Adakah
Bid'ah Hasanah?
Rabu,
23 Januari 13
Khutbah
Pertama:
إِنّ
الْحَمْدَ
ِللهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ هَادِيَ
لَهُ
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلهَ إِلاّ
اللهُ
وَأَشْهَدُ
أَنّ
مُحَمّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ
صَلّ
وَسَلّمْ
عَلى
مُحَمّدٍ وَعَلى
آلِهِ
وِأَصْحَابِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدّيْن.
يَاأَيّهَا
الّذَيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
حَقّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنّ
إِلاّ
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا
النَاسُ
اتّقُوْا
رَبّكُمُ الّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثّ مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَاءً وَاتّقُوا
اللهَ الَذِي
تَسَاءَلُوْنَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَام
َ إِنّ اللهَ
كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا
الّذِيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْلَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمًا،
أَمّا بَعْدُ
...
فَأِنّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ اللهِ،
وَخَيْرَ
الْهَدْىِ
هَدْىُ
مُحَمّدٍ صَلّى
الله
عَلَيْهِ
وَسَلّمَ،
وَشَرّ اْلأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةً،
وَكُلّ
ضَلاَلَةِ
فِي النّارِ.
Jama'ah
Jum'at yang Dirahmati Allah
Tidaklah samar bagi seorang Muslim yang istiqamah dalam membela Agama Allah,
bahwa di antara pokok dakwah Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam yang
paling mendasar setelah menyerukan Tauhid dan memerangi syirik, adalah seruan
berpegang pada Sunnah dan memerangi bid'ah. Syirik merusak Tauhid, dan bid'ah
merusak Sunnah. Ini diisyaratkan dengan sangat jelas dalam sejumlah hadits
Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam, yang di antaranya adalah apa yang
biasa diucapkan beliau dalam mukadimah khutbah beliau,
وَشَرُّ
الْأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلُّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ،
وَكُلُّ بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ،
وَكُلُّ
ضَلَالَةٍ
فِي النَّارِ.
"Perkara yang paling buruk adalah ajaran-ajaran baru (dalam
Agama) yang dibuat-buat, setiap ajaran baru yang dibuat-buat adalah bid'ah,
setiap bid'ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan adalah di neraka." (Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, Abu Dawud,
an-Nasa`i dan Ibnu Majah).
Sabda
beliau ini juga sangat tegas mengatakan bahwa setiap (atau, semua) bid'ah
adalah kesesatan dan semua kesesatan adalah di dalam neraka.
Sabda
beliau ini begitu jelas, seperti matahari, tapi mengapa bid'ah tersebar luas di
tengah kaum Muslimin? Di antara penyebabnya adalah keyakinan banyak orang bahwa
bid'ah itu ada dua macam: Bid'ah sayyi`ah (bid'ah yang buruk) dan bid'ah
hasanah (bid'ah yang baik).
Jama'ah
Jum'at yang Dirahmati Allah
Berikut ini adalah beberapa kaidah yang dijelaskan secara ringkas, bahwa tidak
ada bid'ah hasanah dalam Islam; semua bid'ah adalah sesat.
Pertama: Di antara pokok Agama yang diyakini oleh
setiap Muslim, bahkan tidaklah benar iman seseorang jika tidak meyakininya,
adalah bahwasanya Islam telah disempurnakan oleh Allah, sehingga orang yang
menganutnya hanya punya peluang mengamalkan dan melaksanakan; yang kita kenal
dengan prinsip: سَمِعْنَا
وَأَطَعْنَا (kami dengar dan kami taati), dan tidak
ada lagi alasan untuk mengatakan, ada bid'ah hasanah, setelah Rasul Shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda, "Semua bid'ah adalah kesesatan."
Ini adalah pokok yang tegak di atas dalil-dalil yang terang, dan didukung oleh
para ulama salaf. Perhatikan Firman Allah Ta’ala,
الْيَوْمَ
أَكْمَلْتُ
لَكُمْ
دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ
عَلَيْكُمْ
نِعْمَتِي
وَرَضِيتُ
لَكُمُ
الإِسْلاَمَ
دِيناً
"Pada
hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu
nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu." (Al-Ma`idah: 3).
Ayat
yang agung ini menunjukkan bahwa Syariat Islam telah sempurna, dan apa yang ada
di dalamnya sudah cukup bagi kebutuhan manusia untuk menjalankan tugas pokok
mereka diciptakan, yaitu beribadah kepada Allah Ta’ala,
وَمَا
خَلَقْتُ الْجِنَّ
وَالْإِنسَ
إِلَّا
لِيَعْبُدُونِ
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
mereka menyembahKu."
(Adz-Dzariyat: 56).
Imam
Ibnu Katsir berkata mengenai ayat 3 surat al-Ma`idah ini di dalam Tafsir
beliau,
"Ini adalah nikmat Allah yang paling besar bagi umat ini, dimana Allah
telah menyempurnakan bagi mereka agama mereka, sehingga mereka tidak
membutuhkan agama yang lain selain agama Islam, tidak membutuhkan nabi lain
selain nabi mereka Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan inilah
sebabnya Allah menjadikan beliau sebagai penutup para nabi, yang Allah utus
kepada bangsa manusia dan jin; maka tidak ada yang halal kecuali yang beliau
halalkan, tidak ada yang haram kecuali yang beliau haramkan, dan tidak ada
agama kecuali yang beliau syariatkan."
Karena
itu, maka bid'ah apa saja yang dibuat-buat, lalu dinisbahkan kepada Islam, maka
itu adalah penambahan atas Syariat, kelancangan yang keji, dan menganggap bahwa
Agama ini masih kurang sehingga perlu ditambah.
Inilah
yang difahami oleh sahabat-sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan
imam-iman kaum Muslimin. Sebagai contoh, terdapat riwayat shahih dari sahabat
Ibnu Mas'ud Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau pernah berkata,
اِتَّبِعُوْا
وَلَا
تَبْتَدِعُوْا
فَقَدْ
كُفِيْتُمْ.
"Ikutilah
(Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam) dan jangan membuat-buat bid'ah, karena
sungguh kalian telah dicukupkan (dengan Agama yang sempurna)." (Diriwayatkan oleh ad-Darimi, dan al-Haitsami
berkata dalam Majma' az-Zawa`id, "Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dan para
rawinya adalah rawi-rawi shahih").
Ringkasnya,
orang yang menganggap bid'ah itu ada yang baik, maka konsekuensi logisnya
adalah bahwa syariat Agama ini belumlah sempurna. Maka Firman Allah tadi, الْيَوْمَ
أَكْمَلْتُ
لَكُمْ
دِينَكُمْ "Pada hari ini telah Kusempurnakan
untuk kamu agamamu," menjadi tidak ada artinya baginya. Disadari atau
tidak, orang yang berpandangan bahwa bid'ah itu ada yang baik, maka dia -dengan
ucapan maupun sikap- telah mengatakan bahwa ajaran Islam itu belum sempurna.
Dan orang yang beranggapan bahwa syariat Agama ini belum sempurna, maka dia
adalah seorang yang sesat dan jauh dari kebenaran.
Imam asy-Syaukani Rahimahullah ketika membantah sejumlah pandangan ahli
bid'ah, berkata, "Apabila Allah telah menyempurnakan AgamaNya sebelum Dia
mewafatkan NabiNya Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka apa artinya bid'ah
yang dibuat-buat oleh orang-orang yang menganutnya setelah Allah menyempurnakan
AgamaNya? Bila dalam keyakinan mereka, bid'ah (yang mereka buat-buat itu)
adalah bagian dari Agama, maka Agama ini belum sempurna berdasarkan pandangan
mereka tersebut. Dan dalam pandangan ini terkandung penolakan terhadap
al-Qur`an. Bila bid'ah tersebut bukan bagian dari Agama, maka apa faidahnya
menyibukkan diri dengan ajaran yang bukan dari Agama?"
Apa yang
dikatakan asy-Syaukani ini adalah argumen yang tepat dan hebat, yang tak akan
bisa dibantah oleh mereka yang mendewakan dan menjadikan akal sebagai tolak
ukur. Maka surat al-Ma`idah ayat 3 ini adalah bantahan pertama bagi setiap
orang yang mengatakan, bid'ah itu ada yang baik.
Jama'ah
Jum'at yang Disayang Allah
Kedua: Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam
memikul kewajiban menyampaikan risalah Islam secara total, tidak boleh kurang.
Allah Ta’ala berfirman,
وَأَنزَلْنَا
إِلَيْكَ
الذِّكْرَ
لِتُبَيِّنَ
لِلنَّاسِ
مَا نُزِّلَ
إِلَيْهِمْ
وَلَعَلَّهُمْ
يَتَفَكَّرُونَ
"Dan
kami turunkan kepadamu al-Qur`an, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa
yang telah diturunkan kepada mereka."
(An-Nahl: 44).
Dan Nabi
Shallallahu ‘alaihi wasallam telah melaksanakan kewajiban itu dengan
sebenar-benarnya, karena kalau tidak, maka itu artinya beliau belum
menyampaikan risalah sebagaimana semestinya. Dan ini tidak mungkin, dari segi
akal maupun syariat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah
diwafatkan Allah dengan berpayung ridha Allah, kecuali karena Agama ini telah
beliau sampaikan dengan sempurna, tidak ada lagi yang masih kurang.
Nabi Shallallahu
‘alaihi wasallam telah mengisyaratkan tugas penting ini dalam sabda beliau,
إِنَّهُ لَمْ
يَكُنْ
نَبِيٌّ قَبْلِيْ
إِلَّا كَانَ
حَقًّا
عَلَيْهِ
أَنْ يَدُلَّ
أُمَّتَهُ
عَلَى خَيْرِ
مَا يَعْلَمُهُ
لَهُمْ
وَيُنْذِرَهُمْ
شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ
لَهُمْ.
"Sesungguhnya
tidaklah seorang nabi (diutus) sebelumku, kecuali dia memikul tanggungjawab
untuk menunjukkan umatnya segala kebaikan yang diketahuinya, dan memperingatkan
mereka dari keburukan yang diketahuinya." (Diriwayatkan oleh Muslim).
Dalam
hadits lain Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَا بَقِيَ
شَيْءٌ
يٌقَرِّبُ
مِنَ الْجَنَّةِ
وَيُبَاعِدُ
مِنَ
النَّارِ إِلَّا
وَقَدْ
بُيِّنَ
لَكُمْ.
"Tidak ada sesuatu pun yang tersisa yang dapat mendekatkan
kepada surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali benar-benar telah dijelaskan
bagi kalian."
(Diriwayatkan ath-Thabrani, dan disha-hihkan oleh al-Albani dalam as-Sisilah
ash-Shahihah no. 1803).
Nabi Shallallahu
‘alaihi wasallam juga bersabda,
قَدْ
تَرَكْتُكُمْ
عَلَى
الْبَيْضَاءِ
لَيْلُهَا
كَنَهَارِهَا
لَا يَزِيْغُ
عَنْهَا
بَعْدِيْ
إِلَّا
هَالِكٌ.
"Sungguh aku telah meninggalkan kalian di atas (Agama dan
hujjah) yang terang, malamnya bagaikan siangnya, tidak ada yang berpaling
darinya setelah sepeninggalku kecuali orang yang binasa." (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan dishahihkan
oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah).
Dan
terdapat riwayat shahih dari Ummul Mukminin, Aisyah Radhiyallahu ‘anha,
bahwasanya beliau berkata, "Barangsiapa yang mengatakan kepada Anda,
bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyembunyikan sesuatu dari wahyu, maka
janganlah percaya kepadanya, karena Allah Ta’ala berfirman,
َيَا
أَيُّهَا
الرَّسُولُ
بَلِّغْ مَا
أُنزِلَ
إِلَيْكَ مِن
رَّبِّكَ
وَإِن لَّمْ
تَفْعَلْ
فَمَا بَلَّغْتَ
رِسَالَتَهُ
وَاللّهُ
يَعْصِمُكَ
مِنَ
النَّاسِ
إِنَّ اللّهَ
لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ
الْكَافِرِينَ
'Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari
Rabbmu. Dan jika tidak kamu laksanakan (apa yang diperintahkan itu, berarti)
kamu tidak menyampaikan (amanat) risalahNya'.(Al-Ma`idah:
67)." (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim).
Inilah
sebabnya Imam Malik bin Anas Rahimahullah pernah berkata,"Barangsiapa
yang membuat-buat suatu bid'ah, lalu menganggapnya baik, maka dia telah menuduh
bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam telah berkhianat (dengan
menyembunyikan sebagian wahyu). Karena Allah telah berfirman, الْيَوْمَ
أَكْمَلْتُ
لَكُمْ
دِينَكُمْ "Pada hari ini telah Kusempurnakan
untukmu agamamu", maka apa yang pada hari (diturunkannya ayat) ini bukan
ajaran Agama, hari ini tidak menjadi ajaran Agama." (Lihat
al-I'tisham, oleh asy-Syathibi, 1/49).
b]Jama'ah
Jum'at yang Dirahmati Allah
Ketiga: Menetapkan syariat adalah hak khusus Allah,
Penguasa alam semesta. Manusia sama sekali tidak punya hak untuk ikut membuat
ajaran-ajaran syariat. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaih wasallam sendiri
hanya menetapkan apa yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala, dan ini adalah
masalah yang jelas. Kalau seandainya Syariat Agama ditetapkan berdasarkan daya
nalar dan jangkauan akal manusia, niscaya diutusnya para Rasul oleh Allah
menjadi sesuatu yang tidak bermakna, karena manusia toh bisa menetapkan syariat
sendiri.
Perhatikan
ketika Allah Ta’ala berfirman,
اتَّبِعُواْ
مَا أُنزِلَ
إِلَيْكُم
مِّن رَّبِّكُمْ
وَلاَ
تَتَّبِعُواْ
مِن دُونِهِ
أَوْلِيَاء
قَلِيلاً
مَّا
تَذَكَّرُونَ
"Ikutilah
apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti
pemimpin-pemimpin selainNya."
(Al-A'raf: 3)
Al-Allamah
as-Sa'di berkata dalam Tafsir beliau, "…dan janganlah kamu mengikuti
pemimpin-pemimpin selainNya", maksudnya, jangan kalian pilih mereka
dan jangan ikuti keinginan hawa nafsu mereka.
Orang
yang lancang membuat-buat ajaran baru, sesungguhnya dia telah menempatkan
dirinya sederajat dan sebagai tandingan bagi Allah Ta’ala, dan ini
adalah kezhaliman yang amat berbahaya.
Camkan
baik-baik Firman Allah Ta’ala,
أَمْ لَهُمْ
شُرَكَاء
شَرَعُوا
لَهُم مِّنَ
الدِّينِ مَا
لَمْ يَأْذَن
بِهِ اللَّهُ
وَلَوْلَا
كَلِمَةُ
الْفَصْلِ
لَقُضِيَ
بَيْنَهُمْ
وَإِنَّ
الظَّالِمِينَ
لَهُمْ
عَذَابٌ
أَلِيمٌ
"Apakah
mereka mempunyai sekutu-sekutu selain Allah yang men-syariatkan untuk mereka
ajaran agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang
menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya
orang-orang yang zhalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih." (Asy-Syura: 21).
Ditambah
lagi, bahwa ini artinya dia telah membuka pintu perselisihan yang tak ada habis-habisnya
bagi masyarakat Muslim, karena setiap orang merasa berhak membuat ajaran dan
satu sama lain tidak mungkin melahirkan ajaran yang sama.
Perhatikan Firman Allah Ta’ala,
وَأَنَّ
هَـذَا
صِرَاطِي
مُسْتَقِيماً
فَاتَّبِعُوهُ
وَلاَ
تَتَّبِعُواْ
السُّبُلَ
فَتَفَرَّقَ
بِكُمْ عَن
سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ
وَصَّاكُم
بِهِ
لَعَلَّكُمْ
تَتَّقُونَ
"Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang
lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain),
karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. Yang demikian itu
diperintahkan Allah agar kamu bertakwa."
(Al-An'am: 153).
Imam
Mujahid Rahimahullah, salah seorang ulama tabi'in berkata, " وَلاَ
تَتَّبِعُواْ
السُّبُلَ (… dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan
(yang lain)", maksudnya adalah, bid'ah-bid'ah dan
syubhat-syubhat."
Jama'ah
Jum'at yang Dirahmati Allah
Kesimpulan dari poin yang ketiga ini: Agama ini adalah agama Allah. Hanya Allah
yang berhak menetapkan syariat; artinya, ajaran agama dan jalan yang lurus
hanyalah yang telah digariskan Allah. Rasulullah sendiri hanya menetapkan
syariat berdasarkan kehendak Allah. Patut kita simak baik-baik apa yang
dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah dalam kitab beliau I'lam
al-Muwaqqi'in 1/344, "Telah diketahui semua bahwa tidak ada yang
haram kecuali yang telah diharamkan oleh Allah dan RasulNya, dan tidak ada
perbuatan yang dianggap berdosa kecuali yang dinyatakan berdosa oleh Allah dan
RasulNya bagi pelakunya. Sebagaimana tidak ada yang wajib kecuali yang
diwajibkan Allah dan RasulNya dan tidak ada agama kecuali yang telah
disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Maka prinsip dasar dalam segala ibadah
adalah, "batil, sampai ada dalil yang mendasarinya, …"
Dan
sebelum beliau, guru beliau Syaikhul Islam berkata dalam Majmu' al-Fatawa
31/35, "Masalah ibadah, ajaran agama, dan sarana mendekatkan diri
kepada Allah, hanya diambil dari Allah dan Rasul-Nya. Maka tidak ada hak bagi
seorang pun (siapa pun dia) untuk membuat suatu bentuk ibadah atau cara mendekatkan
diri kepada Allah, kecuali dengan dalil syar'i."
Keempat: Bid'ah sudah pasti hanya mengikuti hawa nafsu;
karena akal manusia, apabila tidak mengikuti syariat, tidak ada kemungkinan
lain kecuali mengikuti hawa nafsu. Dan kita semua insya` Allah tahu bahwa
mengikuti hawa nafsu adalah kesesatan yang nyata. Barangkali di antara kita ada
yang keberatan dengan poin yang satu ini. Untuk itu mari kita camkan baik-baik
Firman Allah Ta’ala kepada Nabi Dawud Alaihis salam,
يَا دَاوُودُ
إِنَّا
جَعَلْنَاكَ
خَلِيفَةً
فِي
الْأَرْضِ
فَاحْكُمْ
بَيْنَ النَّاسِ
بِالْحَقِّ
وَلَا
تَتَّبِعِ
الْهَوَى
فَيُضِلَّكَ
عَنْ سَبِيلِ
اللَّهِ [ص : 26]
"Hai
Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka
berilah keputusan hukum di antara manusia dengan kebenaran (adil) dan janganlah
kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan
Allah." (Shad:
26).
Perhatikanlah
bagaimana Allah hanya menyebutkan dua keputusan hukum, yaitu kebenaran dan hawa
nafsu.
Dalam
surat al-Qashash ayat 50 Allah Ta’ala berfirman,
فَإِن لَّمْ
يَسْتَجِيبُوا
لَكَ
فَاعْلَمْ
أَنَّمَا
يَتَّبِعُونَ
أَهْوَاءهُمْ
وَمَنْ
أَضَلُّ
مِمَّنِ
اتَّبَعَ
هَوَاهُ بِغَيْرِ
هُدًى مِّنَ
اللَّهِ
إِنَّ
اللَّهَ لَا
يَهْدِي
الْقَوْمَ
الظَّالِمِينَ
"Maka
jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka
hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat
daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat hidayah dari
Allah sedikit pun? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
yang zhalim."
Dalam
ayat ini Allah juga hanya menyebutkan dua jalan, yaitu hidayah dan hawa nafsu.
Begitu pula surat al-Jatsiyah: 18,
ثُمَّ
جَعَلْنَاكَ
عَلَى
شَرِيعَةٍ
مِّنَ الْأَمْرِ
فَاتَّبِعْهَا
وَلَا
تَتَّبِعْ
أَهْوَاء
الَّذِينَ لَا
يَعْلَمُونَ
"Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat
(peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah
kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui."
Di sini
Allah juga hanya menyebutkan dua pilihan untuk diikuti, yaitu syariat Agama dan
hawa nafsu.
Jika
demikian, maka jika akal manusia tidak mengikuti syariat yang ditetapkan Allah
dan RasulNya, maka dia pasti mengikuti hawa nafsu; hawa nafsu dirinya atau hawa
nafsu orang lain. Itulah sebabnya, hanya ada tauhid atau syirik, sunnah atau
bid'ah. Semua syirik adalah rusak dan semua bid'ah juga rusak.
Kelima: Semua dalil-dalil yang shahih mencela bid'ah
secara mutlak, tanpa kecuali, dan tidak ada satu dalil pun yang menyebutkan
atau paling tidak mengisyaratkan bahwa bid'ah itu ada yang sayyi`ah (buruk) dan
hasanah (baik).
Ingat
kembali sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah kita sebut di
awal khutbah tadi,
وَشَرَّ
الْأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ،
وَكُلَّ
بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ،
وَكُلَّ
ضَلَالَةٍ
فِي النَّارِ.
"Perkara
yang paling buruk adalah ajaran-ajaran baru (dalam Agama) yang dibuat-buat,
setiap ajaran baru yang dibuat-buat adalah bid'ah, setiap bid'ah adalah
kesesatan, dan setiap kesesatan adalah di neraka."
Dalam wasiat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang terkenal
diriwayatkan oleh al-Irbad bin Sariyah Radhiyallahu ‘anhu, dan di akhir
wasiat agung tersebut Rasul mengingatkan,
وَإِيَّاكُمْ
وَمُحْدَثَاتِ
الْأُمُوْرِ،
فَإِنَّ
كُلَّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ،
وَكُلَّ بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ.
"Dan
jauhilah ajaran-ajaran baru yang dibuat-buat, karena semua ajaran baru yang
dibuat-buat adalah bid'ah, dan semua bid'ah adalah kesesatan." (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Abu Dawud dan
Ibnu Majah. Dan dishahihkan oleh al-Albani 5).
Kedua
hadits ini -dan tentu saja masih banyak hadits-hadits yang lain- sama sekali
tidak menyebutkan adanya bid'ah hasanah, setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi
wasallam menegaskan secara mutlak bahwa semua bid'ah itu sesat. Dan inilah
yang dipahami oleh para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan di
antara mereka adalah sahabat yang mulia Abdullah bin Umar Radhiyallahu
‘anhuma, yang dikenal sebagai salah seorang di antara sahabat-sahabat Nabi Shallallahu
‘alaihi wasallam yang paling teguh mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam. Ibnu Umar berkata,
كُلُّ
بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ
وَإِنْ
رَآهَا النَّاسُ
حَسَنَةً.
"Setiap bid'ah itu adalah kesesatan sekalipun orang
melihatnya sebagai suatu yang baik." .
فَاسْتَبِقُواْ
الْخَيْرَاتِ
أَقُوْلُ قَوْلِي
هَذا
أَسْتَغْفِرُ
اللهَ إِنّهُ
هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرّحِيْمِ
Khutbah
yang kedua
إِنّ
الْحَمْدَ
ِللهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلهَ إِلاّ
اللهُ
وَأَشْهَدُ
أَنّ
مُحَمّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
وَصَلَّى
اللَّّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا
Jama'ah
Jum'at yang Dirahmati Allah
Lima kaidah ini saya kira sudah lebih dari cukup untuk menyimpulkan, bahwa
tidak ada bid'ah hasanah dalam Islam.
Cobalah
kita simak kembali dengan seksama sabda agung Nabi kita Muhammad Shallallahu
‘alaihi wasallam,
مَنْ عَمِلَ
عَمَلًا
لَيْسَ
عَلَيْهِ أَمْرُنَا
فَهُوَ رَدٌّ.
"Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal (ibadah) yang
tidak didasari oleh Agama kami maka amal tersebut tertolak."
Bahkan
dalam lafazh lain mengatakan,
مَنْ
أَحْدَثَ فِي
أَمْرِنَا
هَـذَا مَا لَيْسَ
مِنْهُ
فَهُوَ رَدٌّ.
"Barangsiapa yang membuat-buat ajaran baru dalam Agama kami
ini yang bukan darinya, maka ajaran tersebut tertolak." (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim).
Jama'ah
yang Dirahmati Allah
Kita memohon kepada Allah agar berkenan menjadikan kita sebagai orang ikhlas
dalam beribadah kepadaNya dan menjadikan kita orang-orang yang teguh mengikuti
Sunnah RasulNya Shallallahu ‘alaihi wasallam.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِإِخْوَانِنَا
الَّذِينَ
سَبَقُونَا
بِالْإِيمَانِ
وَلَا
تَجْعَلْ فِي
قُلُوبِنَا
غِلّاً
لِّلَّذِينَ
آمَنُوا
رَبَّنَا إِنَّكَ
رَؤُوفٌ
رَّحِيمٌ
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنفُسَنَا
وَإِن لَّمْ
تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا
ءَاتِنَا فِي
الدّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
اْلأَخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ
النّارِ.
وَصَلىَّ
اللهُ عَلىَ
مُحَمَّدٍ
وَعَلىَ
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
تَسْلِيمًا
كَثِيرًا
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
اْلحَمْدُ
لِلهِ رَبِّ
اْلعَالمَِينَ.
(Dikutib
dari Buku Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi ke-2, Darul Haq
Jakarta).