Hati Yang Istiqamah
Kamis, 13
September 12
KHUTBAH
PERTAMA :
إِنَّ
الْحَمْدَ
لله
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ،
وَنَعُوْذُ
بالله مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ
يَهْدِهِ الله
فَلَا
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلَا
هَادِيَ
لَهُ،
أَشْهَدُ
أَنْ لَا إله
إلا الله
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
يَاأَيُّهاَ
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
الله حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوتُنَّ إِلاَّ
وَأَنتُم
مُّسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوا
رَبَّكُمُ
الَّذِي
خَلَقَكُم
مِّنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيرًا
وَنِسَآءً
وَاتَّقُوا
اللهَ
الَّذِي
تَسَآءَلُونَ
بِهِ وَاْلأَرْحَامَ
إِنَّ الله
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
الله
وَقُولُوا
قَوْلاً
سَدِيدًا .
يُصْلِحْ لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
وَمَن يُطِعِ
اللهَ
وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيمًا
أَمَّا
بَعْدُ:
فَإِنَّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ الله
وَخَيْرَ
الْهَدْيِ
هَدْيُ
مُحَمَّدٍ
صلى الله عليه
و سلم وَشَرَّ
الْأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلَّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ،
وَكُلَّ
بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ،
وَكُلَّ
ضَلَالَةٍ
فِي النَّارِ.
اللهم صَل
عَلَى
مُحَمدٍ، وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَسَلمْ.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Pada
kesempatan yang mulia ini, di tempat yang mulia, dan di hari yang mulia ini,
marilah kita selalu menjaga dan meningkatkan mutu keimanan dan kualitas
ketakwaan kita kepada Allah dengan sebenar-benarnya, yaitu ketakwaan yang
dibangun karena mengharap keridhaan Allah Subhanahu Wata’ala dan bukan
keridhaan manusia, ketakwaan yang dilandasi karena ilmu yang bersumber dari
al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah, dan ketakwaan yang dibuktikan dengan amal
perbuatan dengan cara menjalankan setiap perintah Allah dan NabiNya karena
mengharap rahmat Allah Subhanahu Wata’ala dan berusaha semaksimal mungkin
menjauhi dan meninggalkan setiap bentuk larangan Allah dan NabiNya karena takut
terhadap azab dan siksa Allah Subhanahu Wata’ala.
Thalq
bin Habib Rahimahullah seorang tabi'in, suatu ketika pernah menuturkan
sebagaimana dinukil oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam Fatawanya,
اَلتَّقْوَى:
أَنْ
تَعْمَلَ
بِطَاعَةِ
الله عَلَى
نُوْرٍ مِنَ
الله ،
تَرْجُو
رَحْمَة َالله
وَأَنْ
تَتْرُكَ
مَعْصِيَةَ
الله عَلَى
نُوْرٍ مِنَ
الله ،
تَخَافَ
عَذَابَ الله.
"Takwa
adalah kamu mengamalkan ketaatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah,
kamu mengharapkan rahmat Allah, dan kamu meninggalkan maksiat kepada Allah
berdasarkan cahaya dari Allah, serta kamu takut azab Allah."
Demikianlah
seharusnya yang selalu ada dan tumbuh dalam benak dan hati setiap Muslim,
sehingga akan membawa dampak dan bekas yang baik, melahirkan pribadi-pribadi
yang istiqamah dan iltizam (konsisten) terhadap agamanya sehingga pada
akhirnya akan membentuk keluarga dan komunitas masyarakat yang senantiasa
berjalan di atas manhaj dan jalan yang lurus. Dengan demikian, Allah Subhanahu
Wata’ala akan memberikan kehidupan yang baik di dunia serta memberikan balasan
pahala yang lebih baik dari apa yang telah diperbuat di akhirat kelak
sebagaimana yang telah Allah Subhanahu Wata’ala janjikan.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Sebenarnya
yang menjadi pangkal utama sehingga seseorang akan mendapatkan kebahagiaan di
dunia dan memperoleh rahmat Allah Subhanahu Wata’ala serta selamat dari azabNya
pada Hari Kiamat kelak adalah sejauh mana dia dapat menjaga dan memelihara
hatinya sehingga selalu condong dan mempunyai ketergantungan hanya kepada Allah
Subhanahu Wata’ala sebagai satu-satunya dzat yang selalu membolak-balikkan hati
setiap hambaNya sesuai dengan kehendakNya, dan bukan justru sebaliknya, di mana
hatinya selalu condong kepada hawa nafsunya dan tipu daya setan laknatullah
alaihi. Karena pada dasarnya Allah Subhanahu Wata’ala tidak akan melihat
ketampanan dan kecantikan wajah kita, tidak pula melihat kemulusan dan
kemolekan badan-badan kita, namun Allah Subhanahu Wata’ala hanya akan melihat
hati-hati kita dan amal perbuatan kita. Manakala hati seseorang bersih, maka
akan membawa dampak kepada kebaikan seluruh anggota tubuhnya, begitu sebaliknya
jika hati seseorang telah rusak, maka rusaklah seluruh anggota tubuhnya,
sebagaimana hal ini pernah diisyaratkan oleh Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi
Wasallam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, 1/20.
أَلاَ،
وَإِنَّ فِي
الْجَسَدِ
مُضْغَةً
إِذَا صَلَحَتْ
صَلَحَ
الْجَسَدُ
كُلُّهُ،
وَإِذَا فَسَدَتْ
فَسَدَ
الْجَسَدُ
كُلُّهُ،
أَلاَ وَهِيَ
الْقَلْبُ.
"Ketahuilah,
sesungguhnya di dalam tubuh ini ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah
seluruh anggota tubuh dan jika rusak, maka rusaklah seluruh anggota tubuh.
Ketahuilah, ia adalah hati." (HR.
al-Bukhari).
Karena
itulah ma'asyiral Muslimin, hati mempunyai peranan yang sangat fital
dalam diri seseorang dan menjadi sentral bagi anggota tubuh lainnya sehingga keberadaannyalah
yang dapat menentukan baik buruk dan hitam putihnya seluruh amalan dan aspek
kehidupan seorang Muslim.
Tentu
yang demikian tidak sebagaimana yang dipahami oleh kebanyakan manusia,
khususnya kaum Muslimin di mana kalau kita perhatikan kondisi kebanyakan
mereka, niscaya kita akan menyaksikan suatu fenomena yang sangat memprihatinkan
dan me-nyedihkan. Mereka memahami bahwa tolak ukur kebahagiaan seseorang
sekedar dengan penampilan lahiriyah dan materi belaka, sehingga mereka sibuk
dengan kehidupan dunianya, memperkaya diri, memperindah dan mempercantik diri
dengan berbagai macam bentuk keindahan dunia, namun pada saat yang sama, mereka
lalai dan lupa dengan keindahan, kebersihan, serta kesucian batin yang pada
akhirnya justru dapat menyelamatkan mereka; baik di dunia maupun di akhirat
kelak. Marilah kita renungkan sebuah ayat sebagai bantahan Allah terhadap
mereka, sebagaimana Firman-Nya :
وَكَمْ
أَهْلَكْنَا
قَبْلَهُم
مِّن قَرْنٍ
هُمْ
أَحْسَنُ
أَثَاثًا
وَرِءْيًا
"Berapa
banyak umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka, sedang mereka adalah
lebih bagus alat rumah tangganya dan lebih sedap dipandang mata." (Maryam: 74).
Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :
أَفَلَمْ
يَسِيرُوا
فِي
اْلأَرْضِ
فَيَنظُرُوا
كَيْفَ كَانَ
عَاقِبَةُ
الَّذِينَ
مِن
قَبْلِهِمْ
كَانُوا
أَكْثَرَ
مِنْهُمْ
وَأَشَدَّ
قُوَّةً وَءَاثَارًا
فِي
اْلأَرْضِ
فَمَآأَغْنَى
عَنْهُم
مَّاكَانُوا
يَكْسِبُون.
"Maka
apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi lalu memperhatikan
bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Orang-orang sebelum mereka
itu lebih hebat kekuatannya dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi,
maka apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka." (Al-Mu`min: 82).
Dua ayat
di atas, cukuplah memberikan penjelasan dan informasi kepada kita bahwa segala
sesuatu yang mereka usahakan dan mereka nikmati ternyata tidak berguna dan
tidak dapat menyelamatkan mereka. Na'udzubillahi min dzalik.
Jama'ah Shalat Jum'ah Rahimakumullah
Oleh
karenanya, keindahan batin dan keselamatan hati merupakan dasar dan pondasi
keberuntungan di dunia dan di Hari Kiamat kelak. Allah Subhanahu Wata’ala
berfirman :
يَابَنِى
ءَادَمَ قَدْ
أَنزَلْنَا
عَلَيْكُمْ
لِبَاسًا
يُوَارِي
سَوْءَاتِكُمْ
وَرِيشًا
وَلِبَاسُ
التَّقْوَى
ذَلِكَ خَيْرٌ
ذَلِكَ مِنْ
ءَايَاتِ
ِالله
لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
"Hai
anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian untuk menutupi auratmu
dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang baik. Yang
demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan
mereka selalu ingat."
(Al-A'raf: 26).
Sesungguhnya
perkara hati merupakan perkara agung dan kedudukannya pun sangat mulia,
sehingga Allah Subhanahu Wata’ala menurunkan kitab-kitab suciNya untuk
memperbaiki hati, dan Dia utus para Rasul untuk menyucikan hati, membersihkan,
dan memperindahnya. Demikianlah Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :
يَآأَيُّهَا
النَّاسُ
قَدْ
جَآءَتْكُم
مَّوْعِظَةٌ
مِّن
رَّبِّكُمْ
وَشِفَآءٌ
لِّمَا فِي
الصُّدُورِ
وَهُدًى
وَرَحْمَةٌ
لِّلْمُؤْمِنِينَ
"Hai
manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh
bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi
orang-orang yang beriman." (Yunus:
57).
Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :
لَقَدْ مَنَّ
ِالله عَلَى
الْمُؤْمِنِينَ
إِذْ بَعَثَ
فِيهِمْ
رَسُولاً
مِّنْ أَنفُسِهِمْ
يَتْلُوا
عَلَيْهِمْ
ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ
وَيُعَلِّمُهُمُ
الْكِتَابَ
وَالْحِكْمَةَ
وَإِن
كَانُوا مِن
قَبْلُ
لَّفِي
ضَلاَلٍ
مُّبِينٍ
"Sungguh
Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah
mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang
membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan
mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum
(keda-tangan Nabi) itu, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (Ali Imran: 164).
Ajaran
yang paling besar yang dibawa oleh Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam
adalah memperbaiki hati. Maka tidak ada cara untuk menyucikan dan memperbaiki
hati kecuali cara yang telah ditempuh oleh beliau Sallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Dengan demikian seseorang akan memahami bahwa hatinya merupakan tempat bagi
cahaya dan petunjuk Allah Subhanahu Wata’ala, yang dengannya seseorang dapat
mengenal Rabbnya, mengenal nama-namaNya dan sifat-sifatNya, serta dapat
menghayati ayat-ayat syar'iyah Allah, dengannya seseorang dapat merenungkan
ayat-ayat kauniyahNya serta dengannya seseorang dapat menempuh perjalanan
menuju akhirat, karena sesungguhnya perjalanan menuju Allah Subhanahu Wata’ala
adalah perjalanan hati dan bukan perjalanan jasad.
Al-Imam
Ibnu Qayyim al-Jauziyah menuturkan di dalam salah satu kitab beliau, "Hati
yang sehat, yaitu hati yang selalu terjaga dari syirik, sifat dengki, iri hati,
kikir, takabur, cinta dunia dan jabatan. Ia terbebas dari semua penyakit yang
akan menjauhkannya dari Allah Subhanahu Wata’ala. Ia selamat dari setiap
syubhat yang menghadangnya. Ia terhindar dari intaian syahwat yang menentang
jati dirinya, dan ia terbebas dari segala keinginan yang akan menyesaki
tujuannya. Ia akan terbebas dari segala penghambat yang akan menghalanginya
dari jalan Allah. Inilah hati yang sehat di surga dunia dan surga di alam
kubur, serta surga di Hari Kiamat. Keselamatan hati tidak akan terwujud,
kecuali dengan terjaga dari lima perkara, yaitu syirik yang bertentangan dengan
tauhid, dari bid'ah yang berhadapan dengan sunnah, dari syahwat yang menghambat
urusannya, dari ghaflah (kelalaian) yang menghilangkan dzikir kepada
Allah Subhanahu Wata’ala, dari hawa nafsu yang akan menghalangi ikhlash."
(al-Jawab al-Kafi, 1/176).
Ibnu
Rajab al-Hanbali pernah berkata, "Keutamaan itu tidak akan diraih dengan
banyaknya amal jasmani, akan tetapi diraih dengan ketulusan niat kepada Allah
Subhanahu Wata’ala benar, lagi sesuai dengan sunnah Nabi dan dengan banyaknya
pengetahuan dan amalan hati." (Mahajjah fi Sair ad-Daljah, hal.
52).
Ini
semua menunjukkan bahwa dasar keimanan atau kekufuran, hidayah atau kesesatan,
keberuntungan atau kenistaan tergantung pada apa yang tertanam di dalam hati
seorang hamba.
Abu
Hurairah pernah menuturkan, bahwa Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam
bersabda :
إِنَّ الله
لاَ يَنْظُرُ
إِلَى
أَجْسَادِكُمْ
وَلاَ إِلَى
صُوَرِكُمْ
وَلٰكِنْ
يَنْظُرُ
إِلَى
قُلُوْبِكُمْ،
وَأَشَارَ
بِأَصَابِعِهِ
إِلَى
صَدْرِهِ.
"Sesungguhnya
Allah tidak melihat kepada jasadmu, dan tidak pula kepada bentukmu, akan tetapi
Dia melihat kepada hati kamu, kemudian menunjuk ke dadanya dengan
telunjuknya." (HR.
Muslim, no. 2564).
Bahkan,
mayoritas ulama berkeyakinan bahwa siapa saja yang dipaksa untuk menyatakan
"kekufuran", maka ia tidak berdosa selagi hatinya masih tetap teguh
beriman kepada Islam dan tetap dalam kondisi tenang beriman, sebagaimana
FirmanNya :
مَن كَفَرَ
بلله مِن
بَعْدِ
إِيمَانِهِ
إِلاَّ مَنْ
أُكْرِهَ
وَقَلْبُهُ
مُطْمَئِنٌّ
بِاْلإِيمَانِ
وَلَكِن مَّن
شَرَحَ بِالْكُفْرِ
صَدْرًا
فَعَلَيْهِمْ
غَضَبٌ مِّنَ
ِالله
وَلَهُمْ
عَذَابٌ
عَظِيمُُ .
ذَلِكَ
بِأَنَّهُمْ
اسْتَحَبُّوا
الْحَيَاةَ
الدُّنْيَا
عَلَى
اْلأَخِرَةِ
وَأَنَّ الله
َ لاَيَهْدِي
الْقَوْمَ
الْكَافِرِينَ
"Barangsiapa
yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (maka dia mendapat kemurkaan
Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam
beriman (maka dia tidak ber-dosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya
untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan dia mendapat azab yang
besar. Yang demikian itu disebabkan karena mereka mencintai kehidupan dunia
lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum
yang kafir." (An-Nahl:
106-107).
Ayat ini
diturunkan, sebagaimana pendapat mayoritas ahli tafsir adalah berkenaan dengan
kejadian yang menimpa Ammar bin Yasir, manakalah ia masuk Islam, ia mendapat
siksaan dari orang-orang kafir Quraisy di Makkah sehingga ia mau mengucapkan
kalimat kekufuran kepada Allah dan cacian kepada Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi
Wasallam. Di lain kesempatan peristiwa tersebut ia laporkan kepada Rasu-lullah
sambil menangis.
قَالَ: كَيْفَ
تَجِدُ
قَلْبَكَ؟
قَالَ: مُطْمَئِنًّا
بِالْإِيْمَانِ.
قَالَ: إِنْ
عَادُوْا
فَعُدْ.
"...
maka Nabi bersabda, 'Bagaimana kondisi hatimu?' Ia menjawab, 'Aku masih tenang
dalam beriman.' Maka Nabi bersabda (untuk menggembirakannya dan memberinya
kemudahan), 'Kalau mereka kembali menyiksa, maka silahkan lakukan lagi'." (HR. al-Hakim, 2/357).
Di dalam
sebuah hadits yang lain, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda
sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad yang bersumber dari Anas
bin Malik,
لَا
يَسْتَقِيْمُ
إِيْمَانُ
عَبْدٍ حَتَّى
يَسْتَقِيْمَ
قَلْبُهُ.
"Iman
seseorang tidak akan lurus (benar) sebelum hatinya lurus." (HR. Ahmad, no. 13079).
Ma'asyiral Muslimin Sidang Jum'ah Rahimakumullah
Demikian
agungnya keutamaan dan urgensi hati seseorang di hadapan Allah Subhanahu
Wata’ala, sehingga kita dapat mengetahui kebanyakan sumpah Rasulullah
shallallohu 'alaihi wasallam diucapkan dengan ungkapan,
لَا،
وَمُقَلِّبَ
الْقُلُوْبِ.
"Tidak,
demi Dzat yang membolak-balikkan hati."
Dan di antara doa beliau adalah,
يَا
مُقَلِّبَ
الْقُلُوْبِ،
ثَبِّتْ قَلْبِيْ
عَلَى
دِيْنِكَ.
"Ya
Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agamaMu."
Hal yang
demikian, karena pada dasarnya kadangkala hati seseorang bisa mengeras, seperti
batu atau bahkan lebih keras dari itu, sehingga ia akan jauh dari Allah
Subhanahu Wata’ala, rahmatNya, dan dari ketaatanNya. Dan sejauh-jauh hati dari
Allah Subhanahu Wata’ala adalah hati yang kasar, di mana peringatan tidak lagi
bermanfaat baginya, nasihat tidak dapat menjadikan dia lembut, perkataan tidak
menjadikannya berilmu, sehingga seseorang yang memiliki hati yang demikian di
dalam dadanya, maka hatinya tidak memberikan manfaat apa-apa baginya, dan tidak
akan melahirkan sesuatu pun, kecuali kejahatan. Sebaliknya hati yang lembut,
yang takut dan tunduk merendahkan diri terhadap Penciptanya, Allah Subhanahu
Wata’ala, serta selalu mendekatkan diri kepadaNya, mengharapkan rahmatNya dan
menjaga ketaatanNya, maka pemiliknya akan mempunyai hati yang bersih, selalu
menerima kebaikan.
Maka
dari itulah, Allah Subhanahu Wata’ala menggarisbawahi bahwa keselamatan di Hari
Kiamat kelak sangat tergantung kepada keselamatan, kebersihan, dan kebaikan
hati. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :
يَوْمَ
لاَيَنفَعُ
مَالٌ
وَلاَبَنُونَ
إِلاَّ مَنْ
أَتَى ِالله
بِقَلْبٍ
سَلِيم
"Di
hari yang mana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang
yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (Asy-Syu'ara` : 88 - 89).
Dengan
demikian, marilah kita bersungguh-sungguh dalam menjaga hati dan senantiasa
mengawasinya, di mana dan kapan saja waktunya, karena ia satu-satunya anggota
tubuh kita yang paling besar bahayanya, paling mudah pengaruhnya, dan paling
sulit mengurus dan memperbaikinya. Wallahul musta'an.
اللهم
أَصْلِحْ
شَأْنَ
الْمُسْلِمِيْنَ
وَاهْدِهِمْ
صِرَاطَكَ
الْمُسْتَقِيْمَ،
اللهم
ارْزُقْهُمْ
رِزْقًا
مُبَارَكًا
طَيِّبًا.
اللهم
أَصْلِحْ
لَنَا
دِيْنَنَا
الَّذِيْ
هُوَ
عِصْمَةُ
أَمْرِنَا
وَأَصْلِحْ
لَنَا
دُنْيَانَا
الَّتِيْ
فِيْهَا
مَعَاشُنَا
وَأَصْلِحْ
لَنَا آخِرَتَنَا
الَّتِيْ
فِيْهَا
مَعَادُنَا
وَاجْعَلِ
الْحَيَاةَ
زِيَادَةً
لَنَا فِي كُلِّ
خَيْرٍ
وَاجْعَلِ
الْمَوْتَ
رَاحَةً لَنَا
مِنْ كُلِّ شَرٍّ.
فَاتَّقُوا
الله عِبَادَ
ِالله ،
وَخُذُوْا
بِالْأَسْبَابِ
الَّتِيْ
تَحْيَى
بِهَا الْقُلُوْبُ
قَبْلَ أَنْ
تَقْسُوَ
وَتَمُوْتَ،
فَإِنَّ ذلك
مَنَاطُ
سَعَادَتِكُمْ
أَوْ
شَقَائِكُمْ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ هذا
وَأَسْتَغْفِرُ
ِالله لِيْ
وَلَكُمْ
وَلِجَمِيْعِ
الْمُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA :
اَلْحَمْدُ
لله الَّذِيْ
أَرْسَلَ
رَسُوْلَهُ
بِالْهُدَى
وَدِيْنِ
الْحَـقِّ
لِيُظْهِرَهُ
عَلَى
الدِّيْنِ
كُلِّهِ
وَلَوْ كَرِهَ
الْمُشْرِكُوْنَ،
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ إله
إلا ِالله
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ،
قَالَ الله
تَعَالَى:
يَاأَيُّهاَ
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
الله حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوتُنَّ
إِلاَّ وَأَنتُم
مُّسْلِمُونَ
اللهم صَلِّ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ:
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Di dalam
sebuah hadits yang bersumber dari Miqdad bin al-Aswad, ia menceritakan,
Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam bersabda :
لَقَلْبُ
ابْنِ آدَمَ
أَشَدُّ
انْقِلَابًا
مِنَ
الْقِدْرِ
إِذَا
اجْتَمَعَتْ
غَلْيًا.
"Sungguh,
hati anak Adam (manusia) itu sangat (mudah) berbolak-balik daripada bejana
apabila ia telah penuh dalam keadaan mendidih." (HR. Ahmad, no. 24317).
Kemudian al-Miqdad berkata, "Sesungguhnya orang yang beruntung (bahagia)
itu adalah orang yang benar-benar terhindar dari berbagai fitnah (dosa)."
Ia mengulangi ucapannya tiga kali, sambil memberikan isyarat bahwa sebab
berbolak-balik dan berubahnya hati adalah dosa-dosa yang berdatangan menodai
hati.
Maka
dari itu, agar hati kita tidak mudah terpeleset dan menyimpang dari kebenaran
dan cahaya dari Allah Subhanahu Wata’ala, bahkan sampai tertutup dan terkunci
karena hawa nafsu yang membelit-nya serta segala hal yang dapat merusak dan
membinasakannya, maka perlu adanya usaha-usaha penjagaan terhadap hati yang
bersifat kuratif dan kontinyu, sekaligus resep (obat) sebagai usaha prefentif
agar bisa selamat dari segala bentuk penyakit-penyakit hati yang mematikan.
Di
antara hal yang dapat menyebabkan hati seseorang menjadi tenang dan bersih
adalah amalan memperbanyak membaca ayat-ayat al-Qur`an dan mendengarkannya,
karena al-Qur`an merupakan penawar yang ampuh dari penyakit syubhat dan nafsu
syahwat yang keduanya merupakan inti penyakit hati seseorang. Di dalamnya
terdapat penjelasan-penjelasan yang akurat yang membedakan yang haq dari yang batil,
sehingga syubhat akan hilang, dan di dalamnya terdapat hikmah, nasihat yang
baik, mengajak zuhud di dunia, dan menghimbau untuk lebih mengutamakan
kehidupan akhirat, sehingga penyakit nafsu syahwat akan hilang. Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman :
إِنَّ فِي
ذَلِكَ
لَذِكْرَى
لِمَن كَانَ
لَهُ قَلْبٌ
أَوْ أَلْقَى
السَّمْعَ
وَهُوَ شَهِيدٌ
"Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang
mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya." (Qaf : 37).
ِالله
نَزَّلَ
أَحْسَنَ
الْحَدِيثِ
كِتَابًا
مُّتَشَابِهًا
مَّثَانِيَ
تَقْشَعِرُّ
مِنْهُ
جُلُودُ
الَّذِينَ
يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ
ثُمَّ
تَلِينُ
جُلُودُهُمْ
وَقُلُوبُهُمْ
إِلَى ذِكْرِ
ِالله ذَلِكَ
هُدَى ِالله
يَهْدِي بِهِ
مَن يَشَآءُ
وَمَن يُضْلِل
ِالله فَمَا
لَهُ مِنْ
هَادٍ
"Allah
telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qur`an yang serupa (mutu
ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya,
gemetar karenanya, kemudian kulit dan hati mereka menjadi tenang di waktu
mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa
yang dikehendakiNya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada
seorang pemberi petunjuk pun baginya." (Az-Zumar:
23).
Dan
masih banyak lagi ayat-ayat al-Qur`an yang menunjukkan demikian. Ini
menunjukkan bahwa al-Qur`an adalah sesuatu yang paling agung yang dapat
melembutkan hati, bagi yang membaca, mendengarkan, dan merenungkannya, serta
mengamalkannya dalam prilaku kehidupan sehari-hari.
Di antara
usaha yang dapat menenangkan hati adalah dengan mengambil pelajaran terhadap
kejadian dan peristiwa serta kehancuran yang menimpa umat-umat terdahulu akibat
kemaksiatan yang mereka lakukan.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :
فَكَأَيِّن
مِّن قَرْيَةٍ
أَهْلَكْنَاهَا
وَهِيَ
ظَالِمَةٌ
فَهِيَ
خَاوِيَةٌ
عَلَى
عُرُوشِهَا
وَبِئْرٍ مُّعَطَّلَةٍ
وَقَصْرٍ
مَّشِيدٍ .
أَفَلَمْ
يَسِيرُوا
فِي
اْلأَرْضِ
فَتَكُونَ
لَهُمْ
قُلُوبٌ
يَعْقِلُونَ
بِهَآ أَوْ
ءَاذَانٌ
يَسْمَعُونَ
بِهَا
فَإِنَّهَا
لاَتَعْمَى
اْلأَبْصَارُ
وَلَكِن
تَعْمَى
الْقُلُوبُ
الَّتِي فِي
الصُّدُورِ
"Berapalah
banyaknya kota yang Kami telah membinasakannya, yang penduduknya dalam keadaan
zhalim, maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya, dan (berapa
banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi. Maka apakah
mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu
mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat
mendengar? Karena sesung-guhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta,
ialah hati yang berada di dalam dada."
(Al-Hajj: 45 - 46).
Kemudian
di antara yang dapat menenangkan hati adalah dengan banyak mengingat Allah
Subhanahu Wata’ala dalam situasi dan kondisi apa pun. Allah Subhanahu Wata’ala
berfirman :
إِنَّمَا
الْمُؤْمِنُونَ
الَّذِينَ
إِذَا ذُكِرَ
الله
وَجِلَتْ
قُلُوبُهُمْ
وَإِذَا
تُلِيَتْ
عَلَيْهِمْ
ءَايَاتُهُ
زَادَتْهُمْ
إِيمَانًا
وَعَلَى
رَبِّهِمْ
يَتَوَكَّلُونَ
"Sesungguhnya
orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah,
maka gemetarlah hati mereka, dan apa-bila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya,
maka bertambahlah iman mereka (karenanya), dan kepada Rabb merekalah mereka
bertawakal." (Al-Anfal:
2).
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
وَتَطْمَئِنُّ
قُلُوبُهُم
بِذِكْرِ
الله
أَلاَبِذِكْر
ِالله
تَطْمَئِنُّ
الْقُلُوبُ
"(Yaitu)
orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat
Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (Ar-Rad: 28).
Dan
termasuk penjagaan hati adalah menerima secara total setiap perintah Allah
Subhanahu Wata’ala dan mengamalkannya serta menjauhi setiap laranganNya. Allah
Subhanahu Wata’ala berfirman :
وَإِذَا
مَآأُنزِلَتْ
سُورَةٌ
فَمِنْهُم مَّن
يَقُولُ
أَيُّكُمْ
زَادَتْهُ
هذه إِيمَانًا
فَأَمَّا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
فَزَادَتْهُمْ
إِيمَانًا
وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ
. وَأَمَّا
الَّذِينَ
فِي قُلُوبِهِم
مَّرَضٌ
فَزَادَتْهُمْ
رِجْسًا إِلَى
رِجْسِهِمْ
وَمَاتُوا
وَهُمْ
كَافِرُونَ
"Dan
apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada
yang berkata, 'Siapa di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya)
surat ini?' Adapun orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang
mereka merasa gembira. Dan adapun orang yang di dalam hati mereka ada penyakit,
maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang
telah ada), dan mereka mati dalam keadaan kafir." (At-Taubah: 124 - 125).
Dan Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :
وَإِذَا
مَآأُنزِلَتْ
سُورَةٌ
نَّظَرَ بَعْضُهُمْ
إِلَى بَعْضٍ
هَلْ
يَرَاكُم
مِّنْ أَحَدٍ
ثُمَّ
انْصَرَفُوا
صَرَفَ الله
قُلُوبَهُم
بِأَنَّهُمْ
قَوْمٌ
لاَيَفْقَهُونَ
"Dan
apabila diturunkan satu surat, sebagian mereka memandang kepada sebagian yang
lain (sambil berkata), 'Adakah seorang dari (orang-orang Muslimin) yang melihat
kamu?' Sesudah itu pun mereka pergi. Allah telah memalingkan hati mereka
disebabkan mereka adalah kaum yang tidak mengerti." (At-Taubah: 127).
Dan di
antara amalan yang dapat menjaga hati seseorang dan membuatnya lembut adalah
turut merenungkan keadaan orang-orang sakit, orang fakir miskin, serta
orang-orang yang telah tertimpa musibah dan cobaan. Karena dengan mengunjungi
orang sakit dan melihat kondisi dan penderitaan mereka akibat penyakit yang
dideritanya, maka kita bisa menilai nikmat, begitu juga manakala kita melihat
keadaan orang-orang fakir miskin dan anak yatim, dan merenungkan apa yang
menjadi kebutuhan mereka, tentu kita akan merasakan dan mengetahui nilai nikmat
Allah Subhanahu Wata’ala yang telah dianugerahkan kepada kita sehingga dapat
menenangkan hati kita. Namun manakala kita mengabaikan hal-hal yang demikian,
maka yang demikian dapat membuat hati-hati kita mengeras.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :
وَاصْبِرْ
نَفْسَكَ
مَعَ
الَّذِينَ
يَدْعُونَ
رَبَّهُمْ
بِالْغَدَاةِ
وَالْعَشِيِّ
يُرِيدُونَ
وَجْهَهُ
وَلاَتَعْدُ
عَيْنَاكَ
عَنْهُمْ
تُرِيدُ
زِينَةَ
الْحَيَاةِ
الدُّنْيَا
وَلاَتُطِعْ
مَنْ
أَغْفَلْنَا
قَلْبَهُ
عَنْ ذِكْرِنَا
وَاتَّبَعَ
هَوَاهُ
وَكَانَ
أَمْرُهُ فُرُطًا
"Dan
bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan
senja hari dengan mengharap WajahNya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari
mereka (karena) mengha-rapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu
mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta
menuruti hawa nafsunya, dan keadaannya itu melewati batas." (Al-Kahfi: 28).
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Di
samping kita memperhatikan dan menghiasi hati-hati kita dengan hal-hal tersebut
di atas, maka sebagai bentuk penjagaan kita juga harus senantiasa menghindari
hal-hal yang dapat mengotori, merusak, menodai, dan mencemarkan hati-hati kita.
Di antaranya, tidak sibuk dan mudah terpedaya dengan kenikmatan dunia yang
melalaikan, terbiasa dan membiarkan mata memandang hal-hal yang diharamkan;
baik melalui televisi ataupun video, dari segala bentuk siaran sinetron,
ataupun gambar-gambar yang terdapat dalam surat kabar ataupun majalah,
mendengarkan musik dan menikmati nyanyian seorang penyanyi, ataupun menyibukkan
diri dengan olah raga tertentu, baik mengikuti perkembangannya, melihatnya
secara berlebihan sampai banyak menyita sebagian besar waktu yang ada.
Dan di
antara yang dapat mengotori dan merusak hati adalah makan makanan yang haram,
dan berteman dengan pelaku dosa dan maksiat.
Ibnu
Abbas berkata, "Sesungguhnya kebajikan itu menyebabkan cahaya di dalam
hati, sinar di wajah, kekuatan pada jasmani, melapangkan rizki dan menimbulkan
rasa kasih sayang terhadap sesama. Sedangkan keburukan (dosa) menyebabkan
kegelapan di dalam hati, kemuraman pada muka, kelemahan pada jasmani,
mengurangi rizki, dan menimbulkan rasa benci terhadap sesama." (Madarij
as-Salikin, 1/424).
Semoga
kita yang hadir di majelis yang mulia ini, termasuk golongan yang akan mendapat
penjagaan dari Allah Subhanahu Wata’ala, sehingga hati-hati kita senantiasa
selamat dan bersih dari segala sesuatu yang dapat menodai dan merusaknya.Amin
ya rabbal 'alamin.
إِنَّ الله
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّونَ عَلَى
النَّبِيِّ
يَآأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيمًا
اللهم صَلِّ
عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم
بَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ،
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم
اغْـفِـرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْـفِـرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ الْخَاسِرِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
اللهم إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الْهُدَى
وَالتُّقَى
وَالْعَفَافَ
وَالْغِنَى.
اللهم إِنَّا
نَعُوْذُ
بِكَ مِنْ
زَوَالِ
نِعْمَتِكَ
وَتَحَوُّلِ
عَافِيَتِكَ
وَفُجَاءَةِ
نِقْمَتِكَ
وَجَمِيْعِ
سَخَطِكَ.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلى الله
عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Oleh: Abu Farwa Husnul Yaqin
(Sumber: Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi Kedua, Darul Haq,
Jakarta)