Jangan Iri Hati
Kamis, 24
Februari 11
Khutbah
Pertama
Amma
ba’du :
Ibadallah ! Islam bercita-cita membangun setiap muslim
menjadi pribadi yang kokoh dan sempurna; memiliki iman dan akidah yang kuat,
hati yang bersih, cara beragama (manhaj) yang jelas, kalbu yang suci, dan
perangai yang baik. Sehingga setiap muslim dapat hidup di bawah naungan Islam
dengan mata yang teduh dan hati yang damai. Jauh dari godaan rasa benci dan
permusuhan, dan bersih dari dengki dan iri hati. Dan tidak ada cara yang lebih
efektif untuk menjauhkan diri dari keresahan hati, mengusir kesedihan, serta
menerangi sanubari selain dengan ridha kepada Allah. Ridha kepada Allah dalam
arti menerima keputusan dan ketentuanNya, mengakui keadilanNya, keputusan
hukumNya, serta pilihanNya untuk hamba-hambaNya.
Wahai
pencari kehidupan yang aman dan damai
Makmur tanpa kekurangan
Jernih tanpa gelisah
Bersihkanlah hatimu
Dari dendam dan dengki
Karena dendam di dalam hati
Laksana belenggu di lehermu
Ikhwatal
Iman ! Orang yang memiliki sifat-sifat yang mulia
itu adalah batu bata masyarakat yang ideal dan benih umat Islam yang sejati.
Karena Islam bercita-cita membangun masyarakat yang kompak dan bangunan yang
tinggi. Tempat bendera cinta, kerukunan, persahabatan, kesentosaan, dan
perdamaian berkibar-kibar. Para warganya terikat dengan rasa saling mencintai,
saling mengasihi, dan saling membantu. Jauh dari rasa ingin menang sendiri,
mementingkan kepentingan pribadi, maupun egoisme yang tercela. Karena apabila
perasaan semacam itu mengakar kuat dan durinya tumbuh bercabang-cabang dapat
melayukan bunga-bunga iman yang sedang mekar dan mengaburkan cahaya mutiara
akidah yang berkilauan.
Karena
itu Islam memerangi penyakit hati, jiwa dan masyarakat, dan memberinya
obat-obatan yang paling mujarab dan diagnosanya lebih detail dibanding
penyakit-penyakit fisik. Karena ketika penyakit bersarang di badan seseorang,
ia akan tergopoh-gopoh menemui dokter yang paling baik untuk meminta resep dan
obat yang paling manjur, dengan izin Allah. Tetapi penyakit hati kadang tidak
dirasakan oleh seseorang hingga merusak agamanya. Wal’iyadzu billah .
Oleh
karena itu, diperlukan benteng yang melindungi masyarakat Islam, agar
penyakit-penyakit hati yang ganas tidak bisa masuk ke dalam. Dan Islam juga
melindungi masyarakatnya agar tidak terkoyak oleh penyakit-penyakit tersebut.
Karena kondisi itu bisa menjauhkannya dari pantai yang aman dan damai, atau
ladang yang nyaman dan tenang. Lalu iman akan merembes keluar seperti air yang
merembes dari wadah yang retak. Masyarakat pun tenggelam di dalam lautan
permusuhan dan dendam, terhempas oleh gelombang keburukan dan kerusakan, serta
tersapu ombak kerasukan dan ketamakan. Sehingga ia pun menjadi mangsa
orang-orang yang mengincar. Mereka menangkapnya dan menyuntikkan racun ke
tubuhnya. Maka rusaklah negara dan rakyatnya di tangan mereka. Mudah-mudahan
Allah Subahanahu Wata’ala berkenan melindungi kita dari murkaNya dan siksaNya
yang pedih.
Wahai
umat Islam ! Ada satu penyakit hati yang sangat ganas. Jika penyakit ini
menyerang suatu umat maka ia adalah pertanda kehancuran umat tersebut. Jika
penyakit ini melanda suatu daerah ia adalah jurang menuju kebinasaannya. Dan
jika penyakit ini merebak di tengah-tengah sebuah masyarakat ia akan menjadi
sebab kesengsaraan hidupnya. Ia adalah sumber dari segala macam bencana, hulu
dari segala macam permusuhan, dan pangkal dari segala macam kesengsaraan. Ia
adalah senjata yang sangat tajam. Ia digunakan oleh setan untuk mencabik-cabik
hati, memecah belah persatuan, merusak persahabatan, memutuskan tali
percintaan, dan menghancurkan ikatan-ikatan kekerabatan. Ia menabur kebencian,
menanam dendam, dan menumbuhkan permusuhan. Bahkan bisa menggunduli agama,
menghancurkan dunia, dan merusak bibit-bibit kebaikan di dalam diri orang-orang
beriman.
Ibadallah ! Penyakit itu adalah penyakit hasud (iri
hati). Yaitu mengharapkan hilangnya nikmat Allah yang ada di tangan orang lain
dan merasa tidak suka bila orang lain mendapatkan kebaikan. Ini adalah perangai
yang tercela. Perangai ini dapat membuatkan mata seseorang dari keutamaan dan
menyeretnya ke jalan kenistaan hingga membunuhnya dengan senjata yang sangat
tajam. Persetan dengan iri hati. Betapa buruknya iri hati ini ! Ia akan terus
merusak hati pemiliknya sampai berhasil membunuhnya.
Sabarlah
terhadap kedengkian para pendengki
Karena kesabaranmu akan membunuhnya
Karena api akan memakan dirinya sendiri
Bila tidak menemukan apa yang bisa dimakannya
Ibadallah ! Iri hati adalah penyakit yang menyerang
banyak umat dan kanker yang menggerogoti banyak bangsa. Imam Ahmad dan
At-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaiahi Wasallam bersabda :
“Kalian
sudah diserang oleh penyakit umat-umat sebelum kalian, yaitu hasud (iri hati)
dan permusuhan yang merupakan pencukur. Aku tidak mengatakan bahwa ia mencukur
rambut, tetapi ia mencukur agama.”
(Al-Musnad,1/167, dan Jami’ At-Tirmidzi, 2510 )
Tidak
ada yang menjerumuskan umat-umat ke lembah kesulitan dan mendorongnya ke jurang
kehancuran selain hasud (iri hati). Tidak ada sesuatu yang menjadi penyebab
hilangnya kekuatan umat, memecah belah persatuannya, mencabik-cabik
keutuhannya, dan merusak barisannya selain dengki dan para pendengki. Mudah-mudahan
Allah tidak memperbanyak jumlah mereka. Ini tidak mengherankan, karena iri hati
adalah dosa pertama yang dilakukan terhadap Allah dan menjadi pemicu maraknya
hal-hal yang menyebabkan timbulnya kesenangan hidup manusia. Apa yang mendorong
Iblis untuk durhaka kepada Allah selain kedengkiannya kepada Adam ‘Alaihissalam
? Apa yang mendorong Qabil untuk membunuh Habil selain kedengkiannya kepada
saudara kandungnya itu ?
فَقَتَلَهُ
فَأَصْبَحَ
مِنَ
الْخَاسِرِينَ
Lalu ia
(Qabil) membunuhnya, maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi. (QS. Al-Ma’idah :30)
Apa yang
mendorong saudara-saudara Yusuf untuk melakukan sesuatu kepada Yusuf selain iri
hati ?
إِذْ قَالُوا
لَيُوسُفُ
وَأَخُوهُ
أَحَبُّ
إِلَى
أَبِينَا
مِنَّا
وَنَحْنُ
عُصْبَةٌ إِنَّ
أَبَانَا
لَفِي
ضَلاَلٍ
مُّبِينٍ
(Yaitu)
ketika mereka berkata:"Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya
(Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita
(ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam
kekeliruan yang nyata. (QS.
Yusuf :8)
Apa yang
mendorong orang-orang Yahudi untuk menolak kenabian Muhammad Shallallahu
‘Alaihi Wasallam dan selalu berupaya menyebarluaskan kesesatan di dalam umat
ini selain iri hati ? Allah berfirman :
وَدَّكَثِيرُُ
مِّنْ أَهْلِ
الْكِتَابِ
لَوْ يَرُدُّونَكُم
مِّن بَعْدِ
إِيمَانِكُمْ
كُفَّارًا
حَسَدًا
مِّنْ عِندِ
أَنفُسِهِم
مِّن بَعْدِ
مَا
تَبَيَّنَ
لَهُمُ
الْحَقُّ
Sebagian
besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada
kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka
sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. (QS.
Al-Baqarah :109)
Dan iri
hati pulalah yang mendorong orang-orang kafir Makkah untuk menolak dakwah Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
وَقَالُوا
لَوْلاَ
نُزِّلَ
هَذَا
الْقُرْءَانُ
عَلَى رَجُلٍ
مِّنَ
الْقَرْيَتَيْنِ
عَظِيمٍ
أَهُمْ
يَقْسِمُونَ
رَحْمَتَ
رَبِّكَ نَحْنُ
قَسَمْنَا
بَيْنَهُم
مَّعِيشَتَهُمْ
فِي
الْحَيَاةِ
الدُّنْيَا
وَرَفَعْنَا
بَعْضَهُمْ
فَوْقَ
بَعْضٍ
دَرَجَاتٍ
لِّيَتَّخِذَ
بَعْضُهُم بَعْضًا
سُخْرِيًّا
وَرَحْمُت
رَبِّكَ خَيْرٌ
مِمَّا
يَجَمْعَوُنَ
Dan
mereka berkata:"Mengapa al-Qur'an ini tidak diturunkan kepada seorang
besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini Apakah mereka yang
membagi-bagi rahmat Rabbmu Kami telah menentukan antara mereka penghidupan
mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas
sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat
mempergunakan sebahagian yang lain.Dan rahmat Rabbmu lebih baik dari apa yang
mereka kumpulkan. (QS.
Az-Zukhruf :31-32)
Wahai
umat Islam ! Kini, yang membuat umat ini terpecah belah menjadi
kelompok-kelompok yang saling berseteru tidak ada lain adalah iri hati. Yang
memicu timbulnya perselisihan di dalam umat ini sampai hilang kejayaannya,
lemah kondisinya, rendah cita-citanya, dan kalah dari musuh-musuhnya tidak lain
adalah iri hati. Dan yang membuat umat ini terbagi menjadi umat-umat kecil dan
negara-negara mungil, sehingga di kancah politik mereka terbelah menjadi sekian
banyak partai, dan di bidang ekononmi, sosial dan prilaku mereka terbagi
menjadi sekian banyak aliran, lalu yang satu disibukkan dengan yang lain,
bahkan satu sama lain saling menghabisi dan sulit dipersatukan tidak lain
adalah iri hati, rasa benci, dendam dan permusuhan.
Seperti
kata pepatah:
“Malam
ini tidak sama dengan malam kemarin”
Apa yang
dilakukan oleh orang-orang Yahudi sekarang dan kaum Zionis masa kini terhadap
saudara-saudara kita di palestina seperti mengusir mereka dari tanah mereka dan
memisahkan mereka dari kampung halaman, keluarga, anak-anak dan harta benda
mereka tidak lain adalah bukti nyata atas rasa dengki dan iri hati orang-orang
Yahudi dan kaum Zionis itu. Tindakan-tindakan melampui batas, aksi-aksi keji
dan perbuatan-perbuatan biadab yang dilakukan oleh orang-orang kristen Serbia
di Republik Bosnia Herzegovina tidak lain adalah dendam kaum salibis dan
kedengkian orang-orang Serbia kepada Islam dan umatnya.
Apa yang
dilakukan oleh orang-orang Hindu penyembah berhala di India seperti merobohkan
masjid, menginjak-injak tempat ibadah, menumpahkan darah (membunuh),
mencabik-cabik organ tubuh, merusak bangunan, membunuh anak-anak, dan membuat
para wanita menjadi janda tidak lain adalah bukti kedengkian kaum musyrik
penyembah berhala terhadap apa saja yang berhubungan dengan Islam.
Hal yang
sama juga berlaku di Somalia, kasymir, Burma, Eri teria, Philipina, dan
tempat-tempat lainnya.
Wahai
umat Islam ! Iri hati adalah perilaku setan, perangai Yahudi, dan gejolak
permusuhan yang disebarluaskan Iblis dan kawan-kawannya sepanjang masa. Iri
hati memiliki akibat yang sangat jelek, hasil yang tidak baik, dan kerugian
yang sangat buruk. Ia dapat membakar hati, menimbulkan banyak malapetaka dan
kesulitan, menyebabkan permusuhan, pertikaian dan pertengkaran, dan
mengosongkan tempat tinggal. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah
memperingatkan umatnya dalam sabdanya :
“Janganlah
kalian saling mendengki, janganlah saling membenci, janganlah mencari-cari
kesalahan orang lain, janganlah mencuri dengar pembicaraan orang lain, dan
janganlah kalian saling mengelabuhi dalam berdagang. Jadilah kalian wahai
hamba-hamba Allah sebagai saudara.”
(HR.Al-Bukhari, 6064 dan Muslim, 2563 )
Setan
boleh jadi frustasi dalam menjerumuskan ke dalam syirik dan penyembahan
berhala. Namun ia tidak akan frustasi dalam mengadu domba umat Islam. Imam
Muslim dan lain-lain meriwayatkan dari Jabir Radiyallahu ‘Anhu bahwa Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“Sesungguhnya
setan telah putus asa untuk disembah oleh orang-orang yang shalat di Jazirah
Arab. Tetapi (tidak frustasi) dalam mengadu domba mereka.” (HR.Muslim, 2812 dan Ahmad,3/354 )
Ma’asyiral
muslimin rahimahullah ! Rasa
dengki adalah bara yang menyala dan api yang membara. Seorang pendengki
memiliki niat buruk dan hati yang busuk. Ia sudah dihukum di dunia sebelum di
Akhirat.
Abu
Laits As-Samarqani berkata : “Seorang Pedengki akan menerima lima Buah hukuman
sebelum kedengkiannya sampai kepada orang yang didengkinya. Yaitu : keresahan
tanpa henti, musibah tanpa pahala, caci maki tanpa puji, murka Rabb, dan
tertutupnya pintu taufiq (pertolongan Rabb ).” Semoga Allah melindungi kita
dari hal itu.
Mereka
dengki pada pemuda itu
Karena mereka gagal menggapai prestasinya
Semua orang menjadi musuh dan seterunya
Tak ubahnya para pesaing si cantik
Mereka dengki dan iri hati
Kau lihat orang pandai pasti dengki
Ia tidak pernah memaki siapa pun
Tetapi ia dicaci dan dimaki
Seorang
pedengki hanya mengundang bencana dan meninggalkan petaka. Ia hanya memandang
sebelah mata, memendam kecurangan, melakukan kejahatan, dan menyusun tipu daya.
Ia tidak pernah puas dengan karunia. Ia tersiksa dengan anugerah. Nikmat yang
anda terima membuatnya tersiksa.
Seorang
pendengki tidak akan dihormati. Ia akan mendapatkan apa yang dia inginkan. Ia
membunuh dirinya sendiri. Dan ia terus mengorbankan api dendam di dalam dadanya
tanpa sepengetahuan orang yang ia dengki. Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan
oleh An-Nasa’i, Ibnu Hibban (di dalam Shahihnya) dan Al-Baihaqi (di dalam
Syu’abul Iman ) ditanyakan :
“Tidak
akan berkumpul di dalam diri seseorang iman dan dengki.” (Sunan An-Nasa’i, 6/13 , Shahih ibnu Hibban,
4606, dan Syu’abul iman, 6609 )
Di dalam
hadits riwayat Ath-Thabrani dinyatakan :
“Manusia
akan tetap baik sepanjang mereka tidak saling mendengki.” (Al-Mu’jam Al-Kabir, 8157)
Dan
sebagaimana diketahui bahwa dengki dan iri hati tidak bisa dilepaskan dari
buruk sangka kepada kawan, mencari-cari kesalahan, dan menyebarluaskannya. Para
pendengki memiliki ruang untuk melampiaskan dendam kesumatnya dalam
menggunjing, mencaci maki dan mengadu domba. Mereka tidak akan tenang dan
senang bila tidak menyiarkan dan menyebarluaskan kesalahan dan kekurangan orang
lain.
Demi
Allah, itu adalah indikasi rendahnya cita-cita mereka. Apalagi, para pendengki
yang suka mencela dan iri hati itu bila melihat anda, mereka akan dengki dan
bila mereka ada di belakang anda, mereka akan menggunjing. Terkadang iri hati
muncul dalam bentuk kritik dan menampilkan keburukan. Sehingga para pendengki
merasa senang dan menikmati aksi menyiarkan keburukan dan membeberkan
kekurangan. Untuk apa semua itu, wahai umat Islam ? Padahal Allah telah membagi
rizki dan perangai mereka sesuai dengan kehendakNya.
أَمْ
يَحْسُدُونَ
النَّاسَ
عَلَى
مَآءَاتَاهُمُ
اللهُ مِن
فَضْلِهِ
Ataukah
mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah
berikan kepadanya. ? (QS.
An-Nisa’ :54)
Wahai
umat Islam ! Iri hati akan semakin buruk apabila terjadi di antara orang-orang
yang bergelut di bidang ilmu dan dikenal sebagai orang yang baik dan rajin
berdakwah. Iri hati banyak terjadi di antara kolega, teman sejawat dan
rekan-rekan. Dan juga terjadi di kalangan wanita dan orang-orang yang berambisi
meraih jabatan dan kedudukan. Terkadang diantara teman-teman sejawat ada orang
yang melejit dan mengungguli teman-temannya. Lalu anak panah dengki berhamburan
ke arahnya dan beragam tipu daya serta dendam pun dilancarkan kepadanya.
Sehingga tali persaudaraan putus, lalu timbul rasa dendam, benci dan memusuhi.
Anda bisa menemukan banyak kasus semacam itu di tengah masyarakat. Betapa
banyak orang-orang yang saling mendengki ! Betapa banyak orang-orang yang suka
memutuskan hubungan dan bermusuhan! Mudah-mudahan Allah berkenan memberi mereka
hidayah. Tidak mengherankan bila musuh-musuh Islam menaruh dengki kepada umat
Islam. Yang mengherankan adalah meraknya saling mendengki antar sesama muslim.
Ayyuhal
muslimun ! Bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Bersihkanlah hati anda
dari resapan dendam dan dengki. Hendaknya anda saling berdamai, berkasih
sayang, berbaikan, bermaafan, bertoleransi, dan jadilah hamba-hamba Allah yang
bersaudara. Jadikanlah doa yang selalu dibaca oleh generasi sahabat terdahulu
yang baik, dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Yaitu :
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلإِخْوَانِنَا
الَّذِينَ
سَبَقُونَا
بِاْلإِيمَانِ
وَلاَتَجْعَلْ
فِي
قُلُوبِنَا
غِلاًّ
لِّلَّذِينَ
ءَامَنُوا
رَبَّنَآ
إِنَّكَ
رَءُوفٌ
رَّحِيمٌ
"Ya
Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih
dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami
terhadap orang-orang yang beriman Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha
Penyantun lagi Maha Penyanyang". (QS.
Al-Hasyr :10)
بارَكَ
الله لِيْ
وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ هذا
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ
Khutbah
Kedua
Amma
ba’du :
Ibadallah ! Bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Berusahalah sekuat tenaga untuk menjaga kebersihan hati. Ingatlah selalu bahwa Rabb
anda Yang Maha Mengetahui alam gaib senantiasa mengawasi anda. Dan ketahuilah
bahwa ganjaran untuk hati yang bersih adalah masuk ke dalam Surga yang tenang
dan damai. Imam Ahmad dan lain-lain meriwayatkan bahwa Anas bin Malik
Radiyallahu ‘Anhu berkata : “Kami pernah duduk-duduk di sisi Nabi Shallallahu
‘Alaihi Wasallam, lalu beliau bersabda : “Seorang ahli Surga akan datang kepada
kalian, sekarang juga. Lalu muncullah seorang laki-laki dari kalangan Anshar
dengan jenggot yang meneteskan air wudlu, sambil menentang sandalnya di tangan
kirinya. Kemudian, kata Anas Radiyallahu ‘Anhu, Abdullah bin Amr bin Ash
Radiyallahu ‘Anhu mengikutinya. Ia pergi ke rumahnya dan bermalam di sana
selama tiga hari. Namun ia tidak melihat orang itu banyak puasa atau shalat.
Lalu ia (Abdullah) berkata kepadanya : “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Seorang ahli Surga akan datang kepada
kalian, sekarang juga. Tapi, aku tidak melihatmu melaksanakan amal yang besar.
Jadi, apa yang membuatmu sampai pada apa yang disabdakan oleh Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu ? Ia menjawab : “Tidak ada selain yang kau lihat.
Hanya aku tidak pernah memendam niat untuk menipu seorang muslim. Dan aku tidak
pernah merasa iri kepada siapa pun yang mendapatkan anugerah dari Allah.” Lalu
Abdullah berkata: “Inilah yang membuatmu sampai pada derajat itu.”
Ketahuilah
bahwa kaum muslimin yang mendapatkan banyak karunia Allah, terutama yang berada
di tanah suci (Makkah) juga tidak luput dari kedengkian. Nikmat akidah yang
benar, nikmat aman dan damai, nikmat tenang dan tenteram, nikmat kekompakan
antara puncak dan dasar, keharmonisan antara pemimpin dan rakyat, dan hubungan
baik antara negara dan ulama, adalah nikmat-nikmat yang ingin menyebarkan
fitnah, membangunkan petaka dan menebar kekacauan. Kita mendengar dan melihat
banyak hal melalui media massa yang provokatif dan membuat tipu daya mereka
sia-sia.
وَلاَيَحِيقُ
الْمَكْرُ
السَّىِّءُ
إِلاَّ
بِأَهْلِهِ
Dan
karena (rencana) mereka yang jahat.Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa
selain orang yang merencanakannya sendiri. (QS.
35:43)
إِنَّ اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَآأَيُّهَا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيمًا
اللهم صَلِّ
عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم
بَارِكْ عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ،
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم
اغْـفِـرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْـفِـرْ
لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِيْنَ،
رَبَّنَا آتِنَا
فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ. اللهم
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الْهُدَى
وَالتُّقَى
وَالْعَفَافَ
وَالْغِنَى.
اللهم إِنَّا
نَعُوْذُ
بِكَ مِنْ
زَوَالِ
نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ
عَافِيَتِكَ
وَفُجَاءَةِ
نِقْمَتِكَ
وَجَمِيْعِ
سَخَطِكَ.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ الْحَمْدُ
لله رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلى الله
عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ
[Dikutip dari buku : Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi
pertama, ElBA Al-Fitrah, Surabaya .Diposting oleh Yusuf Al-Lomboky]