Bersuci Adalah Separuh Iman
Kamis, 23
Desember 10
Khutbah
Pertama
Amma
Ba’du :
Wahai
umat Islam sekalian, bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala dengan
sungguh-sungguh.
Ibadallah ! Wahai orang-orang yang dimuliakan Allah
dengan Islam! Bersyukurlah kepada Allah atas karunia terbesar ini. Karena agama
anda adalah agama yang sempurna dan lengkap. Segala sesuatu yang baik bagi
manusia dan memberinya keuntungan di dunia atau Akhirat telah di
perintahkannya. Dan segala sesuatu yang buruk bagi manusia atau memberinya
kerugian di dalam dunia, akal dan tubuhnya, telah diperingatkan dan
dilarangnya. Memberikan keringanan kaidah-kaidah dan ajaran-ajaran yang dibawa
oleh Syari’at Islam. Allah berfirman:
مَايُرِيدُ
اللهُ
لِيَجْعَلَ
عَلَيْكُم مِّنْ
حَرَجٍ
وَلَكِن
يُرِيدُ
لِيُطَهِّرَكُمْ
وَلِيُتِمَّ
نِعْمَتَهُ
عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَشْكُرُونَ
Allah
tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan
menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al-Ma’idah :6)
Hikmah-hikmah,
kaidah-kaidah dan rahasia-rahasia ini hadir di penghujung ayat yang
memerintahkan untuk berwudlu pada surat Al-Maidah. Ini untuk mengingatkan bahwa
ketentuan hukum yang agung ini memiliki banyak pengaruh terhadap kehidupan
seorang muslim.
Ikhwatal
Iman ! Islam sangat memperhatikan masalah kesucian
mental dan kesucian fisik. Dan Islam sangat peduli terhadap kebersihan lahir
dan batin. Para ulama membagi bersuci menjadi empat tingkatan :
Tingkatan
Pertama
Menyucikan
tubuh bagian luar dari hadats, najis dan kotoran. Islam menjadikan tingkatan
ini sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan seorang muslim sepanjang
siang dan malam. Berwudlu secara syar’i adalah puncak tertinggi tingkatan ini.
Ia mengandung pahala besar dan ganjaran melimpah yang berlipat-lipat, karena
memiliki banyak pengaruh yang baik terhadap kebersihan dari seorang muslim.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjadikannya sebagai sebab penghapusan dosa
dan pengangkatan derajat. Imam muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah
Radiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
‘‘
Maukah kamu aku tunjukkan sesuatu yang bisa menyebabkan Allah menghapus
kesalahan dan menaikkan derajat ? ‘Mereka menjawab : ‘Ya, ya Rasulullah. Beliau
bersabda: ‘Yaitu menyempurnakan wudlu di dalam kondisi yang tidak menyenangkan;
memperbanyak langkah ke masjid; dan menunggu shalat setelah shalat. Itulah
ribath.’’(Shahih Muslim, 251)
Utsman Radiyallahu
‘Anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
‘‘Barangsiapa
yang melaksanakan wudlu dengan baik, maka kesalahan-kesalahannya akan keluar
dari tubuhnya hingga keluar dari bawah kuku-kukunya.’’ (Shahih Muslim,245)
Allahu
akbar ! Betapa luasnya karunia Allah, dan betapa banyaknya jalan kebaikan untuk
hamba-hambaNya! Tetapi dimanakah orang-orang yang mau mengikuti Sunnah secara
ikhlas ? Yaitu orang-orang yang mau melaksanakan amal perbuatan ini dalam
rangka mengharapkan pahala yang ada di sisi Allah dan mengikuti Sunnah Nabinya.
Sementara setan telah menggoda sebagian orang untuk menambahkan sesuatu ke
dalam wudlu. Setan membuat mereka terjerumus ke dalam perangkap hayalan dan
was-was. Setan juga menyeret sebagian orang untuk teledor di dalam bersuci.
Seperti teledor dalam menjaga diri dari air seni dan kotoran, tidak membasuh
anggota tubuh secara sempurna, atau melaksanakan tayammum padahal air tersedia
atau bisa didapatkan.
Salah
satu perhatian Islam terhadap wudlu ialah mengaitkannya dengan rukun Islam yang
paling penting setelah syahadatain, yaitu shalat. Karena wudlu adalah syarat
sahnya shalat dan merupakan pembukanya. Salah satu perhatian Islam terhadap
kebersihan tubuh bagian luar (lahir) ialah kewajiban mandi ketika terjadi
hal-hal yang mewajibkan mandi, seperti jinabat, haid dan nifas. Di samping itu
Islam juga menganjurkan mandi pada kesempatan-kesempatan lain. Misalnya shalat
Jum’at, shalat Ied, ihram dan menghadiri pertemuan-pertemuan umum.
Islam
juga menganjurkan umatnya memakai parfum, bersiwak (menggosok gigi), berkhitan
dan memakai perhiasan (pakaian yang bagus) ketika pergi ke masjid dan
melaksanakan shalat. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :
يَابَنِي
ءَادَمَ
خُذُوا
زِينَتَكُمْ
عِندَ كُلِّ
مَسْجِدٍ
Hai anak
Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid. (QS.Al-A’raf :31)
Sebagian
ulama mengatakan bahwa yang dimaksud adalah setiap menunaikan shalat. Islam
juga menganjurkan lima hal yang merupakan tuntunan Fitrah manusia, sebagaimana
ditegaskan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ibu Aisyah Radiyallahu ‘Anha
meriwayatkan bahwa Nabi bersabda :
‘‘ Sepuluh dari fitrah Yaitu: memangkas kumis, memanjangkan
jenggot, bersiwak, menghirup air ke hidung, memotong kuku, mencuci ruas-ruas
jari, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan dan bersuci dengan air
(cebok). (HR.Ahmad, 6/137, Muslim,261, Abu Daud, 35 dan
At-Tirmizi, 2757)
Salah
satu perawinya mengatakan: ‘‘Aku lupa yang kesepuluh selain berkumur.’’
Ikhwatal
Islam ! Selain memberikan perhatian yang besar
terhadap bidang yang berhubungan langsung dengan kehidupan dan pergaulan
manusia, melarang membuang air kecil di air yang tidak mengalir dan membuang
air besar di tengah jalan, di tempat berteduh dan sumber air, agama islam yang
hanif juga memerintahkan untuk membersihkan rumah, jalan, makanan, minuman,
pakaian dan fasilitas umum. Dan Islam juga menjadikan tindakan menyingkirkan
gangguan di tengah jalan sebagai salah satu cabang iman. Sementara Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyampaikan bahwa Allah Maha Indah dan mencintai
keindahan. Dan Allah memerintahkan kepada NabiNya untuk bersuci. Allah
berfirman:
وَثِيَابَكَ
فَطَهِّرْ
Dan
pakaianmu bersihkanlah,
(QS.Al-Muddatstsir :4)
Selain
itu Allah Subhanahu Wata’ala juga memuji Sahabat-Sahabat Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wasallam dalam firmanNya.
فِيهِ
رِجَالٌ
يُحِبُّونَ
أَن
يَتَطَهَّرُوا
وَاللهُ
يُحِبُّ
الْمُطَّهِّرِينَ
Di
dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai
orang-orang yang bersih.
(QS.At-Taubah :108)
Tingkatan
Kedua
Menyucikan
anggota tubuh dari salah dan dosa.
Tingkatan
Ketiga
Menyucikan
hati dari akhlak-akhlak tercela dan hal-hal keji yang terkutuk.
Tingkatan
Keempat
Menyucikan
hati dari apa saja selain Allah Subhanahu Wata’ala dalam rangka membersihkan
akidah dan mengikhlaskan amal.
Ketiga
tingkatan bersuci terakhir ini dapat di rangkum menjadi kesucian mental. Yaitu
kesucian batin yang merupakan pondasi dan landasan. Maka tidak ada artinya
kebaikan lahir yang disertai dengan kerusakan batin. Betapa banyak sesuatu yang
terlihat indah tetapi menyimpan kisah yang keji. Na’udzu billahi min dzalik
Wahai
umat yang menyukai kesucian dan kebersihan ! Sesungguhnya kebersihan yang
sejati ialah kebersihan akidah dari segala sesuatu yang bisa menodainya,
seperti syirik dan hal-hal lain yang terkait dengannya. Hal itu menuntut adanya
keikhlasan kepada Allah, kemurnian dalam mengikuti Rasulullah Shallallahu Alihi
Wasallam, dan pemberantasan segala macam hayalan dan kesesatan yang
bertentangan dengan akidah yang benar. Di samping itu, menuntut adanya
kebersihan pikiran dari ide-ide yang tercemar dan persepsi-persepsi rusak yang
bertentangan dengan Islam.
Hal itu
berarti kesucian hati dan kebersihannya dari dendam, permusuhan, dengki,
angkara murka, kemunafikan, riya’, sok suci, dan sombong. Juga berarti kesucian
lisan dari dusta, bohong, menggunjing, mengadu domba, dan mengada-ada. Bisa
juga berarti kebersihan perangai dan prilaku dari segala sesuatu yang bisa
merusak hubungan persaudaraan dan menjadi pemicu keretakan dan perpecahan.
Di
samping itu juga meliputi kebersihan muamalat dari rekayasa-rekayasa terlarang
dan penghasilan-penghasilan haram yang diperoleh melalui kedzaliman, kecurangan,
praktik riba, suap-menyuap, pemalsuan dan sebagainya.
Lalu
kebersihan anggota badan mencakup dalam seperti telinga, mata dan sebagainya-
melihat dan mendengar sesuatu yang diharamkan.
Ikhwatal
Islam ! Jadi, kita sudah tahu tentang kebersihan yang
diajarkan oleh agama Islam dalam arti yang luas. Bukan kebersihan dalam arti
yang sempit dan sebatas memperhatikan penampilan lahiriyah dengan mengorbankan
isi dan esensi. Juga bukan kebersihan yang sebatas kata-kata yang diucapkan
atau upacara yang diadakan selama beberapa hari saja. Melainkan kebersihan yang
selalu melekat bersama penampilan diri seorang muslim, tanpa pernah lepas sama
sekali. Maka sudah sepantasnya bila hal ini semakin menambah semangat kita
memegang teguh agama dan memperdalam pemahaman kita tentang hikmah-hikmah dan
hukum-hukumnya.
Agama
yang dimiliki ajaran semacam itu selayaknya para pemeluknya senantiasa menjaga
kebersihan dalam segala hal. Sehigga mereka menjadi umat yang paling kuat
akidah dan imannya, paling selamat pemikiran dan wawasannya, paling baik hati
dan amal perbuatannya, paling sehat fisik dan badannya, dan paling bagus
penampilannya. Akhirnya, mereka dapat memadukan antara keshalihan lahir dan
keshalihan batin, kebaikan apa yang ditampilkan dan kebaikan apa yang diberitakan.
Ketika itulah mereka berhasil mendapatkan kekuatan materi dan kekuatan mental,
di saat iman dan ilmu sama-sama kuat, perangai dan prilaku sama-sama baik,
badan dan akal sama-sama sehat. Sehingga mereka memiliki kekuatan, kewibawaan,
dan tekad yang dapat menggetarkan musuh-musuhnya, dengan izin Allah.
Islam
telah mendahului semua sistem ciptaan manusia dalam hal kebersihan badan dan
masyarakat, serta upaya menjaga kesehatan individu dan lingkungan. Ilmu
kedokteran modern telah mengakui kebenaran ajaran yang digelar oleh Islam. Hal
inilah yang membuat peradaban Islam tidak bisa disaingi oleh peradaban lain.
Adalah penjungkir balikkan peradigma bila sebagian oknum umat Islam berpacu
dalam kekotoran dan berlomba-lomba melakuakan perbuatan yang tidak bisa
diterima oleh naluri yang sehat dan cita rasa yang normal. Karena bertentangan
dengan fitrah normal yang diberikan oleh Allah dan berlawanan dengan ajaran
agamaNya yang diridhai.
Ibadallah ! Bertakwalah kepada Allah, pegang teguhlah
agama anda. Jangan terpedaya oleh musuh-musuh anda dan berusahalah untuk
mewujudkan kebersihan mental dan kebersihan fisik di dalam diri berkenan
memberi kita hati yang baik dan amal yang shalih. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah
lagi Maha Mulia.
بارَكَ الله
لِيْ
وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ
الْكَرِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ هذا
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ،
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
Khutabah
Kedua
اَلْحَمْدُ
لله الَّذِيْ
أَرْسَلَ
رَسُوْلَهُ
بِالْهُدَى
وَدِيْنِ
الْحَـقِّ
لِيُظْهِرَهُ
عَلَى
الدِّيْنِ
كُلِّهِ
وَلَوْ كَرِهَ
الْمُشْرِكُوْنَ،
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ إله
إِلاَّ الله
وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ،
قَالَ الله
تَعَالَى:
يَاأَيُّهاَ
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
الله حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُم
مُّسْلِمُونَ
اللهم صَلِّ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
Amma
ba’du :
Ibadallah ! Bertakwalah kepada Allah, jagalah kebersihan
lahir dan batin, dan jalinlah kebersamaan untuk mewujudkan hal itu di dalam
diri dan masyarakat anda. Karena masyarakat yang bersih dalam simbol kebersihan
individu-individunya. Dan syari’at kita yang hanif telah memutuskan untuk
melenyapkan segala macam kotoran dan ancaman bahaya di mana pun adanya.
Seharusnya upaya-upaya yang dapat disinergikan dan kegiatan-kegiatan yang ada
dapat dipadukan dalam rangka menghidupkan dan mencerdaskan ruh kesucian dan
kebersihan di tengah-tengah umat Islam. Hal ini adalah tanggung jawab bersama
sesuai dengan proporsinya.
Tanggung
jawab tersebut bukanlah untuk orang-orang atau pihak-pihak tertentu saja.
Melainkan kewajiban bersama. Maka setiap muslim harus mengerahkan apa yang bisa
dia lakukan untuk membuktikan kepeduliannya kepada masyarakatnya, sehingga
mereka selalu sehat dan jauh dari marabahaya. Dan, kita tidak boleh melupakan
peran ayah dan ibu dalam mendidik putra-putri mereka untuk melakukan hal
tersebut. Kita juga tidak boleh melupakan tugas guru dalam menanamkan prilaku
yang mulia ini di dalam diri anak didiknya. Begitu juga peran para penulis,
pembimbing dan pelaku media. Jadi, semua pihak memiliki peran besar dalam
menyebarluaskan kebersihan yang syar’i. Yaitu kebersihan hati, pikiran,
perangai, prilaku, penampilan, masyarkat dan lingkungan.
Setiap
muslim hendaknya bisa menjadi pengawas dalam rangka mewujudkan masyarakat yang
bersih, dan menghalangi upaya orang-orang usil yang hendak merusak fasilitas
umum dan kepentingan umat Islam. Dengan harapan agar dampak positif dari
keutamaan ini dapat dirasakan oleh individu maupun masyarakat.
إِنَّ اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّونَ عَلَى
النَّبِيِّ
يَآأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيمًا
اللهم صَلِّ
عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم
بَارِكْ عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ،
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم
اغْـفِـرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْـفِـرْ
لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ.
اللهم إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الْهُدَى
وَالتُّقَى
وَالْعَفَافَ
وَالْغِنَى.
اللهم إِنَّا
نَعُوْذُ
بِكَ مِنْ زَوَالِ
نِعْمَتِكَ
وَتَحَوُّلِ
عَافِيَتِكَ
وَفُجَاءَةِ
نِقْمَتِكَ
وَجَمِيْعِ
سَخَطِكَ.
وَآخِرُ دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لله رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلى الله
عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ
( Dikutip dari buku : Kumpulan
Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi pertama, ElBA Al-Fitrah, Surabaya
.Diposting oleh Yusuf Al-Lomboky