|
Khutbah pertama:
الْحَمْدُ
لِلهِ الَّذِي
أَنْعَمَ
عَلَيْنَا
بِالْأَمْوَالِ،
وَأَبَاحَ
لَنَا
التَّكَسُّبَ
بِهَا عَنْ
طَرِيْقِ
حَلاَلٍ،
وَشَرَعَ
لَنَا تَصْرِيْفَهَا
فِيْمَا
يُرْضِيْ
الْكَبِيْرَ
الْمُتَعَالَ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ
اللهُ
وَحْدَهُ
لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ ذُو
الْجَلاَلِ
وَالإِكْرَامِ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
أَكْرَمُ
النَّاسِ
فِيْ بَذْلِ
الدُّنْيَا
عَلَى
الْإِسْلاَمِ
صَلَّى
اللهُ
عَلَيْه وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا،
أَمَّا
بَعْدُ:
أَيُّهَا
النَّاسُ،
اتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالىَ
وَأَدُّوْا
مَا أَوْجَبَ
اللهُ
عَلَيْكُمْ
فِيْ
أَمْوَلِكُمْ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Segala puji dan syukur
kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas berbagai limpahan
nikmat dan karunia-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Dialah Allah Subhanahu wa
Ta’ala satu-satu-Nya yang memberikan rezeki kepada hamba-hamba-Nya. Saya
bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar kecuali hanya Allah
Subhanahu wa Ta’ala semata, dan saya bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya. Shalawat dan salam
semoga senantiasa tercurahkan kepada beliau, keluarga, para sahabatnya, serta
orang-orang yang mengikuti jalannya.
Hadirin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala dan senantiasa memohon rahmat serta pertolongan-Nya. Tanpa rahmat dan
pertolongan-Nya, manusia tentu tidak akan mampu untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya. Karena manusia pada asalnya adalah makhluk yang lemah. Saat
dilahirkan, dia dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa serta tidak bisa
memberikan manfaat bagi dirinya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan
kepada hamba-hamba-Nya berbagai kenikmatan dan kemudahan untuk mendapatkan
rezeki yang banyak dan beraneka ragam. Oleh karena itu, kewajiban kita adalah
mensyukuri pemberian-pemberian tersebut dengan menjalankan
kewajiban-kewajiban yang diperintahkan-Nya dan menjauhi
larangan-larangan-Nya.
Jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Ketahuilah, bahwa pemberian-pemberian Allah Subhanahu wa
Ta’ala yang berupa makanan, harta benda, anak, dan semisalnya merupakan ujian
bagi manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاعْلَمُوا
أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ
وَأَوْلَادُكُمْ
فِتْنَةٌ
وَأَنَّ
اللهَ
عِنْدَهُ
أَجْرٌ عَظِيمٌ
“Dan ketahuilah bahwa harta-harta kalian dan anak-anak kalian
itu tidak lain hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah
pahala yang besar.” (Al-Anfal: 28)
Disamping itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ
لِكُلِّ
أُمَّةٍ
فِتْنَةٌ
وَفِتْنَةُ
أُمَّتِيْ
الْمَالُ
“Sesungguhnya pada setiap umat ada fitnah dan fitnah umat-Ku
adalah harta.” (HR. At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani)
Hadirin rahimakumullah,
Godaan harta ini akan datang dari berbagai sisi. Di antaranya
adalah dari cara mencarinya. Dari sisi ini, sebenarnya Allah Subhanahu wa
Ta’ala telah mensyariatkan berbagai cara dalam mendapatkan harta, yang
semuanya dibangun di atas keadilan dan jauh dari perbuatan zalim, jahat, atau
menyakiti orang lain. Maka orang-orang yang bertakwa kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala tentu akan senantiasa memerhatikan batasan-batasan syariat dalam
mendapatkannya. Jauh dari unsur riba, judi, dan bentuk-bentuk kezaliman
lainnya, yang semuanya termasuk dalam bentuk memakan harta orang lain dengan
cara yang batil. Mereka mengetahui bahwa hal ini dilarang oleh Allah
Subhanahu wa Ta’ala, di antaranya dalam firman-Nya:
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
لَا تَأْكُلُوا
أَمْوَالَكُمْ
بَيْنَكُمْ
بِالْبَاطِلِ
إِلَّا أَنْ
تَكُونَ
تِجَارَةً
عَنْ تَرَاضٍ
مِنْكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling
memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan
perniagaan yang dilakukan dengan suka sama suka di antara kalian.” (An-Nisa’:
29)
Dengan sebab perhatian terhadap batas dan aturan-aturan Allah
Subhanahu wa Ta’ala dalam mencarinya, maka harta yang diperoleh pun menjadi
barakah. Harta yang diperolehnya akan menjadi sebab kebaikan bagi yang
memilikinya, baik saat diinfakkan, disedekahkan maupun di saat hartanya nanti
menjadi warisan bagi ahli warisnya. Sehingga hartanya menjadi kebaikan bagi
dirinya di dunia dan akhirat. Sedangkan orang-orang yang tidak bertakwa,
mereka tidaklah memedulikan halal atau tidaknya mata pencaharian mereka. Yang
halal bagi mereka adalah segala cara yang bisa mereka lakukan, meskipun di
dalamnya ada unsur penipuan, riba, judi maupun menzalimi orang lain. Sehingga
hartanya pun tidak barakah dan tidak ada manfaatnya. Apabila dimakan atau
diinfakkan maka dia telah memakan atau menafkahi dengan harta yang haram.
Apabila disedekahkan tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Apabila meninggal dunia, maka hartanya akan menjadi sebab masuknya dia ke
dalam neraka. Nas’alullaha as-salamah (Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa
Ta’ala menyelamatkan kita dari siksa neraka).
Hadirin rahimakumullah,
Godaan karena harta ini juga bisa datang dari sisi perhatian
dan keinginan seseorang terhadapnya. Sehingga sebagian orang ada yang
keinginannya terhadap harta membuat dirinya berambisi terhadapnya. Hal ini
membuat kesibukannya hanyalah untuk mencari dunia. Dari saat memulai
aktivitasnya setelah bangun tidur sampai dia kembali ke rumahnya untuk
beristirahat, yang dipikirkannya hanyalah dunia. Di saat duduk, berdiri,
maupun berjalan, yang di hatinya hanyalah mencari dunia. Bahkan saat tidurnya
pun yang diimpikan adalah mencari dunia. Lebih dari itu, saat shalat pun
pikirannya dipenuhi dengan dunia. Seakan-akan dirinya diciptakan untuk
sekadar mencari dunia. Padahal dengan perhatian dan keinginan yang berlebihan
hingga melalaikan akhirat seperti itu, seseorang tidak akan mendapatkan
rezeki kecuali yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan untuk dirinya.
Maka orang yang demikian keadaannya, tentunya adalah orang yang tertipu serta
terjatuh pada godaan dunia. Sehingga dia memusatkan seluruh pikiran dan
kesibukannya untuk dunia. Dia menjadikan dunia bersemayam di hatinya sehingga
melalaikan dia dari beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Hadirin yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,
Godaan harta juga akan muncul dari sisi penggunaannya. Dari
sisi ini, kita dapatkan sebagian orang yang berharta memiliki sifat pelit
sehingga tidak mau mengeluarkan zakatnya, tidak mau menjalankan kewajiban
berinfak kepada kerabatnya yang wajib untuk dibantu, dan yang semisalnya.
Sedangkan sebagian yang lainnya atau pada sisi lainnya, justru mengeluarkan
hartanya tanpa ada perhitungan serta dihambur-hamburkan sia-sia. Padahal
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan di dalam firman-Nya:
وَءَاتِ
ذَا الْقُرْبَى
حَقَّهُ
وَالْمِسْكِينَ
وَابْنَ
السَّبِيلِ
وَلَا
تُبَذِّرْ
تَبْذِيرًا. إِنَّ
الْمُبَذِّرِينَ
كَانُوا
إِخْوَانَ
الشَّيَاطِينِ
وَكَانَ
الشَّيْطَانُ
لِرَبِّهِ
كَفُورًا
“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat haknya
(mereka), (begitu pula) kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan
dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) sia-sia. Sesungguhnya
orang-orang yang menghambur-hamburkan hartanya sia-sia adalah saudara-saudara
setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya.” (Al-Isra’: 26-27)
Berkaitan dengan ayat ini, sebagaimana dinukilkan oleh
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullahu dalam tafsirnya, sahabat Abdullah ibn
Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:
التَّبْذِيْرُ:
الْإِنْفَاقُ
فِيْ غَيْرِ حَقٍّ
“Menghambur-hamburkan harta adalah mengeluarkannya tidak pada
tempatnya.”
Al-Imam Mujahid rahimahullahu berkata:
لَوْ
أَنْفَقَ إِنْسَانٌ
مَالَهُ
كُلَّهُ فِي
الْحَقِّ لَمْ
يَكُنْ
مُبَذِّرًا
وَلَوْ
أَنْفَقَ مُدًّا
فِيْ غَيْرِ
حَقِّهِ
كَانَ
تَبْذِيْرًا
“Seandainya seseorang mengeluarkan seluruh hartanya pada
tempat yang benar, maka dia bukanlah seorang yang menghambur-hamburkan harta.
Namun seandainya seseorang mengeluarkan satu mud/cakupan tangan (dari
hartanya) untuk sesuatu yang tidak pada tempatnya, maka dia telah
menghambur-hamburkan hartanya dengan sia-sia.”
Hadirin yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,
Oleh karena itu, siapa pun di antara kita harus hati-hati dan
senantiasa takut terkena godaan harta ini. Betapa banyak orang yang lebih
berilmu dari kita telah terjatuh pada penyimpangan-penyimpangan karena godaan
ini. Bahkan ada pula orang yang dahulunya istiqamah membela As-Sunnah dan
melawan kebatilan serta bid’ah, namun kala tergoda dengan harta, kemudian
terjatuh pada penyimpangan-penyimpangan. Hal itu di antaranya disebabkan oleh
ketidakhati-hatian serta perasaan aman dari bahaya godaan harta. Padahal
harta secara umum akan menarik pemiliknya untuk memenuhi keinginan-keinginan
syahwatnya. Maka akibat adanya kemampuan untuk memenuhi keinginannya,
seseorang akan terseret untuk hidup bermewah-mewah yang kemudian membuat
dirinya sombong dan angkuh, serta akhirnya membuat dirinya tidak peduli
dengan kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena
itu, kita harus senantiasa memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala dan berupaya untuk senantiasa takut dari bahaya fitnah yang ada di
hadapan kita. Sikap hati-hati dan rasa takut ini, insya Allah akan menjadi
sebab yang mendorong seseorang untuk berusaha mencari jalan keluar dari
fitnah yang ada di hadapannya. Dengan sebab itu, dia pun akan senantiasa
mengharapkan datangnya pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun
orang-orang yang lalai dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala serta merasa
aman dari ancaman dan bahaya godaan, sangat besar kemungkinannya untuk
terjatuh dan terbawa oleh godaan sehingga semakin jauh dari petunjuk Allah
Subhanahu wa Ta’ala.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا،
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ
الْمُسْلِمِيْنَ،
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
يَغْفِرْ
لَكُمْ،
وَتُوْبُوْا
إِلَيْهِ
يَتُبْ
عَلَيْكُمْ؛
إِنَّهُ كَانَ
تَوّاَباً
Khutbah kedua:
الْحَمْدُ
لِلهِ رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ،
حَذَّرَنَا
مِنَ الْفِتَنِ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ،
وَأَشْهَدُ أَنْ
لاَ إِلَهَ
إِلاَّ
اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
يَعْلَمُ
السِّرَّ
وَالْعَلَنَ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
أَمَرَ
عِنْدَ ظُهُوْرِ
الْفِتَنِ
بِالْاِعْتِصَامِ
بِالكِتَابِ
وَالسُّنَنِ،
صَلَّى
اللهُ عَلَيْه
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا،
أَمَّا
بَعْدُ:
Hadirin rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah
menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya jalan keluar dari berbagai fitnah atau
ujian. Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan
senantiasa mengingat bahwa dunia yang kita sekarang berada di dalamnya adalah
tempat ujian. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan ujian kepada
hamba-hamba-Nya dengan berbagai kebaikan dan juga kejelekan, sehingga menjadi
nampak serta terbedakanlah antara yang beriman dengan yang tidak beriman.
Maka akan terus ada di muka bumi ini pertentangan dan perseteruan antara yang
haq dengan yang batil, sejak diturunkan Nabi Adam ‘alaihissalam ke bumi,
hingga waktu yang telah ditetapkan dan dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa
Ta’ala. Kebatilan akan terus dibawa oleh setan dan bala tentaranya baik dari
kalangan jin maupun manusia, serta terus akan ditawarkan dengan berbagai cara
dan upaya. Kebatilan akan ditampilkan oleh mereka seakan-akan sebagai sesuatu
yang indah. Sedangkan kebenaran akan ditampilkan seakan-akan sebagai sesuatu
yang tidak bernilai. Maka akan tertipulah orang-orang tidak mau mengingat Allah
Subhanahu wa Ta’ala dan lalai akan kehidupan yang selamanya di akhirat kelak.
Adapun kebenaran, yaitu petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah
diturunkan melalui Rasul-Nya, maka akan terus dibawa oleh para ulama.
Sehingga akan selamatlah orang-orang yang mendapat hidayah Allah Subhanahu wa
Ta’ala karena mengikuti jejak para ulama dalam menempuh kebenaran yang datang
dari Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui Rasul-Nya.
Hadirin rahimakumullah,
Setiap orang yang mengetahui dirinya dalam bahaya tentunya
akan berusaha mencari jalan keluar dari bahaya tersebut. Maka ketahuilah,
wahai kaum muslimin, yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahwa
kita semuanya sedang dalam bahaya yang luar biasa besar dan sangat banyak
ragamnya. Tidak ada yang bisa selamat kecuali yang mendapatkan pertolongan
Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, yang harus kita lakukan adalah
berupaya untuk mendapatkan pertolongan-Nya. Upaya itu tidak lain adalah
dengan mengikuti petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah diturunkan
melalui Rasul-Nya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَقَدْ
تَرَكْتُ
فِيكُمْ مَا
لَنْ
تَضِلُّوا
بَعْدَهُ
إِنِ
اعْتَصَمْتُمْ
بِهِ؛ كِتَابُ
اللهِ
“Dan sungguh telah aku tinggalkan bagi kalian sesuatu yang
kalian tidak akan tersesat setelahnya apabila kalian berpegang teguh
dengannya, yaitu kitab Allah.” (HR. Muslim)
Di dalam hadits tersebut, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjelaskan bahwa berpegang teguh dengan Al-Qur’an adalah jalan keselamatan.
Kewajiban berpegang teguh dengan Al-Qur’an berarti pula kewajiban berpegang
teguh dengan Al-Hadits, karena di dalam Al-Qur’an juga ada kewajiban untuk
menjalankan hadits. Dan sebaliknya, dengan berpaling dari keduanya maka
seseorang akan tersesat dan tidak akan selamat dari berbagai fitnah yang akan
dihadapinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قَالَ اهْبِطَا
مِنْهَا
جَمِيعًا
بَعْضُكُمْ
لِبَعْضٍ
عَدُوٌّ
فَإِمَّا
يَأْتِيَنَّكُمْ
مِنِّي
هُدًى
فَمَنِ
اتَّبَعَ
هُدَايَ فَلَا
يَضِلُّ
وَلَا
يَشْقَى.
وَمَنْ أَعْرَضَ
عَنْ
ذِكْرِي
فَإِنَّ
لَهُ مَعِيشَةً
ضَنْكًا
وَنَحْشُرُهُ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ
أَعْمَى.
قَالَ رَبِّ
لِمَ حَشَرْتَنِي
أَعْمَى
وَقَدْ
كُنْتُ بَصِيرًا.
قَالَ
كَذَلِكَ
أَتَتْكَ
ءَايَاتُنَا
فَنَسِيتَهَا
وَكَذَلِكَ
الْيَوْمَ تُنْسَى
Allah berfirman (kepada Adam dan Hawa): “Turunlah kamu berdua
dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain.
Sehingga jika datang kepadamu petunjuk-Ku, maka barangsiapa yang mengikuti
petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa
berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang
sempit, dan Kami akan membangkitkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”
Berkatalah ia: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta,
padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman:
“Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, namun kamu melupakannya,
maka begitu pula pada hari ini kamu pun dilupakan.” (Thaha: 123-126)
Maka seseorang yang ingin selamat dari godaan, dia harus
berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Yaitu hendaknya dia
senantiasa bersemangat dalam membaca dan mempelajarinya serta mengamalkan apa
yang terkandung di dalamnya. Dengan kembali dan berpegang teguh kepada
keduanya, seseorang akan mengetahui bagaimana dia harus mencari harta dan
bagaimana pula dia cara menginfakkannya. Dengan kembali kepada keduanya,
seseorang akan tahu apa akibat dari pelanggaran terhadap batas-batas syariat
Allah Subhanahu wa Ta’ala dan apa keutamaan orang yang senantiasa
memerhatikan syariat dalam mendapatkan maupun menginfakkan hartanya.
Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan pertolongan-Nya
dan memudahkan kita untuk senantiasa berada di atas syariat-Nya.
اللَّهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَالْحَمْدُ
لِلهِ رَبِّ
الْعَالَمِينَ.
|