Jangan Berloyalitas Kepada Non Muslim..!!
Senin, 15
Desember 14
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
وعلى آله
وصحبه أجمعين
يَاأَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ.
يَا أَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوْا
رَبَّكُمُ
الَّذِيْ
خَلَقَكُمْ
مِّنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَآءً
وَاتَّقُوا
اللهَ
الَّذِيْ
تَسَآءَلُوْنَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَامَ
إِنَّ اللهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا.
يَا أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا. يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا عَظِيْمًا.
أما بعد : فإنّ
أصدق الحديث
كتاب الله
وخير الهدى
هدى النبي 
وشر الأمور
محدثاتها وكل
محدثة بدعة
وكل بدعة
ضلالة وكل
ضلالةفي
النار
Kaum muslimin rahimakumullahu …
Pada kesempatan yang penuh barakah ini, kami wasiatkan kepada diri kami sendiri
juga kepada segenap jama’ah kaum muslimin, agar senantiasa bertaqwa kepada
Allah. Marilah kita mengindahkan perintah Allah dan Rasul-Nya dengan
menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhkan diri dari segala larangan-Nya,
karena semua itu merupakan urgensi dari ketaqwaan. Dengan ketaqwaan, Allah akan
memberikan keselamatan di dunia dan di akhirat; di dunia memperoleh kebahagiaan
walaupun hidup sederhana, di akhirat memperoleh warisan surga.
Sebagaimana Allah berfirman,
تلك الجنة
التي نورث من
نشآء من
عبادنا من كان
تقيا
"Itulah
surga yang akan Kami wariskan pada hamba-hamba Kami yang bertaqwa "(QS. Maryam [19]: 63)
Ma’asyiral muslimin rahimaniy warahimakumullahu
Allah telah memberikan berbagai macam nikmat kepada seluruh makhluk di alam ini
terutama kepada hamba-Nya yang beriman, maka hendaknya kita bersyukur pada
Allah atas semua nikmat tersebut.
Alloh berfirman,
وَإِن
تَعُدُّوا
نِعْمَةَ
اللهِ
لاَتُحْصُوهَا
"Jikalau
kalian mencoba menghitung nikmat-Ku niscaya kalian tidak mampu menghitungnya. (QS. An-Nahl [16]: 18).
Seandainya lautan di alam dunia ini menjadi tinta, pohon-pohon di permukaan
bumi ini dijadikan pena-Nya untuk mencatat nikmat-nikmat Allah Ta’ala, maka
takkan cukup untuk mencatatnya.
Dan merupakan nikmat yang paling besar yang diberikan kepada hamba-Nya yang
beriman adalah nikmat Iman dan Islam. Dengan keimanan, seorang dapat mencapai
ridha Allah Ta’ala.
Di dalam diri seseorang, keimanan itu dapat berubah-ubah terkadang meningkat,
terkadang merosot. Dengan melakukan amalan shalih dan menjalankan perintah
Allah, keimanan kita bisa meningkat. Dan dengan pelanggaran syari’at dan
berbuat maksiat, keimanan seseorang bisa merosot.
Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Hakim dalam Mustadrak dengan
sanad yang hasan, lihat as-Shahihah 1585:
إِنّ
اْلإِيْمَانَ
لَيَخْلُقُ
كَمَا يَخْلُقُ
ثَوْبُ
أَحَدِكُمْ
فَاسْأَلُوْا
اللهَ أَنْ
يُجَدّدَ
اْلإِيْمَانَ
فِي قُلُوْبِكُمْ
Sesungguhnya keimanan dapat menjadi lekang bagaikan baju yang berubah usang.
Karena itu mintalah kepada Allah agar Dia memperbaharui iman dalam hati kalian.
Selain nikmat iman, yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang beriman adalah
Alloh Ta’ala memberikan nikmat Islam. Dan agama Islam merupakan agama diridhai.
Alloh Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya,
إِنَّ
الدِّينَ
عِندَ اللهِ
اْلإِسْلاَمُ
"Sesungguhnya
agama yang diridhai di sisi Alloh hanyalah Islam." (QS. Ali Imran [3]: 19).
Dan sungguh termasuk orang-orang yang merugi siapa pun yang mencari agama selain
Islam. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
وَمَن
يَبْتَغِ
غَيْرَ
اْلأِسْلاَمِ
دِينًا فَلَن
يُقْبَلَ
مِنْهُ
وَهُوَ فِي
اْلأَخِرَةِ
مِنَ
الْخَاسِرِينَ
Barangsiapa
mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (agama itu)
daripadanya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Ali Imran [3]: 85).
Kaum muslimin rahimaniy warahimakumullahu ….
Perlu kita sadari bahwa karena kemajuan teknologi yang tidak diimbangi dengan
peningkatan keimanan telah merusak moral kaum muslimin. Al-Qur’an dan Sunnah
Nabi yang mestinya menjadi pegangan telah ditinggalkan oleh sebagian besar
saudara kita, sebagai gantinya mereka rame-rame menghadapkan wajah dan
pikirannya kepada orang-orang barat yang pada umumnya mereka adalah orang-orang
kafir.
Islam mendapat tantangan dari berbagai pihak, Yahudi dan Nasrani yang dari awal
diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah menyatakan
permusuhan kepada Islam, semakin gencar merusak sendi-sendi Islam, sehingga
tidak sedikit umat Islam yang tidak tahu akan aqidahnya sendiri. Sebagaimana
yang digambarkan dalam al-qur’an.
وَلَنْ
تَرْضَى
عَنْكَ
الْيَهُودُ
وَلَا النَّصَارَى
حَتَّى
تَتَّبِعَ
مِلَّتَهُمْ
[البقرة/120]
Orang-orang
Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama
mereka. (QS. Al-Baqarah [2]: 120)
Mereka memasukkan gaya hidup mereka yang rusak dan keropos ke dalam tatanan
hidup kaum muslimin yang indah nan damai ini. Dengan propaganda yang
bertubi-tubi mereka tanamkan dogma bahwa ajaran Islam ini sudah kuno tak layak
untuk direalisasikan di zaman modern ini.
Dan realita yang ada, tak dapat dipungkiri bahwa kebanyakan kaum muslimin telah
mencontoh kehidupan orang-orang kafir.
Atas dasar itulah, saya sebagai khatib berpesan kepada kaum muslimin seluruhnya
agar berhati-hati terhadap pemikiran orang kafir dan jauhilah gaya hidup mereka
(karena-ed) dengan mengikuti gaya hidup mereka berarti telah bersikap loyal
terhadap mereka. Sedangkan berloyalitas kepada orang kafir hukumnya haram.
Sebagaimana firman Allah melarang dalam al-Qur’an,
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
لاَ تَتَّخِذُوا
الْيَهُودَ
وَالنَّصَارَى
أَوْلِيَآءَ
بَعْضُهُمْ
أَوْلِيَآءُ
بَعْضٍ وَمَن
يَتَوَلَّهُم
مِّنكُمْ
فَإِنَّهُ مِنْهُمْ
إِنَّ اللهَ
لاَيَهْدِي
الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
"Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan
Nasrani menjadi pemimpinmu, sebagian mereka adalah pemimpin sebagian yang lain.
Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya
orang itu termasuk golongan mereka, sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk
kepada orang-orang yang zhalim."
(QS. Al-Maidah [5]: 51).
Dan termasuk pokok-pokok aqidah Islam adalah wajib bagi setiap muslim untuk
berloyalitas kepada sesamanya dan memusuhi orang-orang kafir. Maka hendaknya ia
mencintai ahli tauhid dengan penuh keikhlasan dan memberikan wala’ (kasih
sayang) kepada mereka. Hendaknya membenci ahli syirik dan menegakkan pilar
permusuhan terhadap mereka. Dan inilah ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihi salam dan
ummatnya. Kita diperintah untuk mencontoh mereka. Sebagaimana Allah berfirman
dalam Al-Qur’an,
قَدْ كَانَتْ
لَكُمْ
أُسْوَةٌ
حَسَنَةٌ فِي
إِبْرَاهِيمَ
وَالَّذِينَ
مَعَهُ إِذْ قَالُوا
لِقَوْمِهِمْ
إِنَّا
بُرَءَآؤُا مِنكُمْ
وَمِمَّا
تَعْبُدُونَ
مِن دُونِ اللهِ
كَفَرْنَا
بِكُمْ
وَبَدَا
بَيْنَنَا
وَبَيْنَكُمُ
الْعَدَاوَةُ
وَالْبَغْضَآءُ
أَبَدًا حَتَّى
تُؤْمِنُوا
بِاللهِ
وَحْدَهُ
إْلاَّ
قَوْلَ
إِبْرَاهِيمَ
ِلأَبِيهِ
لأَسْتَغْفِرَنَّ
لَكَ
وَمَآأَمْلِكُ
لَكَ مِنَ اللهِ
مِن شَىْءٍ
رَّبَّنَا
عَلَيْكَ
تَوَكَّلْنَا
وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا
وَإِلَيْكَ
الْمَصِيرُ
"Sesungguhnya
telah ada suri tauladan bagimu pada Ibrahim dan orang yang bersama dengan dia;
ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari
kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah. Kami ingkari (kekafiranmu) dan
telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya
sampai kamu beriman kepada Allah saja. “Kecuali perkataan Ibrahim kepada
bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada
dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah.” Ibrahim berkata: “Ya Rabb
kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami
bertaubat dan kepada Engkaulah kami kembali.” (QS.
Al-Mumtahanah [60]: 4).
Bahkan Allah Ta’ala melarang orang-orang mu’min berloyalitas terhadap orang
kafir walaupun mereka itu orang yang paling dekat. Sebagaimana Allah telah
berfirman,
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
لاَتَتَّخِذُوا
ءَابَآءَكُمْ
وَإِخْوَانَكُمْ
أَوْلِيَآءَ
إِنِ
اسْتَحَبُّوا
الْكُفْرَ
عَلَى
اْلإِيمَانِ
وَمَن
يَتَوَلَّهُم
مِّنكُمْ
فَأُوْلاَئِكَ
هُمُ الظَّالِمُونَ
"Hai
orang-orang yang beriman janganlah kamu menjadikan bapak-bapak dan
saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran
atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka
pemimpin-pemimpinmu, maka mereka-mereka itulah orang-orang yang zhalim." (QS. At-Taubah [9]: 23).
Allah dengan tegas melarang kita bersikap loyal terhadap orang kafir. Diantara
bentuk loyalitas adalah meniru gaya hidup mereka seperti mencukur jenggot,
memanjangkan kumis, ikut serta dalam perayaan mereka semisal perayaan natal,
valentine, dan hari raya lain yang bukan hari raya Iedul fithri dan Idul Adha,
semua itu merupakan tasyabbuh terhadap mereka.
Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
مَنْ
تَشَبّهَ
بِقَوْمٍ
فَهُوَ
مِنْهُمْ
Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari kaum tersebut.
(HR. Tirmdizi dan Abu Dawud, dikatakan oleh Syaikh al-Albani dalam Irwaul
Ghalil: Hasan Shahih 1269)
Berkata Syaikh al-Fauzan: “Maka Allah Ta’ala telah melarang berloyalitas
terhadap Yahudi dan Nasrani dan hal tersebut mencakup cinta kepada mereka dalam
hati, menolong mereka, membela mereka, berbuat baik dan senang kepada mereka,
semua itu termasuk wala’ atau loyalitas terhadap mereka.”
Maka, kita melihat hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perkataan para
ulama menunjukkan haramnya berloyalitas kepada orang orang kafir dalam bentuk
apapun lantaran mereka telah mengingkari kebenaran dari Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat al-Mumtahanah ayat
pertama
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا لَا
تَتَّخِذُوا
عَدُوِّي
وَعَدُوَّكُمْ
أَوْلِيَاءَ
تُلْقُونَ
إِلَيْهِمْ
بِالْمَوَدَّةِ
وَقَدْ
كَفَرُوا
بِمَا
جَاءَكُمْ
مِنَ
الْحَقِّ
يُخْرِجُونَ
الرَّسُولَ
وَإِيَّاكُمْ
أَنْ تُؤْمِنُوا
بِاللَّهِ
رَبِّكُمْ
إِنْ
كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ
جِهَادًا فِي
سَبِيلِي
وَابْتِغَاءَ
مَرْضَاتِي
تُسِرُّونَ
إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ
وَأَنَا
أَعْلَمُ
بِمَا أَخْفَيْتُمْ
وَمَا أَعْلَنْتُمْ
وَمَنْ
يَفْعَلْهُ
مِنْكُمْ فَقَدْ
ضَلَّ
سَوَاءَ
السَّبِيلِ
[الممتحنة : 1]
“Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi
teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Nabi
Muhammad) karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar
kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir rasul dan mengusir kamu
karena kamu beriman kepada Allah, Rabbmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk
berjihad pada jalan-Ku dan mencari ridha-Ku (jangan kamu berbuat demikian),
kamu beritakan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka karena
rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang
kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka
sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.
Dengan demikian, berloyalitas terhadap orang kafir –mencakup gaya hidup mereka
dan menyerupai ciri khas mereka- hukumnya haram. Maka sepatutnya bagi kaum
muslimin untuk merealisasikan pokok-pokok Islam, di antaranya ialah memberikan
wala’ (loyalitas) kepada sesama muslim dan bara’ (membenci dan memusuhi)
orang-orang kafir.
أَقُوْلُ
قَوْلِي هَذا
أَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِي
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
الْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرّحِيْمُ
Khutbah Kedua
Kaum muslimin rahimakumullahu …
Setelah kita mengetahui uraian pada khutbah pertama, mungkin muncul pertanyaan
di benak kita: Kapankah seorang dikatakan berloyalitas kepada orang kafir?
Alangkah baiknya jika kita mengupas, kapan seorang dikatakan berloyalitas
terhadap orang kafir. Seorang muslim dikatakan loyal kepada orang kafir jika:
1. Menyerupai mereka dalam hal berpakaian dan berbicara
Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
من تشبّه بقوم
فهو منهم
"Barangsiapa
menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari kaum tersebut.
2. Tinggal di negara kafir dan tidak pindah ke negara kaum muslimin untuk
menghindar dari agama mereka.
Hijrah dari negara orang kafir merupakan kewajiban, kecuali jika tinggalnya di
sana untuk berdakwah atau urusan yang dibenarkan syariat.
3. Safar ke negara mereka dengan tujuan berekreasi
Safar ke negara orang kafir adalah haram kecuali dalam keadaan darurat seperti
berobat dan belajar ilmu yang tidak mungkin terpenuhi kecuali harus safar ke
negeri mereka. Maka hal ini diperbolehkan sesuai kadar kebutuhannya. Kalau
sekiranya ia telah selesai, maka wajib untuk kembali ke negeri kaum muslimin.
4. Membantu mereka untuk mengalahkan kaum muslimin, jika memuji serta
membela kaum kafir.
Dan ini merupakan salah satu pembatal Islam dan sebab-sebab kemurtadan. Kita
berlindung kepada Alloh dari hal tersebut.
5. Menjadikan mereka teman dekat dan penasehat.
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا لَا
تَتَّخِذُوا
بِطَانَةً
مِنْ
دُونِكُمْ
لَا يَأْلُونَكُمْ
خَبَالًا
وَدُّوا مَا
عَنِتُّمْ
قَدْ بَدَتِ
الْبَغْضَاءُ
مِنْ
أَفْوَاهِهِمْ
وَمَا تُخْفِي
صُدُورُهُمْ
أَكْبَرُ
قَدْ بَيَّنَّا
لَكُمُ
الْآيَاتِ
إِنْ
كُنْتُمْ
تَعْقِلُونَ
[آل عمران : 118]
Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu
orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya
(menimbulkan) madharat bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah
nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka
adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat
(Kami), jika kamu memahaminya. (QS.
Ali Imran [3]: 118).
6. Menggunakan kalender mereka, khususnya tanggal yang berkaitan tentang
hari raya mereka.
7. Ikut serta dalam merayakan hari raya mereka dan membantu dalam
pelaksanaannya serta mengucapkan selamat kepada mereka.
8. Memuji mereka karena keberhasilan dalam bidang teknologi dan merasa kagum
dengan akhlaq dan kemahiran mereka tanpa melihat aqidah mereka yang batil dan
agama mereka yang rusak.
Sebagaimana Allah berfirman,
وَلاَ
تَمُدَّنَّ
عَيْنَيْكَ
إِلَى مَامَتَّعْنَا
بِهِ
أَزْوَاجًا
مِّنْهُمْ
زَهْرَةَ
الْحَيَاةِ
الدُّنْيَا
لِنَفْتِنَهُمْ
فِيهِ
وَرِزْقُ
رَبِّكَ
خَيْرٌ
وَأَبْقَى
"Dan
janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah kami berikan
golongan-golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan dunia untuk kami cobai
mereka dengannya. Dan karunia Rabbmu adalah lebih baik dan lebih kekal." (QS. Thaha [20]: 131).
9) Memberikan nama dengan nama-nama mereka.
10) Memohonkan ampun atas mereka dan mengucapkan “Rahimakumullahu” kepada
mereka.
Allah berfirman,
مَاكَانَ
لِلنَّبِيِّ
وَالَّذِينَ
ءَامَنُوا
أَن
يَسْتَغْفِرُوا
لِلْمُشْرِكِينَ
وَلَوْ
كَانُوا
أُوْلِى
قُرْبَى مِن
بَعْدِ
مَاتَبَيَّنَ
لَهُمْ
أَنَّهُمْ
أَصْحَابُ
الْجَحِيمِ
"Tidak
sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada
Allah) bagi orang-orang musyrik, sesudah jelas bagi mereka bahwasanya
orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka." jahannam. (QS. At-Taubah [9]: 113).
Akhirnya kita memohon kepada Allah Ta’ala agar dihindarkan dari sikap loyalitas
kepada orang-orang kafir. Semoga Alloh memudahkan kita dalam memahami
al-Qur’an. Sehingga al-Qur’an menjadi pembela pada hari kiamat kelak, tidak
menggugat kita pada kesempatan yang sangat mengerikan itu.
اللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلإِخْوَانِنَا
الَّذِيْنَ
سَبَقُوْنَا
بِاْلإِيْمَانِ
وَلاَ
تَجْعَلْ
فِيْ
قُلُوْبِنَا
غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ
ءَامَنُوْا
رَبَّنَا
إِنَّكَ
رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ
وآخر دهونا أن
الحمد لله ربّ
العالمين.
[Sumber: Majalah Al-Furqon, Edisi: 9 Tahun VI, Rabi’uts Tsani 1427, Mei
2006]