لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ
النَّار
( Dikutip dari buku : Kumpulan
Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi pertama, ElBA Al-Fitrah, Surabaya
.Diposting oleh Yusuf Al-Lomboky )