LAGHA DAN LAHWAL HADITS
Rabu, 19 Juni
13
Oleh: H.
Hartono Ahmad Jaiz
Khutbah
pertama
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْهُ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهَا
النَّاسُ
أُوْصِيْكُمْ
وَإِيَّايَ
بِتَقْوَى
اللهِ فَقَدْ
فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ
تَعَالَى: يَا
أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ وَلاَ
تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ.
قَالَ
تَعَالَى: يَا
أَيُّهَا
النَّاسُ اتَّقُوْا
رَبَّكُمُ
الَّذِيْ
خَلَقَكُمْ
مِّنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا زَوْجَهَا
وَبَثَّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَآءً
وَاتَّقُوا
اللهَ
الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَامَ
إِنَّ اللهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا.
يَا
أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا. يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ
فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمًا.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَإِنَّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيثِ
كِتَابُ
اللهَ،
وَخَيْرَ
الْهَدْيِ
هَدْيُ
مُحَمَّدٍ
صَلَّى الله
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
وَشَّرَ الأُمُورِ
مُحْدَثَاتُهَا
وَكُلَّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ وَكُلَّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةٌ
وَكُلَّ
ضَلاَلَةٍ
فِي النَّارِ.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الْقِيَامَةِ
Allah
Ta’ala berfirman:
قَدْ
أَفْلَحَ
الْمُؤْمِنُونَ
{1} الَّذِينَ هُمْ
فِي
صَلاَتِهِمْ
خَاشِعُونَ {2}
وَالَّذِينَ
هُمْ عَنِ
اللَّغْوِ
مُعْرِضُونَ
{3} (المؤمنون: 1-3)
Sesungguhnya
beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam
shalat mereka. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan
perkataan) yang tiada berguna.(QS
Al-Mu'minun/ 23: 1,2,3).
وَالَّذِينَ
لاَيَشْهَدُونَ
الزُّورَ وَإِذَا
مَرُّوا
بِاللَّغْوِ
مَرُّوا
كِرَامًا
(الفرقان: 72)
Dan
orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu
dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah,
mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. (QS Al-Furqaan/25: 72).
وَإِذَا
سَمِعُوا
اللَّغْوَ
أَعْرَضُوا
عَنْهُ
وَقَالُوا
لَنَآ
أَعْمَالُنَا
وَلَكُمْ
أَعْمَالُكُمْ
سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ
لاَنَبْتَغِي
الْجَاهِلِينَ
(القصص: 55)
Dan
apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling
daripadanya dan mereka berkata: "Bagi kami amal-amal kami dan bagimu
amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan
orang-orang jahil".
(QS Al-Qashash/28: 55).
Orang
mukmin yang menyadari sangat pentingnya shalat, kemudian mendirikannya dengan
khusyu' selayaknya mampu berpaling dari hal-hal yang lagha atau tak berfaedah.
Yang jadi persoalan, hal-hal yang tak berfaedah itu sendiri sering tidak
disadari telah berlangsung secara merata, umum, tak pernah disebut sebagai hal
yang tak berfaedah. Sehingga diperlukan kejelian tersendiri untuk
mendeteksinya.
Ibnu
Katsir mengartikan lagha dengan makna : albaathil, hal yang
batil, yaitu mencakup: syirik (menyekutukan Allah) --seperti dikatakan oleh
sebagian ulama-- dan kemaksiatan --seperti dikatakan oleh sebagian lainnya--
dan hal-hal yang tak berguna berupa perkataan ataupun perbuatan. Sebagaimana
firman Allah Ta’ala:”
وَالَّذِينَ
لاَيَشْهَدُونَ
الزُّورَ وَإِذَا
مَرُّوا
بِاللَّغْوِ
مَرُّوا
كِرَامًا
...dan
apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan
perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga
kehormatan dirinya. (QS
Al-Furqaan/25: 72).
Kata lagha
yang artinya perkataan atau perbuatan tak berfaedah itu dalam tafsir-tafsir
berbahasa Indonesia disebut omong kosong. Omong kosong adalah omongan atau
kata-kata yang walaupun disusun rapi, indah, dan menarik namun tak ada gunanya.
Termasuk di dalamnya perbuatan-perbuatan yang tak berguna.
Menyesatkan
manusia
Untuk
mengetahui cakupan makna “omong kosong” atau perkataan yang tak berguna itu perlu
kita simak pula ayat:
وَمِنَ
النَّاسِ مَن
يَشْتَرِي
لَهْوَ الْحَدِيثِ
لِيُضِلَّ
عَن سَبِيلِ
اللهِ بِغَيْرِ
عِلْمٍ
وَيَتَّخِذَهَا
هُزُوًا أُوْلَئِكَ
لَهُمْ
عَذَابٌ
مُّهِينٌ
Dan di
antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna
(lahwal hadiits) untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan
dan menjadikan jalan Allah itu olok-olok. Mereka itu akan memperoleh azab yang
menghinakan. (QS
Luqman: 6).
Diriwayatkan
dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini diturunkan berhubungan dengan Nadhar bin Harits.
Ia membeli seorang hamba wanita yang bekerja sebagai penyanyi. Ia menyuruh
wanita itu bernyanyi untuk orang yang hendak masuk Islam. Nadhar berkata
kepadanya: "Berilah ia makanan, minuman, dan nyanyian". Kemudian
Nadhar berkata kepada orang yang akan masuk Islam itu: "Ini adalah lebih
baik dari yang diserukan Muhammad kepadamu, yaitu shalat, puasa, dan berperang
membantunya".
Menurut
riwayat Muqatil, Nadhar bin Harits ini adalah seorang pedagang yang sering
pergi ke Persia. Di sana ia membeli kitab-kitab yang bukan bahasa Arab;
kemudian isi kitab itu disampaikannya kepada orang-orang Quraisy, dengan
mengatakan: "Jika Muhammad menceritakan kepadamu kisah kaum 'Aad dan
Tsamud, maka aku akan menceritakan kepadamu kisah Rustum dan Isrindiar dan
cerita-cerita raja-raja Persia". Kaum musyrikin Quraisy itu senang
mendengarkan perkataan Nadhar ini, dan berpalinglah mereka dari mendengarkan
Al-Quran.
Cukup
gamblang riwayat-riwayat dan komentar yang ditampilkan dalam tafsir resmi itu.
Terhadap pelaku-pelaku yang aktif menjajakan lahwal hadiits itu Allah
mengancam mereka akan dikenai azab yang menghinakan. Azab yang sudah pasti
adalah di akherat kelak, apabila mereka itu tidak menghentikan perbuatan dan
upaya mereka itu serta tidak bertobat semasa masih hidup di dunia ini. Dan
tidak menutup kemungkinan, azab atau siksa itu akan menimpa pula (sebagai
cicilannya) di dunia ini. Bukankah sering kita dengar adanya artis-artis yang
terlibat pengedaran ekstasi, misalnya, hingga mendapatkan hukuman (yang
menghinakan) di dunia ini? Bahkan ada yang bergaul campur aduk laki perempuan
di diskotek-diskotek dengan mabuk-mabukan semalam suntuk kemudian pulang
menjelang pagi dalam keadaan sempoyongan, ketika menyetir mobil lalu menabrak
tembok hingga meninggal dalam keadaan mengenaskan.
Sikap
Sahabat Nabi
Para
aktivis lahwal hadiits diancam azab yang menghinakan. Lantas, bagaimana
sikap konsumen ataupun sasaran dijajakannya lahwal hadiits yang terdiri
dari masyarakat umum? Masyarakat umum yang dijadikan sasaran oleh aktivis lahwal
hadiits selayaknya menyimak contoh dari sahabat Nabi shallallohu 'alaihi
wasallam seperti berikut ini.
Diriwayatkan
dari Nafi', ia berkata: "Aku berjalan bersama Abdullah bin Umar dalam
suatu perjalanan, maka kedengaran lah bunyi seruling, lalu Abdullah bin Umar
meletakkan anak jarinya ke lobang telinganya, agar ia tidak mendengar bunyi
seruling itu dan ia menyimpang melalui jalan yang lain, kemudian ia berkata: "Ya
Nafi', apakah engkau masih mendengar suara itu?" Aku menjawab:
"Tidak". Maka ia menge-luarkan anak jarinya dari telinganya dan
berkata: "Beginilah aku melihat yang diperbuat Rasulullah n, jika ia
mendengar bunyi semacam itu". (Abu Dawud meriwayatkan peristiwa itu dengan
menyebut hadits tersebut munkar). Namun selanjutnya Abu Dawud meriwayatkan
hadits lain sebagai berikut: ".... Abdullah berkata, saya mendengar
Rasulullah n bersabda:
إِنَّ
الْغِنَاءَ
يُنْبِتُ
النِّفَاقَ
فِي
الْقَلْبِ.
(أبو داود،
عون المعبود
شرح سنن أبي
داود / 4925)
“Sesungguhnya
nyanyian itu menumbuhkan kemunafikan di dalam hati”.(Aunul Ma'bud syarah Sunan Abi Dawud, hadits
Nomor 4925).
Menurut
Ibnu Mas'ud, yang dimaksud dengan perkataan lahwal hadiits dalam ayat
ini, ialah nyanyian yang dapat menimbulkan kemunafikan di dalam hati. Sebagian
ulama mengatakan bahwa semua suara, perkataan, nyanyian, bunyi-bunyian yang
dapat merusak ketaatan kepada Allah dan mendorong orang-orang yang mendengarnya
melakukan perbuatan yang terlarang, disebut lahwal hadiits. (lihat
Al-Quran dan Tafsirnya, Depag RI, juz 21, hal 649).
Dilihat
dari Hadits-hadits tentang bunyi seruling dan nyanyian-nyanyian syetan atau
yang melalaikan, maka terhadap kata-kata yang tak berguna atau bahkan merusak
seperti nyanyian, cerita, film, lelucon-lelucon dan aneka tayangan yang tak
bermanfaat tentunya harus dicegah. Apalagi kalau nyanyian, cerita, film,
lelucon dan sebagainya itu merusak moral, aqidah, atau melalaikan dari taat
pada Allah, tentu lebih terlarang lagi.
Bisa
dibayangkan, Nabi Muhammad n telah menjelaskan bahwa nyanyian-nyanyian yang tak
berguna, dan bunyi-bunyi seruling serta nyanyian dan ratapan syaitan itu
dilarang. Bahkan diriwayatkan, beliau bersabda bahwa nyanyian itu menumbuhkan
kemunafikan dalam hati. Lantas, kenapa sebagian (banyak?) ummat Islam sekarang
justru sangat menggemari nyanyian yang menggyang syahwat, film porno, film
perdukunan, film kekerasan, lelucon-lelucon dan tayangan-tayangan yang merusak
aqidah, akhlaq dan melalaikan agama? Kenapa justru umat Islam di daerah-daerah
yang jauh dari Ibukota, dan acara-acara televisi agak sulit ditangkap di sana,
lalu mereka berlomba membeli parabola hanya demi mengejar lahwal hadiits
yang akan melalaikan agama? Kenapa di kota-kota besar, umat Islam berlomba
memasang antene televisi bukan hanya satu, demi mengejar lahwal hadiits
yang akan menghabiskan umurnya?
Nanti di
akherat akan dihisab atau diperhitungkan. Kenapa umur kita justru kita
sia-siakan hanya untuk mengejar nyanyian, suara, dan cerita syaitan. Kenapa
harta kita justru kita korbankan untuk membeli alat-alat dan perkakas pendukung
lahwal hadiits yang sebenarnya adalah meracuni kehidupan agama kita.
Aneka pertanyaan pun dimintai tanggung jawabnya kepada masing-masing kita
akibat kelalaian yang telah melanda secara umum ini.
Ancaman
adzab
Kalau
penjaja atau aktivis yang mengupayakan lahwal hadiits seperti Nadhar bin
Harits jelas-jelas diancam azab yang menghinakan, maka ancaman itu tidak luput
pula kepada orang-orang yang terseret. Dan di situlah letak ujian di dunia ini,
di samping ujian-ujian lainnya. Dari situlah akan muncul orang-orang yang lulus
ujian, yaitu orang-orang yang beruntung. Siapa itu? Di antaranya adalah
orang-orang beriman yang mereka itu khusyuk dalam sholatnya, dan orang-orang
yang berpaling dari hal-hal yang tak berguna. Seperti ditegaskan dalam Surat
Al-Mu'minun pada awal uraian ini. Kita tinggal pilih, kepingin sebagai
gerombolan umum di bawah komando Nadhar bin Harits yang diancam azab karena
mengikuti arus yang dijajakan yaitu lahwal hadiits atau di barisan orang sholeh
yang dikomandoi Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam dan Abdullah bin Umar
yang menghindar dari lahwal hadiits dan lagha. Neraka dan Surga menjadi pilihan
kita masing-masing sesuai dengan amal dan upaya kita. Berbahagialah orang yang
masih kuat menjaga diri agar tidak terkena api neraka.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا
فَاسْتَغْفِرُوا
اللهَ
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
Khutbah
Kedua
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ
عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا.
قَالَ
تَعَالَى: يَا
أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ وَلاَ
تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ.
قَالَ
تَعَالَى:
{وَمَن
يَتَّقِ
اللهَ
يَجْعَل لَّهُ
مَخْرَجًا}
وَقَالَ:
{وَمَن
يَتَّقِ
اللهَ يُكَفِّرْ
عَنْهُ
سَيِّئَاتِهِ
وَيُعْظِمْ
لَهُ أَجْرًا}
ثُمَّ
اعْلَمُوْا
فَإِنَّ
اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِالصَّلاَةِ
وَالسَّلاَمِ
عَلَى رَسُوْلِهِ
فَقَالَ:
{إِنَّ اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلَى
النَّبِيِّ،
يَا أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَاْلأَمْوَاتِ،
إِنَّكَ
سَمِيْعٌ
قَرِيْبٌ.
اَللَّهُمَّ
أَرِنَا
الْحَقَّ
حَقًّا
وَارْزُقْنَا
اتِّبَاعَهُ،
وَأَرِنَا
الْبَاطِلَ
باَطِلاً
وَارْزُقْنَا
اجْتِنَابَهُ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
رَبَّنَا
هَبْ لَنَا
مِنْ
أَزْوَاجِنَا
وَذُرِّيَّاتِنَا
قُرَّةَ
أَعْيُنٍ
وَاجْعَلْنَا
لِلْمُتَّقِينَ
إِمَامًا.
سُبْحَانَ
رَبِّكَ
رَبِّ
الْعِزَّةِ
عَمَّا يَصِفُوْنَ،
وَسَلاَمٌ
عَلَى
الْمُرْسَلِيْنَ
وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلَّى اللهُ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ.
وَأَقِمِ
الصَّلاَةَ.
(Dikutip dari Buku Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi ke-1, Darul
Haq Jakarta).