Hari Taubat dan Waktu Mustajab
Kamis, 13
Januari 11
Khutbah
Pertama
Amma
ba’du :
Ayyuhal
muslimun ! Bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala
dengan takwa yang sesungguhnya. Dan bersyukurlah kepadaNya yang telah
menunjukkan anda kepada Islam dan menjadikan anda sebagai umat yang diberi
banyak keistimewaan dan ditunjukkan kepada syari’at yang terbaik dan agama yang
paling lurus. Alhamdulillah. Mudah-mudahan kita bisa menjadi orang yang pandai
bersyukur.
Ibadallah ! Allah telah menganugerahi kita semua satu
hari yang agung dan musim yang mulia. Allah memberinya keistimewaan sebagai
hari berkumpul bagi umat Islam. Allah menunjukkan umat ini kepada hari itu
secara khusus dan menyesatkan umat lainnya. Karena di dalam Shahih Muslim
diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“Allah
menyesatkan umat sebelum kita dari hari Jum’at. Orang Yahudi memiliki Hari
Sabtu dan orang Nasrani memiliki Hari Ahad. Kemudian Allah mendatangkan kita
lalu menunjukkan kita kepada Hari Jum’at.”
(HR.Muslim, 856 )
Oh
betapa agungnya hari itu. Ia memiliki banyak keistimewaan yang tidak dimiliki
hari yang lain. Pada hari itu umat Islam berkumpul untuk melakukan kebaikan,
berdzikir dan melaksanakan shalat di dunia, agar kelak di Akhirat menjadi hari
kemuliaan, penambahan, dan keluhuran. Imam Muslim di dalam Shahihnya
meriwayatkan dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah bersabda :
“Sebaik-baik
hari di mana ada matahari terbit adalah Hari Jum’at pada hari itu Adam
diciptakan. Pada hari itu ia dimasukkan ke dalam Surga dan pada hari itu ia
dikeluarkan darinya.”
(HR.Muslim, 854 )
Ayyuhal
ikhwah al muslimun ! Salah
satu keistimewaan Hari Jum’at ialah Allah Subhanahu wata’ala mensyari’atkan
kepada kita agar mengadakan pertemuan agung untuk menunaikan shalat Jum’at.
Menghadiri shalat Jum’at adalah fardlu ‘ain (kewajiban personal) bagi setiap
muslim yang memenuhi syarat dan tidak memiliki halangan. Oh betapa indahnya
pertemuan yang diadakan pada hari yang penuh berkah ini karena pertemuan itu
menunjukkan penyembahan kepada Allah semata. Dan pertemuan itu memiliki
pengaruh positif di dalam kehidupan umat Islam dan masyarakat Islami secara
umum.
Dalam
pertemuan ini umat Islam saling berkenalan, ikatan akidah menjadi kuat,
perbedaan materi, strata sosial, dan egoisme etnis melebur ke dalam satu
cetakan. Generasi tua berbaris bersama generasi muda, orang kaya berhimpitan
pundak dengan orang miskin.
Ini
adalah peristiwa yang sangat indah dan pemandangan yang sangat agung. Di situ
terlihat jelas potret persatuan, kebersamaan, kekuatan kasih, persaudaraan dan
keterikatan umat Islam satu sama lain. Mereka bertemu di rumah Allah, di atas
hamparan karpet ketaatan kepada Allah. Mereka merasakan permasalahan mereka dan
memikirkan penderitaan mereka. Iman mereka menguat, hati mereka mengkilap,
ketaatan mereka meningkat, dan perasaan mereka terhadap Islam bergerak cepat.
Hati mereka menjadi lembut karena mereka mendengarkan peringatan, ilmu
pengetahuan, dan nasihat melalui pelajaran per pekan yang penting di dalam
Khutbah Jum’at. Maka mereka pun menjadi bersungguh-sungguh dalam memperbaiki
kondisi dan merubah keadaan mereka ke arah yang lebih baik. Sebab, mereka
mendengarkan sesuatu yang dapat mendekatkan mereka kepada Allah. Seperti
peringatan tentang kewajiban dalam bidang akidah, ibadah, akhlak, pendidikan
dan sebagainya. Atau peringatan tentang kemungkaran yang ada dalam bidang-bidang
terebut. Atau kajian tentang isu-isu atau masalah-masalah sosial dan
sebagainya. Atau mendengarkan sesuatu yang bisa mendekatkan mereka kepada
Akhirat dan mendorong mereka berbuat untuk Akhirat. Efek dari pelajaran itu
akan bertahan di dalam jiwa seorang muslim selama satu pekan dan buahnya
terlihat jelas di dalam realitas hidupnya dan interaksi dengan masyarakat.
Karena pelajaran-pelajaran itu menjadi titik tolak terbesar untuk melakukan
aktifitas yang konstruktif dan perbaikan yang serius.
Ma’asyiral
muslimun ! Menunaikan shalat Jum’at ini memiliki
keutamaan yang besar dan pahala yang banyak. Apalagi bagi orang yang mau
melaksanakan adab-adabnya, seperti mandi, bersuci, memakai parfum, menjaga
kebersihan, berpakaian bagus, berpenampilan pantas, lalu mendengarkan khutbah
dengan seksama. Imam Muslim di dalam kitab Shahihnya meriwayatkan Hadits dari
Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu bahwasanya Rasulullah bersabda :
“Barangsiapa
yang melaksanakan wudlu dengan baik, kemudian mendatangi (tempat shalat)
Jum’at, lalu mendengarkan dan menyimak (khutbah) dengan seksama, niscaya
dosanya antara hari itu dan hari Jum’at (sebelumnya) akan diampuni, dan
ditambah tiga hari.”
(HR.Muslim, 857)
Dalam
Shahih Muslim disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“Shalat
lima waktu, Jum’at ke Jum’at, dan Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus dosa
yang terjadi di antaranya apabila dosa-dosa besar dihindari.” (HR. Muslim,233)
Sebaliknya,
orang yang meremehkan dan mengabaikan kewajiban yang agung ini diancam dengan
ancaman dan peringatan yang keras. Di dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda di atas mimbarnya.
“Hendaknya
orang-orang itu benar-benar menghentikan kebiasaan mereka meninggalkan shalat
Jum’at atau Allah benar-benar akan menyegel hati mereka kemudian mereka
benar-benar akan termasuk orang-orang yang lalai.” (HR.Muslim,865)
Dalam
Hadits lain disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“Barangsiapa
yang meninggalkan tiga shalat Jum’at karena meremehkan, Allah akan menyegel
hatinya.” (HR.Ahmad, 3/424-425, Tirmidzi, 500, Abu
Daud,1052, An-Nasa’i, 3/88, dan Ibnu Majah, 1125)
Dalam
riwayat lain disebutkan: “Ia adalah munafik.” (HR.Ibnu Khuzaimah, 1857
dan Ibnu Hibban, 258)
Ikhwatal
Islam ! Salah satu petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam ialah menghormati Hari Jum’at dan melaksanakan ibadah-ibadah dan
amal-amal mulia secara khusus.
Antara
lain beliau menganjurkan agar kita memperbanyak membaca shalawat Nabi pada hari
Jum’at. Aus bin Aus Radiyallahu ‘Anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wasallam bersabda :
“Sesungguhnya
salah satu hari terbaik kamu ialah hari Jum’at. Maka perbanyaklah membaca
shalawat untukku, karena shalawat kamu akan ditunjukkan kepadaku.” (HR.Ahmad, 4/8, Abu Daud, 1047,1531, dan
An-Nasa’i, 3/91)
Petunjuk
lainnya ialah memperbanyak ibadah, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan berdo’a
dengan harapan menemui waktu mustajab. Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih
Muslim disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah menyebut Hari
Jum’at, lalu beliau bersabda :
“Pada
hari (Jum’at) itu ada satu waktu yang tidaklah seorang muslim menepatinya dalam
keadaan mengerjakan shalat seraya meminta sesuatu kepada Allah, melainkan dia
akan memberikannya kepadanya.”
(HR.Muttafaq ‘Alaih, Al-Bukhari, 935, Muslim,852)
Imam
Muslim di dalam Shahihnya menyebutkan bahwa waktu mustajab itu ialah :
“Antara imam duduk sampai shalat berakhir.” (HR.Muslim, 853)
Sementara
menurut banyak ulama’, waktu mustajab itu ialah saat-saat terakhir pada Hari
Jum’at.
Petunjuk
lainnya ialah bersegera dan berangkat lebih awal menuju masjid pada Hari
Jum’at. Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan
bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Barangsiapa yang berangkat
ke masjid pada jam pertama seolah-olah ia berkurban seekor unta. Barangsiapa
yang berangkat pada jam kedua seolah-olah ia berkorban seekor sapi. Sampai
beliau menyebut orang yang berangkat pada jam kelima seolah-olah berkurban
sebutir telur. Lihatlah betapa jauhnya perbedaan antara pahala yang diterima
oleh orang –orang yang berangkat lebih awal dan orang-orang yang berangkat
belakangan.
Hal lain
yang perlu mendapat perhatian serius pada hari Jum’at yang agung ini ialah
menjaga kebersihan lahir dan batin, dan memperhatikan kesucian fisik dan
mental.
Hal lain
lagi yang juga harus diperhatikan ialah menjaga etika dengan para jama’ah.
Yaitu dengan tidak memisahkan mereka, mengganggu mereka, dan melangkahi
bahu-bahu mereka. Karena ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melihat
seseorang yang melangkahi bahu-bahu orang banyak, beliau langsung menegurnya
dan bersabda :
“Duduklah,
engkau sudah menyakiti (orang banyak) dan datang terlambat.” (HR.Ahmad,4/188,190, Abu Daud, 1118 dan
An-Nasa’i, 3/103 )
Di
samping itu anda juga wajib menyimak apa yang dikatakan oleh imam. Bahkan haram
hukumnya berbicara saat khutbah sedang berlangsung. Dan juga haram melakukan
sesuatu yang mengalihkan perhatian dari khutbah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam bersabda :
“Jika
kamu berkata kepada temanmu pada Hari Jum’at : ‘Dengarkan ! sementara imam
sedang berkhutbah, maka sungguh kamu telah sia-sia.” (HR.Al-Bukhari, 934 dan Muslim, 851 )
Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“Barangsiapa
yang menyentuh kerikil, ia telah sia-sia.”
(HR.Muslim, 857)
Dalam
hadits lain disebutkan :
“Dan
barangsiapa yang berbicara (pada saat khutbah berlangsung), tidak ada Jum’at
baginya.” (HR.Ahmad, 1/93, dan Abu Daud, 1051)
Wahai
umat Islam ! Itulah beberapa keistimewaan dan keutamaan
hari yang penuh berkah ini, serta apa yang seharusnya dilakukan oleh setiap
muslim. Dan dengan mencermati kehidupan kita dan memperhatikan realitas
mayoritas muslimin orang Islam terhadap hari yang penuh berkah ini, kita
mendapat gambaran yang sangat jelas tentang kemalasan sebagian orang untuk
melaksanakan kebajikan yang dikehendaki Allah untuk mereka. Juga tentang
kelalaian mereka terhadap pahala akhirat, dan keasyikan mereka dengan kemegahan
dunia. Hal ini memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap kerasnya hati
dan merosotnya akhlak. Sebagian orang bahkan telah sampai pada tahap sombong
dan menentang Syaria’at Allah. Karena mereka mendengar seruan yang mengajak
shalat Jum’at atau shalat lainnya, tapi mereka tidak menghiraukannya. Mereka
sedang menghadapi ancaman bahaya yang sangat besar dan berada di area yang
sangat gawat.
Sebagian
orang tergoda oleh setan sehingga suka terlambat ketika hendak shalat Jum’at.
Mereka datang ketika khutbah dimulai, atau ditengah-tengah khutbah, atau pada
waktu iqamat. Bahkan terkadang mereka melakukan sesuatu yang mengganggu
hamba-hamba Allah dan melangkahi pundak-pundak mereka. Mereka itu telah
menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan kebaikan yang banyak dan keuntungan
yang besar, serta menghalangi diri mereka sendiri dari pahala Allah, dan
melakukan sesuatu yang mengganggu hamba-hamba Allah.
Sebagian
orang ketika masuk ke dalam masjid, ia merasa jenuh, berat, bosan dan malas
terhadap kebaikan, keuntungan dan ilmu, ingin segera lepas dari khutbah dan
shalat, dan lupa bahwa dirinya sedang berada di dalam kebaikan dan di atas
kebaikan.
Sebagian
orang suka membuat dirinya merugi dan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan
kebaikan, dan tidak peduli terhadap adab-adab Jum’at, dan mengabaikan
kehormatan rumah Allah. Mereka suka berbisik sendiri, tidak mau mendengarkan
khutbah, bermain-main dan sibuk dengan dirinya sendiri, anak-anaknya atau
orang-orang yang ada di dekatnya.
Sebagian
orang menjadikan masjid sebagai tempat rekreasi. Mereka asyik ngobrol dengan
orang-orang yang mereka sukai, bahkan terkadang ketika imam sedang menyampaikan
khutbah.
Sebagian
orang tidak peduli terhadap kebersihan dan bau badannya atau pakaiannya.
Sehingga mengganggu para Malaikat dan para Jama’ah yang berada di masjid. Dan
boleh jadi mereka keluar dari masjid tanpa manfaat dan pengaruh apa pun.
Sebagian orang bahkan tidak melaksanakan shalat selain shalat Jum’at dan tidak
peduli terhadap shalat jama’ah. Terkadang ada yang beranggapan bahwa
kehadirannya dalam shalat Jum’at dapat menghapus dosa-dosanya diantara dua
Jum’at. Padahal janji ini hanya berlaku ketika tidak ada dosa besar yang
dikerjakan. Dan dosa apa setelah syirk yang lebih besar dari dosa meninggalkan
shalat. ?
Sebagian
wanita mengikuti shalat Jum’at dengan pakaian yang cantik dan molek, dalam
kondisi bersolek dan tidak menutup aurat, memakai perhiasan dan wewangian. Ini
tidak boleh. Karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengizinkan kaum wanita
datang ke masjid dengan catatan.
“hendaklah
mereka (kaum wanita) keluar ke masjid tanpa memakai wewangian.” (HR.Ahmad, 2/438 Abu Daud, 565 dan Ibnu Hibban,
2214 )
Sebagian
jamaah membiarkan anak-anaknya bermain-main di dalam masjid dan menggannggu
orang lain. Di samping itu para pedagang masih terus berdagang dan tetap
menjajakan dagangannya. Mereka merelakan dirinya kehilangan kesempatan untuk
berdagang dengan Allah. Dan sebagian orang mengisi sebagian hari Jum’at ini
dengan bersenda gurau, bermain-main, berlalai-lalai, larut dalam kesenangan dan
tenggelam dalam kegiatan-kegiatan yang sia-sia. Atau mereka menjadikan hari
Jum’at sebagai hari berdagang, ngobrol dan bersantai dengan hal-hal yang haram.
Ibadallah ! Bertakwalah kepada Allah, hormatilah
kedudukan hari yang agung ini, dan isilah hari Jum’at dan hari-hari lainnya
dengan amal shalih, maka anda akan beruntung.
بارَكَ الله
لِيْ
وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ
الْكَرِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ هذا
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ،
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
Khutbah
Kedua
Amma
ba’du :
Ibadallah ! Bertkawalah kepada Allah Subhanahu wata’ala,
dan bersyukurlah kepadaNya yang telah mengarahkan dan menunjukkan anda kepada
hari yang agung ini. Dan salah satu wujud syukur dalam konteks ini ialah
memanfaatkan waktu-waktu dan saat-saat yang ada pada hari ini untuk
melaksanakan amal shalih yang dianjurkan oleh syari’at. Seperti shalat, dzikir,
istigfar, doa, membaca Al-Qur’an, dan memperbanyak bacaan shalawat untuk
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Serta menjauhi segala macam
kemaksiatan dan keburukan.
Sebab,
dengan mengerjakan amal shalih tersebut, kita telah mengambil keuntungan dari
musim yang penuh berkah ini. Dan memanfaatkan musim ibadah semacam ini dapat
membuat kita enggan menerima hasil rekayasa akal manusia dan tipu daya hawa
nafsu mereka yang rendah. Karena hal-hal semacam itu dapat merusak kemurnian
kita dalam mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang pada
hari itu banyak memberikan peringatan dan wasiat yang harus dimengerti oleh
umat Islam sekarang ini. Karena Sunnah beliau merupakan garis yang harus
diikuti oleh setiap muslim di dalam hidupnya, agar ia dapat beribadah kepada
Allah berdasarkan ilmu yang jelas. Karena dalam suatu khutbah Jum’at beliau
bersabda :
أَمَّا
بَعْدُ
فَإِنَّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ الله
وَخَيْرَ
الْهَدْيِ
هَدْيُ
مُحَمَّدٍ صلى
الله عليه و
سلم وَشَرَّ
الْأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلَّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ،
وَكُلَّ
بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ،
وَكُلَّ ضَلَالَةٍ
فِي النَّارِ
إِنَّ اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَآأَيُّهَا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
صَلُّوا عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيمًا
Sesungguhnya
Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang
beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan
kepadanya. (QS. Al-Ahzab :56)
( Dikutip dari buku : Kumpulan
Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi pertama, ElBA Al-Fitrah, Surabaya
.Diposting oleh Yusuf Al-Lomboky