Membangun Ukhuwah Islamiyah
Jumat, 30
Nopember 12
Khutbah Pertama
إِنَّ
الْحَمْدَ
لله
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ،
وَنَعُوْذُ بلله
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ
يَهْدِهِ الله
فَلَا
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلَا
هَادِيَ
لَهُ،
أَشْهَدُ
أَنْ لَا إله
إلا الله وَحْدَهُ
لَا شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
يَاأَيُّهاَ
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
الله حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوتُنَّ إِلاَّ
وَأَنتُم
مُّسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوا
رَبَّكُمُ
الَّذِي
خَلَقَكُم
مِّنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيرًا وَنِسَآءً
وَاتَّقُوا
اللهَ
الَّذِي
تَسَآءَلُونَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَامَ
إِنَّ الله كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
الله
وَقُولُوا
قَوْلاً
سَدِيدًا .
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ
وَمَن يُطِعِ
اللهَ وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيمًا
أَمَّا
بَعْدُ:
فَإِنَّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ الله
وَخَيْرَ
الْهَدْيِ
هَدْيُ
مُحَمَّدٍ
صلى الله عليه
و سلم وَشَرَّ
الْأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلَّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ،
وَكُلَّ
بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ،
وَكُلَّ
ضَلَالَةٍ
فِي النَّارِ.
اللهم صَل عَلَى
مُحَمدٍ،
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَسَلمْ.
الله
أَكْبَرُ،
الله
أَكْبَرُ،
الله أَكْبَرُ،
ولله
الْحَمْدُ.
الله
أَكْبَرُ
كَبِيْرًا،
وَالْحَمْدُ
لله
كَثِيْرًا،
وَسُبْحَانَ
الله
بُكْرَةً
وَأَصِيْلاً.
Amma
ba’du :
Ayyuhal
muslimun ! Bertakwa kepada Allah Subhanahu Wata’ala. “Dan
perbaikilah hubungan diantara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya
jika kamu adalah orang-orang beriman.” (QS. Al-Anfal :1)
Ibadallah ! Salah satu prinsip besar yang dibangun oleh
agama kita ialah prinsip ukhuwwah (persaudaraan) di antara sesama orang
beriman.
إِنَّمَا
الْمُؤْمِنُونَ
إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya
orang-orang mu'min adalah bersaudara.” (QS.
Al-Hujurat :10)
Jika
hubungan persaudaraan yang ada di antara manusia sangat beraneka ragam menurut
macam-macam tujuan dan maksudnya, maka hubungan persaudaraan yang paling kokoh
talinya, paling mantap jalinannya, paling kuat ikatannya, dan paling setia
kasih sayangnya ialah persaudaraan berdasarkan agama. Karena persaudaraan
semacam ini tidak putus talinya, tidak akan berubah karena perubahan zaman, dan
tidak akan berbeda karena perbedaan orang dan tempat. Persaudaraan yang
berlandaskan akidah dan iman, serta berdasarkan agama yang murni karena Rabb
Yang Maha Esa senantiasa mampu mempersatukan umat Islam dari berbagai penjuru.
Inilah rahasia kekuatan dan kekokohannya. Inilah kunci keakraban para
personilnya yang ada di belahan bumi bagian timur maupun barat. Dan inilah yang
membuat mereka menjadi satu kesatuan yang pilar-pilarnya sangat kuat dan
bangunannya sangat kokoh. Sehingga badai topan pun tidak sanggup
menggoyahkannya. Ia laksana bangunan yang dibangun dengan timah dan ibarat
tubuh yang satu.
Imam
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari Radiyallahu ‘Anhu
bahwa Rasulullahu Shallallahu ‘Alaihi wasallam bersabda :
“Sesungguhnya
orang mukmin bagi mukmin (lainnya) bagaikan bangunan yang satu sama lain saling
menguatkan.” (Shahih
Al-Bukhari, 481, dan Shahih Muslim, 2585 ). Dan beliau pun menyilangkan
jari-jemarinya,” kata Abu Musa.
Sementara
An-Nu’man bin Basyir Radiyallahu ‘Anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“Perumpamaan
orang-orang beriman di dalam cinta dan kasih sayang mereka adalah seperti
tubuh. Jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka anggota tubuh lainnya
akan memberikan kesetiaan kepadanya dengan bergadang (susah tidur) dan demam.” (HR. Al-Bukhari, 6011 dan Muslim, 2587 )
Saudara-saudara
sekalian ! Sesungguhnya ukhuwwah Islamiyah adalah ruh dari iman yang
kuat dan inti dari pada perasaan yang meluap-luap yang dirasakan oleh seorang
muslim terhadap saudara-saudaranya yang seakidah. Bahkan ia merasa bahwa ia
bisa hidup karena mereka, bersama mereka dan di tengah-tengah mereka.
Seolah-olah mereka semua adalah ranting-ranting yang tumbuh dari satu batang
pohon dan muncul dari pokok yang sama. Dengan perasaan itu, maka hilanglah
perbedaan kesukuan dan warna kulit, lenyaplah perbedaan ras, dan matilah
fanatisme kebangsaan dan kesukuan. Sehingga yang ada hanyalah pondasi besar
yang menjadi landasan berdirinya masyarakat Islam internasional yang dihimpun
oleh satu tali dan dinaungi satu bendera, yakni bendera iman dan tali ukhuwwah
Islamiyah. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :
يَآأَيُّهَا
النَّاسُ
إِنَّا
خَلَقْنَاكُم
مِّن ذَكَرٍ
وأُنثَى
وَجَعَلْنَاكُمْ
شُعُوبًا
وَقَبَآئِلَ
لتعارفوا
إِنَّ
أَكْرَمَكُمْ
عِندَ اللهِ
أَتْقَاكُمْ
إِنَّ اللهَ
عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai
manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling kenal-mengenal.Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di
sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal ” (QS.
Al-Hujurat :13)
Saudara-saudara
seiman dan seagama ! Di dalam masyarakat Islam yang berlandaskan akidah iman
dan bertemu pada titik syi’ar Islam, persaudaraan akidah menggantikan
persaudaraan nasab (darah), dan ikatan iman menggantikan ikatan-ikatan materi,
kepentingan individu maupun ambisi pribadi. Di situ seorang mencintai
saudara-saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri. Ia merasa sedih bila
mereka sedih dan ia merasa senang bila mereka senang. Ia selalu berbagi suka
dan duka bersama mereka. Oleh karena itu Islam memberantas gejala-gejala
egoisme dan mental suka mementingkan diri sendiri yang kejam. Karena ia
merupakan kecenderungan yang tercela dan bencana yang buruk yang diberantas
oleh Islam serta diganti dengan rasa persaudaraan dan persahabatan.
Siapa
pun yang meneliti sejarah umat ini akan menemukan bahwa umat Islam belum pernah
bersatu kata, merapatkan barisan, mengangkat panji-panji kejayaan, menegakkan
negara, atau disegani musuh melainkan karena rasa persaudaraan yang sangat kuat
di antara mereka dan tidak ada bandingannya di dalam sejarah umat manusia.
Yaitu sebuah persaudaraan yang sangat kuat dan kokoh yang menjadi pondasi
bangunan umat yang perkasa, tangguh, kuat, dan gagah. Sehingga setelah
bertarung melawan musuh-musuhnya, posisinya sangat disegani, tiang-tiangnya
menjulang tinggi dan pilar-pilarnya sangat kokoh.
Wahai
umat Islam sekalian ! Di dalam sejarah kita mendapat banyak contoh nyata dan
peristiwa yang tiada tara yang menggambarkan betapa kuatnya ikatan persaudaraan
di antara sesama umat Islam. Yang paling masyhur ialah Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wasallam mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar.
Sehingga setiap orang Anshar memiliki saudara dari kalangan Muhajirin.
Bahkan ada orang Anshar yang mengajak saudaranya dari kalangan Muhajirin
ke rumahnya, kemudian ia menawarkan kepadanya untuk berbagi harta bendanya yang
ada di rumahnya. Dan ia pun siap berbagi suka dengannya. Persaudaraan manakah
di dunia ini yang bisa menandingi ukhuwwah Islamiyah tersebut ?
Allah
Subhanahu Wata’ala berfirman :
وَالَّذِينَ
تَبَوَّءُو
الدَّارَ
وَاْلإِيمَانَ
مِن
قَبْلِهِمْ
يُحِبُّونَ
مَنْ هَاجَرَ
إِلَيْهِمْ
وَلاَيَجِدُونَ
فِي
صُدُورِهِمْ
حَاجَةً
مِّمَّآ
أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ
عَلَى
أَنفُسِهِمْ
وَلَوْ كَانَ
بِهِمْ
خَصَاصَةٌ
“Dan
orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar)
sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah
kepada mereka.Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap
apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan
(orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri.Sekalipun mereka memerlukan
(apa yang mereka berikan itu).” (QS.
Al-Hasyr :9)
Kemudian
apa yang terjadi setelah banyak umat Islam dikuasai hatinya oleh materi,
peradaban yang palsu merajalela di mana-mana, dan dunia melompat dari tangan ke
dalam hati, lalu bertemu dengan iman yang lemah dan pendidikan yang salah, dan
melaju bersama kesenangan dan materi, lalu tunduk di hadapan tantangan yang
menghadang ? Yang terjadi setelah itu adalah ketegangan hubungan sosial di
antara sesama karena sebab yang sangat sepele. Bahkan ketegangan itu pun
terjadi diantara orang-orang yang memiliki hubungan dekat, baik hubungan nasab
(keturunan), perkawinan, persahabatan maupun tetangga. Sehingga pertikaian
merajalela, pertengkaran terjadi di mana-mana, perpecahan meluas, dan pemutusan
hubungan menjadi-jadi. Kondisi itu menyebabkan hilangnya kasih sayang dan
kejernihan, menimbulkan perpecahan dan gugat-menggugat, lalu memicu timbulnya
sikap egois dan mementingkan diri sendiri.
Gejalanya
bermacam-macam dan banyak ditemukan di tengah masyarakat. Hal itu dipicu oleh
lemahnya ukhuwwah Islamiyah di antara umat Islam, bahkan diantara sesama
anggota keluarga. Misalnya, ada orang yang terlibat pertengkaran kecil dengan
saudara kandungnya karena memperebutkan secuil harta. Lalu masalahnya menjadi
pelik dan semakin besar. Para juru runding gagal mendamaikan mereka.
Masing-masing ngotot ingin menempuh jalur hukum dan mondar-mandir ke pengadilan
hanya untuk melampiaskan dendam kepada saudaranya sendiri, gara-gara segenggam
harta atau sejengkal tanah. Bahkan ada orang yang tidak bertegur sapa dengan
saudara kandungnya selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Subhanallah
!
Mengapa
semua ini bisa terjadi ? Seorang adik menggugat kakak kandungnya ke pengadilan
!
Ada pula
orang yang tidak pernah berkunjung ke rumah pamannya atau saudara sepupunya.
Bahkan juga tidak pernah menghubunginya melalui telpon untuk sekedar basa-basi.
Dan itu bisa bertahan selama bertahun-tahun.
Ada
kawan dekat dan teman akrab yang bersahabat selama bertahun-tahun dalam suasana
yang harmonis. Lalu tiba-tiba terjadi sedikit kesalah pahaman dan mendadak tali
persahabatannya putus begitu saja, bahkan berubah menjadi permusuhan, dendam,
dan buruk sangka.
Ada
tetangga dekat yang dinding rumahnya berhimpitan dengan dinding rumah anda.
Anda menyukainya dan dia pun menyukai anda. Anda suka berkunjung ke rumahnya
dan dia pun suka berkunjung ke rumah anda. Tiba-tiba anak-anak seperti biasa
bertengkar, lalu para ibu ikut campur, teriakan membahana, dan para ayah yang
berakal sehat pun terlibat. Akibatnya, terjadi perang dahsyat di antara mereka.
Kata-kata kotor meluncur, tangan diacung-acungkan, dan pihak berwenang pun ikut
campur. Hasilnya, terputusnya hubungan secara permanen, permusuhan abadi dan
caci maki di depan umum. Bahkan tidak jarang mendorong seseorang untuk pindah
rumah dan balas dendam. Allahul musta’an ! Inikah umat yang bersatu ?
Inikah ajaran Ukhuwwah Islamiyyah yang benar ? Cukuplah, wahai
hamba-hamba Allah ! Hentikanlah permusuhan dan pertengkaran ! Awas, jangan
sampai setan berhasil mengadu domba anda ! Berdamailah, wahai orang-orang yang
berseteru ! Sambunglah hubungan, wahai orang-orang yang memutuskan hubungan !
Karena dampak buruk dari perseteruan dan pemutusan hubungan itu sangat besar,
baik di dunia maupun di Akhirat. Tidaklah anda mendengar sabda Nabi Shallallahu
‘Alaihi Wasallam.
“Tidak
halal bagi seorang muslim menjauhi saudaranya (sesama muslim) lebih dari tiga
malam (hari). Mereka berdua berjumpa lalu yang ini berpaling dan yang ini pun
berpaling. Dan yang terbaik di antara mereka berdua adalah orang yang memulai
mengucapkan salam.” (Shahih
Al-Bukhari, 6077 dan Shahih Muslim, 2560 )
Atau
sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :
“Tolonglah
saudaramu dalam posisi sebagai orang zhalim maupun korban kezhaliman.” (Shahih Al-Bukhari, 2443 )
Atau
sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :
“Amal
manusia ditunjukkan (kepada Allah) pada hari Senin dan Kamis. Lalu orang yang
tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu akan diampuni dosanya, kecuali orang
yang memendam rasa permusuhan dengan saudaranya. Dia (Allah) berfirman :
“Tinggalkan kedua orang ini sampai mereka berdamai.” (HR.Muslim dan lain-lain)
Di sisi
lain, sejauh mana dukungan umat Islam dalam mewujudkan ukhuwwah Islamiyah
? Dalam arti, siapakah diantara kita yang mau melihat kondisi
saudara-saudaranya dan keadaan tetangganya, terutama orang-orang yang miskin,
lemah, tidak berdaya dan membutuhkan uluran tangan ? Maka siapa pun yang
memiliki kelebihan uang, makanan atau pakaian hendaknya mencari
saudara-saudaranya yang membutuhkan bantuan. Betapa banyak jumlah mereka !
Karena hal itu dapat menciptakan kesetia kawanan dan menanamkan belas kasih.
Dan hal itu akan meraup pahala yang melimpah di sisi Allah Subhanahu Wata’ala.
Sedangkan orang-orang yang bergelimang harta, tetapi beberapa meter dari tempat
tinggalnya ada saudara-saudaranya sesama muslim menjerit kelaparan, adalah
orang-orang yang tidak mau membuktikan dasar yang agung ini.
Wahai
umat Islam ! Ketika mengingatkan tentang kewajiban membangun Ukhuwwah
Islamiyyah, kita tidak boleh melupakan saudara-saudara kita yang seiman dan
seakidah di berbagai belahan dunia. Kita semua berkewajiban memberikan bantuan,
dukungan, doa, sumbangan, dan pertolongan kepada mereka. Lebih-lebih mereka
yang tengah berjuang dengan tabah dan minoritas muslim yang tertindas di
mana-mana.
Kepada
mereka yang tidak mau menyumbang dan tidak mau mendoakan saudara-saudaranya
saya katakan : Jangan begitu ! Karena saudara-saudara anda sangat membutuhkan
dukungan, bantuan dan doa anda. Jangan menganggap remeh apa yang bisa anda
berikan.
Sementara
saudara-saudara kita yang ada di palestina terus-menerus melakukan aksi heroik
dan berjuang mati-matian, kendati bakal mereka sangat sedikit. Mereka terus
menunggu uluran tangan, bantuan dan doa dari saudara-saudaranya yang seiman,
sampai Allah berkenan membebaskan tanah suci itu dari pendudukan para perampok
dan kotoran para penjajah. Dan hal itu tidaklah sulit bagi Allah.
بارَكَ الله
لِيْ
وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ هذا
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ
Khutbah
Kedua
Amma
ba’du :
Ibadallah ! Bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Dan ketahuilah bahwa salah satu konsekuensi takwa adalah menunaikan hak-hak ukhuwwah
Islamiyyah. Maka latihlah diri anda untuk mencintai saudara-saudara anda
yang seiman dan seagama sebagaimana anda mencintai diri anda sendiri. Yahya
Ar-Razi berkata : “Hendaknya setiap orang mukmin minimal mendapatkan tiga hal
dari anda : jika anda tidak bisa memberinya manfaat (keuntungan) maka jangan
memberinya mudharat (kerugian), jika anda tidak bisa membuatnya gembira
maka jangan membuatnya bersedih, dan jika anda tidak mau memujinya maka jangan
mencelanya.”
Ma’asyiral
muslimin rahimakumullah !
Sesungguhnya menelantarkan seorang muslim adalah perkara besar yang bisa
menyebabkan putusnya tali ukhuwwah Islamiyyah dan mendatangkan kehinaan
dan kenistaan bagi semua orang. Dan umat Islam tidak mengalami kehinaan kecuali
pada saat tali ukhuwwah Islamiyyah melemah, di saat seorang muslim
enggan berhubungan dengan saudaranya. Sementara pada saat yang sama musuh-musuh
Islam bersatu padu melawan umat Islam.
وَالَّذِينَ
كَفَرُوا
بَعْضُهُمْ
أَوْلِيَآءُ
بَعْضٍ
إِلاَّ
تَفْعَلُوهُ
تَكُن فِتْنَةٌ
فِي
اْلأَرْضِ
وَفَسَادٌ
كَبِيرٌ
“Adapun
orang-orang yang kafir, sebagian mereka pelindung bagi sebagian yang lain. JIka
kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah
itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al-Anfal :73)
Bertaubatlah
wahai umat Islam, dari penyakit saling menjauhi, saling membantai, saling
membenci, dan saling membelakangi. Bergeraklah menuju naungan cinta,
perdamaian, tolong-menolong, persaudaraan dan keharmonisan, niscaya anda akan
dapat menggapai kebaikan yang anda harapkan, di dunia dan Akhirat. Dan perlu
kiranya saya ingatkan bahwa salah satu hasil nyata dari pembahasan ini adalah
semua orang yang bertikai segera berdamai dan saling mengunjungi setelah
mendengar khutbah ini. Ketahuilah bahwa yang terbaik di antara mereka yang
bertikai itu adalah yang memulai menyambung hubungan dan mengucapkan salam.
Ibadallah ! Dunia ini sangat kecil artinya. Dan apa yang
ada di sisi Allah jauh lebih baik dan lebih kekal.
إِنَّ اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَآأَيُّهَا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
صَلُّوا عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيمًا
اللهم صَلِّ
عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم
بَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ،
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم
اغْـفِـرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْـفِـرْ
لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
اللهم إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الْهُدَى
وَالتُّقَى
وَالْعَفَافَ
وَالْغِنَى.
اللهم إِنَّا
نَعُوْذُ
بِكَ مِنْ زَوَالِ
نِعْمَتِكَ
وَتَحَوُّلِ
عَافِيَتِكَ
وَفُجَاءَةِ
نِقْمَتِكَ
وَجَمِيْعِ
سَخَطِكَ.
وَآخِرُ دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لله رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلى الله
عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ
[Dikutip dari buku : Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi
pertama, Elba,Surabaya]