HAKEKAT IBADAH HAJI [Khutbah Idul Adha]
Senin, 22
Oktober 12 Oleh: Izzudin Karimi, Lc.
إِنَّ
الْحَمْدَ
لله
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ،
وَنَعُوْذُ بلله
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ
يَهْدِهِ الله
فَلَا
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلَا
هَادِيَ لَهُ،
أَشْهَدُ
أَنْ لَا إله
إلا الله
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
يَاأَيُّهاَ
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
الله حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوتُنَّ إِلاَّ
وَأَنتُم
مُّسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوا رَبَّكُمُ
الَّذِي
خَلَقَكُم
مِّنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيرًا
وَنِسَآءً
وَاتَّقُوا
اللهَ
الَّذِي
تَسَآءَلُونَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَامَ
إِنَّ الله
كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
الله
وَقُولُوا
قَوْلاً
سَدِيدًا .
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ
وَمَن يُطِعِ
اللهَ وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيمًا
أَمَّا
بَعْدُ:
فَإِنَّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ الله
وَخَيْرَ
الْهَدْيِ
هَدْيُ
مُحَمَّدٍ
صلى الله عليه
و سلم وَشَرَّ
الْأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلَّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ،
وَكُلَّ
بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ،
وَكُلَّ ضَلَالَةٍ
فِي النَّارِ.
اللهم صَل
عَلَى مُحَمدٍ،
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَسَلمْ.
الله
أَكْبَرُ،
الله
أَكْبَرُ،
الله أَكْبَرُ،
ولله الْحَمْدُ.
الله
أَكْبَرُ
كَبِيْرًا،
وَالْحَمْدُ
لله
كَثِيْرًا،
وَسُبْحَانَ
الله بُكْرَةً
وَأَصِيْلاً.
Kaum
Muslimin Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah
Hari ini kaum Muslimin beribadah kepada Allah dengan salah satu ibadah yang
mulia, yaitu shalat Idhul Adha yang dilanjutkan dengan penyembelihan
hewan-hewan kurban sebagai ungkapan syukur dan berbuat baik kepada kawan, sanak
keluarga dan orang-orang yang membutuhkan. Hari ini adalah hari pamungkas dari
sepuluh hari terbaik di bulan yang mulia ini. Sepuluh hari yang sarat dengan
kebaikan. Kebaikan padanya bernilai utama di sisi Allah.
Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata : Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi
Wasallam bersabda :
مَا
الْعَمَلُ
فِي أَيَّامٍ
أَفْضَلُ
مِنْهَا فِي
هٰذَا
الْعَشْرِ،
قَالُوْا:
وَلَا الْجِهَادُ؟
قَالَ: وَلَا
الْجِهَادُ،
إِلَّا
رَجُلٌ
يُخَاطِرُ
بِنَفْسِهِ
وَمَالِهِ،
فَلَمْ
يَرْجِعْ
بِشَيْءٍ.
"Tidak
ada amal pada hari-hari, yang lebih utama daripada amal-amal di sepuluh hari
ini." Mereka berkata, "Tidak pula jihad?" Rasulullah Sallallahu
‘Alaihi Wasallam bersabda menjawab, "Tidak pula jihad di jalan Allah,
kecuali seorang laki-laki yang berangkat menghadapi musuh dengan jiwa dan
hartanya lalu dia tidak pulang dengan sesuatu (dari keduanya atau mati
syahid)." (HR.
al-Bukhari,Shahih al-Bukhari, no. 969).
Kaum
Muslimin Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah
Salah satu ibadah utama di hari-hari ini adalah ibadah haji di tanah suci yang
merupakan salah satu rukun Islam yang lima. Begitu identiknya haji dengan hari
dan bulan ini sehingga orang-orang mengatakan hari raya haji dan bulan haji.
Haji adalah ibadah tua seumur bapak para nabi, Ibrahim Alaihissalam. Dialah
pembangun Ka'bah baitullah dan setelah itu dia mengumumkan haji ke seluruh
penjuru bumi.
Firman Allah Subhanahu Wata’ala :
وَإِذْ
يَرْفَعُ
إِبْرَاهِيمُ
الْقَوَاعِدَ
مِنَ
الْبَيْتِ
وَإِسْمَاعِيلَ
رَبَّنَا
تَقَبَّلْ
مِنَّآ
إِنَّكَ
أَنتَ السَّمِيعُ
الْعَلِيمُ
"Dan
(ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama
Isma'il (seraya berdoa), 'Ya Rabb kami, terimalah dari kami (amalan kami),
sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui'." (Al-Baqarah: 127).
Firman Allah Subhanahu Wata’ala :
إِنَّ
أَوَّلَ
بَيْتٍ
وُضِعَ
لِلنَّاسِ لَلَّذِي
بِبَكَّةَ
مُبَارَكًا
وَهُدًى لِّلْعَالَمِينَ
"Sesungguhnya
rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah
yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua
manusia."(Ali
Imran: 96).
Firman Allah Subhanahu Wata’ala :
وَأِذِّن فِي
النَّاسِ
بِالْحَجِّ
يَأْتُوكَ
رِجَالاً
وَعَلَى
كُلِّ
ضَامِرٍ
يَأْتِينَ
مِن كُلِّ
فَجٍّ
عَمِيقٍ
"Dan
berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang
kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari
segenap penjuru yang jauh." (Al-Hajj:
27).
Kaum
Muslimin Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah
Salah satu hikmah Allah dalam mensyariatkan ibadah adalah Dia menjadikannya
beragam, di mana hal ini bisa dilihat dalam ibadah-ibadah yang merupakan rukun
Islam, syahadat merupakan ibadah hati karena ia merupakan keyakinan dasar yang
kemudian dilafazhkan dengan lisan, sementara shalat adalah gerakan jasad, ia
merupakan ibadah badani, lain lagi puasa yang merupakan sikap menahan diri,
lalu zakat yang merupakan ibadah hartawi dan yang kelima adalah haji yang
menggabungkan semua sisi dari empat ibadah sebelumnya. Dari sinilah, maka haji termasuk
ibadah yang terakhir diwajibkan kepada kaum Muslimin yaitu pada tahun 9 H. Hal
ini karena haji memerlukan segala perkara yang diperlukan oleh empat rukun
sebelumnya. Ia memerlukan landasan iman yang tertanam dalam syahadat, ia
memerlukan tenaga jasmani dan harta yang ada pada shalat dan zakat, dan ia
memerlukan sikap menahan diri yang dikandung oleh puasa.
Maka dari itu, ibadah haji sarat dengan nilai-nilai luhur, padat dengan jihad
dan pengorbanan, penuh dengan pendidikan dan penempaan diri. Kita menengok
kepada syarat wajib haji, ia adalah istitha'ah.
Firman Allah Subhanahu Wata’ala :
وَللهِ عَلَى
النَّاسِ
حِجُّ
الْبَيْتِ مَنِ
اسْتَطَاعَ
إِلَيْهِ
سَبِيلاً
وَمَن كَفَرَ
فَإِنَّ
اللهَ
غَنِيٌّ عَنِ
الْعَالَمِينَ
"Mengerjakan
haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup
mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji),
maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta
alam." (Ali
Imran: 97).
Kesanggupan
atau kemampuan di mana dasarnya menurut para ulama adalah kesanggupan
finansial, kesanggupan tenaga dan kesanggupan jalan, untuk mewujudkan semua itu
dibutuhkan usaha yang tidak mudah, lebih tidak mudah lagi manakala harta yang
telah diraih itu, yang merupakan ketergantungan dan kecintaan jiwa, mesti
dirogoh dari kantong untuk membiayai diri, demi rukun Islam yang agung ini,
belum lagi kesiapan jasmani di mana modal utamanya adalah sehat. Dibutuhkan
jihad melawan kecintaan berlebih kepada harta agar jiwa rela dan lapang
mengorbankannya demi kebaikan dan kemaslahatan dirinya sendiri. Dibutuhkan pula
jihad melawan kecintaan berlebih kepada sikap santai dan rehat, sebab haji
memang mengharuskan kelelahan, baik kelelahan perjalanan dan kelelahan
pelaksanaan.
Kaum
Muslimin Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah
Kita menengok lebih dalam kepada aturan dan tatanan manasik haji. Kita bisa
mendapatkan bahwa ia merupakan pendidikan jihad agar jiwa menghormati dan
menghargai batasan-batasan Allah, menahan diri dengan tidak melanggarnya.
Seperti kita ketahui, haji ditunaikan dalam keadaan ihram, dan dalam ihram ini
terdapat pantangan-pantangan yang harus dijaga, seperti pakaian berjahit, topi
atau kopyah, mencukur rambut, memotong kuku, membunuh binatang buruan, memakai
minyak wangi, bersetubuh, menikah dan menikahkan. Semua ini adalah
perkara-perkara yang harus dijauhi semasa ihram, padahal sebagian darinya
adalah perkara yang mungkin dalam pandangan sebagian orang sepele, seperti
menutup kepala dengan penutup atau memotong kuku. Sementara sebagian lagi
merupakan perkara yang disukai oleh jiwa seperti minyak wangi dan bersetubuh.
Akan tetapi semua itu adalah batasan-batasan Allah yang tidak patut disepelekan
atau dipandang sebelah mata.
Kita kembali menengok, aturan-aturan di atas mengakibatkan sangsi dan hukuman
bagi pelanggarnya, mulai dari bersedekah dan berpuasa, sampai dengan
mengalirkan darah dengan menyembelih hewan ternak, sebuah pendidikan
kedisiplinan dan tanggung jawab serta kesiapan memikul resiko kelalaian dan kekhilafan,
dan itu pun dalam bentuk perbuatan yang kebaikannya kembali kepada diri sendiri
atau kepada sesama. Firman Allah Subhanahu Wata’ala :
وَالْبُدْنَ
جَعَلْنَاهَا
لَكُم مِّن
شَعَآئِرِ
اللهِ لَكُمْ
فِيهَا
خَيْرٌ
فَاذْكُرُوا
اسْمَ اللهِ
عَلَيْهَا
صَوَآفَّ
فَإِذَا
وَجَبَتْ
جُنُوبُهَا
فَكُلُوا
مِنْهَا
وَأَطْعِمُوا
الْقَانِعَ
وَالْمُعْتَرَّ
كَذَلِكَ
سَخَّرْنَاهَا
لَكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَشْكُرُونَ .
لَن يَنَالَ
اللهَ
لُحُومُهَا
وَلاَدِمَآؤُهَا
وَلَكِن يَنَالُهُ
التَّقْوَى
مِنكُمْ
كَذَلِكَ سَخَّرَهَا
لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا
اللهَ عَلَى
مَاهَدَاكُمْ
وَبَشِّرِ
الْمُحْسِنِينَ
"Dan
telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syiar Allah, kamu
memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka kalian sebutlah nama Allah ketika
kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila
telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela
dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta.
Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan
kamu bersyukur. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat
mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat
mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu
mengagungkan Allah terhadap hidayahNya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira
kepada orang-orang yang berbuat baik." (Al-Hajj:
36-37).
Kaum
Muslimin Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah
Mari kita lihat dan cermati tempat di mana haji ini dilaksa-nakan, sebuah
tempat yang berpusat di daerah Haram yang memiliki hukum-hukum khusus yang
berbeda dengan yang lain, salah satunya jika di daerah selainnya keinginan
berbuat keburukan belum diperhitungkan, maka berbeda dengan di daerah Haram, ia
diperhitungkan bahkan diancam siksa yang pedih. Firman Allah Subhanahu Wata’ala
:
إِنَّ
الَّذِينَ
كَفَرُوا
يَصُدُّونَ
عَنْ سَبِيلِ
الله
وَالْمَسْجِدِ
الْحَرَامِ الَّذِي
جَعَلْنَاهُ
لِلنَّاسِ
سَوَآءً الْعَاكِفُ
فِيهِ
وَالْبَادِ
وَمَن يُرِدْ فِيهِ
بِإِلْحَادٍ
بِظُلْمٍ
نُّذِقْهُ مِنْ
عَذَابٍ
أَلِيمٍ
Dan
siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zhalim, niscaya
akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih."(Al-Hajj: 25).
Oleh
karena itu, ayat al-Qur`an yang lain mengajarkan orang yang berhaji agar menghindari
perkara-perkara yang dapat mengurangi atau menghapus keutamaan ibadah haji.
Firman Allah Subhanahu Wata’ala :
فَمَنْ
فَرَضَ
فِيهِنَّ
الْحَجَّ
فَلاَ رَفَثَ
وَلاَ
فُسُوقَ
وَلاَ
جِدَالَ فِي
الْحَجِّ
"Barangsiapa
yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh
bersetubuh, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan
haji."
(Al-Baqarah: 197).
Dan haji
yang demikian melebur dosa-dosa pelakunya sehingga dia pulang dalam keadaan
sama dengan pada saat dilahirkan oleh ibunya.
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah
Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
مَنْ حَجَّ
لله، فَلَمْ
يَرْفُثْ
وَلَمْ يَفْسُقْ،
رَجَعَ
كَيَوْمِ
وَلَدَتْهُ
أُمُّهُ.
"Barangsiapa
berhaji karena Allah, lalu dia tidak melakukan bersetubuh dan tidak melakukan
perbuatan fasik, niscaya dia pulang seperti hari di mana dia dilahirkan oleh
ibunya." (Muttafaq 'alaihi, Mukh-tashar Shahih al-Bukhari, no. 732; dan Mukhtashar Shahih Muslim, no.
641).
Juga
sabda Nabi shallallohu 'alaihi wasallam kepada Amr bin al-Ash Radhiallahu ‘Anhu
pada saat dia masuk Islam,
أَمَا
عَلِمْتَ
يَاعَمْرُو!
أَنَّ
الْإِسْلَامَ
يَهْدِمُ
مَاكَانَ
قَبْلَهُ،
وَأَنَّ
الْهِجْرَةَ
يَهْدِمُ
مَاكَانَ
قَبْلَهَا،
وَأَنَّ
الْحَجَّ
يَهْدِمُ
مَاكَانَ قَبْلَهُ.
"Apakah
kamu belum mengetahui wahai Amr, bahwa Islam menghapus apa yang sebelumnya,
hijrah menghapus apa yang sebelumnya, dan haji menghapus apa yang
sebelumnya." (HR. Muslim, Mukhtashar Shahih Muslim, no. 64).
Kaum
Muslimin Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah
Kita kembali menengok rangkaian manasik haji: thawaf, sa'i, wukuf, melempar
jumrah dan lain-lain. Semua ini merupakan ibadah-ibadah yang menuntut aktifitas
fisik yang melelahkan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan
bertalbiyah, ditambah dengan kepadatan manusia yang memiliki beragam bahasa dan
tradisi, berkumpul di satu tempat, di waktu yang sama, ditambah lagi cuaca yang
kadang-kadang berbeda jauh dengan cuaca di negeri sendiri. Semua itu tidak
jarang menimbulkan problem tersendiri yang menuntut usaha keras dan kesabaran
dalam menyikapinya, maka tidak berlebihan jika Rasulullah shallallohu 'alaihi
wasallam mendudukkan haji dalam deretan amalan-amalan utama setelah iman dan
jihad di jalan Allah.
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu
أَنَّ
رَسُوْلَ
الله صلى الله
عليه وسلم سُئِلَ:
أَيُّ
الْعَمَلِ
أَفْضَلُ؟
فَقَالَ: إِيْمَانٌ
بلله
وَرَسُوْلِهِ.
قِيْلَ: ثُمَّ
مَاذَا؟
قَالَ:
الْجِهَادُ
فِي سَبِيْلِ
الله. قِيْلَ:
ثُمَّ
مَاذَا؟
قَالَ: حَجٌّ
مَبْرُوْرٌ.
"Bahwa
Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya tentang amal apakah yang paling
utama? Beliau menjawab, "Iman kepada Allah dan RasulNya." Beliau
ditanya, "Lalu apa?" Beliau menjawab, "Jihad di jalan
Allah." Beliau ditanya, "Lalu apa?" Beliau menjawab, "Haji
mabrur." (HR. al-Bukhari, Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 25).
Tantangan
dalam ibadah haji yang dihadapi dan pengorbanan yang diberikan bertujuan
melatih dan mendidik, ia demi kebaikan dan kemaslahatan yang tidak mungkin
diperinci satu demi satu, akan tetapi yang telah kita ketahui sudah cukup
menyadarkan kita akan hikmah mulia dari ibadah haji. Firman Allah Subhanahu
Wata’ala :
لِيَشْهَدُوا
مَنَافِعَ
لَهُمْ
وَيَذْكُرُوا
اسْمَ اللهِ
فِي أَيَّامٍ
مَّعْلُومَاتٍ
عَلَى
مَارَزَقَهُم
مِّن
بَهِيمَةِ
اْلأَنْعَامِ
فَكُلُوا
مِنْهَا
وَأَطْعِمُوا
الْبَآئِسَ
الْفَقِيرَ
"Supaya
mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama
Allah pada hari yang telah ditentukan atas rizki yang Allah telah berikan
kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian dari padanya, dan
(sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan
fakir."
(Al-Hajj: 28).
Semoga
saudara-saudara kita yang berangkat haji dikaruniai Haji Mabrur yang memberi
pengaruh baik dalam kehidupan dan perilaku mereka, dan bagi saudara-saudara
kita yang belum berangkat semoga Allah memudahkan jalannya agar mereka juga
bisa menyaksikan keagunganNya melalui ibadah yang agung ini.
Kaum
Muslimin Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah
اللهم صَلِّ
على
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ،
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
اللهم
بَارِكْ
عَلَى مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ،
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ ِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم
أَعِزَّ
الْإِسْلاَمَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالْمُشْرِكِيْنَ.
رَبَّنَا
اصْرِفْ
عَنَّا
عَذَابَ جَهَنَّمَ
إِنَّ
عَذَابَهَا
كَانَ غَرَامًا،
إِنَّهَا
سَاءتْ
مُسْتَقَرًّا
وَمُقَامًا.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِإِخْوَانِنَا
الَّذِيْنَ
سَبَقُوْنَا
بِالْإِيْمَانِ،
وَلَا
تَجْعَلْ فِي
قُلُوْبِنَا
غِلاًّ
لِلَّذِيْنَ
آمَنُوْا رَبَّنَا
إِنَّكَ
رَؤُوْفٌ
رَحِيْمٌ.
اللهم إِنَّا
نَسْأَلُكَ
مِنْ خَيْرِ
مَا سَأَلَكَ
مِنْهُ
نَبِيُّكَ
مُحَمَّدٌ
صَلَّى الله
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
وَنَعُوْذُ
بِكَ مِنْ
شَرِّ مَا
اسْتَعَاذَ
مِنْهُ
نَبِيُّكَ
مُحَمَّدٌ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ،
وَأَنْتَ
الْمُسْتَعَانُ،
وَعَلَيْكَ
الْبَلَاغُ،
وَلَا حَوْلَ
وَلَا
قُوَّةَ
إِلَّا بلله
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لله رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
.
(Sumber: Dikutip dari buku "Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan
Setahun," Edisi Kedua, Darul Haq, Jakarta)