Adab-Adab Berpuasa
Senin, 29 Juni
15
إِنّ
الْحَمْدَ
ِللهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلّ لَهُ
وَمَنْ يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ إِلهَ
إِلاّ اللهُ
وَأَشْهَدُ
أَنّ مُحَمّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
يَاأَيّهَا
الّذَيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
حَقّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ تَمُوْتُنّ
إِلاّ
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا
النَاسُ
اتّقُوْا
رَبّكُمُ الّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَاءً
وَاتّقُوا
اللهَ الَذِي
تَسَاءَلُوْنَ
بِهِ وَاْلأَرْحَام
َ إِنّ اللهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا
الّذِيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْلَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمًا،
أَمّا بَعْدُ
...
فَأِنّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ
اللهِ، وَخَيْرَ
الْهَدْىِ
هَدْىُ
مُحَمّدٍ
صَلّى الله عَلَيْهِ
وَسَلّمَ،
وَشَرّ
اْلأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةً،
وَكُلّ ضَلاَلَةِ
فِي النّارِ.
Alhamdulillah
kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mempertemukan kita
dengan bulan yang mulia ini. Bulan yang penuh keberkahan, bulan yang banyak
dinantikan oleh hambaNya yang beriman. Bulan yang memiliki banyak keistimewaan,
seperti malam lailatul qadar yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Sidang
shalat Jum’at rahimakumullah,
Sesungguhnya
puasa itu memiliki banyak adab sebagai penyempurnanya. Adab-adab tersebut
terbagi dua: adab-adab yang wajib yang harus diperhatikan dan dijaga
oleh orang yang berpuasa, dan adab-adab sunnah yang selayaknya
dikerjakan.
Di
antara adab yang wajib adalah orang yang berpuasa juga harus melaksanakan
berbagai ibadah lain yang telah Allah wajibkan, baik itu berupa perkataan
maupun perbuatan. Salah satu contoh yang paling penting adalah Shalat wajib,
yang merupakan rukun Islam yang paling mendasar setelah dua kalimat syahadat.
Ia wajib diperhatikan dengan menjaga rukun, kewajiban, syarat dan waktu
pelaksanaannya di masjid secara berjama’ah. Ini merupakan bagian dari ketakwaan
yang juga menjadi alasan diwajibkannya puasa atas ummat ini. Menyia-nyiakan
shalat akan meniadakan ketakwaan dan menyebabkan terjadinya hukuman.
Sidang
shalat Jum’at rahimakumullah,
Ada
orang yang berpuasa tetapi meremehkan shalat berjama’ah, padahal hal itu merupakan
kewajibannya. Apabila Allah telah memerintahkan pelaksanaan shalat berjama’ah
dalam kondisi peperangan dan ketakutan, maka pada saat tentram tentu lebih
ditekankan.
Disebutkan
dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata:
أَنّ
رَجُلاً
أَعْمَى قَالَ:
يَا رَسُوْل
الله لَيْسَ
لَِي قَائِدٌ يَقُوْدُنِي
إِلَى
الْمَسْجِدِ،
فَرَخّصَ
لَهُ،
فَلَمّا
وَلّى
دَعَاهُ
وَقَالَ هَلْ
تَسْمَعُ
النّدَاءَ
بِالصّلاِةِ؟
قَالَ نَعَمْ،
قَالَ
فَأَجِبْ
“Ada pria buta yang mengadu kepada Nabi
shollallahu ‘alaihi wa sallam, ya Rasulullah, aku tidak mempunyai penuntun yang
membimbingku ke masjid,’ Beliau lalu memberinya keringanan untuk tidak hadir
shalat berjama’ah, Namun, tatkala dia hendak pergi, Rasulullah shollallahu
‘alaihi wa sallam memanggilnya kembali, lalu bertanya, apakah engkau mendengar
panggilan shalat? Dia menjawab, Ya, Beliau bersabda: “Maka penuhilah panggilan
tersebut.” (HR. Muslim)
Lihatlah,
betapa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberi keringanan
terhadap pria tersebut, padahal dia orang buta yang tidak mempunyai penuntun.
Orang yang meninggalkan shalat berjama’ah telah menyia-nyiakan suatu kewajiban
sekaligus menghalangi dirinya sendiri dari kebaikan yang banyak, berupa
berlipat gandanya kebaikan. Dia juga tidak mendapatkan keuntungan sosial yang
didapat dari berkumpulnya kaum muslimin ketika pelaksanaan shalat berjama’ah
seperti tentramnya rasa persatuan, cinta, nilai pendidikan, bantuan kepada
pihak yang membutuhkan, dan lain sebagainya.
Sidang
shalat Jum’at rahimakumullah,
Ada juga
orang yang benar-benar melampaui batas di dalam masalah shalat, sampai-sampai
dia shalat di luar waktu yang ditentukan disebabkan tidurnya. Sebagian ulama
berkata: “Barangsiapa yang mengakhirkan shalat di luar waktunya tanpa adanya
udzur syar’i, maka shalatnya tersebut tidak diterima meskipun ia melakukannya
sebanyak seratus kali. Sholat yang dilakukan di luar waktu yang ditentukan itu
tidak sesuai dengan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena
itu, shalatnya tertolak dan tidak diterima.
Adab-adab
berikutnya yaitu harus menjauhi perkara yang diharamkan oleh Allah dan
Rasul-Nya, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Contohnya, dia tidak
boleh berdusta. Dan yang dimaksud dengan dusta adalah memberikan kabar yang
tidak sesuai dengan realita. Perbuatan dusta yang paling besar adalah dusta
atas nama Allah dan RasulNya, seperti menisbatkan halal dan haramnya suatu
perkara kepada Allah atau Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam tanpa ilmu.
Firman
Allah,
وَلَا
تَقُولُوا
لِمَا تَصِفُ
أَلْسِنَتُكُمُ
الْكَذِبَ
هَذَا
حَلَالٌ
وَهَذَا
حَرَامٌ
لِتَفْتَرُوا
عَلَى
اللَّهِ
الْكَذِبَ إِنَّ
الَّذِينَ
يَفْتَرُونَ
عَلَى اللَّهِ
الْكَذِبَ
لَا
يُفْلِحُونَ
(116) مَتَاعٌ قَلِيلٌ
وَلَهُمْ
عَذَابٌ
أَلِيمٌ (117)
[النحل : 116 ، 117]
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu
secara dusta ‘ini halal dan ini haram,’ untuk mengada-adakan kebohongan kepada
Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah
tidaklah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka adzab
yang pedih.”(QS. An-Nahl: 116-117)
Beliau
shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ
كَذّبَ
عَلَيّ
مُتَعَمّدًا
فَلْيَتَبَوّأْ
مَقْعَدَهُ
مِنَ النّارِ.
“Barangsiapa yang sengaja
berdusta atas namaku, maka hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya di
Neraka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Sidang
shalat Jum’at rahimakumullah,
Orang
yang berpuasa juga wajib menjauhi ghibah, yaitu menyebutkan sesuatu yang
tidak disukai dari saudaranya tanpa sepengetahuannya, baik itu memang benar
ataupun tidak, dan baik itu berkaitan dengan bentuk fisiknya dalam rangka untuk
menyebarkan aib atau menghinanya, ataupun berkaitan dengan tingkah lakunya.
Larangan terhadap ghibah juga disebutkan di dalam Al-Qur’an. Sampai-sampai
Allah menyerupakan perbuatan ghibah dengan gambaran yang paling buruk, yaitu
seperti seorang yang memakan daging saudaranya yang telah menjadi bangkai.
Nabi
shollallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan bahwa ketika beliau naik ke
langit (pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj), beliau melalui sekelompok orang yang
mempunyai kuku-kuku dari tembaga, mereka mencakari wajah dan dada mereka dengan
kuku tersebut. Beliau bertanya:
مَنْ
هَؤُلاَءِ
يَا
جِبْرِيْلُ؟
قَالَ : هَؤُلاَءِ
الّذِيْنَ
يَأْكُلُوْنَ
لَُحُوْمَِ
النّاسِ وَ
يَقَعُوْنَ
فِي
أَعْرَاضِهِمْ
“Siapakah mereka itu wahai Jibril? Jibril
menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia (berbuat
ghibah) dan menodai kehormatan mereka.” (HR.
Abu Dawud).
Orang
yang berpuasa juga wajib menjauhi namimah, yaitu menukil perkataan seseorang
tentang orang lain untuk merusak hubungan baik di antara keduanya. Perbuatan
ini masuk ke dalam kategori dosa besar.
Rasulullah
shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Orang yang sering melakukan namimah tidak akan masuk Surga.”(Muttafaq
‘alaihi).
Di dalam
shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim ada riwayat dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu
‘anhu, ia berkata, “Suatu ketika Nabi berjalan melewati dua kuburan lalu
bersabda, “Kedua penghuni kuburan ini sedang diadzab, dan mereka berdua diadzab
dengan sebab dua perkara: yang pertama menerima adzab dengan sebab tidak
bersuci setelah buang air kecil, dan yang kedua dengan sebab melakukan
namimah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Ingatlah,
barangsiapa menceritakan perkataan jelek mengenai orang lain kepadamu, maka ia
juga akan menceritakan perkataanmu kepada orang lain, maka berhati-hatilah.
Sidang
shalat Jum’at rahimakumullah,
Pelaku
puasa juga wajib menjauhi tipu daya dalam seluruh mu’amalah, baik itu di dalam
jual beli, sewa-menyewa, kerajinan tangan, pegadaian, ataupun selainnya.
Perbuatan ini termasuk dosa besar, Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam telah
berlepas diri dari pelakunya. Beliau bersabda,
مَنْ
غَشّنَا
فَلَيْسَ
مِنّا
“Barangsiapa
yang menipu kami, maka ia tidak termasuk dari golongan kami.” Dan dalam lafazh
yang lain: “Barangsiapa yang menipu maka ia tidak termasuk dari golonganku.” (HR. Muslim).
Tipu
daya itu akan menghilangkan amanah dan kepercayaan manusia. Dan setiap
penghasilan yang didapat dari tipu daya adalah penghasilan yang haram dan
kotor, tidak akan menambah pemiliknya kecuali hanya semakin jauh dari Allah.
Semoga
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang menjalankan
ibadah puasa dengan benar, dan semoga puasa yang kita lakukan diterima Allah
Subhanahu wa Ta’ala.
أَقُوْلُ
قَوْلِي
هَذَا
أَسْتَغْفِرُ
الله لِي وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنّهُ هُوَ
اْلغَفُوْرُ
الرّحِيْمُ
[KHUTBAH KEDUA]
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ هَادِيَ
لَهُ.
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ
عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا.
Sidang
shalat Jum’at rahimakumullah,
Berikutnya,
pelaku puasa juga wajib untuk menjauhi segala bentuk dan jenis alat musik yang menjerumuskan
seseorang dalam kelalaian dan itu semua adalah haram. Dosa dan keharamannya
akan bertambah jika diiringi nyanyian pembangkit hawa nafsu yang dilagukan
dengan suara yang indah.
Firman
Allah,
وَمِنَ
النَّاسِ
مَنْ
يَشْتَرِي
لَهْوَ الْحَدِيثِ
لِيُضِلَّ
عَنْ سَبِيلِ
اللَّهِ
بِغَيْرِ عِلْمٍ
وَيَتَّخِذَهَا
هُزُوًا
أُولَئِكَ لَهُمْ
عَذَابٌ
مُهِينٌ
[لقمان : 6]
“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak
berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan
menjadikan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang
menghinakan.” (QS. Luqman: 6)
Telah
shahih dari Ibnu Mas’ud, ketika beliau ditanya tentang ayat ini, beliau
menjawab: “Demi Allah, tidak ada yang berhak diibadahi melainkan hanya Dia, hal
itu adalah nyanyian.”
Nabi
shollallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi peringatan untuk berhati-hati dari
alat-alat musik dan beliau menyertakan penyebutannya bersama zina. Beliau
bersabda,
لَيَكُوْنَنّ
مِنْ أُمّتِي
أَقْوَامٌ
يََسْتَحِلّوْنَ
الْحِرَ
وَاْلحَرِيْرَ
وَالْخَمْرَ
وَالْمَعَازِفَ
“Akan
datang beberapa golongan dari ummatku yang menghalalkan zina, sutera, khamer
dan alat-alat musik.” (HR. Al
Bukhari)
Kata
al-Hir artinya adalah kemaluan, maksudnya adalah zina. Dan makna menghalalkannya
adalah melakukannya tanpa peduli, seperti layaknya orang yang menghalalkan. Hal
ini terjadi di zaman kita ini, ada sebagian orang yang memainkan alat musik
atau mendengarkannya seolah-olah itu adalah perkara yang halal. Banyak kaum
muslimin yang lebih senang mendengarkan musik dibandingkan mendengarkan
al-Quran, hadits dan perkataan ahli ilmu, yang mengandung penjelasan
hukum-hukum syari’at sekaligus berbagai hikmahnya.
Sidang
shalat Jum’at rahimakumullah,
Jabir
radhiallahu ‘anhu berkata, “Jika engkau berpuasa, maka hendaklah pendengaranmu,
penglihatanmu, dan lisanmu juga berpuasa dari dusta serta perkara-perkara yang
diharamkan. Janganlah menyakiti tetangga, dan hendaklah engkau menghiasi diri
dengan kewibawaan dan ketenangan. Jangan sampai hari puasamu sama dengan hari
ketika engkau tidak berpuasa.
اللهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
اَللّهُمّ
اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَاْلمُسْلِمَاتِ
وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنًاتِ
اَلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالأَمْوَاتِ
إِنّكَ
سَمِيْعٌ
مُجِيْبُ
الدّعَوَاتِ
رَبّنََا
لاَتًؤَخِذْنَا
إِنْ
نَسِيْنَا أَوْ
أَخْطَأْنَا
رَبّنَا
وَلاَ
تَحْمِلْ عَلَيْنَا
إِصْرًا
كَمَا
حَمَلْتَهُ
عَلىَ
الّذِيْنَ
مِنْ
قَبْلِنَا
رَبّنَا
وَلاَ
تُحَمّلْنَا
مَالاَ
طَاقَةَ
لَنَا بِهِ
وَاعْفُ
عَنّا
وَاغْفِرْ
لَنَا وَارْحَمْنَا
أَنْتَ
مَوْلَنَا
فَانْصُرْنَا
عَلىَ
الْقَوْمِ
الْكَافِرِيْنَ.
رَبّنَا
آتِنَا فِي
الدّنْيَا
حَسَنَةً وَ فِي
اْلأَخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النّارِ.
وَالْحَمْدُ
لله رَبّ
الْعَالَمِيْنَ.
Oleh : Abu Ukasyah