Kewajiban Iltizam Dengan Islam Dan Haramnya
Tasyabbuh Kepada Orang Kafir
Kamis, 05
September 13
إِنّ
الْحَمْدَ
ِللهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلّ لَهُ وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلهَ إِلاّ
اللهُ
وَأَشْهَدُ أَنّ
مُحَمّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ
صَلّ
وَسَلّمْ
عَلى
مُحَمّدٍ وَعَلى
آلِهِ
وِأَصْحَابِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدّيْن.
يَاأَيّهَا
الّذَيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا
اللهَ حَقّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنّ
إِلاّ
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا
النَاسُ
اتّقُوْا
رَبّكُمُ الّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَاءً
وَاتّقُوا
اللهَ الَذِي
تَسَاءَلُوْنَ
بِهِ وَاْلأَرْحَام
َ إِنّ اللهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا
الّذِيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا
اللهَ وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْلَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمًا،
أَمّا بَعْدُ
...
فَأِنّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ اللهِ،
وَخَيْرَ
الْهَدْىِ
هَدْىُ
مُحَمّدٍ
صَلّى الله
عَلَيْهِ
وَسَلّمَ،
وَشَرّ
اْلأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلّ
مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ
وَكُلّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةً،
وَكُلّ
ضَلاَلَةِ
فِي النّارِ.
Ma'asyiral-Muslimin
rahimakumullah,
Melalui mimbar ini, kami menyeru diri kami dan jama'ah sekalian, tetaplah
bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala di manapun berada dan dalam
keadaan bagaimanapun juga. Begitu pula, tetaplah berbangga dengan Islam,
sehingga kita akan mendapatkan izzah (kemuliaan) di dunia dan akhirat. Cukuplah
diri kita hanya dengan Islam, dan bukan dengan selainya, sehingga kita akan
menjadi sebaik-baik umat yang dimunculkan di muka bumi ini.
Allah Subhanahu
wa Ta'ala berfirman:
وَلَا
تَهِنُوا
وَلَا
تَحْزَنُوا
وَأَنْتُمُ
الْأَعْلَوْنَ
إِنْ
كُنْتُمْ
مُؤْمِنِينَ
Janganlah
kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah
orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang
beriman. (Qs Ali Imran: 139).
Ma'asyiral-Muslimin rahimakumullah,
Allah Subhanahu wa Ta'ala memang benar-bernar telah memuliakan kaum
Muslimin hanya dengan Islam. Sebagaimana Amirul-Mukminin Umar bin Khaththab
telah berkata: "Sesungguhnya Allah telah memuliakan kami dengan Islam, dan
jika kami mencari kemuliaan selain Islam, maka pasti, Allah akan menghinakan
kami".
Demikianlah, jika kaum Muslimin iltizam (berpegang teguh) dengan agama ini,
niscaya kita menjadi umat paling mulia, bahkan menjadi penguasa di muka bumi,
sehingga umat-umat yang lain akan takluk dan tunduk. Sebaliknya, jika kaum
Muslimin merasa hina dan merasa rendah dengan Islam, niscaya kita menjadi umat
yang terhina, terbelakang dan menjadi umat tertindas, yang bergantung kepada
umat yang lain.
Adapun kemuliaan itu, tidak akan diraih, kecuali dengan benar-benar kembali
kepada agama yang haq dan iltizam dengannya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam telah memperingatkan agar kita tidak melakukan sesuatu
yang menunjukkan tasyabbuh (meniru-niru) orang lain, seperti meniru kaum
musyrikin, kuffar, Yahudi, Nashrani, Majusi, Persia dan selainnya.
Lihatlah! Tatkala Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tiba di
Madinah, kemudian beliau mendapatkan para penduduk Madinah merayakan dua hari
raya Jahiliyah, maka beliau shallallahu 'alaihi wasallam mengingatkan:
قَدْ
أَبْدَلَكُمُ
اَللَّهُ
بِهِمَا خَيْرًا
مِنْهُمَا:
يَوْمَ
اَلْأَضْحَى,
وَيَوْمَ
اَلْفِطْرِ
Sesungguhnya
Allah telah mengganti hari raya kalian dengan dua hari raya yang lebih baik,
yaitu 'Idul-Fitri dan 'Idul-Adh-ha.
Begitu juga ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melihat
orang-orang Yahudi berpuasa pada hari 'Asyura, maka beliau shallallahu
'alaihi wasallam berkata di hadapan para sahabatnya:
خالفوا
اليهود صوموا
يوما قبله أو
يوما بعده
Selisihilah
(berbedalah dengan) Yahudi, berpuasalah kalian sehari sebelumnya, atau
sesudahnya.
Perhatikan juga, ketika para sahabat membuat penetapan kalender sebagai pijakan
mu'amalah keseharian kaum muslimin, maka serta merta para sahabat tersebut
meninggalkan kalender Masehi, Farisi dan selainnya, kemudian sepakat menetapkan
kalender Hijriyah sebagai dasar perhitungan, yaitu dimulai dari hijrahnya Nabi,
dari Mekkah ke Madinah. Penetapan ini dibuat, dengan maksud agar tidak tasyabbuh
dengan orang-orang kuffar. Mengapa para sahabat sampai berbuat demikian?
Jawabannya, karena para sahabat memahami, bahwa tasyabbuh hanya akan mendorong
sikap penghormatan dan kecintaan kepada orang-orang kuffar. Dan barangsiapa
yang mencintai mereka, pasti akan binasa.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
..... وَمَنْ
يَتَوَلَّهُمْ
مِنْكُمْ
فَإِنَّهُ
مِنْهُمْ .....
Dan
barangsiapa di anatara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka
sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka (Qs Al-Maidah: 51)
Ibadallah hadaniyallahu wa iyyakum jami'an,
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selalu memperingatkan umatnya
untuk tidak bersikap tasyabbuh dengan orang-orang kafir. Di antaranya,
orang-orang Yahudi dan Nashara membangun masjid-masjid (tempat beribadah
mereka) di atas kuburan, maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
memperingatkan para sahabatnya:
لَعْنَةُ
اللَّهِ
عَلَى
الْيَهُودِ
وَالنَّصَارَى،
اتَّخَذُوا
قُبُورَ
أَنْبِيَائِهِمْ
مَسَاجِدَ
ألا فلا
تتخذوا
القبور مساجد
Allah
telah melaknat Yahudi dan Nashara, karena mereka telah menjadikan kuburan
nabi-nabi mereka sebagai masjid, maka janganlah kalian menjadikan kuburan
sebagai masjid.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga melarang umatnya dari sikap
ghuluw (berlebih-lebihan) dalam memuji diri Nabi, karena beliau shallallahu
'alaihi wasallam mengetahui bahwa kaum Nashara telah berbuat ghuluw kepada
Al-Msih Isa bin Maryam, sehingga pada puncaknya, kaum Nashara menjadikan Isa
sebagai ilah (sesembahan) selain Allah.
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
لا تطروني كما
أطرت النصارى
ابن مريم
فإنما أنا
عبده فقولوا
عبد الله
ورسوله
Janganlah
kalian bersikap berlebih-lebihan kepadaku sebagaimana kaum Nashara telah
berlebih-lebihan kepada Isa bin Maryam. Saya hanyalah seorang hamba, maka
katakanlah hamba Allah dan utusanNya.
Begitu pula Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengingatkan agar
kita tidak tsyabbuh (meniru) orang-orang kafir dalam maslah makan dan minum.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melarang makan dan minum dengan
tangan kiri, karena hal ini merupakan tasyabbuh dengan setan dan kaum kuffar.
Dan beliau memerintahkan makan dan minum dengan tangan kanan.
Dalam penampilan zhahir, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
melarang memotong jengot dan membiarkan kumis, karena kebiasaan ini juga
merupakan sifat orang-orang kafir. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda:
أعفوا اللحى و
أحفوا
الشوارب
خالفوا
اليهود وخالفوا
المشركين
Biarkanlah
jenggot dan potonglah kumis, selisihilah Yahudi dan Musyrikin
Dalam keseharian, seperti pakaian, cara berjalan, duduk, pemberian nama dan
sebagainya yang merupakan syi'ar, juga tidak luput dari perhatian Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam, agar umatnya tidak tasyabbuh dengan orang-orang kuffar.
Ingatlah, bahwa kita diperintahkan hanya dengan Islam, bukan dengan yang
selainnya, karena Islam telah sempurna dan tidak memerlukan adanya tambahan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
......الْيَوْمَ
أَكْمَلْتُ
لَكُمْ
دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ
عَلَيْكُمْ
نِعْمَتِي وَرَضِيتُ
لَكُمُ
الْإِسْلَامَ
دِينًا.......
Pada
hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu
nikmatKu, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Qs Al-Maidah: 3).
Sehingga tasyabbuh dengan orang-orang kuffar, berarti menunjukkan adanya
kekurangan dalam Islam. Maka mencari kesempurnaan melalui orang-orang kafir,
masuk dalam perbuatan kufur nikmat. Allah telah menyempurnakan dan
mengistimewakan Islam di atas agama yang lain, sebagaimana tersirat dalam
Al-Qur'an:
فَاسْتَمْسِكْ
بِالَّذِي
أُوحِيَ
إِلَيْكَ
إِنَّكَ
عَلَى
صِرَاطٍ
مُسْتَقِيمٍ
(43) وَإِنَّهُ
لَذِكْرٌ
لَكَ
وَلِقَوْمِكَ
وَسَوْفَ
تُسْأَلُونَ
(44)
Maka
berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu.
Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. Dan sesungguhnya Al-Qur'an
itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu, dan kelak
kamu akan diminta pertanggung jawaban.
(Az-Zuhruf: 43-44)
Jama'ah shalat Jum'at yang dimuliakan Allah,
Oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim, baik secara individu maupun secara
menyeluruh, baik sebagai rakyat maupun penguasa untuk berpegang teguh dengan
Islam, menjaganya dengan kuat. Jika kaum Muslimin tidak mau iltizam dan tidak
merasa termuliakan dengan Islam, niscaya kaum Muslimin akan menjadi orang-orang
yang hina dan terhinakan.
Fenomena tasyabbuh dengan orang-orang kafir yang nampak dewasa ini di kalangan
kaum Muslimin pada masa sekarang ini, salah satu contohnya dalam masalah
bahasa. Padahal menggunakan bahasa milik orang-orang kafir tidak diperbolehkan,
kecuali ada kebutuhan yang bersifat dharuri (terpaksa). Dan keharusan bagi kita
yaitu membiasakan dengan bahasa Al-Qur'an.
Perhatikan juga kalangan anak-anak muda muslim, banyak yang lebih menyukai
memakai topi di kepalanya daripada mengenakan peci. Padahal topi merupakan
pakaian dan syi'ar kuffar. Kita tidak memiliki kepentingan untuk mengenakannya.
Begitu pula bermacam tulisan asing yang menempel di pakaian anak-anak dan para
pemuda muslim, padahal jika diterjemahkan, tulisan-tulisan tersebut mengandung
arti dan syi'ar agama mereka. Sungguh memprihatinkan.
Menghadapi kenyataan ini, semestinya kita waspada dan memperingatkan adanya
bahaya yang mengintai aqidah umat. Jika kaum Muslimin melakukan tasyabbuh, akan
menyusahkan manakala ingin membedakan antara kaum Muslimin dan orang-orang
kafir. Padahal, kaum Muslimin adalah sebaik-baik umat yang telah dimuliakan
Allah di muka bumi. Kaum Muslimin memiliki kemuliaan, kehormatan dan keagungan,
dengan syarat senantiasa iltizam terhadap ajaran Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam .
Renungkanlah kembali firman Allah:
كُنْتُمْ
خَيْرَ
أُمَّةٍ
أُخْرِجَتْ
لِلنَّاسِ
تَأْمُرُونَ
بِالْمَعْرُوفِ
وَتَنْهَوْنَ
عَنِ
الْمُنْكَرِ
وَتُؤْمِنُونَ
بِاللَّهِ
وَلَوْ
آَمَنَ
أَهْلُ
الْكِتَابِ
لَكَانَ خَيْرًا
لَهُمْ
مِنْهُمُ
الْمُؤْمِنُونَ
وَأَكْثَرُهُمُ
الْفَاسِقُونَ
Engkau adalah umat yang terbaik yang dilahirkan
untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan
beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik
bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah
orang-orang yang fasik. (Ali
Imran: 110).
أقول
قولي هذا و
أستغفر الله
لي و لكم
ولسائر المسلمين
والمسلمات
فاستغفروه
إنه هو الغفور
الرحيم
Khutbah Kedua
الحمد
لله وكفى
والصلاة
والسلام على
النبي المصطفى
وعلى آله
وصحبه ومن
والاه، أما
بعد:
Ma'asyiral
muslimin rahimakumullah,
Di antara faktor yang dapat menggiring kepada tasyabbuh, misalnya seorang
muslim sering melakukan perjalanan ke negeri kafir.
Manakala seorang muslim sering berkunjung ke sana, kemudian melihat yang ada di
negeri orang-orang kafir tersebut, maka sangat mungkin mendorong terjadinya
tasyabbuh. Oleh karena itu, seorang muslim jangan bersafar ke negeri kuffar,
kecuali jika benar-benar ada kebutuhan mendesak dan bersifat darurat. Bila
telah sampai di sana, maka harus tetap bangga dengan Islam, senantiasa menjaga
akhlak dan adab Islam, serta jangan sampai terpengaruh dengan adat dan
kerusakan moral mereka.
Faktor lain yang dapat memunculkan tasyabbuh, misalnya adanya campur baur
antara kaum Muslimin dengan orang-orang kafir. Interaksi ini terjadi karena
kedatangn atau kehadiran orang-orang kafir di negeri muslim. Maka, setiap
muslim harus berhati-hati, jangan sampai terpengaruh dengan adat dan kebiasaan
yang mereka bawa. Bahkan sedapat mungkin kita menyeru dan mendakwahi mereka
supaya mengenal dan masuk Islam.
Begitu juga adanya acara-acara dan siaran-siaran media elektronik yang
menggambarkan dan menampilkan adat, kebobrokan moral, keseharian yang
menyimpang dan bertolak belakang dengan adab-adab Islam, dapat menimbulkan efek
di kalangan kaum Muslimin dan Muslimah, sehingga meniru dan berperilaku dengan
kebiasaan mereka, dalam semua aspek kehidupan.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sering memperingatkan umatnya
agar selalu menjauhi tasyabuh dan tidak mengekor prilaku mereka dalam
hadits-haditsnya di antaranya:
لَتَتْبَعُنَّ
سَنَنَ مَنْ
كَانَ
قَبْلَكُمْ،
شِبْرًا
شِبْرًا،
وَذِرَاعًا
بِذِرَاعٍ،
حَتَّى لَوْ
سلكوا جُحْرَ
ضَبٍّ لسلكتموه
Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang
sebelum kalian sejengkal demi sejengkal. Sampai-sampai, ketika mereka masuk ke
lubang biawak pun, kalian juga akan mengikutinya.
Demikianlah peringatan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ! dan
hendaklah kita berpegang teguh dengan agama yang mulia ini, menjauhi tasyabbuh
dan terus memperingatkan bahaya perbuatan meniru kepada perilaku orang-orang
kafir. Mudah-mudahan Allah senantiasa menolong dan membimbing kita ke arah
jalan yang lurus dan diridhaiNya.
إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِإِخْوَانِنَا
الَّذِينَ
سَبَقُونَا
بِالْإِيمَانِ
وَلَا
تَجْعَلْ فِي
قُلُوبِنَا
غِلّاً لِّلَّذِينَ
آمَنُوا
رَبَّنَا
إِنَّكَ
رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
اللهم
افتح بيننا
وبين قومنا
بالحق وأنت
خير الفاتحين.
اللهم
إنا نسألك
علما نافعا
ورزقا طيبا
وعملا متقبلا
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ
وصلى
الله على
نبينا محمد
وعلى آله
وصحبه َمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدّيْن.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لله رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ
[Sumber : Majalah
As-Sunnah, Edisi 04/Thn. XI/1428H/2007M,.