MENJAGA HATI
Rabu, 19
Agustus 09
Oleh:
Husnul Yaqin, Lc.
KHUTBAH PERTAMA:
اَلْحَمْدُ
لله الَّذِيْ
هَدَانَا
لِلْإِسْلَامِ
وَمَا كُنَّا
لِنَهْتَدِيَ
لَوْلَا أَنْ
هَدَانَا لله.
اَلْحَمْدُ
لله مُقَلِّبِ
الْقُلُوْبِ،
وَعَلاَّمِ
الْغُيُوْبِ،
وَقَابِلِ
التَّوْبَةِ
مِمَّنْ
يَتُوْبُ،
شَدِيْدِ
الْعِقَابِ
عِنْدَ
قَسْوَةِ
الْقُلُوْبِ،
أَشْهَدُ
أَنْ لَا إله
إِلَّا الله
وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ
لَهُ، أَمَرَ
بِالْعَدْلِ
وَالْإِحْسَانِ،
وَنَهَى عَنِ
الْفَحْشَاءِ
وَالْمُنْكَرِ.
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
كَانَ
يُكْثِرُ
مِنْ قَوْلِ:
يَا
مُقَلِّبَ
الْقُلُوْبِ،
ثَبِّتْ
قُلُوْبَنَا
عَلَى
طَاعَتِكَ.
صَلَّى الله
عَلَيْهِ
وَعَلَى أله
وَصَحْبِهِ
مَنِ اهْتَدَى
بِهُدَاهُ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا.
يَاأَيُّهاَ
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
الله حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوتُنَّ إِلاَّ
وَأَنتُم
مُّسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوا
رَبَّكُمُ
الَّذِي
خَلَقَكُم
مِّنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيرًا
وَنِسَآءً
وَاتَّقُوا
اللهَ
الَّذِي
تَسَآءَلُونَ
بِهِ وَاْلأَرْحَامَ
إِنَّ الله
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
الله
وَقُولُوا
قَوْلاً
سَدِيدًا .
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ
وَمَن يُطِعِ
اللهَ وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيمًا
أَمَّا
بَعْدُ:
فَإِنَّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ الله
وَخَيْرَ
الْهَدْيِ
هَدْيُ
مُحَمَّدٍ صلى
الله عليه و
سلم وَشَرَّ
الْأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلَّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ،
وَكُلَّ
بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ،
وَكُلَّ
ضَلَالَةٍ
فِي النَّارِ.
أَيَّهُا
الْمُسْلِمُوْنَ،
أُوْصِيْكُمْ
وَنَفْسِيْ
بِوَصِيَّةِ
اللّٰهِ
جَلَّ
وَعَلَا
لِلْأَوَّلِيْنَ
وَالْآخِرِيْنَ:
وَلَقَدْ
وَصَّيْنَا
الَّذِينَ أُوتُواْ
الْكِتَابَ
مِن
قَبْلِكُمْ
وَإِيَّاكُمْ
أَنِ
اتَّقُواْ
اللهَ
Ma'asyiral
Muslimin Rahimakumullah
Pada kesempatan yang mulia ini, di tempat yang mulia, dan di hari yang mulia
ini, marilah kita selalu menjaga dan meningkat-kan mutu keimanan dan kualitas
ketakwaan kita kepada Allah de-ngan sebenar-benarnya, yaitu ketakwaan yang
dibangun karena mengharap keridhaan Allah 'Azza Wajalla dan bukan keridhaan
manusia, ketakwaan yang dilandasi karena ilmu yang bersumber dari al-Qur`an dan
Sunnah Rasulullah, dan ketakwaan yang dibuktikan dengan amal perbuatan dengan
cara menjalankan setiap perintah Allah dan NabiNya karena mengharap rahmat
Allah 'Azza Wajalla dan ber-usaha semaksimal mungkin menjauhi dan meninggalkan
setiap bentuk larangan Allah dan NabiNya karena takut terhadap azab dan siksa
Allah Ta’ala.
Thalq bin Habib rahimahullah seorang tabi'in, suatu ketika pernah me-nuturkan
sebagaimana dinukil oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam Fatawanya :
اَلتَّقْوَى:
أَنْ
تَعْمَلَ
بِطَاعَةِ
الله عَلَى
نُوْرٍ مِنَ
الله ،
تَرْجُو
رَحْمَةَ
الله وَأَنْ
تَتْرُكَ
مَعْصِيَةَ
الله عَلَى
نُوْرٍ مِنَ
الله ،
تَخَافَ
عَذَابَ الله
"Takwa
adalah kamu mengamalkan ketaatan kepada Allah berdasar-kan cahaya dari Allah,
kamu mengharapkan rahmat Allah, dan kamu meninggalkan maksiat kepada Allah
berdasarkan cahaya dari Allah, serta kamu takut azab Allah."
Demikianlah seharusnya yang selalu ada dan tumbuh dalam benak dan hati setiap
Muslim, sehingga akan membawa dampak dan bekas yang baik, melahirkan
pribadi-pribadi yang istiqamah dan iltizam (konsisten) terhadap agamanya
sehingga pada akhirnya akan membentuk keluarga dan komunitas masyarakat yang
senan-tiasa berjalan di atas manhaj dan jalan yang lurus. Dengan demi-kian,
Allah Ta’ala akan memberikan kehidupan yang baik di dunia serta memberikan
balasan pahala yang lebih baik dari apa yang telah diperbuat di akhirat kelak
sebagaimana yang telah Allah Ta’ala janjikan.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Sebenarnya yang menjadi pangkal utama sehingga seseorang akan mendapatkan
kebahagiaan di dunia dan memperoleh rahmat Allah Ta’ala serta selamat dari
azabNya pada Hari Kiamat kelak ada-lah sejauh mana dia dapat menjaga dan
memelihara hatinya se-hingga selalu condong dan mempunyai ketergantungan hanya
kepada Allah Ta’ala sebagai satu-satunya dzat yang selalu membolak-balikkan
hati setiap hambaNya sesuai dengan kehendakNya, dan bukan justru sebaliknya, di
mana hatinya selalu condong kepada hawa nafsunya dan tipu daya setan
laknatullah alaihi. Karena pada dasarnya Allah Ta’ala tidak akan melihat
ketampanan dan kecantikan wajah kita, tidak pula melihat kemulusan dan
kemolekan badan-badan kita, namun Allah Ta’ala hanya akan melihat hati-hati
kita dan amal perbuatan kita. Manakala hati seseorang bersih, maka akan membawa
dampak kepada kebaikan seluruh anggota tubuhnya, begitu sebaliknya jika hati
seseorang telah rusak, maka rusaklah seluruh anggota tubuhnya, sebagaimana hal
ini pernah diisyarat-kan oleh Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam dalam
sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, 1/20.
أَلاَ،
وَإِنَّ فِي
الْجَسَدِ
مُضْغَةً إِذَا
صَلَحَتْ
صَلَحَ
الْجَسَدُ
كُلهُ، وَإِذَا
فَسَدَتْ
فَسَدَ
الْجَسَدُ
كُلهُ، أَلاَ
وَهِيَ
الْقَلْبُ.
"Ketahuilah,
sesungguhnya di dalam tubuh ini ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah
seluruh anggota tubuh dan jika rusak, maka rusaklah seluruh anggota tubuh.
Ketahuilah, ia adalah hati." (HR.
al-Bukhari).
Karena itulah ma'asyiral Muslimin, hati mempunyai peranan yang sangat fital
dalam diri seseorang dan menjadi sentral bagi anggota tubuh lainnya sehingga
keberadaannyalah yang dapat menentukan baik buruk dan hitam putihnya seluruh
amalan dan aspek kehidupan seorang Muslim.
Tentu yang demikian tidak sebagaimana yang dipahami oleh kebanyakan manusia,
khususnya kaum Muslimin di mana kalau kita perhatikan kondisi kebanyakan
mereka, niscaya kita akan me-nyaksikan suatu fenomena yang sangat
memprihatinkan dan me-nyedihkan. Mereka memahami bahwa tolak ukur kebahagiaan
seseorang sekedar dengan penampilan lahiriyah dan materi belaka, sehingga
mereka sibuk dengan kehidupan dunianya, memperkaya diri, memperindah dan
mempercantik diri dengan berbagai macam bentuk keindahan dunia, namun pada saat
yang sama, mereka lalai dan lupa dengan keindahan, kebersihan, serta kesucian
batin yang pada akhirnya justru dapat menyelamatkan mereka; baik di dunia
maupun di akhirat kelak. Marilah kita renungkan sebuah ayat sebagai bantahan
Allah terhadap mereka, sebagaimana Firman-Nya :
وَكَمْ
أَهْلَكْنَا
قَبْلَهُم
مِّن قَرْنٍ
هُمْ
أَحْسَنُ
أَثَاثًا
وَرِءْيًا
"Berapa
banyak umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka, sedang mereka adalah
lebih bagus alat rumah tangganya dan lebih sedap dipandang mata”. (Maryam: 74).
Dalam ayat yang lain Allah berfirman :
أَفَلَمْ
يَسِيرُوا
فِي
اْلأَرْضِ
فَيَنظُرُوا
كَيْفَ كَانَ
عَاقِبَةُ
الَّذِينَ
مِن
قَبْلِهِمْ
كَانُوا
أَكْثَرَ
مِنْهُمْ
وَأَشَدَّ
قُوَّةً
وَءَاثَارًا
فِي اْلأَرْضِ
فَمَآأَغْنَى
عَنْهُم
مَّاكَانُوا
يَكْسِبُونَ
"Maka
apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi lalu memperhatikan
bagaimana kesudahan orang-orang yang sebe-lum mereka. Orang-orang sebelum
mereka itu lebih hebat kekuatan-nya dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di
muka bumi, maka apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka." (Al-Mu`-min: 82).
Dua ayat di atas, cukuplah memberikan penjelasan dan infor-masi kepada kita
bahwa segala sesuatu yang mereka usahakan dan mereka nikmati ternyata tidak
berguna dan tidak dapat me-nyelamatkan mereka. Na'udzubillahi min dzalik.
Jama'ah Shalat Jum'ah Rahimakumullah
Oleh karenanya, keindahan batin dan keselamatan hati meru-pakan dasar dan
pondasi keberuntungan di dunia dan di Hari Kiamat kelak. Allah Ta’ala berfirman
:
يَابَنِى
ءَادَمَ قَدْ
أَنزَلْنَا
عَلَيْكُمْ
لِبَاسًا
يُوَارِي
سَوْءَاتِكُمْ
وَرِيشًا
وَلِبَاسُ
التَّقْوَى
ذَلِكَ خَيْرٌ
ذَلِكَ مِنْ
ءَايَاتِ
اللهِ
لَعَلَّهُمْ
يَذَّكَّرُونَ
"Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian untuk
menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah
yang baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah,
mudah-mudahan mereka selalu ingat." (Al-A'raf: 26).
Sesungguhnya perkara hati merupakan perkara agung dan kedudukannya pun sangat
mulia, sehingga Allah Ta’ala menurunkan kitab-kitab suciNya untuk memperbaiki
hati, dan Dia utus para Rasul untuk menyucikan hati, membersihkan, dan
memperindah-nya. Demikianlah Allah Ta’ala berfirman :
} يَآأَيُّهَا
النَّاسُ
قَدْ
جَآءَتْكُم
مَّوْعِظَةٌ
مِّن
رَّبِّكُمْ
وَشِفَآءٌ
لِّمَا فِي
الصُّدُورِ
وَهُدًى
وَرَحْمَةٌ
لِّلْمُؤْمِنِينَ
"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu
dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) da-lam dada dan petunjuk
serta rahmat bagi orang-orang yang beriman." (Yunus: 57).
Dalam ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman :
لَقَدْ مَنَّ
اللهُ عَلَى
الْمُؤْمِنِينَ
إِذْ بَعَثَ
فِيهِمْ
رَسُولاً
مِّنْ
أَنفُسِهِمْ
يَتْلُوا
عَلَيْهِمْ
ءَايَاتِهِ
وَيُزَكِّيهِمْ
وَيُعَلِّمُهُمُ
الْكِتَابَ
وَالْحِكْمَةَ
وَإِن
كَانُوا مِن
قَبْلُ
لَّفِي
ضَلاَلٍ
مُّبِينٍ
"Sungguh
Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah
mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang
membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan
mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum
(keda-tangan Nabi) itu, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (Ali Imran: 164).
Ajaran yang paling besar yang dibawa oleh Rasulullah a ada-lah memperbaiki
hati. Maka tidak ada cara untuk menyucikan dan memperbaiki hati kecuali cara
yang telah ditempuh oleh beliau a. Dengan demikian seseorang akan memahami
bahwa hatinya meru-pakan tempat bagi cahaya dan petunjuk Allah Ta’ala, yang
dengannya seseorang dapat mengenal Rabbnya, mengenal-nama-namaNya dan
sifat-sifatNya, serta dapat menghayati ayat-ayat syar'iyah Allah, dengannya
seseorang dapat merenungkan ayat-ayat kauniyahNya serta dengannya seseorang
dapat menempuh perjalanan menuju akhirat, karena sesungguhnya perjalanan menuju
Allah Ta’ala adalah perjalanan hati dan bukan perjalanan jasad.
Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah menuturkan di dalam salah satu
kitab beliau :
"Hati yang sehat, yaitu hati yang selalu terjaga dari syirik, sifat
dengki, iri hati, kikir, takabur, cinta dunia dan ja-batan. Ia terbebas dari
semua penyakit yang akan menjauhkannya dari Allah Ta’ala. Ia selamat dari
setiap syubhat yang menghadangnya. Ia terhindar dari intaian syahwat yang
menentang jati dirinya, dan ia terbebas dari segala keinginan yang akan
menyesaki tujuannya. Ia akan terbebas dari segala penghambat yang akan menghalanginya
dari jalan Allah. Inilah hati yang sehat di surga dunia dan surga di alam
kubur, serta surga di Hari Kiamat. Keselamatan hati tidak akan terwujud,
kecuali dengan terjaga dari lima perkara, yaitu syirik yang bertentangan dengan
tauhid, dari bid'ah yang berhadapan dengan sunnah, dari syahwat yang menghambat
urusannya, dari ghaflah (kelalaian) yang menghilangkan dzikir kepada Allah c,
dari hawa nafsu yang akan menghalangi ikhlash." (al-Jawab al-Kafi, 1/176).
Ibnu Rajab al-Hanbali rahimhullah pernah berkata, "Keutamaan itu tidak
akan diraih dengan banyaknya amal jasmani, akan tetapi diraih dengan ketulusan
niat kepada Allah Ta’ala benar, lagi sesuai dengan sunnah Nabi dan dengan
banyaknya pengetahuan dan amalan hati." (Mahajjah fi Sair ad-Daljah, hal.
52).
Ini semua menunjukkan bahwa dasar keimanan atau kekufu-ran, hidayah atau
kesesatan, keberuntungan atau kenistaan tergan-tung pada apa yang tertanam di
dalam hati seorang hamba.
Abu Hurairah radiyallahu 'anhu pernah menuturkan, bahwa Rasulullah Sallallahu
'Alahi Wasallam bersabda :
إِنَّ الله
لاَ يَنْظُرُ
إِلَى
أَجْسَادِكُمْ
وَلاَ إِلَى
صُوَرِكُمْ
وَلٰكِنْ
يَنْظُرُ
إِلَى
قُلُوْبِكُمْ،
وَأَشَارَ
بِأَصَابِعِهِ
إِلَى
صَدْرِهِ.
"Sesungguhnya
Allah tidak melihat kepada jasadmu, dan tidak pula kepada bentukmu, akan tetapi
Dia melihat kepada hati kamu, kemu-dian menunjuk ke dadanya dengan
telunjuknya." (HR.
Muslim, no. 2564).
Bahkan, mayoritas ulama berkeyakinan bahwa siapa saja yang dipaksa untuk
menyatakan "kekufuran", maka ia tidak berdosa selagi hatinya masih
tetap teguh beriman kepada Islam dan tetap dalam kondisi tenang beriman,
sebagaimana FirmanNya :
مَن كَفَرَ
بالله مِن
بَعْدِ
إِيمَانِهِ
إِلاَّ مَنْ
أُكْرِهَ
وَقَلْبُهُ
مُطْمَئِنٌّ
بِاْلإِيمَانِ
وَلَكِن مَّن
شَرَحَ بِالْكُفْرِ
صَدْرًا
فَعَلَيْهِمْ
غَضَبٌ مِّنَ
الله وَلَهُمْ
عَذَابٌ
عَظِيمُُ
ذَلِكَ
بِأَنَّهُمْ اسْتَحَبُّوا
الْحَيَاةَ
الدُّنْيَا
عَلَى
اْلأَخِرَةِ
وَأَنَّ
اللهَ
لاَيَهْدِي الْقَوْمَ
الْكَافِرِينَ
"Barangsiapa
yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (maka dia mendapat kemurkaan
Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam
beriman (maka dia tidak ber-dosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya
untuk keka-firan, maka kemurkaan Allah menimpanya dan dia mendapat azab yang
besar. Yang demikian itu disebabkan karena mereka mencintai kehidupan dunia
lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum
yang kafir." (An-Nahl:
106-107).
Ayat ini diturunkan, sebagaimana pendapat mayoritas ahli tafsir adalah
berkenaan dengan kejadian yang menimpa Ammar bin Yasir, manakalah ia masuk
Islam, ia mendapat siksaan dari orang-orang kafir Quraisy di Makkah sehingga ia
mau mengucapkan ka-limat kekufuran kepada Allah dan cacian kepada Nabi Muhammad
Sallallahu 'Alahi Wasallam. Di lain kesempatan peristiwa tersebut ia laporkan
kepada Rasu-lullah sambil menangis.
قَالَ: كَيْفَ
تَجِدُ
قَلْبَكَ؟
قَالَ: مُطْمَئِنًّا
بِالْإِيْمَانِ.
قَالَ: إِنْ
عَادُوْا
فَعُدْ.
"...
maka Nabi bersabda, 'Bagaimana kondisi hatimu?' Ia menjawab, 'Aku masih tenang
dalam beriman.' Maka Nabi bersabda (untuk menggembirakannya dan memberinya
kemudahan), 'Kalau mereka kembali menyiksa, maka silahkan lakukan lagi'." (HR. al-Hakim, 2/357).
Di dalam sebuah hadits yang lain, Rasulullah bersabda seba-gaimana yang telah
diriwayatkan oleh Imam Ahmad yang bersum-ber dari Anas bin Malik :
لَا
يَسْتَقِيْمُ
إِيْمَانُ
عَبْدٍ حَتَّى
يَسْتَقِيْمَ
قَلْبُهُ.
"Iman seseorang tidak akan lurus (benar) sebelum hatinya
lurus." (HR.
Ahmad, no. 13079).
Ma'asyiral Muslimin Sidang Jum'ah Rahimakumullah
Demikian agungnya keutamaan dan urgensi hati seseorang di hadapan Allah Ta’ala,
sehingga kita dapat mengetahui kebanyakan sumpah Rasulullah Sallallahu 'Alahi
Wasallam diucapkan dengan ungkapan :
لَا،
وَمُقَلِّبَ
الْقُلُوْبِ.
"Tidak, demi Dzat yang membolak-balikkan hati."
Dan di antara doa beliau adalah :
يَا
مُقَلِّبَ
الْقُلُوْبِ،
ثَبِّتْ قَلْبِيْ
عَلَى
دِيْنِكَ.
"Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah
hatiku pada agamaMu."
Hal yang demikian, karena pada dasarnya kadangkala hati seseorang bisa
mengeras, seperti batu atau bahkan lebih keras dari itu, sehingga ia akan jauh
dari Allah Ta’ala, rahmatNya, dan dari ketaatanNya. Dan sejauh-jauh hati dari
Allah Ta’ala adalah hati yang kasar, di mana peringatan tidak lagi bermanfaat
baginya, nasihat tidak dapat menjadikan dia lembut, perkataan tidak
menjadikan-nya berilmu, sehingga seseorang yang memiliki hati yang demi-kian di
dalam dadanya, maka hatinya tidak memberikan manfaat apa-apa baginya, dan tidak
akan melahirkan sesuatu pun, kecuali kejahatan. Sebaliknya hati yang lembut,
yang takut dan tunduk merendahkan diri terhadap Penciptanya, Allah Ta’ala,
serta selalu mendekatkan diri kepadaNya, mengharapkan rahmatNya dan menjaga
ketaatanNya, maka pemiliknya akan mempunyai hati yang bersih, selalu menerima
kebaikan.
Maka dari itulah, Allah Ta’ala menggarisbawahi bahwa kesela-matan di Hari
Kiamat kelak sangat tergantung kepada keselamatan, kebersihan, dan kebaikan
hati. Allah Ta’ala berfirman :
يَوْمَ
لاَيَنفَعُ
مَالٌ
وَلاَبَنُونَ
. إِلاَّ مَنْ
أَتَى الله
بِقَلْبٍ
سَلِيمٍ
"Di hari yang mana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali
orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (Asy-Syu'ara`
: 88 - 89).
Dengan demikian, marilah kita bersungguh-sungguh dalam menjaga hati dan
senantiasa mengawasinya, di mana dan kapan saja waktunya, karena ia
satu-satunya anggota tubuh kita yang paling besar bahayanya, paling mudah
pengaruhnya, dan paling sulit mengurus dan memperbaikinya. Wallahul musta'an.
اللهم
أَصْلِحْ
شَأْنَ
الْمُسْلِمِيْنَ
وَاهْدِهِمْ
صِرَاطَكَ
الْمُسْتَقِيْمَ،
اللهم
ارْزُقْهُمْ
رِزْقًا
مُبَارَكًا
طَيِّبًا.
اللهم
أَصْلِحْ
لَنَا
دِيْنَنَا الَّذِيْ
هُوَ
عِصْمَةُ
أَمْرِنَا
وَأَصْلِحْ
لَنَا
دُنْيَانَا
الَّتِيْ
فِيْهَا
مَعَاشُنَا
وَأَصْلِحْ
لَنَا آخِرَتَنَا
الَّتِيْ
فِيْهَا
مَعَادُنَا وَاجْعَلِ
الْحَيَاةَ
زِيَادَةً
لَنَا فِي
كُلِّ خَيْرٍ
وَاجْعَلِ
الْمَوْتَ
رَاحَةً
لَنَا مِنْ
كُلِّ شَرٍّ.
فَاتَّقُوا
الله عِبَادَ
الله ،
وَخُذُوْا بِالْأَسْبَابِ
الَّتِيْ
تَحْيَى
بِهَا
الْقُلُوْبُ
قَبْلَ أَنْ
تَقْسُوَ
وَتَمُوْتَ،
فَإِنَّ ذلك
مَنَاطُ
سَعَادَتِكُمْ
أَوْ
شَقَائِكُمْ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ هذا
وَأَسْتَغْفِرُ
الله لِيْ
وَلَكُمْ
وَلِجَمِيْعِ
الْمُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA:
اَلْحَمْدُ
لله الَّذِيْ
إِذَا صَلَحَ
الْقَلْبُ
صَلَحَ
الْجَسَدُ
كُلُّهُ،
وَإِذَا
فَسَدَ
الْقَلْبُ
فَسَدَ
الْجَسَدُ
كُلُّهُ،
كَمَا
أَخْبَرَ
بذلك
النَّبِيُّ
صلى الله عليه
و سلم ،
وَهُوَ
مَحَلُّ
مَعْرِفَةِ الله
وَمَحَبَّتِهِ
وَخَشْيَتِهِ
وَخَوْفِهِ
وَرَجَائِهِ،
وَمَحَلُّ
النيَّةِ
الَّتِيْ
بِهَا تَصْلُحُ
الْأَعْمَالُ
وَتُقْبَلُ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ،
بَعَثَهُ
الله
رَحْمَةً
لِلْعَالَمِيْنَ.
صَلَّى الله
عَلَيْهِ
وَعَلَى أله
وَصَحْبِهِ
مَنِ
اهْتَدَى
بِهُدَاهُ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا.
يَاأَيُّهاَ
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
الله حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوتُنَّ إِلاَّ
وَأَنتُم
مُّسْلِمُونَ.
Ma'asyiral
Muslimin Rahimakumullah
Di dalam sebuah hadits yang bersumber dari Miqdad bin al-Aswad radiyallahu 'anhu,
ia menceritakan, Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam bersabda :
لَقَلْبُ
ابْنِ آدَمَ
أَشَدُّ
انْقِلَابًا
مِنَ
الْقِدْرِ
إِذَا
اجْتَمَعَتْ
غَلْيًا.
"Sungguh,
hati anak Adam (manusia) itu sangat (mudah) berbolak-balik daripada bejana
apabila ia [telah penuh dalam keadaan mendidih." (HR. Ahmad, no. 24317).
Kemudian al-Miqdad berkata, "Sesungguhnya orang yang beruntung (bahagia)
itu adalah orang yang benar-benar terhindar dari berbagai fitnah (dosa)."
Ia mengulangi ucapannya tiga kali, sambil memberikan isyarat bahwa sebab
berbolak-balik dan beru-bahnya hati adalah dosa-dosa yang berdatangan menodai
hati.
Maka dari itu, agar hati kita tidak mudah terpeleset dan menyimpang dari
kebenaran dan cahaya dari Allah Ta’ala, bahkan sampai tertutup dan terkunci
karena hawa nafsu yang membelit-nya serta segala hal yang dapat merusak dan
membinasakannya, maka perlu adanya usaha-usaha penjagaan terhadap hati yang
bersifat kuratif dan kontinyu, sekaligus resep (obat) sebagai usaha prefentif
agar bisa selamat dari segala bentuk penyakit-penyakit hati yang mematikan.
Di antara hal yang dapat menyebabkan hati seseorang menjadi tenang dan bersih
adalah amalan memperbanyak membaca ayat-ayat al-Qur`an dan mendengarkannya,
karena al-Qur`an merupakan penawar yang ampuh dari penyakit syubhat dan nafsu
syahwat yang keduanya merupakan inti penyakit hati seseorang. Di dalam-nya
terdapat penjelasan-penjelasan yang akurat yang membedakan yang haq dari yang
batil, sehingga syubhat akan hilang, dan di da-lamnya terdapat hikmah, nasihat
yang baik, mengajak zuhud di dunia, dan menghimbau untuk lebih mengutamakan
kehidupan akhirat, sehingga penyakit nafsu syahwat akan hilang. Allah Ta’ala
berfirman :
إِنَّ فِي
ذَلِكَ
لَذِكْرَى
لِمَن كَانَ
لَهُ قَلْبٌ
أَوْ أَلْقَى
السَّمْعَ
وَهُوَ
شَهِيدٌ
"Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar terdapat peri-ngatan bagi orang-orang yang
mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia
menyaksikannya." (Qaf :
37).
الله نَزَّلَ
أَحْسَنَ
الْحَدِيثِ
كِتَابًا
مُّتَشَابِهًا
مَّثَانِيَ
تَقْشَعِرُّ
مِنْهُ
جُلُودُ الَّذِينَ
يَخْشَوْنَ
رَبَّهُمْ
ثُمَّ تَلِينُ
جُلُودُهُمْ
وَقُلُوبُهُمْ
إِلَى ذِكْرِ
الله ذَلِكَ
هُدَى اللهِ
يَهْدِي بِهِ مَن
يَشَآءُ
وَمَن
يُضْلِلِ
الله فَمَا
لَهُ مِنْ
هَادٍ
"Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qur`an
yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, kulit orang-orang yang
takut kepada Rabbnya, gemetar karenanya, kemudian kulit dan hati mereka menjadi
tenang di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia
menunjuki siapa yang dikehendakiNya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah,
maka tidak ada seorang pemberi petunjuk pun baginya." (Az-Zumar: 23).
Dan masih banyak lagi ayat-ayat al-Qur`an yang menunjuk-kan demikian. Ini
menunjukkan bahwa al-Qur`an adalah sesuatu yang paling agung yang dapat
melembutkan hati, bagi yang mem-baca, mendengarkan, dan merenungkannya, serta
mengamalkan-nya dalam prilaku kehidupan sehari-hari.
Di antara usaha yang dapat menenangkan hati adalah dengan mengambil pelajaran terhadap
kejadian dan peristiwa serta kehan-curan yang menimpa umat-umat terdahulu
akibat kemaksiatan yang mereka lakukan.
Allah Ta’ala berfirman :
فَكَأَيِّن
مِّن
قَرْيَةٍ
أَهْلَكْنَاهَا
وَهِيَ
ظَالِمَةٌ
فَهِيَ
خَاوِيَةٌ
عَلَى
عُرُوشِهَا
وَبِئْرٍ
مُّعَطَّلَةٍ
وَقَصْرٍ
مَّشِيدٍ.
أَفَلَمْ يَسِيرُوا
فِي
اْلأَرْضِ
فَتَكُونَ
لَهُمْ قُلُوبٌ
يَعْقِلُونَ
بِهَآ أَوْ
ءَاذَانٌ يَسْمَعُونَ
بِهَا
فَإِنَّهَا
لاَتَعْمَى اْلأَبْصَارُ
وَلَكِن
تَعْمَى
الْقُلُوبُ الَّتِي
فِي
الصُّدُورِ
"Berapalah
banyaknya kota yang Kami telah membinasakannya, yang penduduknya dalam keadaan
zhalim, maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya, dan (berapa
banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi. Maka apa-kah
mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu
mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat
mendengar? Karena sesung-guhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta,
ialah hati yang berada di dalam dada."
(Al-Hajj: 45 - 46).
Kemudian di antara yang dapat menenangkan hati adalah dengan banyak mengingat
Allah Ta’ala dalam situasi dan kondisi apa pun. Allah Ta’ala berfirman :
إِنَّمَا
الْمُؤْمِنُونَ
الَّذِينَ
إِذَا ذُكِرَ
اللهُ
وَجِلَتْ
قُلُوبُهُمْ
وَإِذَا
تُلِيَتْ
عَلَيْهِمْ
ءَايَاتُهُ
زَادَتْهُمْ
إِيمَانًا
وَعَلَى رَبِّهِمْ
يَتَوَكَّلُونَ
"Sesungguhnya
orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah,
maka gemetarlah hati mereka, dan apa-bila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya,
maka bertambahlah iman mereka (karenanya), dan kepada Rabb merekalah mereka
ber-tawakal." (Al-Anfal:
2).
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
وَتَطْمَئِنُّ
قُلُوبُهُم
بِذِكْرِ
اللهِ
أَلاَبِذِكْرِ
اللهِ
تَطْمَئِنُّ
الْقُلُوبُ
"(Yaitu)
orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi ten-teram dengan mengingat
Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram."
(Ar-Rad: 28).
Dan termasuk penjagaan hati adalah menerima secara total setiap perintah Allah
Ta’ala dan mengamalkannya serta menjauhi setiap laranganNya. Allah Ta’ala
berfirman:
وَإِذَا
مَآأُنزِلَتْ
سُورَةٌ
فَمِنْهُم مَّن
يَقُولُ
أَيُّكُمْ
زَادَتْهُ
هَذِهِ إِيمَانًا
فَأَمَّا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا فَزَادَتْهُمْ
إِيمَانًا
وَهُمْ
يَسْتَبْشِرُونَ
. وَأَمَّا
الَّذِينَ
فِي قُلُوبِهِم
مَّرَضٌ
فَزَادَتْهُمْ
رِجْسًا إِلَى
رِجْسِهِمْ
وَمَاتُوا
وَهُمْ
كَافِرُونَ
"Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang
munafik) ada yang berkata, 'Siapa di antara kamu yang ber-tambah imannya dengan
(turunnya) surat ini?' Adapun orang yang beriman, maka surat ini menambah
imannya, sedang mereka merasa gembira. Dan adapun orang yang di dalam hati
mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di
samping keka-firannya (yang telah ada), dan mereka mati dalam keadaan
kafir." (At-Taubah: 124 - 125).
Dan Allah Ta’ala berfirman :
وَإِذَا
مَآأُنزِلَتْ
سُورَةٌ
نَّظَرَ بَعْضُهُمْ
إِلَى بَعْضٍ
هَلْ
يَرَاكُم
مِّنْ أَحَدٍ
ثُمَّ
انْصَرَفُوا
صَرَفَ اللهُ
قُلُوبَهُم
بِأَنَّهُمْ
قَوْمٌ
لاَيَفْقَهُونَ
"Dan apabila diturunkan satu surat, sebagian mereka memandang kepada
sebagian yang lain (sambil berkata), 'Adakah seorang dari (orang-orang
Muslimin) yang melihat kamu?' Sesudah itu pun me-reka pergi. Allah telah
memalingkan hati mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak
mengerti." (At-Taubah: 127).
Dan di antara amalan yang dapat menjaga hati seseorang dan membuatnya lembut
adalah turut merenungkan keadaan orang-orang sakit, orang fakir miskin, serta
orang-orang yang telah tertimpa musibah dan cobaan. Karena dengan mengunjungi
orang sakit dan melihat kondisi dan penderitaan mereka akibat penyakit yang
di-deritanya, maka kita bisa menilai nikmat, begitu juga manakala kita melihat
keadaan orang-orang fakir miskin dan anak yatim, dan merenungkan apa yang
menjadi kebutuhan mereka, tentu kita akan merasakan dan mengetahui nilai nikmat
Allah Ta’ala yang telah dianugerahkan kepada kita sehingga dapat menenangkan
hati kita. Namun manakala kita mengabaikan hal-hal yang demikian, maka yang
demikian dapat membuat hati-hati kita mengeras.
Allah Ta’ala berfirman :
وَاصْبِرْ
نَفْسَكَ
مَعَ
الَّذِينَ
يَدْعُونَ
رَبَّهُمْ
بِالْغَدَاةِ
وَالْعَشِيِّ
يُرِيدُونَ
وَجْهَهُ
وَلاَتَعْدُ
عَيْنَاكَ
عَنْهُمْ
تُرِيدُ
زِينَةَ
الْحَيَاةِ
الدُّنْيَا
وَلاَتُطِعْ
مَنْ
أَغْفَلْنَا
قَلْبَهُ
عَنْ
ذِكْرِنَا
وَاتَّبَعَ
هَوَاهُ
وَكَانَ
أَمْرُهُ
فُرُطًا
"Dan
bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan
senja hari dengan mengharap WajahNya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari
mereka (karena) mengha-rapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu
mengi-kuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta
menuruti hawa nafsunya, dan keadaannya itu melewati batas." (Al-Kahfi: 28)
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Di samping kita memperhatikan dan menghiasi hati-hati kita dengan hal-hal
tersebut di atas, maka sebagai bentuk penjagaan kita juga harus senantiasa
menghindari hal-hal yang dapat mengotori, merusak, menodai, dan mencemarkan
hati-hati kita. Di antaranya, tidak sibuk dan mudah terpedaya dengan kenikmatan
dunia yang melalaikan, terbiasa dan membiarkan mata memandang hal-hal yang
diharamkan; baik melalui televisi ataupun video, dari segala bentuk siaran
sinetron, ataupun gambar-gambar yang terdapat dalam surat kabar ataupun
majalah, mendengarkan musik dan menikmati nyanyian seorang penyanyi, ataupun
menyibukkan diri dengan olah raga tertentu, baik mengikuti perkembangannya,
melihatnya secara berlebihan sampai banyak menyita sebagian besar waktu yang
ada.
Dan di antara yang dapat mengotori dan merusak hati adalah makan makanan yang
haram, dan berteman dengan pelaku dosa dan maksiat.
Ibnu Abbas radiyallahu 'anhu berkata, "Sesungguhnya kebajikan itu
menyebabkan cahaya di dalam hati, sinar di wajah, kekuatan pada jasmani, melapangkan
rizki dan menimbulkan rasa kasih sayang terhadap sesama. Sedangkan keburukan
(dosa) menyebabkan kegelapan di dalam hati, kemuraman pada muka, kelemahan pada
jasmani, mengurangi rizki, dan menimbulkan rasa benci terhadap sesama."
(Madarij as-Salikin, 1/424).
Semoga kita yang hadir di majelis yang mulia ini, termasuk golongan yang akan
mendapat penjagaan dari Allah Ta’ala, sehingga hati-hati kita senantiasa
selamat dan bersih dari segala sesuatu yang dapat menodai dan merusaknya. Amin
ya rabbal 'alamin.
اللهم صَلِّ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى أل مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى أل
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَبَارِكْ
عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى أل
مُحَمَّدٍ،
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى أل
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم إِنَّا
نَعُوْذُ
بِكَ مِنَ
الْهَمِّ
وَالْحَزَنِ،
وَنَعُوْذُ
بِكَ مِنَ
الْعَجْزِ
وَالْكَسَلِ،
وَنَعُوْذُ
بِكَ مِنَ
الْجُبْنِ
وَالْبُخْلِ،
وَنَعُوْذُ
بِكَ مِنْ
غَلَبَةِ الدَّيْنِ
وَقَهْرِ
الرِّجَالِ.
اللهم اجْعَلْ
لِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
هَمٍّ
فَرَجًا،
وَمِنْ كُلِّ
ضِيْقٍ
مَخْرَجًا،
وَمِنْ كُلِّ
بَلاَءٍ
عَافِيَةً.
وَاجْعَلْ
لَهُمْ مِنْ
لَدُنْكَ
وَلِيًّا،
وَاجْعَلْ
لَهُمْ مِنْ
لَدُنْكَ
نَصِيْرًا.
اللهم
أَعِزَّ الْإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالْمُشْرِكِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ الدِّيْنِ
وَانْصُرْ
عِبَادَكَ
الْمُؤْمِنِيْنَ
يَا رَبَّ
الْعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِإِخْوَانِنَا
الَّذِيْنَ
سَبَقُوْنَا
بِالْإِيْمَانِ
وَلاَ
تَجْعَلْ فِي
قُلُوْبِنَا
غِلاًّ لِلَّذِيْنَ
آمَنُوْا
رَبَّنَا إِنَّكَ
رَؤُوْفٌ
رَحِيْمٌ.
اللهم
افْتَحْ بَيْنَنَا
وَبَيْنَ
قَوْمِنَا
بِالْحَقِّ وَأَنْتَ
خَيْرُ
الْفَاتِحِيْنَ
اللهم إِنَّا
نَسْأَلُكَ
عِلْمًا
نَافِعًا
وَرِزْقًا
طَيِّبًا
وَعَمَلاً
مُتَقَبَّلاً.
رَبَّنَا لاَ
تُزِغْ
قُلُوْبَنَا
بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا
وَهَبْ لَنَا
مِنْ
لَدُنْكَ
رَحْمَةً
إِنَّكَ أَنْتَ
الْوَهَّابُ.
رَبَّنَا
هَبْ لَنَا
مِنْ
أَزْوَاجِنَا
وَذُرِّيَّاتِنَا
قُرَّةَ
أَعْيُنٍ
وَاجْعَلْنَا
لِلْمُتَّقِيْنَ
إِمَامًا.
اللهم
ثَبِّتْ
قُلُوْبَنَا
عَلَى
دِيْنِكَ،
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى
الله عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آٰلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لله رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.