Jangan Menggunjing
Rabu, 02 Maret
11
Khutbah
Pertama :
Amma
ba’du :
Ibadallah ! Bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala,
tuhan anda. Dan terjemahkanlah takwa itu kedalam prilaku nyata dalam kehidupan
sehari-hari. Agar takwa itu dapat mendorong anda untuk mencintai kebajikan,
menyebarluaskan keutamaan (kebajikan), menolak keburukan, dan memberantas
kenistaan.
Ayyuhal
muslimun ! Salah satu hal terpenting yang membedakan
antara masyarakat Islam dengan masyarakat lain ialah masyarakat Islam merupakan
masyarakat yang penuh kasih sayang, tolong-menolong, dan cinta kasih yang
didasarkan pada prinsip-prinsip kerjasama dan saling menghargai. Masyarakat
Islam juga dibangun di atas pondasi saling mencintai dan pola interaksi yang
lemah-lembut. Tidak ada tempat bagi sikap mau menang sendiri, egois, dan
mementingkan diri sendiri. Hati para warganya dipenuhi rasa cinta kepada
sesamanya. Lidah mereka banyak menyebut kebaikan dan kelebihan
saudara-saudaranya. Mereka enggan menjatuhkan harga diri saudara-saudaranya dan
merusak kehormatannya. Mereka tidak menyimpan dendam kesumat dan tidak suka
menyiarkan gosip murahan. Sebagaimana digambarkan oleh Allah di dalam
firmanNya, artinya :
أَشِدَّآءُ
عَلَى
الْكُفَّارِ
رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ
“Mereka
adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. (QS. Al-Fath :29)
أَذِلَّةٍ
عَلَى
الْمُؤْمِنِينَ
أَعِزَّةٍ
عَلَى
الْكَافِرِينَ
Mereka
bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mu'min,Tapi bersikap keras terhadap
orang-orang kafir. (QS.
Al-mai’dah :54)
Saudara-saudara
seiman dan seakidah ! Islam telah melindungi umatnya dengan pagar internal yang
sangat kokoh. Sebuah pagar yang dapat mencegah runtuhnya bangunan dan goyahnya
pilar-pilar umat. Islam mendirikan pos-pos penjagaan dan pengamanan yang dapat
melindungi bangunan Islam dari palu-palu godam yang bisa menyusup ke dalam
kemudian melakukan perusakan dan mengadu domba penghuninya. Islam meminta para
pemeluknya untuk benar-benar menjaga hak-hak iman dan ukhuwwah, dan
mendamaikan pihak-pihak yang bersengketa. Islam juga meminta umatnya menjaga
lidahnya dari ucapan-ucapan yang bisa mencemarkan nama baik orang-orang mukmin.
Kemudian dijadikan benteng yang kokoh untuk menekel kejahatan-kejahatan yang
merusak dan penyakit-penyakit sosial yang ganas dan dapat menyerang bangunan
masyarakat dari pondasinya. Lalu mengubahnya menjadi masyarakat yang selalu
bertikai, berpecah belah, saling mendendam dan saling memusuhi. Ketika itu
terjadi, celakalah masyarakat yang ditonton oleh musuh-musuhnya dari jauh,
karena ia akan menjadi santapan yang lezat bagi mereka.
Ayyuhal
muslimun ! Ada sebuah penyakit kronis dan virus
berbahaya yang merebak di tengah masyarakat. Sedikit sekali majelis yang
selamat dari penyakit ini. Dan jarang ada masyarakat yang bebas darinya.
Penyakit ini mengembangkan sayapnya pada sebagian besar majelis, pada
perkumpulan dan pertemuan kita, kecuali orang yang dirahmati Allah. Ia
memayungi forum-forum tersebut dengan naungan-naungannya yang berat, meski
sangat berbahaya bagi iman dan akhlak, dan memiliki dampak yang luas terhadap
individu, keluarga dan masyarakat. Penyakit itu adalah ghibah
(menggunjing). Ia benar-benar merupakan prilaku tercela yang timbul akibat
lemahnya iman, kelancangan lidah dan kotornya hati. Pelakunya mencerminkan
watak yang buruk, perasaan yang jelek, akhlak yang lemah, ghirah
kebajikan yang kurang dan tabiat yang rendah.
Ghibah (menggunjing) adalah musibah besar yang
menimpa masyarakat. Ia memberikan pengaruh yang luar biasa pada hati dan jiwa.
Ia menimbulkan dampak yang sangat buruk dan aneh pada keluarga dan masyarakat.
Ia bekerja seperti api yang melahap ranting-ranting yang kering. Ia memisahkan
kakak dari adiknya, menjauhkan orang dari kekasihnya, merusak hubungan dengan
teman sejawat, dan mengganggu persahabatan. Penyakit ini telah banyak
memisahkan istri dari suaminya, anak dari ayahnya, dan kakak dari adiknya.
Betapa banyak tali yang ia putuskan dan fitnah yang ia timbulkan ! Betapa
banyak dendam yang ia letupkan dan rasa permusuhan yang ia kobarkan di dalam
dada ! Betapa banyak keburukan yang ia hadirkan ! Dan betapa besar bahaya yang
ia datangkan ! Bahkan tidak jarang peperangan yang terjadi antara satu negara
dengan negara lainnya dipicu oleh penyakit ini. Wal iyyadzubillah.
Seorang
penggunjing adalah anggota yang beracun di dalam tubuh masyarakat. Ia menyakiti
Allah, Rasulnya dan orang-orang mukmin. Ia adalah biang kerusakan di tengah
umat Islam. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang suka membuat kerusakan.
Oleh
karena itu, ibadallah, Islam mengharamkan ghibah (menggunjing)
secara pasti. Bahkan Al-Qurthubi menyebut adanya ijma’ yang menyepakati bahwa ghibah
termasuk dosa besar. Bahkan dosanya setara dengan dosa membunuh, riba, berzina
dan dosa-dosa besar lainnya. Ibnu Hajar Rahimahullah mengatakan : “Ghibah
adalah penyakit kronis dan racun yang terasa di lidah lebih manis dari madu.
Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyjajarkan dosa ghibah dengan dosa
membunuh dan merampas harta orang lain. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu
Hurairah Radiyallahu ‘Anhu bahwasanya beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda
:
“Setiap
muslim atas muslim lainnya haram darahnya, hartanya dan kehormatannya.” (Shahih Muslim, 2564 )
Hasan
Al-Basri Radiyallahu ‘Anhu mengatakan : “Demi Allah, ghibah lebih ganas dalam
menggerogoti agama seorang mukmin dibanding kanker yang menggerogoti tubuhnya.”
Yang
lebih dahsyat dan lebih hebat dari itu ialah firman Allah Subhanahu Wata’ala :
وَلاَيَغْتَب
بَّعْضُكُمْ
بَعْضًا
أَيُحِبُّ
أَحَدُكُمْ
أَن يَأْكُلَ
لَحْمَ أَخِيهِ
مَيْتًا
فَكَرِهْتُمُوهُ
Dan
janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain.Sukakah salah
seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Maka
tentulah kamu merasa jijik kepadanya (QS.
Al-Hujurat :12)
Saudaraku
! Renungkanlah susunan kalimat yang digunakan dalam melarang ghibah yang
disertai dengan kasian yang semakin menambah keburukan masalah ini dan membuat
perbuatan ini semakin jelek dan keji. “Dan janganlah sebahagian kamu
menggunjing sebahagian yang lain.Sukakah salah seorang di antara kamu memakan
daging saudaranya yang sudah mati ? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.”
Karena memakan daging manusia merupakan sesuatu yang secara naluriah sangat
jelek, meskipun daging orang kafir. Lalu bagaimana jika yang dimakan adalah
daging saudaranya yang seagama ?! Tentu kejelekannya akan semakin besar.
Apalagi jika daging yang dimakan itu sudah mati dan menjadi bangkai ?
Subhanallah ! Betapa besar bahaya ghibah ! Dan
betapa keji kejahatannya ! Subhanallah, Betapa banyak orang yang
menyepelekannya sekarang ini ! Bahkan ghibah seolah-olah menjadi menu wajib di
majelis-majelis mereka. Allahul musta’an.
Tentang
makna ghibah, imam Muslim, Abu Daud dan lain-lain meriwayatkan dari Abu
Hurairah bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “ Tahukah kamu
apa ghibah itu ? Allah dan Rasulnya lebih tahu, “Jawab para sahabat. Beliau
bersabda : “Kamu menyebut saudaramu dengan sesuatu yang tidak disukainya.”
Bagaimana jika saudaraku itu memang memiliki apa yang aku sebutkan ? tanya
seseorang . Beliau menjawab : “Jika ia memang memiliki apa yang kamu katakan,
kamu telah menggunjingnya. Dan jika tidak, berarti kamu telah memfitnahnya.”
Wahai
orang-orang yang suka menggunjing ! Simaklah peringatan keras yang diriwayatkan
oleh Imam Ahmad dan Imam Abu Daud bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
bersabda :
“Wahai
sekian orang yang beriman dengan lidahnya dan hatinya belum dimasuki iman,
janganlah kalian menggunjing orang-orang muslim dan jangan membuntuti aurat
mereka. Karena barangsiapa yang suka membuntuti aurat mereka, maka Allah akan
membuntuti auratnya. Dan barangsiapa yang dibuntuti auratnya oleh Allah, maka
Dia akan membeberkannya di dalam rumahnya.”
(HR.Ahmad, 4/420 dan Abu Daud, 4880 )
Ayyuhal
ikhwah fillah !
Tahukah anda, apa hukuman bagi orang-orang yang suka menggunjing ? Simaklah,
wahai orang-orang yang mengira bahwa masalah ini sangat ringan. Abu Daud
meriwayatkan dari anas Radiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam bersabda : “ Ketika aku dibawa naik (Mi’raj ke langit), aku bertemu
dengan kaum yang memiliki kuku dari tembaga. Mereka mencakari wajah dan dada
mereka sendiri. Lalu aku bertanya : “Siapakah mereka itu, hai Jibril ? Jibril
menjawab : ‘Mereka adalah orang-orang yang suka memakan daging (menggunjing)
manusia dan mencemarkan nama baiknya.” (Sunan Abi Daud, 4878 )
Dan
ketika Aisyah Radiyallahu ‘Anha berkata kepada nabi Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam: “Sesungguhnya Shofiyah itu begini begini,” (maksudnya: tubuhnya
pendek), beliau langsung bersabda : “Sungguh engkau telah mengucapkan kata-kata
yang andaikata engkau campur dengan air laut, engkau pasti bisa merusaknya.”
(HR. Ahmad, 6/189, Abu Daud, 4875 dan At-Tirmidzi, 2502 ). Maksudnya : engkau
pasti bisa mengubah air menjadi busuk.
Dengarlah,
wahai orang-orang yang suka menyudutkan dan menyebarkan nama baik orang lain.
Karena ada sebagian orang yang menganggap dirinya sebagai hakim yang berhak
menjatuhkan putusan terhadap orang lain dalam satu kali sidang, bahkan dalam
sekejap saja. Ia menyalahkan si ini, menganggap dungu si itu. Ia membodohkan
yang ini, dan menyesatkan yang itu. Dan hal itu lebih mudah baginya dari pada
meneguk air. Mana rasa takutnya kepada Allah ? Mana rasa perasaan diawasi oleh
Allah ? Mana kepeduliannya terhadap kehormatan hak-hak orang lain ? Masalah ini
sudah sampai pada puncaknya dan sudah keterlaluan. Kondisinya benar-benar gawat
dan berbahaya, wahai umat Islam. Ini tidak boleh didiamkan dan dibiarkan begitu
saja. Banyak sekali forum-forum dan tempat-tempat berkumpul yang berubah fungsi
menjadi ajang untuk memasarkan rahasia pribadi orang. Dagingnya disajikan di
atas nampan azab. Perbuatan dan aksi mereka dianggap seperti buah-buahan yang
dihidangkan di tempat itu, padahal itu adalah api Neraka. Wal’iyadzubillah
!
Kenyataan
di lapangan menunjukkan adanya sekelompok orang yang menjadi pengangguran
terselubung. Mereka lebih suka berbicara daripada bekerja. Mereka terbuai oleh
kesantaian dan kemalasan. Mereka tidak mampu mengikuti jejak orang-orang yang
sungguh-sungguh dan bekerja keras. Maka mereka pun membuat gosip dan kritik
terhadapnya. Bisnis mereka adalah mengkritik dan menyudutkan orang lain.
Kebiasaan mereka adalah mencari-cari kesalahan orang lain dan mengarahkan
tudingan kepadanya, baik secara tersirat maupun tersurat. Mereka membentuk
forum-forum dan mengadakan pertemuan-pertemuan untuk membahas bisnis palsu
tersebut.
Hal ini
adalah sesuatu yang benar-benar perlu disesalkan dan disayangkan. Ini sangat
menyolok, menyedihkan dan memperhatinkan. Setan benar-benar telah mengelabuhi
mereka.
Ibnul
Qayyim Rahimahullah menyatakan : ‘Anehnya, manusia dengan mudah bisa menghindar
dari banyak hal yang diharamkan, tetapi justru kewalahan mengendalikan gerakan
lidahnya. Bahkan anda bisa melihat orang yang dipuji agamanya, zuhudnya dan
ibadahnya, tetapi dengan mudahnya mengeluarkan kata-kata yang dimurkai Allah.
Satu dari kata-kata itu bisa menggelincirkannya dari timur ke barat.”
Hasan
Rahimahullah berkata : “Kalau kamu melihat seseorang sibuk dengan kekurangan
orang lain dan membiarkan kekurangannya sendiri, ketahuilah bahwa orang itu
telah terpedaya.”
Dalam
sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda
: “Tahukah kamu, apa riba yang paling keji di sisi Allah ? Mereka menjawab :
Allah dan Rasulnya lebih mengetahui , Beliau bersabda : ‘ Sesungguhnya riba
yang paling keji di sisi Allah ialah menghalalkan kehormatan seorang muslim.
” Kemudian beliau membaca firman Allah :
وَالَّذِينَ
يُؤْذُونَ
الْمُؤْمِنِينَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
بِغَيْرِ
مَااكْتَسَبُوا
فَقَدِ
احْتَمَلُوا
بُهْتَانًا
وَإِثْمًا
مُّبِينًا
Dan
orang-orang yang menyakiti orang-orang mu'min dan mu'minat tanpa kesalahan yang
mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang
nyata. (QS. Al-Ahzab :58)
Wahai
umat Islam ! Rasulullah shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah mendidik
Sahabat-sahabatnya dengan adab yang tinggi. Beliau bersabda :
“Hendaknya
tidak ada seorangpun yang menyampaikan sesuatu kepadaku tentang salah seorang
Sahabatku. Karena sesungguhnya aku ingin menemui mereka dengan dada yang
bersih.” (HR. Abu Daud,4860 dan At-Tirmidzi,3896 )
Allahu
Akbar ! Bandingkan hal ini dengan kondisi
orang-orang yang suka mencari-cari kesalahan orang. Mereka suka melebarkan
celah, membeber aib orang , membesar-besarkan masalah, mendramatisir keadaan,
berburuk sangka kepada sesama, dan membuat isu-isu yang provokatif. Banyak kata
yang mati seketika tanpa pernah beranjak dari tempatnya. Dan banyak pula kata
yang berubah menjadi percikan api, lalu diikuti dengan api yang menyala-nyala
dan melahap apa saja.
Mereka
tergila-gila dengan kebiasaan membeberkan aib orang, menyebarluaskan
keburukannya, menyiarkan kekurangannya, serta membuka tabir dan sisi negatifnya
yang kelam. Baik dalam skala individu, masyarakat, negara, pemerintah (rezim),
lembaga maupun institusi. Baik di lingkungan ulama (intelektual), orang awam,
pemuda, lansia, laki-laki, wanita maupun yang lain.
Cara
yang diikuti oleh generasi salaf ialah saling menasehati, bukan saling membuka
aib. Umar Radiyallahu ‘Anhu berkata : “Perbanyaklah menyebut nama Allah, karena
itu adalah obat. Dan jangan suka menyebut aib sesama, karena itu adalah
penyakit.”
Seorang
ulama Salaf berkata : “ Ghibah itu lebih berat dari zina.” Bagaimana itu
? tanya seseorang. Ia menjawab : “ Orang yang berzina bisa bertaubat kemudian
Allah menerima taubatnya. Sedangkan pelaku ghibah tidak akan diampuni
dosanya sebelum ia diampuni oleh orang yang digunjingnya.”
Qatadah
mengatakan : “Kami pernah diberitahu bahwa siksa kubur itu terbagi menjadi tiga
bagian; sepertiga karena ghibah, sepertiga karena air seni, dan
sepertiga lainnya karena namimah (adu domba).
Ada
seorang laki-laki menggunjing laki-laki lain di dekat seorang ulama Salaf. Lalu
ulama itu membentaknya dan berkata : “Hai kamu ! Jangan sekali-kali mendekati
air liur anjing.”
Ayyuhal
Muslimun ! Ghibah yang paling berbahaya ialah
mendiskreditkan para pemimpin umat Islam. Yang seharusnya dilakukan ialah
mendoakan mereka, menunjukkan kebaikan mereka, dan saling menasehati antara
anda dengan mereka, agar dada masyarakat tidak terbakar dan perasaan umat tidak
terluka. Begitu juga para ulama, juru dakwah dan penganjur kebaikan. Karena
daging mereka beracun dan menggunjing mereka tercela. Barangsiapa yang suka
menyudutkan dan mencari-cari kesalahan, mereka akan diuji oleh Allah dengan
kematian hatinya sebelum kematian tubuhnya. Wal iyyadzubillah !
Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Askar Rahimahullah. Karena yang sempurna
hanyalah Allah semata.
Siapa
sih yang tidak pernah berbuat buruk ?
Dan siapa sih yang punya kebaikan saja ?
Bertakwalah
kepada Allah, wahai kaum muslimin dan muslimat. Sesungguhnya ghibah banyak
terjadi di majelis-majelis kaum wanita tentang Si Fulan dan Fulanah dalam
bentuk yang mencengangkan. Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah
melihat bahwa penghuni Neraka kebanyakan adalah kaum wanita.
Bertakwalah
kepada Allah , wahai para penanggung jawab kemaslahatan umat. Jangan biarkan
kebiasaan menggunjing makin marak di lingkungan anda. Dan jangan sekali-kali
percaya kepada omongan orang tentang Si Fulan dan lain-lain kecuali setelah ada
kejelasan dan chek and recheck.
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
إِن جَآءَكُمْ
فَاسِقُُ
بِنَبَإٍ
فَتَبَيَّنُوا
أَن
تُصِيبُوا
قَوْمًا
بِجَهَالَةٍ
فَتُصْبِحُوا
عَلَى
مَافَعَلْتُمْ
نَادِمِينَ
Hai
orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu
berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah
kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal
atas perbuatanmu itu. (QS.
Al-Hujurat :6)
Bertakwalah
kepada Allah Subhanahu Wata’ala, wahai para pembuat laporan dan konsultan.
Jangan sekali-kali membuat rekayasa untuk menjatuhkan orang-orang yang tidak
bersalah. Dan jangan suka berburuk sangka kepada sesama.
Bertakwalah
kepada Allah, wahai para ulama’ dan juru dakwah. Jagalah kehormatan
saudara-saudara anda. Hadapilah semua orang kendati mereka berbeda pandangan
dengan anda dengan pandangan yang positif (positive thingking). Jangan
mau diadu domba oleh setan. Karena setan telah putus asa untuk disembah oleh
orang-orang yang rajin shalat. Maka, setan pun berusaha mengadu domba anda. Dan
jangan sampai hubungan baik yang terjalin di antara anda semua dirusak oleh
para penipu dan orang-orang bodoh yang tidak bertanggung jawab.
Bertakwalah
kepada Allah, wahai para pemuda Islam. Jadilah satu kekuatan dalam mengemban
misi kebaikan dan perbaikan. Bersatulah dengan para ulama dan umara yang
bertakwa kepada Allah. Rapatkan barisan anda untuk menghadapi seragan lawan.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :
فَاتَّقُوا
اللهَ
وَأَصْلِحُوا
ذَاتَ بَيْنَكُمْ
وَأَطِيعُوا
اللهَ
وَرَسُولَهُ
إِن كُنتُم
مُّؤْمِنِينَ
“Maka
bertaqwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan diantara sesamamu, dan
taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang beriman". (QS. Al-Anfal :1)
بارَكَ
الله لِيْ
وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ هذا
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ
Khutbah
Kedua :
Amma
ba’du
Ibadallah ! Bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Berusahalah untuk selalu memadukan hati. Rasakanlah selalu pengawasan Tuhan
Yang Maha Mengetahui hal-hal yang tersembunyi. Jauhilah majelis-majelis yang
penuh dengan ghibah. Karena akibat buruknya mencakup orang yang berbicara,
orang yang mendengar dan orang yang merestuinya. Dan jangan pernah silau dengan
banyaknya penggunjing.
Ayyuhal
muslimun ! Kita sudah tahu betapa besarnya bahaya dan
keburukannya ghibah. Dan kita pun tahu bahwa ghibah berupa menyebut apa saja
tentang diri seorang muslim sedangkan ia tidak menyukainya, baik mengenai
perangai, bentuk fisik atau lainnya. Sedangkan hikmah dari larangan menggunjing
di dalam Islam ialah menjaga nama baik umat Islam, memelihara kehormatannya dan
melindungi masyarakat dari palu-palu godam yang bisa merusak bangunannya dari
dalam.
Ahibbati
fillah ! Bila kita teliti ternyata penyebab dan
pemicu muculnya penyakit berbahaya ini tidak lain adalah lemahnya iman, Juga
termasuk upaya melampiaskan dendam dan amarah, mengikuti hawa nafsu, merasa
diri paling hebat dan merendahkan orang lain. Karena secara tidak langsung
orang yang menggunjing itu berkata : “Akulah yang sempurna dan merekalah yang
salah. Akulah yang benar dan merekalah yang keliru.” Hal itu saja sudah cukup
membuatnya menjadi orang hina dan bermoral rendah. Belum lagi ditambah dengan
perasaan dengki, dendam dan permusuhan yang bersarang di dalam jiwa, serta
kesewenang-wenangan terhadap orang lain yang tidak terkontrol dan terkendali.
Namun,
para ulama seperti Al-Ghazali, An-Nawawi dan lain-lain telah membuat enam
pengecualian, di mana ghibah boleh dilakukan karena darurat (terpaksa).
Yaitu : mengadukan kedzaliman, meminta fatwa, meminta bantuan untuk merubah
kemungkaran, dan menasehati umat Islam dari kejahatan, menunjukkan kefasikan
yang dilakukan secara terang-terangan, menyebutkan identitas seseorang ketika
jati dirinya hanya bisa dikenal dengan sifat tertentu.
Keenam
hal itu terangkum dalam nadzam berikut ini :
Menjelekkan
orang yang tidak termasuk ghibah dalam enam hal
Mengadukan kedzaliman, menunjukkan jati diri orang
Memperingatkan adanya bahaya, menunjukkan kefasikan
Meminta fatwa dan meminta bantuan untuk melenyapkan kemungkaran
Saudara-saudara
yang seiman dan seakidah ! Terapi terbaik untuk mengatasi penyakit yang
berbahaya ini ialah bertaubat kepada Allah dengan cara menghentikan kebiasaan
yang buruk ini, banyak beristigfar, menghidari forum-forum ghibah, menjauhi
orang-orang yang tidak baik, mendoakan orang yang anda gunjingkan dan meminta
maaf kepadanya, selalu membaca doa kaffaratul majelis dan menutupnya
dengan istigfar dan taubat, membiasakan diri untuk berbaik sangka (positive
thingkig) kepada sesama dan berusaha mencarikan alasan yang bisa diterima
(memaklumi perbuatannya), menghindari isu-isu yang memanas-manasi dan
perasangka buruk, serta mengingat mati dan rumah Akhirat.
Ada
riwayat yang menyebutkan bahwa Al-Karkhi Rahimahullah selalu berkata kepada
orang yang mengghibah di sisinya : Hai bung ! Ingatlah saat kain kafan, kapas
dan kapur barus dipasang di tubuhmu.”
Oh,
betapa senangnya orang yang digunjing. Karena ia bisa mendapatkan kebaikan dari
orang-orang yang menggunjingnya. Menurut salah satu riwayat, ketika Hasan
Al-Basri mendapat informasi bahwa seseorang telah menggunjingnya, ia langsung
mengirimkan kurma segar sebanyak satu nampan kepada orang tersebut dan berkata
padanya : “ Aku mendapat informasi bahwa kamu telah memberikan kebaikanmu
kepadaku (dengan cara menggunjingku). Maka aku ingin membalas kebaikanmu.
Tetapi maafkanlah aku, karena aku tidak bisa membalasnya dengan balasan yang
setimpal.”
Ayyuhal
muslimun ! Bertakwalah kepada Allah dan bertaubatlah
kepadaNya dari segala macam dosa, maka anda meraih kebahagiaan dan
keberuntungan di dunia dan Akhirat. Mudah-mudahan Allah berkenan menganugerahi
kita semua taubat yang nasuha, dan kita benar-benar bisa kembali ke jalan yang
benar.
اللهم صَلِّ
عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم
بَارِكْ عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ،
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم
اغْـفِـرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْـفِـرْ
لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
اللهم إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الْهُدَى
وَالتُّقَى
وَالْعَفَافَ
وَالْغِنَى.
اللهم إِنَّا
نَعُوْذُ بِكَ
مِنْ زَوَالِ
نِعْمَتِكَ
وَتَحَوُّلِ
عَافِيَتِكَ
وَفُجَاءَةِ
نِقْمَتِكَ
وَجَمِيْعِ
سَخَطِكَ.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ الْحَمْدُ
لله رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
[Dikutip dari buku : Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi
pertama, ElBA Al-Fitrah, Surabaya .Diposting oleh Yusuf Al-Lomboky]