Berbakti
Kepada Kedua orang Tua
Kamis,
10 Februari 11
Khutbah
Pertama
Amma
ba’du :
Ibadallah ! Bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala
dan bersyukurlah kepadaNya atas nikmat-nikmatNya yang lahir dan yang batin,
anugerahNya yang melimpah, dan karuniaNya yang sangat banyak. Betapa banyak
karunia Allah Subhanahu Wata’ala yang diberikan kepada hamba-hambaNya. Tetapi
kebanyakan manusia tidak mau bersyukur. Siapakah yang menciptakan kita selain
Allah ? Siapakah yang memberi kita rizki selain Allah ? Dan siapakah yang
menganugerahi kita pendengaran, penglihatan, hati, akal dan kekuatan selain
Allah ?
وَإِن
تَعُدُّوا
نِعْمَتَ
اللهِ
لاَتُحْصُوهَا
إِنَّ
اْلأِنسَانَ
لَظَلُومُُ
كَفَّارُُ
Dan jika
kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghinggakannya.
Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (QS. Ibrahim :34)
Oleh
karena itu, hak Allah adalah hak yang paling besar dibanding hak siapa pun. Kita
harus menyembahNya, mengesakanNya dan mentaatiNya. Tidak ada Rabb yang berhak
disembah selain dia. Dan tidak ada Rabb kecuali Dia. Bersyukur kepada Sang
Pemberi nikmat adalah wajib secara aqli maupun naqli. Dan yang
pertama kali memberikan nikmat kepada manusia adalah Allah Subhanahu Wata’ala.
Setelah
hak Allah dan karuniaNya ada hak orang tua dan kebaikannya. Kalau Allah berjasa
menciptakan dan mewujudkan, orang tua berjasa mendidik, melahirkan dan mengurus
anak-anak. Oleh karena itu Allah menyebut hak orang tua beriringan dengan
hakNya. Itu tidak lain karena besarnya hak kedua orang tua dan mulianya jasa
mereka. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :
وَاعْبُدُوا
اللهَ
وَلاَتُشْرِكُوا
بِهِ شَيْئًا
وَبِالْوَالِدَيْنِ
إِحْسَانًا
Sembahlah
Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat
baiklah kepada dua orang ibu-bapak, (QS.
An-Nisa’ :36)
قُلْ
تَعَالَوْا
أَتْلُ
مَاحَرَّمَ
رَبُّكُمْ
عَلَيْكُمْ
أَلاَّتُشْرِكُوا
بِهِ شَيْئًا
وَبِالْوَالِدَيْنِ
إِحْسَانًا
Katakanlah:"Marilah
kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Rabbmu, yaitu: janganlah kamu
mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu
bapak, (QS.Al-An’am :151)
وَقَضَى
رَبُّكَ
أَلاَّ
تَعْبُدُوا
إِلآ إِيَّاهُ
وَبِالْوَالِدَيْنِ
إِحْسَانًا
Dan
Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan
hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. (QS. Al-Isro’ :23)
وَوَصَّيْنَا
اْلإِنسَانَ
بِوَالِدَيْهِ
حَمَلَتْهُ
أُمُّهُ
وَهْنًا
عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ
فِي
عَامَيْنِ
أَنِ اشْكُرْ
لِي وَلِوَالِدَيْكَ
إِلَىَّ
الْمَصِيرُ
Dan Kami
perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya
telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya
dalam dua tahun.Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya
kepada-Kulah kembalimu. (QS.
Luqman :14)
Seorang
ulama Salaf berkata : “Ada tiga ayat yang diikuti tiga ayat.” Ia menyebut salah
satunya adalah firman Allah Subhanahu Wata’ala :
وَوَصَّيْنَا
اْلإِنسَانَ
بِوَالِدَيْهِ
حَمَلَتْهُ
أُمُّهُ
وَهْنًا
عَلَى وَهْنٍ
وَفِصَالُهُ
فِي
عَامَيْنِ
أَنِ اشْكُرْ
لِي
وَلِوَالِدَيْكَ
إِلَىَّ
الْمَصِيرُ
Dan Kami
perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya
telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya
dalam dua tahun.Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya
kepada-Kulah kembalimu. (QS.
Luqman :14)
Maka
barang siapa yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada kedua orang tuanya
berarti ia tidak bersyukur kepada Allah.
Di
samping Allah memerintahkan manusia untuk bersyukur kepadaNya atas karuniaNya
berupa menciptakan, memberi rizki dan mengurusnya, Dia juga memerintahkan
manusia untuk bersyukur kepada kedua orang tuanya, mengingat jasa dan kebaikan
keduanya. Saya kira tidak ada seorang pun yang berakal sehat yang tidak
mengetahui jasa kedua orang tuanya. Siapa yang menjadi sebab keberadaannya di
dunia ? Siapa yang merawatnya dalam tahapan-tahapan usianya semenjak masih menjadi
sperma hingga tumbuh menjadi dewasa ? Siapa yang memperhatikannya semenjak awal
keberadaannya, masa kehamilannya, saat kelahirannya, masa menyusuinya,
penyapihannya, pemberian asupan gizinya, pendidikannya, dan pembesarannya
sampai ia menjadi bayi, anak-anak, remaja, kemudian menjadi manusia dewasa yang
kuat dan mampu memikul tanggung jawab ? Dibalik itu semua ada orang yang paling
berhak menerima kebaktian kita. Orang itu adalah ayah dan ibu kita. Kita tidak
akan bisa membalas jasa mereka secara setimpal, meski kita sudah melakukan dan
mencurahkan apa saja. Tetapi kita harus memohon kepada Allah dengan menyebut
nama-nama dan sifat-sifatNya agar berkenan membalas mereka berdua dengan
balasan yang sebaik-baiknya, memberi mereka berdua imbalan terbaik yang bisa
diberikan seorang anak kepada orang tuanya, dan berkenan memberi kita kemampuan
untuk berbakti kepada mereka berdua sepanjang hayat kita.
Seorang
laki-laki datang kepada Umar bin Khattab Radiyallahu ‘Anhu lalu berkata :
“Ibuku sudah tua renta. Aku adalah kendaraannya. Aku selalu menggendongnya di
punggungku. Aku melindunginya dengan tanganku. Dan aku mengurusnya sebagaimana
dia dulu mengurusku. Apakah aku telah menunaikan syukurku kepadanya ?” “Belum”
kata Umar. “Mengapa, ya amirul mukminin ?” tanya laki-laki itu. Umar
menjawab : “Karena sesungguhnya kamu melakukan hal itu kepadanya sambil berdoa
(memohon) kepada Allah agar segera mencabut nyawanya. Sementara dia dahulu
melakukan hal itu kepadamu sambil berdoa (memohon) kepada Allah agar memanjangkan
umurmu.”
Ibnu
Umar Radiyallahu ‘Anhu pernah bertemu dengan seorang laki-laki yang menggendong
ibunya di lokasi thawaf. Lalu laki-laki itu bertanya : “ Hai Ibnu Umar,
menurutmu apakah aku sudah membalas budinya ?” Ibnu Umar menjawab : “Tidak
sedikit pun.”
Allahu
akbar ! Betapa besar hak itu ! Dan betapa parah
kelalaian manusia ! Kita memohon kepada Allah agar berkenan mengampuni kita.
Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia.
Wahai
umat Islam ! Sungguh berat penderitaan yang ditanggung oleh ayah dan ibu.
Sungguh besar pengorbanan yang diberikan oleh mereka berdua dalam rangka
membahagiakan anak-anaknya dan mengeluarkan mereka dari medan perang kehidupan.
Betapa besar keletihan ayah dan ibu ! Betapa banyak energi yang mereka kerahkan
! Dan betapa banyak pengorbanan yang mereka berikan ! Terutama ibu yang
penyayang. Seorang wanita yang penuh kasih sayang, acuan belas kasih dan
pemberian yang mengalir deras dengan luapan kasih sayang dan kebaikan. Kasih
seorang ibu mengisi penuh hatinya. Ibu yang mengandung anda di dalam perutnya
selama sembilan bulan. Dan Allah mengetahui penderitaan yang dialaminya, dan
beratnya kandungan yang diembannya. Lalu jangan tanya seberapa besar rasa sakit
yang menderanya saat melahirkan anaknya.
حَمَلَتْهُ
أُمُّهُ
كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ
كُرْهًا
Ibunya
mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). (QS. Al-Ahqaf :15)
Beragam
rasa sakit menderanya. Hanya Allah Yang Maha Tahu seberapa besar penderitaan
yang dirasakannya. Bahkan ia harus bersambung nyawa saat melahirkan anaknya.
Kemudian ia masih harus bersusah payah menyusuinya selama dua tahun penuh.
Berdiri terasa berat, duduk terasa jemu.
Kemudian
ibu rela menahan lapar agar anda merasa kenyang, rela bergadang agar anda bisa
tidur nyenyak, dan bersusah payah agar anda nyaman. Betapa banyak ia terjaga di
malam hari yang panjang, sementara anda tidak mengetahuinya. Betapa banyak ia
didera aneka penderitaan agar anaknya dapat mewujudkan mimpi-mimpinya. Ia
seringkali meninggalkan sesuatu yang disukainya karena khawatir akan
keselamatan anaknya. Ia begitu menyayangi dan mengasihi anaknya. Bila ia tidak
ada, sang anak akan memanggilnya. Bila ia berpaling darinya, sang anak akan
merajuk padanya. Bila sang anak ditimpa musibah, ia akan memanggil ibunya.
Bahkan ia rela mati asal anaknya tetap hidup. Ibu anda ingin mati agar anda
tetap hidup. Ibu anda rela menderita agar anda merasa bahagia. Perutnya pernah
menjadi wadah anda. Pangkuannya pernah menjadi peraduan anda. Payudaranya
pernah menjadi sumber minuman anda. Dia rela mati demi anda. Dan betapa berat
beban derita yang dialaminya saat menyapih, mendidik dan membesarkan anda.
Kepayahan
seorang ibu terus berlangsung sampai anda tumbuh dewasa, menikah dan punya
anak. Seorang ibu selalu mencari anda dan mencari tahu keadaan anda. Ia
prihatin bila melihat anda prihatin. Ia sedih bila melihat anda bersedih.
Sungguh hebat para ibu yang penyayang, para pendidik yang ramah, dan orang tua
yang lemah-lembut. Mudah-mudahan Allah berkenan membalas jasa mereka dengan
Surga yang luasnya setara dengan langit dan bumi.
Sedangkan
ayah yang penyayang adalah pembimbing yang lurus dan pendidik yang mulia. Ia
berusaha, bekerja keras, berjuang, membanting tulang, membesarkan, menafkahi,
mendidik, dan menyayangi anda. Ia mau menyuapi anda saat belita. Dan ia
mencukupi kebutuhan anda saat remaja. Bila ia berjumpa dengan anda hatinya
bersuka cita. Bila anda mendatanginya wajahnya berseri-seri. Bila ia datang,
anda akan didudukkan di pangkuannya dan didekapnya. Bila ia hendak pergi anda
selalu memeganginya. Bila anda jauh darinya, ia selalu menanyakan dan menunggu
kedatangan anda. Bila ia melihat anda, bibirnya tersenyum lebar dan gigi
depannya tampak mengkilat. Betapa banyak energi yang beliau curahkan untuk
mendidik, membesarkan, memberi makan dan menyekolahkan anda. Semoga Allah
berkenan memberikan balasan yang sebaik-baiknya dan pahala yang
sebesar-besarnya kepada seorang ayah yang mulia dan menyayangi anak-anaknya.
Karena
itu tidak heran lagi perintah untuk berbakti kepada orang tua diulang-ulang di
dalam Al-Qur’an. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :
وَوَصَّيْنَا
اْلإِنسَانَ
بِوَالِدَيْهِ
إِحْسَانًا
Kami
perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, (QS. Al-Ahqaf :15)
وَوَصَّيْنَا
اْلإِنسَانَ
بِوَالِدَيْهِ
حُسْنًا
Dan Kami
wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapak-nya.(QS.Al-Ankabut :8)
Tepat
sekali apa yang dikatakan penyair berikut ini :
Ayah dan ibu punya hak atas kita
Setelah hak yang dimiliki Rabb
Kita berkewajiban menghormatinya
Mereka berdua melahirkan kita
Dan mendidik kita semasa kecil
Mereka berhak dihormati setinggi-tingginya.
Di dalam
Hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, berbakti kepada orang tua disebut
beriringan dengan tiang agama Islam dan didahulukan atas jihad yang merupakan
puncak menara Islam. Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud
Radiyallahu ‘Anhu berkata : “Aku pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu
‘Alaihi Wasallam : ‘Amal apakah yang paling dicintai Allah ? Beliau menjawab:
‘Berbakti kepada kedua orang tua. Lalu apa ? tanyaku. Beliau menjawab: ‘Jihad
di jalan Allah”.
Lihatlah
bagaimana birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua) mengungguli
jihad di jalan Allah, bersabung nyawa di medan perang dan berlumuran darah. Hal
ini juga didukung oleh Hadits yang tercatat di dalam kitab Shahih Al-Bukhari
dan Shahih Muslim, bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk meminta izin berjihad. Lalu beliau bertanya:
“Apakah kedua orang tuamu masih hidp ?” ‘Ya’ jawabnya. Lalu beliau bersabda :
“Berjihadlah dalam berbakti kepada mereka”.
Wahai
umat Islam ! Berbakti kepada kedua orang tua adalah kewajiban yang tidak bisa
dielakkan dan keutamaan yang pasti. Kewajibannya pasti dan pelaksanaannya tidak
bisa ditawar. Tidak ada alasan bagi siapa pun untuk melalaikan dan meremehkan
kewajiban ini. Agama, syari’at, ayat dan Hadits, akal sehat, menjaga diri,
kasih sayang, balas budi dan rasa kemanusiaan adalah dalil-dalil yang
menunjukkan adanya keharusan melaksanakan kewajiban itu dengan sebaik-baiknya.
Berbakti kepada orang tua adalah jalan hidup para Nabi dan Rasul, dan perilaku
orang-orang mulia dan orang-orang shalih. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :
وَبَرًّا
بِوَالِدَتِي
وَلَمْ
يَجْعَلْنِي
جَبَّارًا
شَقِيًّا
Dan
berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi
celaka. (QS. Maryam :32)
Dan
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman tentang sifat-sifat Yahya bin Zakariya
‘Alaihissalam :
وَبَرَّا
بِوَالِدَيْهِ
وَلَمْ
يَكُنْ جَبَّارًا
عَصِيًّا
Dan
banyak berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia seorang yang sombong
lagi durhaka. (QS.
Maryam :14)
Mendoakan
orang tua di kala hidup maupun sesudah meninggal dunia adalah kebiasaan yang
tidak pernah ditinggalkan oleh orang-orang yang beriman dan bertakwa. Nabi Nuh
‘Alaihissalam berdoa dengan ucapan:
رَّبِّ
اغْفِرْ لِي
وَلِوَالِدَيَّ
وَلِمَن
دَخَلَ
بَيْتِيَ
مُؤْمِنًا
وَلِلْمُؤْمِنِينَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
Ya
Rabbku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman
dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. (QS. Nuh :28)
Sedangkan
Nabi Ibrahim berdoa dengan ucapan :
رَبَّنَا
اغْفِرْ لِي
وَلِوَالِدَيَّ
وَلِلْمُؤْمِنِينَ
يَوْمَ
يَقُومُ
الْحِسَابُ
Ya Rabb
kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mu'min
pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)". (QS. Ibrahim :41)
Dan di
antara ayah dan ibu yang paling berhak diperlakukan secara baik ialah ibu,
mengingat perjuangannya yang luar biasa untuk anaknya. Imam Al-Bukhari dan
Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu bahwa seorang laki-laki
datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam lalu bertanya : “Ya
Rasulullah, siapakah yang paling berhak aku perlakukan dengan baik ?” Beliau
menjawab: “Ibumu” Lalu Siapa ? Tanya laki-laki itu. Beliau menjawab: “Ibumu”
lalu siapa ? tanya laki-laki itu lagi. Beliau menjawab : “Ibnumu” lalu siapa ?
tanya laki-laki itu kemudian. Beliau menjawab : “Ayahmu” Dalam riwayat Muslim
dikatakan bahwa beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Ibumu, lalu
ibumu, lalu ibumu,lalu ayahmu. Kemudian orang yang lebih dekat denganmu, lalu
orang yang lebih dekat denganmu.”
Wahai
orang-orang yang berstatus sebagai anak, bertakwalah kepada Allah dalam
menghadapi ayah dan ibu. Berbaktilah kepada orang tua anda, maka anak-anak anda
akan berbakti kepada anda. Ketahuilah bahwa ridha Allah terletak di dalam ridha
ayah dan ibu, dan murka Allah terletak di dalam murka ayah dan ibu.
Anda
pasti sangat menyesalkan dan menyayangkan maraknya fenomena anak yang enggan
berbakti kepada orang tuannya. Tidak ada penghargaan, rasa hormat, kepatuhan,
kebaktian, maupun sopan santun. Yang ada justru kekerasan, kekasaran, bentakan
dan kedurhakaan. Bahkan ada orang yang sangat keji, bengis dan kejam. Sehingga
apabila ayah atau ibunya menyuruhnya melakukan sesuatu, ia akan menggerakkan
bahunya, membuang muka dan membalikkan punggungnya. Seolah-olah perintah itu
tidak penting baginya. Bahkan ada yang memasang muka cemberut, mengerutkan
dahi, berteriak, tidak sopan dan melawan ayah dan ibunya. Tidaklah orang
seperti itu menyadari bahwa perbuatannya itu dapat membuatnya sengsara ?
Sungguh celaka baginya pada saat dirinya di hadapkan kepada Rabbnya.
Bahkan
ada sebagian orang yang tidak segan-segan mengguagat orang tuanya di
pengadilan, melaporkannya ke pihak kepolisian atau lembaga-lembaga hukum
lainnya. Untuk apa ini semua ? Apakah untuk mengambil segenggam uang atau sejengkal
tanah ? Sampai-sampai banyak terjadi pemutusan hubungan persaudaraan demi
secuil harta atau karena perasaan tertentu yang terpendam di dalam hati. Bahkan
ada orang yang tidak bertegur sapa dengan orang tuanya, tidak berkunjung dan
tidak berkomunikasi dengannya selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun.
Ada juga
orang yang meninggalkan orang tuanya yang sudah atau sakit renta di panti-panti
jompo. Dan selama berhari-hari bahkan berbulan-bulan ia tidak mengetahui
keadaannya. Di mana iman ? Di mana keutamaan ? Di mana norma-norma kepatutan ?
Di mana rasa kasih sayang dan rasa kemanusiaan ? Orang-orang semacam itu telah
berbalik 180 derajat. Mereka telah membalas air susu dengan air tuba.
Aku
ingin dia hidup
Tapi dia ingin membunuhku
Maafkanlah keinginan kekasihmu
Ada pula
orang yang telah menikah melupakan kedua orang tuanya dan mengabaikan urusan
mereka, karena terlalu asyik dengan kehidupan barunya. Betapa banyak
penderitaan yang dialami para ibu akibat ulah anak-anaknya yang mengutamakan
istrinya dan mengabaikan ibunya. Bahkan ada yang menunjukkan sikap angkuhnya
kepada sang ibu di depan mata istri dan anak-anaknya. Sungguh keji perbuatan
mereka ! Sungguh celaka apa yang mereka perbuat !
Sebagai
anak, anda harus selalu menjaga hak-hak orang tua dengan cara berbakti dan
berbuat baik kepada mereka. Dan sebagai ayah atau ibu, anda harus bisa membantu
anak-anak anda dalam berbakti kepada anda. Jangan membebani mereka dengan
tugas-tugas yang terlalu berat bagi mereka. Dan jangan mencampuri urusan
pribadi mereka, lebih-lebih setelah menikah. Karena hal itu dapat menyebabkan
retaknya hubungan dan putusnya tali cinta kasih dan keharmonisan.
Dan ada
pula orang yang karena kurangnya ilmu agama justru lebih berbakti kepada
teman-temannya dibanding orang tuanya. Mereka begitu patuh kepada
rekan-rekannya dan baik kepada kawan-kawannya, namun durhaka kepada ibunya dan
tidak bertegur sapa dengan ayahnya. Bahkan anda akan sangat prihatin ketika
melihat orang yang menunjukkan penampilan yang shalih, bergelut di dunia ilmu
atau dakwah, tetapi sama sekali tidak menaruh hormat, tidak menghargai, tidak
peduli, tidak berbakti dan tidak perhatian kepada orang tuanya.
Meskipun
kedua orang tua memiliki kekurangan dalam beberapa segi, berbakti dan berbuat
baik kepada mereka tetap wajib dilakukan oleh si anak. Allah Subhanahu Wata’ala
berfirman :
وَإِن
جَاهَدَاكَ
عَلَى أَن
تُشْرِكَ بِي
مَالَيْسَ
لَكَ بِهِ
عِلْمٌ فَلاَ
تُطِعْهُمَا
وَصَاحِبْهُمَا
فِي
الدُّنْيَا
مَعْرُوفًا
Dan jika
keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada
pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan
pergaulilah keduanya di dunia dengan baik. (QS.
Luqman :15)
Di dalam
Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan bahwa Asma
Radiyallahu ‘Anha berkata : “Ibuku yang masih musyrik pernah datang kepadaku
pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Lalu aku bertanya kepada
Rasulullah, “Ibuku datang padaku dan ingin bertemu denganku. Apakah aku boleh
menemuinya ?” Beliau menjawab : “Ya, temuilah dia”.
Ibadallah ! Lalu bagaimana dengan kekurangan yang lebih
rendah dari itu ?
Ingat ! Bertakwalah kepada Allah, wahai para orang tua ! ketahuilah bahwa
kedurhakaan anak yang dirasakan oleh sebagian anda pada umumnya berpangkal pada
kesalahan dalam mendidik. Akibatnya si anak mengalami keterbatasan dalam
menerima asuhan yang benar. Kalau mereka sendiri mengabaikan anak-anaknya dan
tidak memberikan perhatian yang memadai, bagaimana mungkin mereka mengharapkan
anak-anaknya menjadi anak-anak yang berbakti ? Mana mungkin pohon duri berubah
anggur ?
Dan,
bertakwalah kepada Allah, wahai para anak ! Segeralah berbakti kepada kedua
orang tua anda, apapun kondisinya.
Mulai sekarang, siapa pun yang selama ini kurang berbakti kepada orang tuanya
harus segera mendaratkan kecupan hangat di kening ayah dan ibunya, seraya
menyesali apa yang terjadi di masa lalu dan meminta ma’af atas apa yang sudah
berlalu. Dan siapa pun harus berbakti dan menyambung kembali hubungannya. Ia
harus menyapanya dengan kebajikan, kebaktian, kebaikan. Dan, semua saluran
pendidikan dan pengarahan seperti masjid, rumah, sekolah, dan media massa harus
memberikan perhatian yang memadai terhadap masalah pendidikan dan sosial yang
penting ini. Jangan sampai masyarakat Islam yang dikenal sebagai masyarakat
yang suka gotong royong, tolong-menolong, berbuat baik dan menjalin
persaudaraan berubah menjadi masyarakat materialis yang tidak percaya pada
nilai-nilai dan tidak peduli pada norma-norma. Dan kita bisa mengambil
pelajaran dari fenomena-fenomena yang kita lihat dan kita saksikan.
بارَكَ الله
لِيْ
وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ هذا
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
Khutbah
Kedua
Amma
ba’du :
Ibadallah ! Bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala
dan tunaikanlah hakNya sebagaimana diperintahkan kepada anda. Ketahuilah, bahwa
disamping memerintahkan untuk berbakti dan menunaikan hak orang tua Allah juga
melarang anda memutus hubungan dan durhaka kepadanya. Bahkan Allah
menjadikannya sebagai salah satu dosa besar yang menyebabkan murka dan azab
Rabb Yang Maha Perkasa.
Imam
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Bakrah Radiyallahu ‘Anhu bahwa
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bertanya: “Maukah kuberitahukan
kepadamu dosa yang paling besar ?” Sebanyak tiga kali. Kami menjawab: Tentu, ya
Rasulullah ! Lalu beliau bersabda : “Menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua
orang tua.”
Lihatlah
bagaimana Allah menyebut durhaka kepada orang tua bersama-sama dengan syirik.
Na’udzubillah !
Sementara
Al-Mughirah bin Syu’bah Radiyallahu ‘Anhu meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu
‘Alaihi Wasallam bersabda :
“Sesungguhnya
Allah mengharamkan atas kamu durhaka kepada ibu.” (Shahih Al-Bukhari, 2408 dan Shahih Muslim,
593,12 )
Dalam Shahih
Al-Bukhari dan Shahih Muslim dicatat bahwa Abdullah bin Amr bin Ash
Radiyallahu ‘Anhu berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
“Sesungguhnya
salah satu dosa yang paling besar ialah seorang mengutuk kedua orang tuanya.”
Ada yang
bertanya : “Ya Rasulullah, bagaimana mungkin seseorang mengutuk kedua orang
tuanya ?” beliau menjawab :
“ia
memaki ayah seseorang, lalu orang itu (membalasnya dengan) memaki ayahnya dan
memaki ibunya.” (Shahih
Al-Bukhari, 5973 dan Shahih Muslim, 90)
Dalam
hal ini anda tentu mendengar banyak hal aneh dalam kenyataan hidup masyarakat
kita.
Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam bersabda :
“Sungguh
celaka, lalu sungguh celaka orang yang mendapati kedua orang tuanya pada masa
tua baik salah satu atau kedua-duanya lalu ia tidak masuk surga.” (HR. Muslim, 2551 )
Dalam
hadits shahih disebutkan bahwa salah satu dari tiga orang yang tidak bisa masuk
Surga ialah orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya.
Ibadallah ! Ketahuilah bahwa berbakti kepada orang tua
sangat ditekankan dalam semua periode kehidupan. Lebih-lebih ketika sakit dan
lanjut usia. Bahkan kewajiban itu terus berlangsung setelah wafat. Imam Ahmad
dan Abu Daud meriwayatkan dari Abu Usaid As-Sa’idi Radiyallahu ‘Anhu ada
seseorang bertanya : “Ya Rasulullah, apakah masih ada sesuatu yang bisa
kulakukan untuk berbakti kepada kedua orang tuaku setelah mereka meninggal
dunia ?” Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab :
“Ya.
Yaitu mendoakan mereka, memohonkan ampun untuk mereka, melaksanakan wasiat
mereka, menyambung tali persaudaraan yang tidak bisa disambung tanpa mereka,
dan memuliakan teman mereka.”
(Al-Musnad, 3/498 dan Sunan Abu Daud, 5142 )
Abdullah
bin Dinar menceritakan bahwa Abdullah bin Umar Radiyallahu ‘Anhu pernah bertemu
dengan seorang badui di jalanan kota Makkah. Lalu Abdullah bin Umar mengucapkan
salam kepadanya dan mempersilahkan naik ke atas keledainya yang semula
dinaikinya, dan memberinya surban yang semula dikenakannya. Kemudian kami
bertanya padanya : “Sesungguhnya mereka hanyalah orang badui. Mereka cukup puas
dengan sesuatu yang ala kadarnya ? Abdullah menjawab : “Sesungguhnya ayah orang
ini dahulu adalah teman baik Umar bin Khattab. Dan aku pernah mendengar
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“Sesungguhnya
kebaktian yang paling bagus ialah silaturrahmi yang dilakukan oleh seorang anak
kepada keluarga teman baik ayahnya.” (HR.
Muslim, 2552 )
Ibadallah ! Bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala
dalam berbakti, bersilaturrahim dan berbuat baik kepada orang tua sebelum
terlambat ! Bertaubatlah, wahai orang-orang yang lalai dalam menunaikan hak-hak
orang tua dan orang-orang yang durhaka kepadanya, sebelum jiwanya berkata :
“Oh, Alangkah menyesalnya diriku atas kelalaianku terhadap Allah.
اللهم صَلِّ
عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم
بَارِكْ عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ،
كَمَا
بَارَكْتَ عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اللهم
اغْـفِـرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْـفِـرْ
لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِنَا فِي الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
اللهم إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الْهُدَى
وَالتُّقَى
وَالْعَفَافَ
وَالْغِنَى.
اللهم إِنَّا
نَعُوْذُ
بِكَ مِنْ
زَوَالِ
نِعْمَتِكَ
وَتَحَوُّلِ
عَافِيَتِكَ
وَفُجَاءَةِ
نِقْمَتِكَ
وَجَمِيْعِ
سَخَطِكَ.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ لله
رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
( Dikutip dari buku : Kumpulan
Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi pertama, ElBA Al-Fitrah, Surabaya
.Diposting oleh Yusuf Al-Lomboky