RUJUK KEPADA MANHAJ SALAFUSH SHOLIH
Selasa, 10 September
13
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ،
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ،
وَنَعُوْذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا.
مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَا
أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ.
يَا أَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوْا
رَبَّكُمُ الَّذِيْ
خَلَقَكُمْ
مِّنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَآءً
وَاتَّقُوا
اللهَ
الَّذِيْ
تَسَآءَلُوْنَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَامَ
إِنَّ اللهَ
كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا.
يَا أَيُّهَا
الَّذِيْنَ ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا.
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ لَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمًا.
أَمَابَعْدُ؛
فَإِنَّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ
اللهِ
وَخَيْرَ
الْهَديِ
هَدْيُ
مُحَمَّدٍ
صَلَّ اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ،
وَشَرَّ الأُمُوْرِ
مُحَدَثَاتُهَا،
وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلَّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلةٍ
وَكُلَّ
ضَلاَلَةٍ
فِى النَّارِ.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah
Kita sering mendengarkan ajakan dari berbagai penceramah, mubaligh, da’i,
ustadz maupun khatib sebagai berikut: “Kita ummat Islam dari hari ke hari,
diberbagai tempat belahan bumi, sering mengalami perlakuan yang semena-mena
dari pihak lain. Perlakuan ini tidak hanya menimpa saat kondisi kita minoritas,
akan tetapi pada saat kita mayoritaspun mengalami hal yang sama. Tak terkecuali
hal itu pun menimpa di negeri ini yang penduduk muslimnya terbesar di dunia. Inna
lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Perlakuan tersebut dialami ummat Islam,
disebabkan ummat Islam enggan untuk merapatkan barisan, menyatukan shaff
dan tidak dalam kondisi berjama’ah. Ummat Islam di dalam kenyataannya lebih
senang ribut di antara mereka hanya disebabkan masalah kecil, karena masalah furu’
yang tidak layak membuat kita tidak bersatu. Padahal bersatu, berjama’ah di
bawah satu bendera, satu komando merupakan perintah Allah dan RasulNya. Nah,
karena melupakan perintah Allah dan RasulNya, akhirnya ummat Islam dibuat
kocar-kacir, tidak sanggup mempertahankan diri, setidak-tidaknya tidak selalu
siap menghadapi gempuran pihak luar. Sebab itu, marilah kita hidup berpedoman
Al-Qur’an dan sunnah Nabi kita … Demikianlah yang sering mereka lontarkan
kepada ummat.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah
Menghadapi seruan-seruan yang demikian mengaburkan, yang dapat membuat bingung
ummat, kecuali yang mendapat rahmat Allah, maka sepatutnya kita kembali kepada
firman Allah agar kita tetap berada di dalam Al-Haq. Mari kita realisasikan
firman Allah berikut:
.....فَاسْأَلُوا
أَهْلَ
الذِّكْرِ
إِنْ كُنْتُمْ
لَا
تَعْلَمُونَ
(النحل: 43)
Maka
bertanyalah kepada ahludz dzikri jika kamu tidak mengetahui. (Surat An-Nahl: 43). Ahludz dzikri pada ayat
tersebut adalah para ulama. Dan sebagaimana dimaklumi bersama bahwa terdapat
ulama suu’ dan ulama pewaris Nabi. Ulama pewaris Nabi inilah yang
senantiasa istiqamah mempertahankan warisan Nabi yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah,
apapun yang terjadi. Ulama inilah yang mendahulukan taqwa atas kesenangan
duniawi. Para ulama ini pula yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
sabdakan,
لاَ
تَزَالُ
طَائِفَةٌ
مِنْ
أُمَّتِيْ
قَائِمَةً
بِأَمْرِ
اللهِ، لاَ
يَضُرُّهُمْ
مَنْ
خَذَلَهُمْ
أَوْ
خَالَفَهُمْ
حَتَّى يَأْتِيَ
أَمْرُ اللهِ
وَهُمْ
ظَاهِرُوْنَ
عَلَى
النَّاسِ.
Akan senantiasa ada segolongan dari ummatku
yang menjalankan perintah Allah. Mereka tidak peduli akan orang-orang yang
merendahkan dan menentang mereka, hingga datang keputusan Allah. Dan mereka
lebih unggul dari lainnya.
(Hadits shahih riwayat Muslim dari jalan Mu’awiyah).
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah
Di antara ulama pewaris Nabi yang hidup di masa kita, beliau adalah pakar
hadits abad ke-15 H ini. Beliau Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani yang
telah memberikan penjelasan agar ummat kembali meraih izzahnya, sebagai
berikut:
Saya meyakini sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:
إِذَا
تَبَايَعْتُمْ
بِالْعِيْنَةِ
وَأَخَذْتُمْ
أَذْنَابَ
الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ
بِالزَّرْعِ
وَتَرْكُتُم
الْجِهَادَ،
سَلَّطَ
اللهُ
عَلَيْكُمْ
ذُلاًّ لاَ
يَنْزِعُهُ
عَنْكُمْ
حَتَّى تَرْجِعُوْا
إِلَى
دِيْنِكُمْ.
Apabila
kamu melakukan jual beli dengan sistem ‘iinah mengandung riba, menjadikan
dirimu berada di belakang ekor sapi, ridha dengan cocok tanam dan meninggalkan
jihad, niscaya Allah akan menjadikan kamu dikuasai oleh kehinaan, Allah tidak
akan mencabut kehinaan dari dirimu sebelum kamu rujuk kepada dien kamu.” (Hadits shahih riwayat Abu Dawud).
Berdasarkan hadits tersebut, kemuliaan akan kita raih, tiada lain apabila kita
rujuk kepada dien kita yaitu kepada Al-Kitab dan As-Sunnah. Kemudian
berdasarkan Kitab dan Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ,
kita mengetahui bahwa jalan bagi terwujudnya izzah kaum muslimin di dunia
hingga akhirat, hanya ada satu jalan (manhaj). Bukan banyak jalan (manhaj)
seperti yang dipraktekkan banyak jama’ah dan golongan-golongan Islam yang ada.
Allah shallallahu 'alaihi wasallam berfirman:
وَأَنَّ
هَذَا
صِرَاطِي
مُسْتَقِيمًا
فَاتَّبِعُوهُ
وَلَا
تَتَّبِعُوا
السُّبُلَ
فَتَفَرَّقَ
بِكُمْ عَنْ
سَبِيلِهِ .... (الأنعام:
153)
Dan sesungguhnya (yang Kami perintahkan) ini
adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti
jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari
jalanNya. (Surat Al-An’am 153).
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah menjelaskan ayat tersebut
kepada para sahabatnya di suatu hari dengan menggambarkan sebuah garis lurus di
atas tanah, disusul dengan menggambarkan garis-garis pendek yang banyak yang
berada di sisi garis lurus tadi. Kemudian beliau membacakan ayat di atas ketika
menunjukan jari beliau ke atas garis yang lurus kemudian menunjuk garis-garis
yang terdapat pada sisi-sisinya, beliau bersabda:
هَذَا
سَبِيْلُ
اللهِ
وَهَذِهِ
السُّبُلُ عَلَى
رَأْسِ كُلِّ
سَبِيْلٍ
مِنْهَا
شَيْطَانٌ
يَدْعُوْ
لَهُ.
Ini
adalah jalan Allah, sedangkan jalan-jalan ini, pada setiap muara jalan tersebut
ada syetan yang menyeru kepadanya.
(Shahih, terdapat di dalam
Zhilalul Jannah fi Takhrij As Sunnah: 16-17). Allah menguatkan ayat dan hadits
di atas dengan firmanNya:
وَمَنْ
يُشَاقِقِ
الرَّسُولَ
مِنْ بَعْدِ مَا
تَبَيَّنَ
لَهُ
الْهُدَى
وَيَتَّبِعْ غَيْرَ
سَبِيلِ
الْمُؤْمِنِينَ
نُوَلِّهِ
مَا تَوَلَّى
وَنُصْلِهِ
جَهَنَّمَ
وَسَاءَتْ
مَصِيرًا
(النساء: 115)
Dan
barangsiapa menentang Rasul sesudah jelas petunjuk (kebenaran) baginya dan
mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin. Kami biarkan ia leluasa
terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia ke dalam
Jahanam dan Jahanam itu seburuk-buruknya tempat kembali. (Surat An Nisaa’:
115).
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah
Syaikh Al-Albani melanjutkan penjelasannya sebagai berikut: Di dalam An Nisaa’
115 terdapat hikmah yang dalam, bahwa Allah mengikatkan jalannya orang-orang
mu’min kepada apa yang telah dibawa oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam Hal inilah yang telah diisyaratkan Rasulullah di dalam hadits iftiraq
(perpecahan), ketika beliau ditanya tentang al-firqah an-najiyah (golongan yang
selamat), saat itu beliau menjawab:
مَا
أَنَا
عَلَيْهِ
الْيَوْمَ
وَأَصْحَابِيْ.
(yaitu)
apa yang aku dan sahabatku hari ini ada di atasnya.
(Silsilah Ash-Shahihah:
203).
Dengan demikian hikmah firman Allah “jalannya orang-orang mu’min” (An Nisaa’
115) dan firqah najiyah bahwa mereka adalah para sahabat radhiallahu anhum,
generasi yang telah menerima pelajaran dua wahyu (Al-Qur’an dan As-Sunnah)
langsung dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam , tanpa perantara. Para
sahabat inilah, orang-orang terbaik setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam , sebagaimana sabda beliau:
خَيْرُ
النَّاسِ
قَرْنِيْ
ثُمَّ
الَّذِيْنَ
يَلُوْنَهُمْ
ثُمَّ
الَّذِيْنَ
يَلُوْنَهُمْ.
Sebaik-baik
manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang sesudahnya kemudian yang sesudahnya
lagi. (Hadits shahih riwayat Muttafaq ‘alaihi, At-Tirmidzi, Abu Dawud dan
An-Nasa’i).
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah
Jawaban Syaikh Al-Albani ditutup dengan memberikan kesimpulan dan penegasan
bahwa kaum muslimin yang menghendaki dengan sungguh–sungguh meraih kembali
izzahnya, kejayaan dan tegaknya hukum Islam, maka harus bisa merealisasikan dua
hal: Pertama, mengembalikan syari’at Islam dalam keadaan bersih, seperti
zaman pertama dahulu, dari unsur-unsur luar yang menyusup ke dalamnya (diistilahkan
dengan tashfiyah). Bersih seperti saat turunnya wahyu Allah:
......
الْيَوْمَ
أَكْمَلْتُ
لَكُمْ
دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ
عَلَيْكُمْ
نِعْمَتِي
وَرَضِيتُ
لَكُمُ
الْإِسْلَامَ
دِينًا...(المائدة
: 3)
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu
agamamu dan telah Kusempurnakan buatmu ni’matKu dan telah Kuridhai Islam itu
menjadi agamamu. (Surat Al-Maidah 3).
Untuk melaksanakan tashfiyah dibutuhkan perjuangan ekstra ketat dari para ulama
kaum muslimin dipelbagai penjuru dunia. Kedua, upaya tashfiyah harus dibarengi
dengan tarbiyah yang tidak mengenal lelah. Ilmu yang telah dibersihkan tersebut
ditarbiyahkan kepada seluruh kaum muslimin. Seperti pada hari kaum muslimin
telah memahami dien mereka sebagaimana dipahami para sahabat Rasulullah
shallallohu 'alaihi wasallam kemudian mengamalkan pada semua sisi kehidupan,
maka pada hari itulah kaum muslimin dapat bergembira merasakan kemenangan yang
datangnya dari Allah.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah
Demikian khutbah pertama.
وَاللهَ
نَسْأَلُ
أَنْ
يَرْزُقَنَا
عِلْمًا
نَافِعًا
وَرِزْقًا
طَيِّبًا وَعَمَلاً
مُتَقَبَّلاً،
وَصَلَّى
اللهُ عَلَى
نَبِيِّنًا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
Khutbah
Kedua
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ،
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ،
وَنَعُوْذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
مَنْ يَهْدِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛
Pada
khutbah kedua ini, saya simpulkan atas khutbah pertama bahwa: Pertama,
kehinaan yang kini dialami kaum muslimin disebabkan kaum muslimin meninggalkan
dien mereka sendiri, tidak lagi hidup mempraktekkan Al-Kitab dan As-Sunnah. Kedua,
niat dan tujuan yang baik untuk hidup berpedoman kepada Al-Kitab dan As-Sunnah
harus berdasarkan ilmu, sehingga kita tidak akan terperosok ke dalam kesalahan
yang lebih besar yaitu melakukan bid’ah dan berpecah belah. Di sebabkan
ketiadaan ilmu, akhirnya menyangka diri kita telah berada di atas jalan /
manhaj yang haq, padahal sesungguhnya berada di dalam kebinasaan tanpa
disadari. Ketiga, kita perlu bertanya kepada para ulama pewaris nabi
sebagaimana diperintahkan Allah, sehingga kita memperoleh keterangan atau
penjelasan yang benar tentang Al-Kitab dan As-Sunnah (syari’at Allah), yaitu
rujuk kepada keduanya hanya bisa ditempuh dengan bermanhaj Salafush Shalih. Dan
manhaj tersebut hanya bisa dilakukan dengan cara kembali kepada
disiplin-disiplin ilmu syariat dan mengamalkan kaidah-kaidahnya. Dengan begitu,
tashfiyah dapat direalisasikan dan selanjutnya syari’at Islam yang telah bersih
ditarbiyahkan kepada segenap kaum muslimin. Pada saatnya kaum muslimin memiliki
pemahaman terhadap dien mereka sebagaimana para sahabat Nabi memahaminya,
selanjutnya syari’at tersebut diamalkan pada semua sisi kehidupan dengan
istiqamah, maka izzah kembali dapat diraih, kehidupan nan membahagiakan dunia
akhirat dapat dirasakan.
إِنَّ اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلَى
النَّبِيِّ،
يَاأَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ لَنَا
وَلإِخْوَانِنَا
الَّذِيْنَ
سَبَقُوْنَا
بِاْلإِيْمَانِ
وَلاَتَجْعَلْ
فِيْ
قُلُوْبِنَا
غِلاًّ
لِّلَّذِيْنَ
ءَامَنُوْا
رَبَّنَا
إِنَّكَ
رَءُوْفٌ
رَّحِيْمٌ.
اَللَّهُمَّ
افْتَحْ
بَيْنَنَا
وَبَيْنَ
قَوْمِنَا
بِالْحَقِّ
وَاَنْتَ
خَيْرُ
الْفَاتِحِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
عِلْمًا
نَافِعًا
وَرِزْقًا
طَيِّبًا
وَعَمَلاً
مُتَقَبَّلاً.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ.
وَصَلَّى
اللهُ عَلَى
نَبِيِّنًا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
Oleh:
Suroso / Abu Hudzaefah Abdul Salam
(Dikutib
dari Buku Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi ke-1, Darul Haq
Jakarta).