Mengadu Domba Adalah Perbuatan Tercela
Rabu, 09 Maret
11
Khutbah
pertama
Amma
ba’du :
Ibadallah ! Saya berwasiat kepada anda agar senantiasa
bertakwa kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Karena takwa adalah bekal utama dalam
menghadapi kesulitan dan kemakmuran. Takwa adalah tabungan untuk menghadapi
suka dan duka. Takwa dapat melenyapkan kesedihan, menghilangkan keresahan,
mendatangkan rizki, dan memudahkan urusan, dengan izin Allah Subhanahu
Wata’ala.
وَمَن
يَتَّقِ
اللهَ
يَجْعَل
لَّهُ مَخْرَجًا
وَيَرْزُقْهُ
مِنْ حَيْثُ
لاَيَحْتَسِبُ
Barangsiapa
yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar.
Dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. (QS. Ath-Thalaq :2-3)
وَمَن
يَتَّقِ
اللهَ
يَجْعَل
لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ
يُسْرًا
ذَلِكَ
أَمْرُ اللهِ
أَنزَلَهُ
إِلَيْكُمْ
وَمَن
يَتَّقِ
اللهَ يُكَفِّرْ
عَنْهُ
سَيِّئَاتِهِ
وَيُعْظِمْ
لَهُ أَجْرًا
Dan
barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya
kemudahan dalam urusannya. Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada
kamu; dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan menutupi
kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya. (QS. Ath-Thalaq :4-5)
Ayyuhal
Muslimun ! Salah satu tujuan besar yang hendak dicapai
oleh syari’at Islam ialah membangun pribadi yang shahih dan membentuk
masyarakat muslim yang ideal. Yakni sebuah masyarakat yang warganya disambung
dengan jembatan cinta, kasih sayang dan kelembutan. Anak-anaknya dapat menjalin
hubungan persaudaraan, kerjasama dan kesetiaan. Masyarakat yang penuh dengan
cinta, kasih sayang, tolong-menolong, kerukunan, persahabatan dan kesentosaan.
Masyarakat yang berdiri di atas dasar tolong-menolong dan saling mencintai.
Masyarakat yang dibangun di atas dasar hubungan yang lembut dan saling
menghargai. Maka tidak ada tempat bagi egoisme, ingin menang sendiri dan
mementingkan diri sendiri. Hati para warganya dipenuhi dengan cinta pada
saudaranya. Lidah mereka gemar menyebut kebaikan dan keutamaan saudaranya.
Tidak suka mencemarkan nama baiknya, menyudutkannya, melukai hati dan merusak
kehormatannya. Juga tidak menyimpan dendam dan tidak suka menyebarkan
kebohongan. Mereka hidup saling mencintai di dalam bangunan yang menjulang,
tubuh yang utuh, dan gedung yang kokoh. Mereka ibarat mata rantai yang kuat,
untaian permata yang cemerlang, dan mutiara yang gemerlap dalam untaian indah
yang tidak terpisahkan. Masyarakat Islam adalah benteng kokoh yang tidak bisa
disusupi oleh unsur-unsur yang merusak dan meruntuhkannya.
Ikhwatal
iman ! Islam meminta para pemeluknya yang mengemban
misinya agar menjaga hak keimanan dan persaudaraan, serta mendamaikan
orang-orang yang bersengketa. Islam juga meminta mereka agar menangkal segala
macam kejahatan yang merusak dan penyakit-penyakit sosial yang ganas dan dapat
menyerang bangunan masyarakat dari pondasinya, yang dapat mengubahnya menjadi
masyarakat yang selalu bertikai, berpecah belah, saling mendendam dan saling
memusuhi. Islam mengajak umatnya untuk menjaga perdamaian, keamanan dan
stabilitas masyarakat untuk menghadapi hempasan badai dan hantaman ombak.
Sehingga haluan kapal masyarakat tidak berubah dan tidak terjadi kerusakan di
salah satu bagiannya. Karena jika hal ini terjadi maka kapal itu akan semakin
jauh dari pulau keamanan dan pantai keselamatan.
Sebuah
masyarakat akan senantiasa baik sepanjang warganya mengetahui hak dan kewajiban
masing-masing terhadap warga lainnya, budi pekerti menguasai hubungan mereka,
dan sepi dari sifat-sifat tercela dan prilaku yang rendah.
Saudara-saudara
sekalian ! Salah satu sifat terpuji yang paling perlu dikembangkan di tengah
masyarakat ialah berbaik sangka kepada sesama dan menyaring setiap kabar yang
beredar. Islam mendidik umatnya bersikap seperti itu dalam rangka menjaga
keutuhan masyarakat dan kebahagiaan hubungan antar warganya. Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman :
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
إِن جَآءَكُمْ
فَاسِقُُ
بِنَبَإٍ
فَتَبَيَّنُوا
أَن
تُصِيبُوا
قَوْمًا
بِجَهَالَةٍ
فَتُصْبِحُوا
عَلَى
مَافَعَلْتُمْ
نَادِمِينَ
Hai
orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu
berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah
kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal
atas perbuatanmu itu. (QS.
Al-Hujurat :6)
Hamzah
dan Al-Kasa’i membaca :Fatastabbatu (periksalah kebenarannya).
Allah
Juga berfirman :
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
اجْتَنِبُوا
كَثِيرًا
مِّنَ
الظَّنِّ
إِنَّ بَعْضَ
الظَّنِّ
إِثْمُُ
Hai
orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya
sebagian prasangka itu adalah dosa.
(QS.Al-Hujurat :12)
Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“Hindarilah
perasangka ! karena sesungguhnya prasangka adalah cerita yang paling dusta.” (HR.Al-Bukhari, 6066 dan Muslim, 2563 )
Beliau
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda :
“Seseorang
sudah cukup berdusta manakala ia menceritakan semua yang ia dengar.” (HR.Muslim,5 )
Ahibbati
Fillah ! Seorang Muslim yang sadar tidak akan mau
menerima begitu saja kabar yang didengarnya tanpa menyaring dan meneliti.
Karena boleh jadi orang yang membawa kabar itu adalah seorang pengadu domba
yang ingin mengeruk keuntungan, menghindari keraguan, atau mencari kedudukan.
Di alam tumbuhan ada yang disebut benalu atau parasit yang menempel pada batang
tumbuhan yang sehat untuk menghambat pertumbuhannya. Di dunia manusia juga ada
yang seperti itu. Yaitu orang-orang yang mendekati warga masyarakat untuk
membakar api amarah di dalam dada dan membangkitkan kejahatan. Sehingga
terjadilah perpecahan, perseteruan, permusuhan dan pertengkaran antar sesama
muslim. Dan buruk sangka pun merajalela di antara mereka yang kemudian
menghabisi rasa persahabatan dan sisa-sisa kejernihan.
Orang-orang
semacam itu sangat berbahaya bagi umat dan mereka cukup banyak. Mudah-mudahan
Allah tidak memperbanyak lagi jumlah mereka. Karena mereka telah banyak
menciptakan kerenggangan di antara sesama umat Islam, juga banyak membuat
orang-orang yang tidak bersalah menjadi kambing hitam, banyak mengobarkan api
fitnah dan permusuhan di antara orang-orang yang saling mencintai dan berhati
bersih. Inilah yang membuat umat Islam harus waspada terhadap mereka dan jangan
sampai percaya pada ucapan mereka. Itulah prinsip Islam yang harus dipelihara
untuk jaga diri dari para pengadu dan provokator. Di samping untuk mencegah
aksi yang dilakukan oleh para penyebar isu, gosip, dan kabar-kabar yang tidak
bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.
Al-Bukhari
di dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad meriwayatkan dari Asma’ binti Yazid
Radiyallahu ‘anha bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“ Maukah
kuberitahukan kepada kalian tentang orang-orang yang paling buruk di antara
kalian. Yaitu orang-orang yang suka berjalan ke sana kemari untuk menyebar
fitnah (mengadu domba), yang suka memisahkan orang-orang yang saling mencintai,
yang suka mencari kekurangan pada orang-orang yang tidak berdosa.” (HR.Al-Bukhari dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad,
323 dan Ahmad, 6/459 )
Sementara
Ahmad dan Abu Daud meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
bersabda :
“Sesungguhnya
salah satu jenis riba yang paling keji ialah mencemarkan nama baik seorang
muslim tanpa hak.”
(Al-Musnad,1/190 dan Sunan Abi Daud, 4976 )
Dulu,
Abdullah bin Ubay, dedengkot kaum munafik membuat kebohongan terbesar untuk
mencemarkan nama baik wanita suci dan bersih dari dosa, Ummul Mukminin Aisyah
Radiyallahu ‘Anha. Allah Subahanahu Wata’ala memberikan panduan mengenai apa
yang harus dilakukan dalam situasi yang memalukan seperti itu dengan firmanNya
:
لَّوْلآ إِذْ
سَمِعْتُمُوهُ
ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ
وَالْمُوْمِنَاتُ
بِأَنفُسِهِمْ
خَيْرًا
وَقَالُوا
هَذَآ إِفْكٌ
مُّبِينٌ
Mengapa
di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mu'minin dan mu'minat
tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak)
berkata:"Ini adalah suatu berita bohong yang nyata". (QS. An-Nur :12)
Sampai
firman Allah :
وَلَوْلآ
إِذْسَمِعْتُمُوهُ
قُلْتُم مَّايَكُونُ
لَنَآ أَن
نَّتَكَلَّمَ
بِهَذَا سُبْحَانَكَ
هَذَا
بُهْتَانٌ
عَظِيمٌ يَعِظُكُمُ
اللهُ أَن
تَعُودُوا
لِمِثْلِهِ أَبَدًا
إِن كُنتُم
مُّؤْمِنِينَ
Dan
mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong
itu:"Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini.Maha Suci
Engkau (Ya Rabb kami), ini adalah dusta yang besar". Allah memperingatkan
kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika
kamu orang-orang yang beriman,
(QS.An-Nur :17)
Ini
adalah cara hidup yang baku yang harus diikuti ketika seorang muslim mendengar
isu atau gosip. Sehingga kita tidak menyesal di kemudian hari karena telah
bersikap buruk kepada sesama muslim dan mensyiarkan berita yang tidak sesuai
dengan fakta yang ada padanya. Atau berdusta atas namanya dan menyebarluaskan
ucapan yang tidak pernah diucapkannya dengan label “kata orang”. Ini ,merupakan
salah satu bentuk upaya membuat kerusakan di muka bumi. Sedangkan Allah tidak
menyukai orang-orang yang suka membuat kerusakan. Dan hal ini juga merupakan
salah satu tindakan yang menyakiti orang-orang beriman dengan menyiarkan berita
yang tidak sesuai dengan fakta yang ada padanya. Sedangkan Allah Subahanahu
Wata’ala berfirman :
وَالَّذِينَ
يُؤْذُونَ
الْمُؤْمِنِينَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
بِغَيْرِ
مَااكْتَسَبُوا
فَقَدِ
احْتَمَلُوا
بُهْتَانًا
وَإِثْمًا
مُّبِينًا
Dan
orang-orang yang menyakiti orang-orang mu'min dan mu'minat tanpa kesalahan yang
mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang
nyata. (QS.Al-Ahzab :58)
Ma’syiral
muslimin rahimahumullah ! Di
Antara penyakit-penyakit sosial yang berbahaya ada suatu penyakit kronis yang
sulit disembuhkan. Ia merupakan prilaku yang tercela dan perangai yang tidak
terpuji. Penyakit apakah itu ?
Penyakit
itu bernama namimah (adu domba). Penyakit ini timbul akibat lemahnya
iman, kotornya hati dan lidah yang tidak terkontrol dan terkendali. Namimah
ialah membawa omongan dari seseoarang kepada orang lain untuk merusak hubungan
mereka berdua.
Pelaku namimah
(pengadu domba/ provokator) memiliki watak yang buruk, jiwa sosial yang jelek,
cita-cita yang rendah, dan kurang menghargai adab-adab yang benar. Ia
berlumuran kehinaan, kenistaan, kotoran dan kerendahan. Batinnya telah dirasuki
rasa dendam. Maka ia tidak akan puas sebelum melakukan provokasi, melakukan
perusakan dan menyakiti sesama. Betapa banyak orang yang dipisahkannya dari
kekasihnya dan dijauhkan dari saudaranya. Betapa banyak tali persaudaraan yang
dia putuskan, hubungan yang dia rusak, ikatan yang dia lepaskan, fitnah yang
dihembuskannya, dendam yang dia kobarkan, rasa permusuhan yang dia timbulkan,
suami istri yang diceraikannya, dan barisan yang dia bubarkan. Bahkan betapa
banyak rumah tangga yang dia hancurkan, masyarakat yang dia binasakan, dan
peradaban yang dia lenyapkan. Bahkan tidak jarang perang besar terjadi akibat
perbuatan ini. Wal iyadzubillah !
Seorang
provokator adalah organ tubuh yang beracun. Ia selalu menyebabkan putusnya
hubungan dan merusak keharmonisan. Ia suka berbicara di balik layar. Ia bisa
berubah-ubah warna seperti bunglon. Ia bisa menyemburkan racun seperti ular
berbisa. Gaya hidupnya adalah membuat kerusakan dan kasak-kusuk. Kebiasaannya
adalah berbicara kotor dan jorok. Prilakunya buruk dan sinis. Hobinya adalah
memancing masalah dan memanas-manasi situasi. Kesenangannya menyebarkan isu dan
provokasi. Ia tidak lega bila tidak mengada-ada dan mengaku-ngaku. Ia tidak
bisa merasa tenang, hatinya tidak bisa tenteram sebelum berhasil merusak
hubungan persahabatan dan persaudaraan. Dan betapa banyak kejahatan yang
menimpa orang-orang yang terhormat dan mumpuni akibat laporan yang mengada-ada.
Oleh
karena itu Islam memperingatkan hal tersebut agar diwaspadai dan tidak
dilakukan. Allah Subahanahu Wata’ala berfirman :
وَيْلُُ
لِّكُلِّ
هُمَزَةٍ
لُّمَزَةٍ
Kecelakaanlah
bagi setiap pengumpat lagi pencela, (QS. Al-Humazh
:1)
وَلاَتُطِعْ
كُلَّ
حَلاَّفٍ
مَّهِينٍ هَمَّازٍ
مَّشَّآءٍ
بِنَمِيمٍ
Dan
janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina yang banyak
mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, (QS.
Al-Qalam :10-11)
Imam
Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“Tidak
akan masuk Surga orang yang suka mengadu domba.” (Shahih Muslim, 105)
Dalam
riwayat Al-Bukhari disebutkan:
“Tidak
akan Masuk Surga orang yang suka menyebar fitnah.” (Shahih Bukhari, 6056)
Menurut
An-Nawawi keduanya memiliki makna yang sama. Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata :
“Ada yang berpendapat bahwa perbedaannya ialah bahwa nammam adalah orang
yang mengetahui kisah secara langsung, lalu menceritakannya kepada orang lain.
Sedangkan fattat adalah orang yang mencuri dengar tanpa dia ketahui
keberadaannya, lalu menceritakan apa yang dia dengar kepada orang lain.”
Menurut
Adz-Dzahabi, ada ijma’ yang mengharamkan namimah. Dan ia
menyebutkan bahwa namimah termasuk dosa besar. Di dalam Shahih Al-Bukhari
dan Shahih Muslim disebutkan bahwa Ibnu Abbas Radiyallahu ‘anhuma
berkata : “Rasulullah pernah melewati dua buah kuburan lalu bersabda :
“
Sesungguhnya mereka berdua benar-benar sedang disiksa, dan mereka tidak disiksa
dalam perkara yang besar. Salah satu dari mereka dahulu tidak menutup diri dari
air kencing. Sedangkan yang lain dahulu suka mengadu domba.” (Shahih Al-Bukhari,218 dan Shahih Muslim,292)
Ibnu
Mas’ud Radiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam bersabda :
“Maukah
kuberitahukan kepada kalian tentang apa itu kebohongan besar ? Yaitu namimah;
banyak bicara di antara manusia.”
(HR.Muslim,2606 )
Ibadallah ! Apakah setelah mengetahui ancaman keras yang
menggetarkan persendian ini masih ada orang Islam yang rela menempuh jalur yang
tercela ini, membuka rahasia, menyingkap tabir, mencari-cari kesalahan,
menelusuri kekeliruan, dan membesar-besarkan kekurangan ?! Banyak kata yang
mati seketika tanpa pernah beranjak dari tempatnya. Dan banyak pula kata yang
berubah menjadi percikan api, lalu berkobar menjadi api yang besar dan melahap
apa saja. Ada ungkapan yang mengatakan:"Seorang pengadu domba (Provokator)
dalam tempo sekejap dapat merusak sesuatu yang tidak bisa dirusak oleh seorang
penyihir dalam tempo setahun."
Cara
hidup yang diikuti oleh generasi sahabat ialah menutupi dan menasehati, bukan
menyebarkan dan membuka kepada umat. Umar Radiyallahu 'anhu pernah berkata :
"Jangan pernah berburuk sangka terhadap kata-kata yang keluar dari mulut
seorang muslim, sementara kamu dapat memahaminya dengan makna yang baik."
Adalah
jantan dan berani bila anda menghadapi saudara anda dengan apa adanya. Dan
adalah pengecut, lancing, hina dan rendah bila anda menampilkan rasa simpati
padanya dan berkata: "Kamu hebat! Kamu luar biasa !" tetapi di
belakangnya anda berbalik 180 derajat; anda membeberkan aibnya,
menjelek-jelekkannya dan berkata : "Dia begini ! Dia begini! Demi Allah,
ini adalah prilaku orang-orang yang hina, rendah, nista dan tidak bermartabat.
Dalam sebuah Hadits shahih Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :
"Engkau
akan menemukan manusia yang paling jahat adalah orang yang bermuka dua; yaitu
orang yang datang kepada (di sini) mereka dengan satu wajah dan kepada (di
sana) mereka dengan wajah yang lain." (Shahih
Al-Bukhari,3494 dan Shahih Muslim,2526)
Begitu
juga dengan orang yang lidahnya bercabang dua; manis di depan anda, pahit di
belakang anda.
Yang
lebih mengherankan adalah orang yang mau menyerahkan akal sehatnya kepada para
provokator. Ia mempercai apa saja yang mereka katakan tanpa penyaringan dan
penyelidikan yang teliti.
Al-Ghazali
Rahimahullah berkata: "Setiap orang yang didatangi seorang provokator dan
diberitahu : "Si fulan bilang bahwa kamu begini dan begini. Atau dia
berbuat begini dan begini terhadap hak-hakmu. Atau dia bersekongkol dengan
musuhmu. Atau dia menjelek-jelekkan keadaanmu. Atau ucapan-ucapan lain yang
senada, maka ia harus memegang teguh enam hal berikut ini:
1. Tidak mempercai ucapanya. Karena seorang
provokator (pengadu domba) adalah orang fasik. Sedangkan orang fasik itu tidak
bisa diterima kesaksiannya menurut nash Al-Qur'an.
2.Melarang si provokator melakukan aksinya,
menasehatinya dan memberikan teguran kepadanya.
3. Membenci orang tersebut karena Allah. Karena
orang semacam itu dibenci oleh Allah. Dan kita wajib membenci orang yang
dibenci oleh Allah.
4. Tidak berburuk sangka kepada saudaranya yang
jauh darinya. Karena Allah Subhanahu Wata'ala berfirman: "Jauhilah
kebanyakan perasangka (kecurigaan), karena sebagian dari perasangka itu
dosa." (Qs.Al-Hujurat:12)
5. Apa yang diceritakan itu tidak boleh
mendorongnya untuk memata-matai dan mencari-cari kesalahannya. Karena
Rasulullah bersabda:
"Barangsiapa
yang mencari-cari kekurangan saudaranya sesama muslim, Allah pasti akan
mencari-cari kekurangannya. Dan barangsiapa yang dicari-cari kesalahannya oleh
Allah, pasti kesalahannya akan diberikan di depan umum, kendati ada di dalam
rumahnya."
(HR.Tirmidzi, 2032 )
6. Tidak meniru perbuatan si provokator dan tidak
menceritakan provokasinya kepada orang lain.
Umar bin
Abdul Aziz Rahimahullah pernah didatangi seorang yang kemudian menyampaikan
sesuatu tentang orang lain. Lalu Umar berkata : "Hai Bung! Kalau kami mau,
kami bisa meneliti laporanmu. Lalu jika kamu berdusta, kamu akan termasuk
golongan yang dimaksud di dalam ayat: "Jika datang kepadamu orang fasik
membawa suatu berita, maka priksalah dengan teliti…" (QS.
Al-Hujurat:6) jika kamu benar, kamu akan termasuk golongan yang dimaksud di
dalam ayat: "Yang banyak mencela, yang ke sana ke mari menyebar
fitnah." (QS.Al-Qalam:11). Dan kalau kamu mau, kami bisa mengampunimu.
Lalu kamu tidak boleh mengulangi perbuatanmu ?" Laki-laki itu langsung
berkata: "Ampunilah aku, Ya Amirul Mukminin ! Aku tidak akan
mengulanginya lagi."
Wahai
umat Islam ! Kita benar-benar perlu mengadu kepada Allah
tentang maraknya kejadian ini di masyarakat muslim dewasa ini. Marilah kita
bertakwa kepada Allah dan waspada terhadap prilaku yang tercela ini. Hendaknya
para pejabat dan pihak-pihak yang berwenang senantiasa bertakwa kepada Allah.
Karena golongan ini sangat laku di lingkungan mereka. Lalu kaum wanita
sebaiknya juga bertakwa kepada Allah, karena peredaran namimah di tengah-tengah
mereka sangat cepat. Kecuali orang-orang yang dirahmati Allah.
Bagi
para konsultan, jurnalis dan pembuat kebijakan semoga lebih bertakwa kepada
Allah. Sehingga mereka tidak membuat konspirasi untuk menjatuhkan orang-orang
bersih yang tidak bersalah dan tidak berburuk sangka kepada umat Islam.
Terutama kepada orang-orang shalih. Para muballigh dan para pelaku amar
makruf dan nahi munkar.
Tidak
ketinggalan, para penuntut ilmu harus selalu bertakwa kepada Allah. Sehingga
perbedaan yang terjadi mengenai masalah-masalah yang harus dikaji tidak
mendorong mereka untuk menyudutkan rekan-rekannya dan berburuk sangka kepada
mereka.
Dan
hendaknya orang-orang yang suka menjajakan dagangan yang merugikan ini bertakwa
kepada Allah. Mereka menghentikan perilaku tercela dan perbuatan yang tidak
terpuji. Hendaknya mereka segera bertaubat, sebelum mereka dikejutkan oleh maut
yang tiba-tiba menjemput. Dan bila itu terjadi, penyesalan tidak berguna lagi.
Kita
memohon kepada Allah agar berkenan memperbaiki hati dan perbuatan kita,
menunjukkan kita ke jalan keselamatan dan melindungi kita dari kejahatan setiap
pendengki dan pengadu domba. Sesungguhnya Dialah sebaik-baik dzat yang
dimintai. Dan Dialah dzat yang paling bisa diharapkan karuniaNya.
بارَكَ
الله لِيْ
وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ هذا
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ
Khutbah
Kedua :
Amma
ba’du :
Ibadallah ! Bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Damaikanlah orang-orang yang berseteru. Dan taatlah kepada Allah dan RasulNya,
jika anda adalah orang-orang yang beriman.
Ibadallah ! Kalau dicari unsur dan tujuan yang mendorong
munculnya penyakit namimah yang sangat berbahaya ini, maka yang tampak
jelas adalah lemahnya iman, buruknya pendidikan, salah pergaulan, kecenderungan
hati untuk dendam, dengki, sombong dan angkuh. Di samping itu banyaknya waktu
yang dimiliki oleh sebagian pelakunya. Faktor lainnya adalah keinginan untuk
memuaskan pihak lain, hawa nafsu dan ketidaktahuan akan akibat dari penyakit
yang akut ini.
Penyakit
ini bisa diobati melalui penguatan iman, pendidikan yang bagus, pergaulan yang
baik, pengisian waktu luang dengan ilmu yang bermanfaat, amal shalih,
kebersihan hati, dan sibuk dengan sendiri sehingga tidak sempat mengurus aib
orang lain.
Hendaknya
orang-orang yang suka melakukan hal ini ingat akan masa depannya kelak di dalam
kubur. Karena perbuatan ini termasuk salah satu penyebab datangnya siksa kubur
dan penicu masuknya seseorang ke dalam api Neraka. Wal iyadzubillah ! Ia juga
harus ingat nasibnya ketika kelak berdiri di hadapan Tuhan. Hendaknya ia
menjaga lidahnya dan menyibukkannya dengan kebajikan, dzikir, dan bacaan-bacaan
yang bisa mendekatkan dirinya kepada Allah.
Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah melarang Sahabat-sahabatnya melaporkan
ucapan atau perbuatan seseorang yang bisa menyakiti hati beliau. Abu Daud dan
lain-lain meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda :
“
Hendaknya tidak ada seorangpun yang menyampaikan sesuatu kepadaku tntang salah
seorang Sahabatku. Karena sesungguhnya aku ingin menemui mereka dengan dada
yang bersih.” (HR.
Abu Daud, 4860 dan At-Tirmidzi,3896 )
Jadi,
kita semua harus berusaha memperbaiki, memadukan dan mendekatkan, bukan
menjauhi, memusuhi dan merusak. Abu Daud dan At-Tirmidzi meriwayatkan bahwasanya
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“ Maukah
aku beritahukan kepadamu tentang sesuatu yang lebih utama daripada derajat
puasa, shalat dan sedekah ?” Mereka menjawab: “Ya tentu wahai Rasulullah.”
Beliau lantas bersabda: “Mendamaikan orang-orang yang berseteru, karena
rusaknya orang-orang yang berseteru adalah pencukur.” (HR. Abu Daud, 4919 dan At-Tirmidzi, 2509 )
Dalam
riwayat lain disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“ Itu
adalah pencukur. Aku tidak mengatakan bahwa ia mencukur rambut, tetapi mencukur
agama.” (HR. At-Tirmidzi,2510 )
Jangan
sekali-kali berusaha menyenangkan hati setan yang sudah frustrasi untuk mengadu
domba mereka. Marilah kita meniru Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
yang pernah dikomentari oleh beliau dengan sabdannya : “Seorang ahli Surga akan
datang kepada kalian, sekarang juga.” Padahal orang itu tidak banyak
melaksanakan puasa maupun shalat. Hanya, seperti yang disampaikannya kepada Abdullah
bin Amr bin Ash Radiyallahu ‘anhu : “Hanya, aku pernah memendam niat untuk
menipu seorang mulim. Dan aku tidak pernah merasa iri kepada siapa pun yang
mendapatkan anugerah dari Allah.” Lalu Abdullah Radiyallahu ‘anhu berkata:
“Inilah yang membuatmu sampai pada derajat itu.” Dan Allah Subhanahu Wata’ala
berfirman:
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلإِخْوَانِنَا
الَّذِينَ
سَبَقُونَا
بِاْلإِيمَانِ
وَلاَتَجْعَلْ
فِي
قُلُوبِنَا
غِلاًّ
لِّلَّذِينَ
ءَامَنُوا
رَبَّنَآ
إِنَّكَ
رَءُوفٌ
رَّحِيمٌ
"Ya
Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih
dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami
terhadap orang-orang yang beriman Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha
Penyantun lagi Maha Penyanyang".
(QS.Al-Hasyr :10)
إِنَّ اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّونَ عَلَى
النَّبِيِّ
يَآأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللهم صَلِّ
عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم
بَارِكْ عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ،
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللهم
اغْـفِـرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْـفِـرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ النَّار
[Dikutip dari buku : Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi
pertama, ElBA Al-Fitrah, Surabaya .Diposting oleh Yusuf Al-Lomboky]