Perdamaian Itu Lebih Baik
Rabu, 22
Januari 14
إِنّ
الْحَمْدَ ِللهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلهَ إِلاّ
اللهُ
وَأَشْهَدُ أَنّ
مُحَمّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ
صَلّ
وَسَلّمْ
عَلى
مُحَمّدٍ وَعَلى
آلِهِ
وِأَصْحَابِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدّيْن.
يَاأَيّهَا
الّذَيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
حَقّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنّ
إِلاّ
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا
النَاسُ
اتّقُوْا
رَبّكُمُ الّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَاءً
وَاتّقُوا
اللهَ الَذِي
تَسَاءَلُوْنَ
بِهِ وَاْلأَرْحَام
َ إِنّ اللهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا
الّذِيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا
اللهَ وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْلَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمًا،
أَمّا بَعْدُ
...
فَأِنّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ اللهِ،
وَخَيْرَ
الْهَدْىِ
هَدْىُ
مُحَمّدٍ
صَلّى الله
عَلَيْهِ
وَسَلّمَ،
وَشَرّ
اْلأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةً،
وَكُلّ ضَلاَلَةِ
فِي النّارِ.
Kaum
Muslimin rahimakumullah
Ketahuilah wahai saudara-saudaraku, sesungguhnya takwa kepada Allah Subhanahu
wa Ta'ala adalah bekal terbaik bagi setiap orang yang mengharap rahmat-Nya.
dengan takwa, seseorang akan mendapatkan rezeki dari arah yang tidak disangka
dan dia akan mendapatkan kemudahan setelah kesusahan, dan kelapangan setelah
kesempitan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
أَلَا
إِنَّ
أَوْلِيَاءَ
اللَّهِ لَا
خَوْفٌ
عَلَيْهِمْ
وَلَا هُمْ
يَحْزَنُونَ
(62) الَّذِينَ
آمَنُوا
وَكَانُوا
يَتَّقُونَ (63)
[يونس : 62 ، 63]
"Ingatlah sesungguhnya wali-wali (kekasih-kekasih Allah itu tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula)mereka bersedih hati. (yaitu)
orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa". (QS. Yunus:
62-63)
Kaum Muslimin rahimakumullah
Sesungguhnya pengetahuan manusia, keinginan, dan watak mereka itu berbeda-beda
meskipun mereka berasal dari bapak dan ibu yang sama (yaitu Nabi Adam dan
Hawa). Dan sebenarnya ini merupakan ujian, sebagaimana firman Allah Subhanahu
wa Ta'ala :
وَجَعَلْنَا
بَعْضَكُمْ
لِبَعْضٍ
فِتْنَةً
أَتَصْبِرُونَ
وَكَانَ
رَبُّكَ
بَصِيرًا
Dan Kami
jadikan sebahagian kamu cobaan bagi yang lain.Sanggupkah kamu bersabar Dan
Rabbmu Maha Melihat (al-Furqan:
20)
Sebagian orang ada yang berkepribadian bijak, arif dan penuh toleran. Dia tidak
mudah emosi dengan sedikit kalimat yang dia dengar.
Sebagian lagi, ada juga yang ceroboh, nekat, mudah tertipu, tidak sabar, mudah
tersulut perkataan lalu berlaku konyol. Lisan dan tindak-tanduknya mendahului
akalnya.
Kaum Muslimin rahimakumullah
Seorang Mukmin adalah seorang juru damai yang agung, yang bisa menghimpun bukan
memecah belah, yang memperbaiki bukan merusak; bijak dalam mendamaikan pihak
yang bertikai. Dan sebagai imbal baliknya, banyak orang yang mendoakan kebaikan
untuknya dan memujinya karena dia telah mendamaikan dan menyelamatkan dari
perpecahan.
Orang yang memperhatikan realita saat ini, dia akan dapati adanya keretakan
yang menggores kemurnian kecintaan dan jalinan persaudaraan. Hal ini nampak
dari hawa nafsu yang dituruti, kebakhilan dan ketamakan yang diikuti, dan
kebanggaan terhadap pendapat sendiri.
Sungguh benar Rasululah shallallahu 'alaihi wasallam ketika beliau
bersabda:
إن
الشيطان قد
أيس أن يعبده
المصلون في
جزيرة العرب،
ولكن في
التحريش
بينهم
Sesungguhnya
syaitan telah putus asa dari (mendapatkan) penyembahan dari orang-orang yang
shalat di jazirah arab, akan tetapi dia akan selalu mengadu domba di antara
mereka. (HR. Muslim no. 2812).
Ketika terjadi pertengkaran dan pertikaian, maka perdamaian menjadi suatu yang
sangat terpuji. Jika perselisihan adalah keburukan, pertengkaran dan pertikaian
adalah aib, maka sebaliknya, perdamaian dan usaha mendamaikan adalah sebuah
rahmat. Meski perbedaan pendapat pada manusia adalah hal yang telah digariskan
oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagaimana firman-Nya:
وَلَوْ
شَآءَ
رَبُّكَ
لَجَعَلَ
النَّاسَ أُمَّةً
وَاحِدَةً
وَلاَيَزَالُونَ
مُخْتَلِفِينَ
Jikalau
Rabbmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka
senantiasa berselisih pendapat (Hud:
118)
Namun Allah mengecualikan darinya orang-orang yang mendapat rahmat-Nya.
إِلاَّمَن
رَّحِمَ
رَبُّكَ
Kecuali
orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu (Hud:
119)
Perdamaian yang terwujud pada umat akan menjadikannya indah, namun jika hilang
maka berbagai keburukan tidak akan terhindarkan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَالصُّلْحُ
خَيْرٌ
"Dan
perdamaian itu lebih baik"
(an-Nisa: 128)
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman:
فاتقوا
الله وأصلحوا
ذات بينكم
Sebab
itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan diantara sesamamu.(al-Anfal: 1)
Allah Subhanahu wa Ta'ala befirman,
لَا
خَيْرَ فِي
كَثِيرٍ مِنْ
نَجْوَاهُمْ
إِلَّا مَنْ
أَمَرَ
بِصَدَقَةٍ
أَوْ مَعْرُوفٍ
أَوْ
إِصْلَاحٍ
بَيْنَ
النَّاسِ
[النساء : 114]
"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka kecuali
bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau
berbuat makruf atau mengadakan perdamaian diantara manusia. (an-Nisa: 114)
وَإِن
طَآئِفَتَانِ
مِنَ
الْمُؤْمِنِينَ
اقْتَتَلُوا
فَأَصْلِحُوا
بَيْنَهُمَا
"Dan
jika ada dua golongan dari orang-orang Mukmin berperang maka damaikanlah antara
keduanya"
(al-Hujurat: 9)
إِنَّمَا
الْمُؤْمِنُونَ
إِخْوَةٌ
فَأَصْلِحُوا
بَيْنَ
أَخَوَيْكُمْ
"Sesugguhnya orang-orang mukmin adalah
saudara"
(al-Hujurat: 10)
Dan sungguh tidak ada di dunia juru damai yang sekelas dengan Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam . Beliau mendamaikan suku-suku, antar individu-individu
dan kelompok masyarakat. Beliau juga mendamaikan pasangan suami-istri, dua
orang yang berutang-piutang, dan juga juru damai dalam penegakkan hak harta,
nyawa dan kehormatan. Bagaimana tidak, padahal beliau sendiri bersabda:
ألا
أخبركم بأفضل
من درجة
الصيام
والصلاة والصدقة
قالوا بلى قال
صلاح ذات
البين فإن
فساد ذات
البين هي
الحالقة
"Maukah aku beritahukan kepadamu perkara
yang lebih utama daripada puasa, shalat dan sedekah? Para sahabat menjawab,
"Tentu wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Yaitu mendamaikan
perselisihan diantara kamu, karena rusaknya perdamaian diantara kamu adalah
pencukur (perusak agama)". (HR.
Abu Dawud dan Tirmidzi)
Disebutkan di dalam sebuah hadits;
عن سهل
بن سعد رضي
الله عنه : أن
أهل قباء
اقتتلوا حتى
تراموا
بالحجارة
فأخبر رسول
الله صلى الله
عليه و سلم
بذلك فقال (
اذهبوا بنا
نصلح بينهم )
Dari
Sahal bin Sa'ad radhiyallahu 'anhu, bahwa penduduk Quba' telah bertikai hingga
saling lempar batu, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dikabarkan
tentang peristiwa itu, maka beliau bersabda: Mari kita pergi untuk mendamaikan
mereka. (HR. al-Bukhari)
أقول
ما تسمعون
وأستغفر الله
لي ولكم
ولسائر المسلمين
فاستغفروه
إنه هو الغفور
الرحيم
Khutbah
Kedua
الحمد
لله وكفى
والصلاة
والسلام على
النبي المصطفى
وعلى آله
وصحبه ومن
والاه، أما
بعد:
Wahai
kaum Muslimin, semoga Allah selalu menjaga kita semua.
Sesungguhnya perdamaian termasuk diantara sebab munculnya rasa cinta dan
perekat keretakan. Terkadang perdamaian itu lebih baik daripada hukum yang
diputuskan hakim. Dalam perdamaian, ada pahala dari Allah Subhanahu wa
Ta'ala dan ada dosa yang dihapuskan. Termasuk didalamnya, pertikaian dalam
rumah tangga.
Namun untuk kita sadar bersama, bahwa semua upaya damai itu tidak akan terwujud
kecuali dibarengi keinginan kuat yang nyata serta niat tulus dari semua pihak,
antara juru damai dan yang didamaikan. Karena Allah Subhanahu wa Ta'ala
mengaitkan perdamaian itu dengan adanya kemauan yang baik dari semua pihak.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
إن
يريدا إصلاحا
يوفق الله
بينهما
"Jika
kedua orang hakim itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi
taufiq kepada suami-istri itu"(an-Nisa:
35)
Suatu ketika, Imam Hasan al-Bashri rahimahullah didatangi oleh dua orang
yang bertikai dari Tsaqif. Lalu sang Imam berkata, "Kalian berdua masih
satu kelompok dan satu kerabat, (kenapa) masih saja bertikai?" mereka
menjawab, "Wahai Abu Sa'id, kami hanya ingin damai. "Beliau rahimahullah
berkata, "Ya. Kalau begitu kalian bicaralah!" Akan tetapi keduanya
malah saling melempar tuduhan dusta ke lawannya. Melihat ini, sang Imam
menjawab, "Demi Allah! Kalian dusta! Bukan perdamaian yang kalian
inginkan, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya: "Jika
kedua orang hakim itu bermaksud mengadakan perbaikan niscaya Allah memberi
taufiq kepada suami-istri itu." (an-Nisa: 35)
Oleh karenanya bertakwalah wahai para hamba Allah! Sudahi dan hentikanlah
pertengkaran dan pertikaian, terutama yang disebabkan hal-hal remeh.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
وَجَزَاءُ
سَيِّئَةٍ
سَيِّئَةٌ
مِثْلُهَا
فَمَنْ عَفَا
وَأَصْلَحَ
فَأَجْرُهُ
عَلَى
اللَّهِ
[الشورى : 40]
"Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas
(tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zhalim.
(asy-Syura: 40)
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberkahi saya dan anda semuanya
dengan al-Qur'an dan mencurahkan manfaat dari isinya berupa ayat-ayat dan
hikmahNya yang Maha Bijak. Itulah yang aku ucapkan, jika itu benar maka
kebenaran dari Allah. Jika ada yang salah maka dari diri saya sendiri dan dari
syetan. Dan aku beristighfar kepada Allah, sesungguhnya Ia Maha Pengampun.
إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِإِخْوَانِنَا
الَّذِينَ
سَبَقُونَا
بِالْإِيمَانِ
وَلَا
تَجْعَلْ فِي
قُلُوبِنَا
غِلّاً لِّلَّذِينَ
آمَنُوا
رَبَّنَا
إِنَّكَ
رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
اللهم
افتح بيننا
وبين قومنا
بالحق وأنت
خير الفاتحين.
اللهم
إنا نسألك
علما نافعا
ورزقا طيبا
وعملا متقبلا
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ
وصلى
الله على
نبينا محمد
وعلى آله
وصحبه و َمَنْ
تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدّيْن.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لله رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ
Sumber:
Majalah as-Sunnah edisi 01, tahun XVI, Jumadil Akhir 1433 H/Mei 2012 M